Share

201. Tamu Tak Diundang

Author: Kafkaika
last update Last Updated: 2026-01-02 17:59:31

Bayi berusia enam bulan itu sedang asyik berguling-guling di dalam box-nya. Tangan mungilnya berusaha meraih mainan kerincingan yang baru saja dilemparnya sendiri. Begitu jemari kecilnya berhasil mencengkeram mainan itu, suara gelak tawanya pecah, memenuhi ruangan. Axel seolah sangat puas atas pencapaiannya sendiri.

“Sudah pintar berguling-guling saja dia?” tukas Pras dengan binar bangga di matanya. Ia menatap putranya, takjub melihat betapa cepat perkembangan bocah itu. Rasanya baru kemarin Axel "brojol" ke dunia, hanya bisa bengong jika diajak bicara. Sekarang, jagoan kecilnya itu sudah banyak tingkah dan mulai pandai mengoceh.

“Bu-bu-bu-bu…” oceh Axel sembari kembali melempar mainannya. Ia kemudian tengkurap, kepalanya mendongak mencari keberadaan benda yang baru saja ia buang. Begitu matanya menemukan mainan itu, ia langsung berusaha meraihnya. Meski belum bisa merangkak, Axel punya insting yang kuat; ia berguling-guling dengan gigih hingga jaraknya cukup dekat untuk menyambar ben
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   213. Perduelan di Ruang Kerja

    Aura tidak lagi peduli pada harga diri yang tadi sempat terluka. Seperti remaja yang sedang dimabuk asmara dan ingin menggoda pujaan hatinya, ia mulai melancarkan aksi.Baju tidur satin tipis yang membalut tubuhnya terasa dingin di kulit, namun gairah di dalam dadanya justru membara. Sengaja ia melorotkan satu sisi bahunya, membiarkan kain licin itu jatuh hingga memamerkan pundak mulus dan lengkungan belahan dadanya yang menggoda. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai acak-acakan, memberikan kesan liar namun alami—sebuah undangan yang sulit ditolak pria mana pun.Pras melangkah masuk ke rumah dengan gurat kelelahan yang nyata. Wajahnya kaku, matanya terfokus pada ponsel yang masih menempel di telinga. Ia langsung melangkah menuju ruang kerja tanpa menyadari ada "predator" cantik yang tengah membuntutinya dalam diam, mengawasi setiap gerak-geriknya dengan tatapan lapar.Begitu Pras menutup telepon dan menghela napas berat, sebuah suara lembut yang mendayu menyapa dari ambang pintu.“Say

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   212. Memaklumi Oma Eliyas

    “Kenapa kau bengong seperti itu?”Pras melambaikan tangannya di depan wajah Aura, memecah lamunan istrinya yang sejak tadi hanya menatapnya tanpa berkedip. Ada binar aneh di mata Aura yang membuat Pras merasa sedikit risi sekaligus penasaran.“Sebentar, Mas.” Tiba-tiba Aura mencubit lengannya sendiri dengan cukup keras hingga ia meringis.“Kenapa kamu? Kok malah menyiksa diri sendiri?” Pras mengernyit heran, menghentikan kegiatannya merapikan kemeja.“Aku hanya ingin memastikan kalau aku benar-benar melihat Mas Pras memarahi Veny tadi,” ujar Aura sembari tertawa kecil, ada nada puas sekaligus tidak percaya dalam suaranya. “Itu tadi nyata, kan? Bukan halusinasi karena aku kurang tidur?”Pras langsung menatap Aura dengan protes. “Astaga. Kau amnesia atau bagaimana, Ra? Selama ini aku selalu membelamu. Aku juga sering memarahinya jika dia sudah keterlaluan, kan? Kenapa kau seolah baru pertama kali melihatnya?”Aura mencebikkan bibir, nada suaranya berubah sedikit getir. “Ya bagaimana lag

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   211.

