Home / Romansa / Dalam Pelukan Sang Musuh / Bab 8. Pelayan Baru

Share

Bab 8. Pelayan Baru

Author: Sandra Dhee
last update publish date: 2026-09-25 19:20:21

Pagi datang membawa suasana baru bagi Chloe. Ia sedang duduk di meja riasnya, menyisir rambut panjangnya dengan sisir kayu antik dari kayu mahoni, ketika aroma roti panggang itu menyeruak dari dapur dan menggoda indera penciumannya.

Pagi ini, ia sengaja memakai gaun sederhananya sendiri daripada memilih salah satu gaun mewah yang ada di lemari. Bukan karena tak menghargai pemberian Adam, tapi hanya karena ia masih belum terbiasa memakai barang mewah seperti itu, terutama untuk dipakai sehari-
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 44. Nenek Sihir Bertopeng Ibu Peri

    Pagi itu Chloe melangkah masuk ke lantai divisi keuangan dengan blus putih bersih dan rok hitam sederhana. Demamnya sudah hilang sepenuhnya, dan di dalam dadanya masih tersisa sedikit kehangatan dari percakapan semalam di ruang kerja Adam. Tadi pagi ia juga melewati sarapan hangat bersama pria itu. Karena terus terbayang akan moment bersama Adam, ia sempat menyunggingkan senyum kecil saat lift berhenti di lantai tujuannya.Namun senyum itu lenyap begitu ia sampai di sudut ruangan.Meja kecil tempat ia bekerja dua hari lalu sudah tidak ada. Tidak ada kursi, tidak ada tumpukan arsip, bahkan tidak ada bekas debu di lantai. Sudut itu kini kosong, seolah Chloe memang tidak pernah ada di sana."Permisi," ujar Chloe pada seorang staf wanita yang lewat. "Meja saya di mana?""Meja?" Wanita itu menaikkan alis, lalu tersenyum mengejek. "Kami kira kau sudah resign. Kau menghilang begitu saja kemarin. Mejanya sudah dipindahkan ke gudang.""Saya tidak resign. Sa

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 43. Pembicaraan Hangat di Ruang Kerja

    Langit sudah gelap sepenuhnya ketika suara mobil terdengar memasuki halaman penthouse. Chloe yang sedang duduk di dekat jendela kamar langsung menegakkan tubuh. Dari celah tirai, ia melihat Adam turun dari mobil dengan langkah berat, jas tersampir di lengan dan dasi yang sudah dilonggarkan.Wajahnya tampak kusut. Garis lelah terlihat jelas di sekitar matanya, dan rahangnya mengeras seperti sedang menahan sesuatu yang berat.Chloe terdiam. Pagi tadi pria itu masih tertawa dan menggodanya habis-habisan. Kini ia tampak seperti orang yang baru saja memikul beban seluruh dunia.Ia mengintip dari ambang pintu kamar ketika Adam berjalan melewati lorong. Pria itu tidak menoleh. Ia langsung menuju ruang kerjanya di ujung lantai dua dan menutup pintu di belakangnya dengan bunyi pelan.Chloe menggigit bibir. Selama beberapa menit ia hanya berdiri di tempat. Akhirnya ia menarik napas dalam dan melangkah menyusuri lorong, berhenti di depan pintu kayu gelap itu, lalu mengetuk perlahan."Adam, ini a

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 42. Pesta Dan Kerakusan

    Senja merayap perlahan melewati jendela-jendela besar apartemen keluarga Maxwell, mengubah ruang tamu yang luas itu menjadi berwarna jingga keemasan. Namun di dalamnya, suasana sama sekali tidak muram. Musik jazz mengalun dari pengeras suara, sementara meja kaca di tengah ruangan dipenuhi berbagai hidangan mewah yang baru saja diantar oleh restoran terkenal.Ada steak wagyu yang masih beruap, pasta truffle, seafood platter berukuran besar, dan sebotol anggur merah yang baru dibuka. Atalia menyandarkan tubuhnya di sofa dengan kaki terangkat, sementara Sofia duduk anggun di sampingnya dengan gelas kristal di tangan."Cobalah ini," ujar Atalia sambil menyodorkan sepotong daging. "Enak sekali. Ini dari restoran yang biasa dipakai Adam untuk menjamu klien.""Sayang sekali Adam tidak ada di sini untuk melihat kita menikmatinya," sahut Sofia sambil tertawa kecil."Biar saja. Nanti dia juga akan tahu." Atalia mengangkat gelasnya. "Bersulang sekali lagi. Untuk har

