Se connecterKertas-kertas dokumen yang tersebar di atas meja kerja mahoni itu masih tersentuh angin malam yang berhembus dingin dari sela-sela jendela kaca raksasa. Adam Hawk belum juga beranjak dari kursi kerjanya. Jarum jam dinding buatan Swiss bergerak tanpa jeda, mengarungi detik demi detik hingga sisa-sisa kegelapan malam perlahan memudar, tergantikan oleh garis tipis cahaya keemasan di ufuk timur. Semalaman, Adam tidak memejamkan mata sedikit pun. Pikirannya terus berputar pada sosok gadis yang kini tertidur di ujung lorong penthouse-nya.
Tepat sebelum fajar benar-benar menyingsing membelah langit kota, ketukan teratur tiga kali bergema di pintu kayu tebal. Tanpa menunggu sahutan lama, Thomas melangkah masuk dengan langkah cepat. Di tangannya, sebuah map kulit berwarna cokelat tua tergenggam erat. Wajah pria berjas hitam itu tampak serius, menyiratkan bahwa ada sesuatu yang ganjil dari tugas yang baru saja ia selesaikan. "Tuan Adam," panggil Thomas seraya membungkuk hormat. Ia meletakkan map tebal itu tepat di hadapan majikannya. "Seluruh berkas yang Anda minta telah saya kumpulkan dari jaringan intelijen internal dan beberapa sumber tepercaya." Adam hanya melirik map tersebut dengan tatapan dingin dan acuh tak acuh. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kulit, menopang dagunya dengan sebelah tangan sembari menatap Thomas secara datar. "Jelaskan secara singkat sebelum aku membacanya." Thomas menarik napas panjang, merapikan posisi berdirinya. "Ada hal yang sangat aneh dalam riwayat keluarga Thorne, Tuan. Selama ini dunia bisnis dan media mengenal bahwa Jason Thorne hanya memiliki satu orang putri, yaitu Amanda Thorne. Namun, setelah tim kami melakukan investigasi mendalam hingga ke arsip sipil dan dokumen internal rumah tangga mereka... ternyata keluarga Thorne memiliki dua orang putri." Satu alis Adam terangkat pelan, tetapi ekspresi wajahnya masih tertutup rapat. "Dua putri?" "Benar, Tuan. Amanda Thorne dan... Chloe Thorne," terang Thomas dengan nada bicara yang dipertegas. "Namun keberadaan Chloe sangat misterius. Selama puluhan tahun, gadis ini sama sekali tidak pernah disorot oleh media. Nama dan wajahnya tidak pernah muncul dalam acara-acara amal, pesta gala konglomerat, ataupun publikasi resmi keluarga Thorne. Amanda-lah yang selalu dipamerkan sebagai putri tunggal yang bergelimang harta dan dimanja." Thomas membuka lembar pertama map tersebut, menunjukkan beberapa lembar dokumen yang tampak tua dan minim informasi. "Yang lebih mencurigakan lagi, masa kecil Chloe seperti sengaja disembunyikan dan disimpan rapat-rapat. Tidak ada catatan resmi mengenai kapan dan di mana ia dilahirkan. Tidak ada data rumah sakit tempat ia lahir, dan tidak ada rekam medis di masa balitanya. Informasi tentang dirinya benar-benar kosong, seolah-olah ia muncul begitu saja di dalam keluarga itu." Kedua mata kelabu Adam menyempit. Kebosanan yang tadinya membayang di wajahnya serta-merta menguap, digantikan oleh ketertarikan yang