    “Ma? Mama bahkan sudah mengurus semua surat-surat itu tanpa bicara padaku?”Pras mematung, seolah seluruh tenaganya tersedot habis. Ia tak percaya mendengar kenyataan bahwa ibu nya sendiri telah meminta pengacara untuk mengalihkan kepemilikan rumah keluarga Eliyas menjadi atas nama Mikayla.Oma Eliyas hanya bisa menunduk dalam. Jemarinya yang mulai keriput bergetar hebat, saling bertautan di atas pangkuan. Ada rasa malu dan penyesalan yang membuncah di dadanya karena telah bertindak terlalu jauh tanpa melibatkan Pras.“Apa Mama sebegitunya memandang Pras sebagai pria brengsek, sampai melihat Veny dan Mikayla tidak pernah benar-benar salah? Mama bahkan tidak meminta pendapatku saat mengalihkan nama rumah ini?” Suara Pras bergetar oleh rasa kecewa yang mendalam.Hati Pras terasa perih. Selama ini ia dan Aura bertahan di rumah ini, menelan semua atmosfer beracun dan perlakuan buruk Mikayla, hanya karena menuruti keinginan Oma yang ngotot mempertahankan rumah penuh kenangan ini. “Maaf, Pr

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   210. Rumah Yang Kacau

    Ada rasa puas yang menyeruak di dada Aura saat menyadari Veny pasti sedang menahan geram di balik tembok itu. Mendengar pengakuan telak dari Pras—bahwa dirinya jauh lebih berarti daripada masa lalu—adalah kemenangan kecil yang manis.Namun, Aura bukan wanita yang tega membiarkan suaminya yang baru pulang mencari nafkah terus-menerus berjongkok memijat kakinya. Jika dipikir-pikir, sindiran Veny ada benarnya; rasanya tidak tahu diri jika ia terus manja di saat Pras tampak kelelahan.“Sudah, Mas. Maaf ya, Mas Pras kan baru sampai, pasti capek,” ujar Aura lembut, mencoba menarik kakinya dengan rasa tidak enak yang tulus.Pras hanya tersenyum tipis, sorot matanya yang cerdas menangkap kilat di mata Aura. Ia tahu persis kenapa istrinya mendadak minta dimanja saat Veny lewat tadi. Biasanya, Aura adalah wanita paling mandiri yang enggan merepotkannya. Namun, Pras tidak keberatan. Baginya, membela kehormatan Aura di depan wanita pembuat onar itu adalah prioritasnya.“Tidak apa-apa, Sayang. Sin

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   209. Saling Menyindir

    “Punya anak kok sakit-sakitan terus. Sebentar sehat, sebentar panas lagi. Daya tahannya lemah sekali, ya?” sindir Veny tajam saat melintas di depan Aura yang sedang telaten menyuapkan bubur ke mulut Axel.Neni yang berdiri tak jauh dari sana hanya bisa menunduk, menghela napas berat dengan tubuh yang mendadak tegang. Sebagai pengasuh, ia sudah sangat hapal tabiat Veny yang hobi memancing keributan. Biasanya, Aura akan langsung meledak jika urusan anak sudah disinggung, dan Neni sudah bersiap menghadapi "perang dunia" pagi ini.Namun, kejutan terjadi. Aura tampak bergeming. Ia seolah menulikan telinga dari suara sumbang itu dan tetap fokus pada Axel, mengajak bayi itu bercanda hingga sang putra membuka mulut dengan ceria.“Tidak apa-apa ya, Sayang? Kata dokter, bayi memang wajar kalau sedikit-sedikit sakit. Tubuhmu sedang belajar membentuk antibodi supaya kuat. Sehat terus ya, anak Mama?” Aura berbisik lembut, menyelipkan doa di antara suapan bubur, seolah keberadaan Veny hanyalah angi

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   208. Pesta Mikayla di Rumah Eliyas

    Axel baru saja terlelap dengan napas yang masih terdengar berat. Setelah semalaman rewel karena suhu tubuhnya yang menghangat, bayi mungil itu akhirnya menyerah pada kantuknya.Aura menghela napas lega, memandangi wajah putranya yang tenang di bawah cahaya lampu tidur yang temaram. Ia baru saja hendak merebahkan tubuh di samping Axel, berniat menjemput istirahat yang sangat dibutuhkannya, ketika tiba-tiba sebuah dentuman bass yang dahsyat meledak dari lantai atas.DUG! DUG! DUG!Suara dari sound system itu begitu keras hingga membuat kaca jendela kamar bergetar hebat. Aura tersentak, jantungnya seolah melompat dari tempatnya.Namun, yang lebih menyakitkan hati Aura adalah reaksi Axel; bayi itu langsung terbangun dengan jeritan kaget yang memilukan. Tangisannya pecah seketika, jauh lebih histeris dibandingkan sebelumnya."Astaga, suara apa sih itu?!" gumam Aura panik. Ia segera menyambar Axel dalam dekapan, mengayun-ayunnya dengan perasaan campur aduk antara cemas dan amarah. Suara musi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status