แชร์

Bab 6. Jejak Rahasia

ผู้เขียน: Sandra Dhee
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-23 19:47:43

Makan malam di meja makan raksasa yang terbuat dari kayu jati berukir minimalis itu berlangsung dingin, kaku, dan penuh dengan tekanan yang menghimpit dada. Suara denting lembut sendok perak yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya musik latar di tengah keheningan penthouse yang mencekam. Udara di dalam ruangan itu terasa tebal oleh keheningan yang dipaksakan, seolah-olah setiap helai napas yang ditarik harus diperhitungkan dengan cermat.

Adam Hawk duduk tegak di ujung meja, memegang gelas anggur kristal bernuansa merah gelap. Jemari tangannya yang panjang dan kokoh mengusap perlahan gagang gelas, sementara mata kelabunya yang tajam bagaikan elang terus memperhatikan setiap gerak-gerik Chloe tanpa henti. Adam telah menyiapkan berbagai kalimat sindiran yang menohok, berharap bisa melihat kegugupan, kepanikan, atau keangkuhan khas putri keluarga Thorne terpancar dari wajah wanita muda di hadapannya.

Namun, harapan Adam untuk mengintimidasi Chloe sirna begitu saja. Chloe duduk dengan postur tubuh yang luar biasa anggun dan tenang. Ia memotong daging steak di piringnya dengan gerakan yang sangat teratur, tanpa menimbulkan suara berisik sedikit pun. Ketika Adam melontarkan pertanyaan provokatif tentang betapa senangnya Jason Thorne berhasil menukar putrinya dengan kebebasan utang, Chloe hanya merespons singkat, tenang, dan irit bicara. Jawaban-jawabannya selalu diplomatis, disampaikannya dengan nada suara yang rendah namun jernih, tanpa ada getaran takut maupun nada membantah.

Sikap tertutup Chloe, matanya yang tenang namun menyimpan rahasia besar, serta ketenangan yang tidak wajar itu justru membakar rasa penasaran Adam hingga ke titik tertinggi. Ditambah lagi dengan ingatan yang baru saja terpatri di dalam kepalanya—tekstur kasar, kapalan, dan bekas luka memanjang di telapak tangan Chloe yang sempat ia lihat tadi—Adam semakin yakin ada sebuah teka-teki besar yang disembunyikan. Gambaran seorang putri bangsawan bisnis yang dimanja oleh kemewahan sama sekali tidak cocok dengan sosok wanita yang sedang duduk di hadapannya ini.

"Terima kasih atas makan malamnya yang sangat layak ini, Tuan Hawk. Jika tidak ada hal lain lagi yang Anda butuhkan dari saya, saya mohon izin untuk kembali ke kamar," ucap Chloe pelan usai mengusap bibirnya dengan serbat kain putih secara perlahan.

Adam tidak langsung menjawab. Ia menyesap anggurnya sedikit, menatap Chloe dari balik pendar cahaya lampu kristal sebelum akhirnya memberikan anggukan dingin tanpa bersuara.

"Selamat malam, Tuan," tambah Chloe singkat, lalu bangkit dari kursinya dengan gerakan yang sangat halus.

Begitu langkah kaki Chloe yang berbalut gaun merah marun itu menghilang sepenuhnya di balik lorong menuju area kamar, keheningan di ruang makan berubah menjadi aura ancaman yang pekat. Adam meletakkan gelas kristalnya ke atas meja dengan agak keras. Ia memutar kursinya, lalu merogoh saku dalam jasnya untuk mengeluarkan ponsel berspesifikasi khusus.

Ia menekan satu tombol panggilan cepat dan menempelkan gawai itu ke telinganya.

"Thomas, masuk ke ruang kerjaku sekarang juga," perintah Adam singkat dan dingin begitu sambungan telepon terhubung, langsung mematikan panggilan sebelum lawan bicaranya sempat membalas.

Beberapa menit kemudian, di dalam ruang kerja Adam yang didominasi dinding kayu berwama gelap dan jendela kaca raksasa yang menghadap langsung ke panorama gemerlap lampu kota di bawah guyuran hujan, pintu diketuk dua kali. Thomas—pria berjas hitam dengan perawakan tegap, berpengalaman, dan merupakan kepala keamanan sekaligus tangan kanan kepercayaan Adam—melangkah masuk dengan cekatan.

"Ada perintah khusus, Tuan Adam?" tanya Thomas seraya membungkukkan badan memberi hormat.

Adam berdiri di balik meja kerjanya yang luas, kedua tangannya terbenam di dalam saku celana. Ia membelakangi Thomas, menatap rintik hujan yang membasahi kaca raksasa.