membakar. Ia menegakkan posisi duduknya, mengulurkan tangan, lalu menarik map cokelat itu ke dekatnya. "Satu-satunya jejak kemunculan Chloe ke publik," lanjut Thomas, "hanyalah saat ia mendampingi mendiang Brenda Thorne—Ibu Jason—di masa-masa akhir hidup beliau. Saat Nyonya Brenda dirawat di rumah sakit hingga wafatnya, Chloe selalu berada di sisinya sebagai pendamping pribadi. Namun begitu Nyonya Brenda meninggal, Chloe kembali menghilang dari jangkauan publik, seakan ditelan bumi." Adam tertegun. Jemarinya yang panjang mengusap lembaran kertas di dalam map, membolak-balik foto-foto jepretan rahasia yang menampilkan sosok Chloe dari jarak jauh—gadis itu selalu berada di balik bayang-bayang Brenda Thorne, mengenakan pakaian sederhana namun elegan dan tanpa perhiasan apa pun. Pikiran Adam bergejolak hebat. Selama bertahun-tahun merencanakan penghancuran Thorne Corp, informasi yang ia terima dari seluruh analis bisnis adalah bahwa Jason Thorne hanya memiliki satu putri kesayangan. Mengapa sekarang, di saat bisnis Jason runtuh, tiba-tiba seorang gadis lain bernama Chloe muncul di hadapannya dan diserahkan secara resmi sebagai putri jaminan utang berkedok pernikahan? Apakah ada informasi penting yang dilewatkan oleh tim intelijenku selama ini? Atau... apakah ini salah satu strategi licik Jason Thorne untuk mengalihkan perhatiannya? batin Adam bertanya-tanya, rasa curiganya kian menebal. Namun, sebelum Adam sempat mendalami berkas-berkas rahasia itu lebih jauh, ponsel di atas mejanya bergetar hebat. Sebuah panggilan darurat dari direksi utama Hawk Corporation mengenai akuisisi aset bernilai triliunan rupiah yang harus diselesaikan pagi ini menuntut perhatian penuhnya. "Baiklah. Aku akan segera kesana," tegas Adam sebelum menutup telepon. Adam menutup map cokelat itu dengan hempasan pelan. Hari ini ia memiliki pekerjaan penting yang sangat krusial dan tidak bisa ditunda. Masalah teka-teki Chloe Thorne harus ia kesampingkan sejenak hingga urusan bisnis utamanya selesai. "Simpan berkas ini di brankas pribadiku," perintah Adam seraya bangkit berdiri dan meraih jas hitamnya dari sandaran kursi. "Thomas, siapkan mobil. Kita berangkat ke kantor sekarang." "Baik, Tuan," sahut Thomas siap sedia. Sebelum melangkah keluar dari penthouse, Adam menghentikan langkahnya di depan koridor utama saat melihat Mary berjalan membawa nampan berisi susu hangat dan roti. Ia menoleh dan memanggil, "Mary, kemarilah sebentar." Mary segera melangkah mendekat dengan sikap sopan dan tenang. "Iya, Tuan Adam? Ada yang bisa saya bantu?" Adam menatap pelayan tuanya dengan tatapan tajam yang mengintimidasi. "Apa ini untuk dia?" Mary mengangguk, "Ya Tuan. Ini sarapan untuk Nyonya Muda." Adam menghela nafas. Mary adalah pelayan senior yang sudah bekerja di keluarga Hawk sejak beberapa dekade. Jadi, Mary juga merupakan salah satu orang kepercayaan Adam. Ini menjadi salah satu alasan Adam sengaja memberi tugas pada Mary untuk menjadi pelayan pribadi Chloe. "Aku dan Thomas