LOGIN*
Mobil yang ditumpangi oleh Liona mulai berdecit, berhenti di sebuah rumah mewah. Tubuh Liona pun dibawa paksa keluar dari mobil namun masih dengan mata yang tertutup kain. Menyedihkan, gadis itu berjalan sambil terseok didampingi oleh dua pengawal. “Bawa dia ke atas, Tuan besar sudah menunggu!” ucap seseorang sama tinggi besarnya dengan jajaran bodyguard didalam rumah mewah tersebut. “Bagaimana dengan tuan muda?” tanya Oskar. “Belum, tuan muda masih dalam perjalanan!” Tak ada lagi yang Oskar tanyakan, ia gegas menuju lift bersamaan dengan bodyguard yang membawa Liona, mereka menuju lantai teratas dimana tuan besar pemilik rumah itu berada. Sesampainya di lantai tujuan, Oskar berjalan tergesa menuju satu pintu besar berwarna coklat, dibukanya secara pelan lalu Oskar berdiri dengan tegap menghadap satu kursi kebesaran yang tengah di duduki seseorang. “Selamat siang tuan Liam, saya sudah membawa gadis ini!” ucap Oskar memberitahu, Liona hanya menunduk ia mendengarkan apapun yang ia tangkap oleh telinganya di ruangan itu. Seorang pria bernama Liam yang sedang duduk di kursi itu mulai beranjak bangun, ia mendekat ke arah para orang kepercayaannya. Liam berdiri, memandang Liona yang tertunduk. Wajahnya tampan nan karismatik meski ia sudah tidak lagi muda, lalu helaan nafas pun terdengar dari mulut pria itu. “Siapa namanya?,” tanya Liam. “Liona Andrea!” “Apa benar dia tidak memiliki orang tua?” Liam bertanya lagi. Oskar kemudian memberikan sebuah map berisi biodata Liona. Dengan penuh ketelitian Liam membacanya, tidak ada yang terlewatkan sama sekali. Baginya, gadis yang akan menikah dengan putranya tidak boleh dari keluarga yang tidak jelas, Liam tidak memandangnya dari kasta juga harta, namun Liam memiliki sudut pandang yang berbeda, yaitu selama gadis tersebut baik dan tidak bertingkah macam-macam maka ia siap menerimanya. Ia tidak suka gadis gaul seperti di era jaman modern ini. Sudah banyak gadis-gadis yang berusaha mencuri perhatian putranya, tapi mereka hanya menginginkan harta, bukan kesungguhan untuk menjadi menantu dan Istri yang baik bagi sang putra pewaris yang memiliki kekurangan itu. Ya, kekurangan, karena putra sulung Liam itu lumpuh. “Dia hanya tinggal bersama Tantenya, menurut saya dia adalah gadis yang cocok untuk Tuan muda!” Oskar menceritakan sedikit tentang Liona. Tentu, Oskar bukan orang yang bodoh, ia sudah tahu latar belakang Liona, selama ini ia sudah mengamati gadis itu secara detail. Pertemuan bersama Imelda kian mudah karena Imelda wanita yang materialistis. “Baguslah, aku yakin kau tidak akan salah pilih Oskar!” ucap pria bernama lengkap Liam Wilson itu. Tangannya terulur membuka kain penutup mata Liona, begitu terbuka, langsung saja Liona tercekat kaget, ia berusaha menghindar tatkala menatap Liam tepat didepannya. Namun sayang seribu sayang, Liona tidak dapat menghindar jauh, dua pengawal segera memegangi tubuhnya, Liona kembali berdiri tegak menghadap Liam yang berdiri tanpa ekspresi. “Ampun Tuan, jangan! Tolong lepaskan saya!” pinta Liona, menangkupkan tangan didepan dada. Gadis itu memohon belas kasihan agar dilepaskan. Barangkali hanya itu yang bisa ia lakukan. “S-saya… s-saya b-belum m-mau menikah Tuan!” Liona menangis, ia memohon pada tuan kaya raya tersebut. Jangan ditanya bagaimana ketakutan