"Cari tahu seluruh informasi dan jejak latar belakang tentang Chloe Thorne. Dan ingat, aku tidak mau sekadar laporan formal atau berkas rekayasa dari tim humas keluarga Thorne," pangkas Adam. Suaranya mengalun rendah namun sarat akan penekanan yang tak bisa dibantah. "Gali latar belakangnya dari saat ia masih kecil, bagaimana ia tumbuh di rumah itu, riwayat pendidikannya, catatan medisnya, hingga interaksi hariannya di dalam kediaman Jason Thorne. Aku ingin laporan lengkap dan mendalam ada di mejaku besok pagi."

Thomas sempat menunjukkan raut wajah terkejut yang tertahan. Selama bertahun-tahun melayani Adam Hawk, jarang sekali majikannya memberikan perhatian sedetail ini pada seorang individu, terlebih lagi pada barang jaminan utang dari musuh bisnis mereka.

"Apakah ada ketidaksesuaian pada dokumen jaminan dan perjanjian pernikahan yang dikirimkan oleh Jason Thorne, Tuan?" tanya Thomas hati-hati.

"Hanya lakukan tugasmu dengan bersih, Thomas. Ada sesuatu yang sangat tidak cocok pada wanita itu, dan kau tahu pasti bahwa aku tidak pernah suka ditipu," jawab Adam dingin, memotong pembicaraan dengan tegas.

"Baik, Tuan. Saya akan segera mengerahkan tim terbaik untuk menyisir seluruh riwayatnya malam ini juga," sahut Thomas mantap sebelum membungkuk hormat dan mundur keluar ruangan secara perlahan.

Sementara itu, di dalam kamar tidur yang hangat dan wangi, Chloe sudah melepaskan gaun malam merah marunnya yang mewah dan menggantinya dengan pakaian katun longgar yang sederhana. Ia berbaring telentang di atas kasur empuk yang dilapisi sprei halus, menatap langit-langit kamar yang diterangi oleh lampu temaram di sudut ruangan. Untuk pertama kalinya dalam kurun waktu bertahun-tahun, tubuhnya tidak merasa pegal atau dingin akibat harus tidur di atas alas keras gudang loteng.

Namun, kenyamanan fisik itu sama sekali tidak sanggup menenangkan pikirannya yang bergejolak hebat. Botol kaca kecil berisi racun mematikan yang masih tersimpan rapi di balik lipatan koper tua di dalam lemari terus membayangi benaknya bagaikan bom waktu yang siap meledak. Ia tahu betul bahwa tugas yang dipaksakan oleh Jason Thorne bukan sekadar ancaman kosong. Jika ia gagal atau membelot, Jason tidak akan ragu untuk merusak makam Nyonya Brenda—satu-satunya manusia yang pernah memberinya kasih sayang tulus di dunia ini.

Namun, di sisi lain, menyaksikan langsung keindahan dan ketegasan penthouse ini, serta mendengar penuturan Bi Mary tentang luka masa lalu Adam Hawk, membuat nurani Chloe terguncang. Mengingat kedinginan, ketajaman intuisi, dan daya pengamatan Adam yang luar biasa, Chloe sadar bahwa salah sedikit saja melangkah, bukan hanya misinya yang akan berantakan, tetapi nyawanya sendiri yang akan melayang dalam sekejap.

Suara ketukan halus di pintu kamar memecah lamunannya yang dalam. Pintu terdorong pelan, memperlihatkan sosok Bi Mary yang melangkah masuk sambil membawa nampan berisi segelas susu hangat yang masih berasap tipis.

"Nyonya Muda, saya membawakan susu hangat untuk Anda. Ini akan membantu merilekskan pikiran dan membuat Anda tidur nyenyak malam ini," tutur Bi Mary dengan senyuman keibuan yang sangat hangat.

Chloe mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Ia menatap gelas susu itu, lalu beralih menatap wajah Bi Mary yang sarat akan kedamaian. Chloe mengulurkan tangannya, memegang lembut jemari tangan pelayan tua itu.

"Bi Mary..." panggil Chloe dengan suara berbisik yang amat pelan namun sarat akan permohonan yang mendalam. "Saya ingin meminta satu kebaikan besar dari Bibi malam ini."

Bi Mary mengerutkan keningnya halus, membalas genggaman tangan Chloe. "Apa itu, Nyonya Muda?"

"Tolong... jangan pernah katakan apa pun kepada Tuan Adam mengenai apa yang saya ceritakan tadi," pinta Chloe dengan mata cokelatnya yang menatap tulus. "Tentang bagaimana kehidupan saya yang sebenarnya di rumah keluarga Thorne, tentang status saya yang hanya anak angkat, atau tentang bagaimana mereka memperlakukan saya. Saya mohon, Bi. Biarkan Tuan Adam tetap mempercayai apa yang ia ketahui saat ini."