akan keluar seharian untuk urusan bisnis penting. Selama aku tidak ada di rumah, awasi wanita itu baik-baik. Jangan biarkan dia berkeliaran di luar kamarnya tanpa pengawasan, dan laporkan setiap gerak-gerik yang mencurigakan sekecil apa pun padaku," perintah Adam. Mary menundukkan kepalanya dalam-dalam. Wajahnya tetap menunjukkan ketenangan profesional, tidak membiarkan sedikit pun gejolak emosi atau keraguan terpancar dari matanya. Mary hanya diam dan tidak banyak bertanya, mematuhi perintah itu secara formal. Di dalam hatinya, Mary teguh memegang janji yang telah ia ucapkan kepada Chloe semalam, janji untuk mengunci rapat-rapat rahasia tentang penderitaan dan status asli gadis malang itu demi melindunginya dari kemarahan sang majikan. "Saya mengerti, Tuan Adam. Saya akan menjalankan tugas saya dengan baik," jawab Mary pelan dan patuh. Adam mengangguk singkat, merasa puas dengan jawaban pelayan kepercayaannya, lalu melangkah lebar keluar dari penthouse bersama Thomas, meninggalkan kediaman mewah itu dalam keheningan pagi yang menyimpan seribu teka-teki.Siang itu penthouse terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Sinar matahari menembus tirai tipis di kamar Chloe, membentuk garis-garis pucat di lantai. Gadis itu masih duduk di tepi ranjang dengan piyama longgar, memandangi cangkir teh yang sudah dingin di meja tanpa menyentuhnya sedikit pun.Tok. Tok."Nona Chloe? Bibi masuk, ya."Pintu terbuka perlahan. Bi Mary melangkah masuk membawa nampan kecil berisi biskuit dan segelas air hangat. Matanya langsung menyapu seisi kamar, berhenti pada gaun hitam yang teronggok di sudut ruangan, kemudian beralih ke wajah Chloe yang masih terlihat sembap."Nona, Bibi tahu Nona minta sendirian tadi," ujarnya lembut sambil meletakkan nampan. "Tapi Bibi tidak bisa tidak khawatir. Kenapa Nona sudah pulang? Bukankah Nona seharusnya bekerja sampai sore?"Chloe tersentak. Ia buru-buru memasang senyum tipis. "Aku... masih merasa kurang enak badan, Bi. Kepalaku sedikit pusing, jadi aku pulang lebih awal.""Pusing?"
Semuanya terjadi dalam sekejap.Sebelum pria bertubuh gempal itu sempat menarik tangannya, sebuah kepalan keras menghantam rahangnya dengan suara yang membuat lorong bergema. Tubuh besar itu terpelanting ke samping dan membentur dinding, lalu merosot ke lantai sambil memegangi wajahnya yang berdarah."Tu... Tuan Hawk!" Pria itu terbata-bata dengan wajah pucat pasi. "Ampun, Tuan! Saya tidak...""Diam." Suara Adam rendah, dingin, dan mematikan. Ia melangkah mendekat dengan sorot mata yang membuat temannya refleks mundur sambil gemetar. "Kau dipecat. Hari ini juga. Sekarang juga.""Tuan, tolong! Saya hanya bercanda! Saya punya keluarga, saya punya anak...""Kau seharusnya memikirkannya sebelum menyentuh orang yang bukan milikmu." Adam mencengkeram kerah kemeja pria itu dan mengangkatnya hingga kaki si pria nyaris tak menyentuh lantai. Urat di pelipisnya menegang. "Bukan hanya dipecat. Kau akan menyesal pernah dilahirkan.""Ampun... ampun, Tuan.