Liona, rasanya kakinya sudah tidak mampu untuk berdiri, ia merasa hanya partikel kecil dalam rumah itu hingga bisa dengan mudah diinjak, ditindas bahkan di musnahkan. “Saya tidak meminta kamu siap atau tidak, Tante mu sudah menandatangani surat perjanjian yang telah kami berikan, jadi jalani tugasmu dengan baik, selama kamu tidak bertingkah, semua akan baik-baik saja, tenanglah!” Suara Liam terdengar, tatapannya datar namun tetap mampu membuat hati Liona bergetar karena takut. Liam kemudian menjauh dari Liona, ia kembali duduk. “Oskar, bawa dia ke kamar, putraku akan tiba sebentar lagi,” titahnya, yang diangguki cepat oleh Oskar dan yang lain. Tanpa menunggu aba-aba lagi, Oskar berjalan, diiringi dengan dua pengawal yang membawa Liona. Satu kamar di lantai tiga menjadi tempat yang akan ditempati oleh Liona di rumah itu. Liona di dorong pelan masuk kedalam, ingin menolak namun sulit, akhirnya ia pasrah dan terdiam dengan air mata luruh membasahi pipi. Di ambang pintu Oskar menatap sekilas lalu berkata. “Bersiaplah, Tuan muda akan segera datang, bersihkan dirimu, dia memiliki alergi terhadap sesuatu yang kotor!!” Blam! Pintu tertutup, tidak dikunci namun ketat akan pengawalan. Oskar tahu Liona tidak mungkin kabur begitu saja karena dijaga ketat. “Ya Tuhan!” Liona terduduk lesu, ia memeluk dirinya sendiri. Kenapa? Kenapa semua harus terjadi? Dalam batin pertanyaan itu terus terucap, sejak kecil ia harus kehilangan orang tua, sekarang hal yang menyakitkan kembali terulang, dan itu disebabkan oleh anggota keluarganya sendiri. Belum cukupkah semua ujian hidup? Entahlah. Ah… Liona sudah tidak mampu lagi berkata-kata, ia hanya menangis dalam diam dan sunyi nya ruangan itu. Ruangan yang bagi Liona sendiri adalah penjara, tempat dimana kebebasannya dirampas dan perintahkan patuh pada semua aturan. Dan apalagi itu, Alergi? Dia bilang Alergi, apa aku adalah manusia yang paling kotor? Miris, Liona merasa seonggok daging yang tidak ada harganya. “Permisi Nona, perkenalkan saya Dahlia. Maaf saya diperintahkan untuk melayani Nona!” Tiba-tiba suara perempuan terdengar menyapa Liona yang masih terduduk lemas, pakaiannya begitu rapi dengan seragam ciri khas, dan Liona paham bahwa perempuan itu adalah seorang pekerja di rumah mewah tersebut. “Tuan muda akan segera tiba, sebaiknya Nona segera bersiap-siap,” sambung Dahlia lagi, ia sibuk mempersiapkan pakaian ganti untuk Liona yang telah disediakan. Namun Liona masih terdiam, ia menatap nanar tumpukan pakaian ganti itu. Menatap iba, Dahlia pun berusaha sedikit menenangkan gadis yang ada di depannya “Semua akan berjalan dengan semestinya nona, jangan khawatir!” Dengan perasaan bergemuruh, Liona bangkit dari duduknya, ia berjalan pelan menuju kamar mandi. Memang benar apa kata Dahlia, semua akan berjalan dengan semestinya, dan Liona tidak sanggup melawan, sekarang hidup dan matinya ada di tangan orang yang membelinya. Liona menghabiskan waktu cukup lama di dalam kamar mandi, ia membiarkan tubuhnya terguyur oleh air sampai akhirnya pintunya kembali diketuk oleh Dahlia, Dahlia meminta Liona agar segera menyelesaikan aktivitas mandinya karena Tuan muda di rumah itu telah sampai. “Cepatlah sedikit Nona!” Buru-buru Dahlia menarik lengan Liona, ia segera menyerahkan baju untuk dikenakan, Liona tidak dapat berbuat