Bi Mary tampak terkejut. Raut wajahnya dipenuhi keraguan dan rasa khawatir yang membuncah. "Tapi Nyonya Muda... Tuan Adam sangat membenci Anda saat ini hanya karena beliau mengira Anda adalah putri kandung Jason yang dimanja dan menikmati uang haram ayahnya. Jika beliau tahu betapa menderitanya hidup Anda dan betapa kejamnya keluarga itu kepada Anda—"

"Jika beliau tahu, itu tidak akan mengubah fakta bahwa saya membawa nama Thorne," potong Chloe lembut namun sangat tegas. "Itu hanya akan membuat saya terlihat makin kasihan dan patetis di matanya. Saya tidak butuh belas kasihan dari siapa pun, Bi Mary. Saya sudah terbiasa berdiri di atas kaki saya sendiri. Biarkan ini menjadi masalah dan jalan yang harus saya hadapi sendiri. Cukup simpan rahasia ini di antara kita berdua."

Bi Mary menatap dalam-dalam ke dalam mata Chloe. Di balik wajah yang polos dan tubuh yang tampak rapuh itu, Bi Mary melihat sebuah ketegaran, kedewasaan, dan harga diri yang sangat tinggi. Setelah menghela napas panjang untuk menetralkan rasa iba di dadanya, Bi Mary akhirnya mengangguk pelan.

"Baiklah, Nyonya Muda. Jika itu yang menjadi keputusan dan kenyamanan Anda, rahasia ini akan tetap terkunci rapat bersama saya," janji Bi Mary tulus. "Sekarang, minumlah susunya dan istirahatlah. Anda telah melewati hari yang sangat panjang dan melelahkan."

"Terima kasih banyak, Bi Mary," bisik Chloe tulus.

Setelah Bi Mary pamit keluar dan mematikan lampu utama kamar, ruangan itu kembali diselimuti oleh kesunyian malam. Chloe kembali berbaring di balik selimut tebalnya, menatap kegelapan malam yang menembus kaca jendela. Permainan berbahaya di dalam kediaman ini baru saja dimulai, dan ia harus memastikan dirinya sanggup bertahan hidup, menjaga rahasianya, dan menemukan jalan keluar dari dalam pelukan sang musuh.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 46. CCTV Menjadi Bukti

    Siang itu penthouse terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Sinar matahari menembus tirai tipis di kamar Chloe, membentuk garis-garis pucat di lantai. Gadis itu masih duduk di tepi ranjang dengan piyama longgar, memandangi cangkir teh yang sudah dingin di meja tanpa menyentuhnya sedikit pun.Tok. Tok."Nona Chloe? Bibi masuk, ya."Pintu terbuka perlahan. Bi Mary melangkah masuk membawa nampan kecil berisi biskuit dan segelas air hangat. Matanya langsung menyapu seisi kamar, berhenti pada gaun hitam yang teronggok di sudut ruangan, kemudian beralih ke wajah Chloe yang masih terlihat sembap."Nona, Bibi tahu Nona minta sendirian tadi," ujarnya lembut sambil meletakkan nampan. "Tapi Bibi tidak bisa tidak khawatir. Kenapa Nona sudah pulang? Bukankah Nona seharusnya bekerja sampai sore?"Chloe tersentak. Ia buru-buru memasang senyum tipis. "Aku... masih merasa kurang enak badan, Bi. Kepalaku sedikit pusing, jadi aku pulang lebih awal.""Pusing?"

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 45. Murka dan Godaan

    Semuanya terjadi dalam sekejap.Sebelum pria bertubuh gempal itu sempat menarik tangannya, sebuah kepalan keras menghantam rahangnya dengan suara yang membuat lorong bergema. Tubuh besar itu terpelanting ke samping dan membentur dinding, lalu merosot ke lantai sambil memegangi wajahnya yang berdarah."Tu... Tuan Hawk!" Pria itu terbata-bata dengan wajah pucat pasi. "Ampun, Tuan! Saya tidak...""Diam." Suara Adam rendah, dingin, dan mematikan. Ia melangkah mendekat dengan sorot mata yang membuat temannya refleks mundur sambil gemetar. "Kau dipecat. Hari ini juga. Sekarang juga.""Tuan, tolong! Saya hanya bercanda! Saya punya keluarga, saya punya anak...""Kau seharusnya memikirkannya sebelum menyentuh orang yang bukan milikmu." Adam mencengkeram kerah kemeja pria itu dan mengangkatnya hingga kaki si pria nyaris tak menyentuh lantai. Urat di pelipisnya menegang. "Bukan hanya dipecat. Kau akan menyesal pernah dilahirkan.""Ampun... ampun, Tuan.

