เข้าสู่ระบบSemuanya terjadi dalam sekejap.
Sebelum pria bertubuh gempal itu sempat menarik tangannya, sebuah kepalan keras menghantam rahangnya dengan suara yang membuat lorong bergema. Tubuh besar itu terpelanting ke samping dan membentur dinding, lalu merosot ke lantai sambil memegangi wajahnya yang berdarah.
"Tu... Tuan Hawk!" Pria itu terbata-bata dengan wajah pucat pasi. "Ampun, Tuan! Saya tidak..."
"Diam." Suara Adam rendah, dingin, dan mematikan. Ia melangkah mendekat dengan
Siang itu penthouse terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Sinar matahari menembus tirai tipis di kamar Chloe, membentuk garis-garis pucat di lantai. Gadis itu masih duduk di tepi ranjang dengan piyama longgar, memandangi cangkir teh yang sudah dingin di meja tanpa menyentuhnya sedikit pun.Tok. Tok."Nona Chloe? Bibi masuk, ya."Pintu terbuka perlahan. Bi Mary melangkah masuk membawa nampan kecil berisi biskuit dan segelas air hangat. Matanya langsung menyapu seisi kamar, berhenti pada gaun hitam yang teronggok di sudut ruangan, kemudian beralih ke wajah Chloe yang masih terlihat sembap."Nona, Bibi tahu Nona minta sendirian tadi," ujarnya lembut sambil meletakkan nampan. "Tapi Bibi tidak bisa tidak khawatir. Kenapa Nona sudah pulang? Bukankah Nona seharusnya bekerja sampai sore?"Chloe tersentak. Ia buru-buru memasang senyum tipis. "Aku... masih merasa kurang enak badan, Bi. Kepalaku sedikit pusing, jadi aku pulang lebih awal.""Pusing?"
Semuanya terjadi dalam sekejap.Sebelum pria bertubuh gempal itu sempat menarik tangannya, sebuah kepalan keras menghantam rahangnya dengan suara yang membuat lorong bergema. Tubuh besar itu terpelanting ke samping dan membentur dinding, lalu merosot ke lantai sambil memegangi wajahnya yang berdarah."Tu... Tuan Hawk!" Pria itu terbata-bata dengan wajah pucat pasi. "Ampun, Tuan! Saya tidak...""Diam." Suara Adam rendah, dingin, dan mematikan. Ia melangkah mendekat dengan sorot mata yang membuat temannya refleks mundur sambil gemetar. "Kau dipecat. Hari ini juga. Sekarang juga.""Tuan, tolong! Saya hanya bercanda! Saya punya keluarga, saya punya anak...""Kau seharusnya memikirkannya sebelum menyentuh orang yang bukan milikmu." Adam mencengkeram kerah kemeja pria itu dan mengangkatnya hingga kaki si pria nyaris tak menyentuh lantai. Urat di pelipisnya menegang. "Bukan hanya dipecat. Kau akan menyesal pernah dilahirkan.""Ampun... ampun, Tuan.
Pagi itu Chloe melangkah masuk ke lantai divisi keuangan dengan blus putih bersih dan rok hitam sederhana. Demamnya sudah hilang sepenuhnya, dan di dalam dadanya masih tersisa sedikit kehangatan dari percakapan semalam di ruang kerja Adam. Tadi pagi ia juga melewati sarapan hangat bersama pria itu. Karena terus terbayang akan moment bersama Adam, ia sempat menyunggingkan senyum kecil saat lift berhenti di lantai tujuannya.Namun senyum itu lenyap begitu ia sampai di sudut ruangan.Meja kecil tempat ia bekerja dua hari lalu sudah tidak ada. Tidak ada kursi, tidak ada tumpukan arsip, bahkan tidak ada bekas debu di lantai. Sudut itu kini kosong, seolah Chloe memang tidak pernah ada di sana."Permisi," ujar Chloe pada seorang staf wanita yang lewat. "Meja saya di mana?""Meja?" Wanita itu menaikkan alis, lalu tersenyum mengejek. "Kami kira kau sudah resign. Kau menghilang begitu saja kemarin. Mejanya sudah dipindahkan ke gudang.""Saya tidak resign. Sa
Langit sudah gelap sepenuhnya ketika suara mobil terdengar memasuki halaman penthouse. Chloe yang sedang duduk di dekat jendela kamar langsung menegakkan tubuh. Dari celah tirai, ia melihat Adam turun dari mobil dengan langkah berat, jas tersampir di lengan dan dasi yang sudah dilonggarkan.Wajahnya tampak kusut. Garis lelah terlihat jelas di sekitar matanya, dan rahangnya mengeras seperti sedang menahan sesuatu yang berat.Chloe terdiam. Pagi tadi pria itu masih tertawa dan menggodanya habis-habisan. Kini ia tampak seperti orang yang baru saja memikul beban seluruh dunia.Ia mengintip dari ambang pintu kamar ketika Adam berjalan melewati lorong. Pria itu tidak menoleh. Ia langsung menuju ruang kerjanya di ujung lantai dua dan menutup pintu di belakangnya dengan bunyi pelan.Chloe menggigit bibir. Selama beberapa menit ia hanya berdiri di tempat. Akhirnya ia menarik napas dalam dan melangkah menyusuri lorong, berhenti di depan pintu kayu gelap itu, lalu mengetuk perlahan."Adam, ini a
Senja merayap perlahan melewati jendela-jendela besar apartemen keluarga Maxwell, mengubah ruang tamu yang luas itu menjadi berwarna jingga keemasan. Namun di dalamnya, suasana sama sekali tidak muram. Musik jazz mengalun dari pengeras suara, sementara meja kaca di tengah ruangan dipenuhi berbagai hidangan mewah yang baru saja diantar oleh restoran terkenal.Ada steak wagyu yang masih beruap, pasta truffle, seafood platter berukuran besar, dan sebotol anggur merah yang baru dibuka. Atalia menyandarkan tubuhnya di sofa dengan kaki terangkat, sementara Sofia duduk anggun di sampingnya dengan gelas kristal di tangan."Cobalah ini," ujar Atalia sambil menyodorkan sepotong daging. "Enak sekali. Ini dari restoran yang biasa dipakai Adam untuk menjamu klien.""Sayang sekali Adam tidak ada di sini untuk melihat kita menikmatinya," sahut Sofia sambil tertawa kecil."Biar saja. Nanti dia juga akan tahu." Atalia mengangkat gelasnya. "Bersulang sekali lagi. Untuk har
Apartemen keluarga Maxwell terletak di lantai dua puluh sebuah gedung mewah di kawasan elite kota. Interiornya didominasi marmer putih dan perabot emas yang sengaja dipilih untuk memamerkan status. Namun siang itu, tak ada yang bisa mempercantik suasana hati penghuninya.Sofia bersandar di sofa krem dengan mata masih sembap. Kopernya berjajar tak beraturan di dekat pintu, karena dia belum ada niatan untuk membongkarnya. Atalia duduk di sampingnya, mondar-mandir sebentar, lalu akhirnya ikut duduk sambil mengeluarkan ponsel dari tas."Kita tidak boleh menunda lagi," ujar Atalia tegas. "Aku akan menghubungi Ibu sekarang.""Apa Tante Mariana tidak sedang sibuk?" tanya Sofia pelan."Dia pasti mau mendengar ini." Atalia menekan layar ponselnya dengan jari yang gemetar karena marah. "Karena ini menyangkut anak kesayangannya."Nada sambung panjang terdengar. Setelah beberapa saat, layar akhirnya menampilkan wajah seorang wanita paruh baya dengan rambut disanggul rapi dan balutan setelan elega