apa-apa, ia segera memakai apapun yang telah disiapkan dibantu oleh Dahlia-asisten rumah tangga di kediaman Liam Wilson Sanjaya. Tak lupa, Dahlia sedikit memoles wajah Liona dengan make up flawles juga menyemprotkan parfum mahal pemberian Tuannya, tak banyak yang Dahlia lakukan untuk gadis itu, sejak lahir Liona sudah dikaruniai wajah yang begitu cantik, menurut Dahlia, Liona memiliki ciri khas tersendiri, wajahnya cantik tapi tidak membosankan saat di pandang. Tiba-tiba… “Keluar, Tuan muda sudah datang!,” ucap salah satu pengawal membuat Dahlia terkesiap, Dahlia lantas mengangguk dan menutup pintu lalu pergi dari ruangan itu meninggalkan Liona sendirian. Liona segera berjalan menuju sisi pojok saat terdengar suara langkah kaki mendekat, ia memeluk dirinya sendiri dengan perasaan takut berkecamuk. Begitu pintu terbuka, Liona menutup matanya, ia menunduk dalam tidak memiliki kekuatan untuk menatap sosok yang datang itu. “Dia adalah gadis pilihan Tuan Liam!” beritahu Oskar yang berdiri sembari mendorong kursi roda yang diduduki oleh seorang pria. Tatapan pria itu cukup dingin bagai es, wajahnya tampan namun terkesan arogan. “Namanya Liona Andrea,” Oskar melanjutkan. Putra pewaris Liam itu hanya berdehem pelan, akan tetapi matanya terus memperhatikan Liona. “Tuan Ganendra, apa perlu saya temani?” Tanya Oskar. Ya, nama Tuan muda itu adalah Ganendra Wilson Sanjaya. Pria lumpuh karena sebuah kecelakaan hebat beberapa tahun silam bersama sang Istri. Karena kurang percaya diri dan trauma ditinggal oleh orang yang paling ia sayangi Ganendra semakin tidak tertarik menikah lagi, ia tumbuh menjadi pria matang yang tidak dapat tersentuh. “Tidak perlu, aku ingin bicara dengan gadis itu hanya berdua!” “Apa Tuan yakin?” “Ya, pergilah!” Mematuhi perintah, Oskar segera keluar dari sana, meninggalkan Ganendra dan Liona hanya berdua. Selama sepuluh menit berada dalam ruangan itu, Ganendra masih diam memperhatikan gadis berambut panjang didepannya. Liona sendiri belum berani mengangkat wajah, ia masih tertunduk takut di pojok kamar. “Angkat kepalamu, aku ingin bicara!” ucap Ganendra, mendekatkan diri pada posisi Liona. Liona masih tertunduk dan itu membuat Ganendra kesal, ia spontan bersuara sarkas. “Apa kau tuli? aku bilang, angkat kepalamu, CEPAT!" Langsung saja Liona dibuat tersentak, untuk pertama kalinya Liona memberanikan diri mengangkat kepalanya, seketika matanya langsung membeliak kala menatap pria didepannya. Ya, Ganendra sangat tampan nyaris sempurna, hidung mancung serta alis yang tebal membuat Liona seolah terhipnotis tanpa mampu berkedip. Dan itulah pertemuan pertama mereka. **“Atas dasar apa kamu menerima pernikahan ini, nona?” Dengan tatapan tajam bak pedang yang menghunus pada Liona, Ganendra bertanya datar, tak ada ekspresi apapun yang ditujukan pria matang itu kecuali rasa benci, sementara Liona ia bingung, namun belum sempat Liona menjawab, suara Ganendra kembali terdengar terkesan seolah meremehkan. “Uang? Oh atau semua hartaku?” Ketika mendengarnya, sontak Liona membelalak. “A-apa m-maksud Tuan?” “Jangan pura-pura bodoh, aku tahu tipikal perempuan sepertimu, kau tidak jauh berbeda dengan perempuan lainnya, atas dasar harta, kau sukarela menyerahkan dirimu untuk menikahi seorang yang lumpuh seperti ku, benar begitu bukan?!” Kata-kata Ganendra begitu sadis, ia berhasil membuat Liona sakit hati untuk pertama kali, rasanya Liona ingin sekali membantah ucapan tersebut, tapi mana bisa? Liona tidak memiliki keberanian, terlebih ketika menatap tajamnya sorot manik kelabu milik Ganendra. “Jangan kau pikir, hanya karena kau adalah perempuan pilihan Papa