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 41. Badai Yang Akan Datang

    Apartemen keluarga Maxwell terletak di lantai dua puluh sebuah gedung mewah di kawasan elite kota. Interiornya didominasi marmer putih dan perabot emas yang sengaja dipilih untuk memamerkan status. Namun siang itu, tak ada yang bisa mempercantik suasana hati penghuninya.Sofia bersandar di sofa krem dengan mata masih sembap. Kopernya berjajar tak beraturan di dekat pintu, karena dia belum ada niatan untuk membongkarnya. Atalia duduk di sampingnya, mondar-mandir sebentar, lalu akhirnya ikut duduk sambil mengeluarkan ponsel dari tas."Kita tidak boleh menunda lagi," ujar Atalia tegas. "Aku akan menghubungi Ibu sekarang.""Apa Tante Mariana tidak sedang sibuk?" tanya Sofia pelan."Dia pasti mau mendengar ini." Atalia menekan layar ponselnya dengan jari yang gemetar karena marah. "Karena ini menyangkut anak kesayangannya."Nada sambung panjang terdengar. Setelah beberapa saat, layar akhirnya menampilkan wajah seorang wanita paruh baya dengan rambut disanggul rapi dan balutan setelan elega

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 40. Hukuman di Meja Makan

    Beberapa menit kemudian aroma roti panggang dan telur dadar memenuhi ruang makan penthouse. Meja panjang itu sudah tertata rapi dengan piring porselen, serbet putih, dan teko kopi yang masih mengepul. Namun tidak seorang pun benar-benar berselera untuk makan disana.Sofia duduk di kursi yang biasa ia tempati dengan setelan kerja berwarna krem. Rambut pirangnya sudah tersisir rapi, tetapi sorot matanya terlihat letih. Di sampingnya, Atalia menyesap tehnya sambil sesekali melirik jam, dengan wajah masam yang tak berusaha disembunyikan.Langkah kaki tegas terdengar dari arah pintu. Keduanya menoleh bersamaan.Adam memasuki ruang makan dengan setelan kerja berwarna abu gelap. Dasinya terpasang sempurna dan rambutnya tersisir rapi, seolah pria yang tadi tertawa santai di kamar Chloe adalah orang yang sama sekali berbeda. Wajahnya datar dan dingin, dan aura tidak bersahabat langsung mengisi ruangan."Adam! Kau mau sarapan juga?" sapa Atalia sambil memaksakan se

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 39. Pagi yang Mendebarkan

    Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah tirai, menimbulkan garis-garis keemasan di atas seprai putih. Chloe mengerjap pelan. Kepalanya tidak lagi berdenyut seperti kemarin, dan tubuhnya terasa jauh lebih ringan, walau tulangnya masih terasa sedikit lemas untuk digerakkan.Ia ingin meregangkan badan. Namun ada sesuatu yang berat melingkar di pinggangnya.Chloe menunduk perlahan, lalu seluruh tubuhnya membeku.Sebuah lengan kokoh melingkari pinggangnya dengan posesif. Pipinya menempel di dada bidang yang naik turun secara teratur, dan di bawah telinganya terdengar detak jantung yang tenang dan mantap. Dengan gerakan sangat lambat, Chloe mendongak.Wajah tidur Adam berada tepat di atasnya.Alisnya yang biasanya selalu berkerut kini terlihat rileks. Bulu matanya panjang, rahangnya yang tegas tampak lebih lembut, dan bibirnya sedikit terbuka. Ia tampak seperti orang yang berbeda. Bukan Adam Hawk yang dingin dan menakutkan, melainkan seorang pria b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status