Pagi itu Chloe melangkah masuk ke lantai divisi keuangan dengan blus putih bersih dan rok hitam sederhana. Demamnya sudah hilang sepenuhnya, dan di dalam dadanya masih tersisa sedikit kehangatan dari percakapan semalam di ruang kerja Adam. Tadi pagi ia juga melewati sarapan hangat bersama pria itu. Karena terus terbayang akan moment bersama Adam, ia sempat menyunggingkan senyum kecil saat lift berhenti di lantai tujuannya.Namun senyum itu lenyap begitu ia sampai di sudut ruangan.Meja kecil tempat ia bekerja dua hari lalu sudah tidak ada. Tidak ada kursi, tidak ada tumpukan arsip, bahkan tidak ada bekas debu di lantai. Sudut itu kini kosong, seolah Chloe memang tidak pernah ada di sana."Permisi," ujar Chloe pada seorang staf wanita yang lewat. "Meja saya di mana?""Meja?" Wanita itu menaikkan alis, lalu tersenyum mengejek. "Kami kira kau sudah resign. Kau menghilang begitu saja kemarin. Mejanya sudah dipindahkan ke gudang.""Saya tidak resign. Sa
Langit sudah gelap sepenuhnya ketika suara mobil terdengar memasuki halaman penthouse. Chloe yang sedang duduk di dekat jendela kamar langsung menegakkan tubuh. Dari celah tirai, ia melihat Adam turun dari mobil dengan langkah berat, jas tersampir di lengan dan dasi yang sudah dilonggarkan.Wajahnya tampak kusut. Garis lelah terlihat jelas di sekitar matanya, dan rahangnya mengeras seperti sedang menahan sesuatu yang berat.Chloe terdiam. Pagi tadi pria itu masih tertawa dan menggodanya habis-habisan. Kini ia tampak seperti orang yang baru saja memikul beban seluruh dunia.Ia mengintip dari ambang pintu kamar ketika Adam berjalan melewati lorong. Pria itu tidak menoleh. Ia langsung menuju ruang kerjanya di ujung lantai dua dan menutup pintu di belakangnya dengan bunyi pelan.Chloe menggigit bibir. Selama beberapa menit ia hanya berdiri di tempat. Akhirnya ia menarik napas dalam dan melangkah menyusuri lorong, berhenti di depan pintu kayu gelap itu, lalu mengetuk perlahan."Adam, ini a
Senja merayap perlahan melewati jendela-jendela besar apartemen keluarga Maxwell, mengubah ruang tamu yang luas itu menjadi berwarna jingga keemasan. Namun di dalamnya, suasana sama sekali tidak muram. Musik jazz mengalun dari pengeras suara, sementara meja kaca di tengah ruangan dipenuhi berbagai hidangan mewah yang baru saja diantar oleh restoran terkenal.Ada steak wagyu yang masih beruap, pasta truffle, seafood platter berukuran besar, dan sebotol anggur merah yang baru dibuka. Atalia menyandarkan tubuhnya di sofa dengan kaki terangkat, sementara Sofia duduk anggun di sampingnya dengan gelas kristal di tangan."Cobalah ini," ujar Atalia sambil menyodorkan sepotong daging. "Enak sekali. Ini dari restoran yang biasa dipakai Adam untuk menjamu klien.""Sayang sekali Adam tidak ada di sini untuk melihat kita menikmatinya," sahut Sofia sambil tertawa kecil."Biar saja. Nanti dia juga akan tahu." Atalia mengangkat gelasnya. "Bersulang sekali lagi. Untuk har
Apartemen keluarga Maxwell terletak di lantai dua puluh sebuah gedung mewah di kawasan elite kota. Interiornya didominasi marmer putih dan perabot emas yang sengaja dipilih untuk memamerkan status. Namun siang itu, tak ada yang bisa mempercantik suasana hati penghuninya.Sofia bersandar di sofa krem dengan mata masih sembap. Kopernya berjajar tak beraturan di dekat pintu, karena dia belum ada niatan untuk membongkarnya. Atalia duduk di sampingnya, mondar-mandir sebentar, lalu akhirnya ikut duduk sambil mengeluarkan ponsel dari tas."Kita tidak boleh menunda lagi," ujar Atalia tegas. "Aku akan menghubungi Ibu sekarang.""Apa Tante Mariana tidak sedang sibuk?" tanya Sofia pelan."Dia pasti mau mendengar ini." Atalia menekan layar ponselnya dengan jari yang gemetar karena marah. "Karena ini menyangkut anak kesayangannya."Nada sambung panjang terdengar. Setelah beberapa saat, layar akhirnya menampilkan wajah seorang wanita paruh baya dengan rambut disanggul rapi dan balutan setelan elega