* Mobil yang ditumpangi oleh Liona mulai berdecit, berhenti di sebuah rumah mewah. Tubuh Liona pun dibawa paksa keluar dari mobil namun masih dengan mata yang tertutup kain. Menyedihkan, gadis itu berjalan sambil terseok didampingi oleh dua pengawal. “Bawa dia ke atas, Tuan besar sudah menunggu!” ucap seseorang sama tinggi besarnya dengan jajaran bodyguard didalam rumah mewah tersebut. “Bagaimana dengan tuan muda?” tanya Oskar. “Belum, tuan muda masih dalam perjalanan!” Tak ada lagi yang Oskar tanyakan, ia gegas menuju lift bersamaan dengan bodyguard yang membawa Liona, mereka menuju lantai teratas dimana tuan besar pemilik rumah itu berada. Sesampainya di lantai tujuan, Oskar berjalan tergesa menuju satu pintu besar berwarna coklat, dibukanya secara pelan lalu Oskar berdiri dengan tegap menghadap satu kursi kebesaran yang tengah di duduki seseorang. “Selamat siang tuan Liam, saya sudah membawa gadis ini!” ucap Oskar memberitahu, Liona hanya menunduk ia mendengarkan apapu
*Pagi harinya ketika Liona terbangun dari tidurnya, hal yang ia lakukan adalah membereskan segudang pekerjaan rumah, termasuk menyiapkan sarapan pagi untuk penghuni rumah tersebut. “Liona, mana susu nya?” tanya Nanda sambil menguap, wajahnya kusut karena baru saja bangun tidur. “Sebentar, aku ambilkan!” Liona lantas berlari kecil menuju dapur, hari ini adalah hari Senin, kedua anak Imelda akan pergi ke sekolah, mereka duduk di bangku Sekolah menengah atas kelas akhir. “Liona, tugas kemarin sudah diselesaikan kan?” tanya Nindi, kembaran Nanda. “Sudah, bukunya aku simpan di meja sudut,” balas Liona, ia menyimpan satu gelas susu diatas meja makan. Begitulah kelakuan anak Imelda, ia menjadikan Liona tak hanya seperti pembantu, tapi juga gadis serbaguna, karena Liona tak hanya memiliki wajah cantik, namun juga memiliki otak yang pintar, tidak seperti Nanda dan Nindi. Dulu, Liona memiliki cita-cita menjadi Dokter, akan tetapi ketiadaan biaya membuatnya putus sekolah juga sadar diri, da
“Mahar 500 juta untuk keponakanku!" suara wanita berambut merah itu terdengar begitu lantang menyebutkan angka fantastis. “500 juta? apa kau yakin?," tanya lawan bicara wanita berambut merah tersebut memastikan diiringi dengan mata yang menatap serius. “Ya, apa kau keberatan?" “Tentu saja tidak, asalkan dengan satu syarat, dia masih suci!" Imelda-wanita berambut merah tersebut tertawa menyeringai. “Aku jamin 1000% bahwa keponakanku masih suci!" kemudian, Imelda melempar sebuah foto gadis muda tepat ke atas meja restaurant itu, gadis manis yang memiliki wajah begitu cantik dengan kulit putih bersih. Gadis yang mampu memikat mata siapapun yang melihatnya, termasuk Oskar-Pria setengah paruh baya yang sedang mencari gadis bersegel yang akan dipinang oleh anak Tuan majikannya. Ya, Oskar adalah seorang asisten orang terkaya dan terpandang di Kota J.K. Sebulan lalu, Tuan majikannya memintanya untuk mencarikan gadis untuk putra pewarisnya yang tidak pernah ingin menikah setelah seb