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 44. Nenek Sihir Bertopeng Ibu Peri

    Pagi itu Chloe melangkah masuk ke lantai divisi keuangan dengan blus putih bersih dan rok hitam sederhana. Demamnya sudah hilang sepenuhnya, dan di dalam dadanya masih tersisa sedikit kehangatan dari percakapan semalam di ruang kerja Adam. Tadi pagi ia juga melewati sarapan hangat bersama pria itu. Karena terus terbayang akan moment bersama Adam, ia sempat menyunggingkan senyum kecil saat lift berhenti di lantai tujuannya.Namun senyum itu lenyap begitu ia sampai di sudut ruangan.Meja kecil tempat ia bekerja dua hari lalu sudah tidak ada. Tidak ada kursi, tidak ada tumpukan arsip, bahkan tidak ada bekas debu di lantai. Sudut itu kini kosong, seolah Chloe memang tidak pernah ada di sana."Permisi," ujar Chloe pada seorang staf wanita yang lewat. "Meja saya di mana?""Meja?" Wanita itu menaikkan alis, lalu tersenyum mengejek. "Kami kira kau sudah resign. Kau menghilang begitu saja kemarin. Mejanya sudah dipindahkan ke gudang.""Saya tidak resign. Sa

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 43. Pembicaraan Hangat di Ruang Kerja

    Langit sudah gelap sepenuhnya ketika suara mobil terdengar memasuki halaman penthouse. Chloe yang sedang duduk di dekat jendela kamar langsung menegakkan tubuh. Dari celah tirai, ia melihat Adam turun dari mobil dengan langkah berat, jas tersampir di lengan dan dasi yang sudah dilonggarkan.Wajahnya tampak kusut. Garis lelah terlihat jelas di sekitar matanya, dan rahangnya mengeras seperti sedang menahan sesuatu yang berat.Chloe terdiam. Pagi tadi pria itu masih tertawa dan menggodanya habis-habisan. Kini ia tampak seperti orang yang baru saja memikul beban seluruh dunia.Ia mengintip dari ambang pintu kamar ketika Adam berjalan melewati lorong. Pria itu tidak menoleh. Ia langsung menuju ruang kerjanya di ujung lantai dua dan menutup pintu di belakangnya dengan bunyi pelan.Chloe menggigit bibir. Selama beberapa menit ia hanya berdiri di tempat. Akhirnya ia menarik napas dalam dan melangkah menyusuri lorong, berhenti di depan pintu kayu gelap itu, lalu mengetuk perlahan."Adam, ini a

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 42. Pesta Dan Kerakusan

    Senja merayap perlahan melewati jendela-jendela besar apartemen keluarga Maxwell, mengubah ruang tamu yang luas itu menjadi berwarna jingga keemasan. Namun di dalamnya, suasana sama sekali tidak muram. Musik jazz mengalun dari pengeras suara, sementara meja kaca di tengah ruangan dipenuhi berbagai hidangan mewah yang baru saja diantar oleh restoran terkenal.Ada steak wagyu yang masih beruap, pasta truffle, seafood platter berukuran besar, dan sebotol anggur merah yang baru dibuka. Atalia menyandarkan tubuhnya di sofa dengan kaki terangkat, sementara Sofia duduk anggun di sampingnya dengan gelas kristal di tangan."Cobalah ini," ujar Atalia sambil menyodorkan sepotong daging. "Enak sekali. Ini dari restoran yang biasa dipakai Adam untuk menjamu klien.""Sayang sekali Adam tidak ada di sini untuk melihat kita menikmatinya," sahut Sofia sambil tertawa kecil."Biar saja. Nanti dia juga akan tahu." Atalia mengangkat gelasnya. "Bersulang sekali lagi. Untuk har

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 41. Badai Yang Akan Datang

    Apartemen keluarga Maxwell terletak di lantai dua puluh sebuah gedung mewah di kawasan elite kota. Interiornya didominasi marmer putih dan perabot emas yang sengaja dipilih untuk memamerkan status. Namun siang itu, tak ada yang bisa mempercantik suasana hati penghuninya.Sofia bersandar di sofa krem dengan mata masih sembap. Kopernya berjajar tak beraturan di dekat pintu, karena dia belum ada niatan untuk membongkarnya. Atalia duduk di sampingnya, mondar-mandir sebentar, lalu akhirnya ikut duduk sambil mengeluarkan ponsel dari tas."Kita tidak boleh menunda lagi," ujar Atalia tegas. "Aku akan menghubungi Ibu sekarang.""Apa Tante Mariana tidak sedang sibuk?" tanya Sofia pelan."Dia pasti mau mendengar ini." Atalia menekan layar ponselnya dengan jari yang gemetar karena marah. "Karena ini menyangkut anak kesayangannya."Nada sambung panjang terdengar. Setelah beberapa saat, layar akhirnya menampilkan wajah seorang wanita paruh baya dengan rambut disanggul rapi dan balutan setelan elega

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status