مشاركة

Dijual

مؤلف: Queenpenna
last update آخر تحديث: 2026-01-11 14:01:37

*

Pagi harinya ketika Liona terbangun dari tidurnya, hal yang ia lakukan adalah membereskan segudang pekerjaan rumah, termasuk menyiapkan sarapan pagi untuk penghuni rumah tersebut.

“Liona, mana susu nya?” tanya Nanda sambil menguap, wajahnya kusut karena baru saja bangun tidur.

“Sebentar, aku ambilkan!” Liona lantas berlari kecil menuju dapur, hari ini adalah hari Senin, kedua anak Imelda akan pergi ke sekolah, mereka duduk di bangku Sekolah menengah atas kelas akhir.

“Liona, tugas kemarin sudah diselesaikan kan?” tanya Nindi, kembaran Nanda.

“Sudah, bukunya aku simpan di meja sudut,” balas Liona, ia menyimpan satu gelas susu diatas meja makan. Begitulah kelakuan anak Imelda, ia menjadikan Liona tak hanya seperti pembantu, tapi juga gadis serbaguna, karena Liona tak hanya memiliki wajah cantik, namun juga memiliki otak yang pintar, tidak seperti Nanda dan Nindi. Dulu, Liona memiliki cita-cita menjadi Dokter, akan tetapi ketiadaan biaya membuatnya putus sekolah juga sadar diri, dan mengubur cita-citanya sekaligus impiannya itu.

Selesai dengan tugas dan rutinitas pagi, Liona mulai bersiap diri, seperti yang sudah dikatakan Imelda semalam, kini Liona telah siap untuk diajak pergi. Baju kemeja biru muda dengan rok putih motif bunga-bunga telah melekat di tubuh gadis muda tersebut. Imelda yang baru saja keluar dari dalam kamar menatap Liona dari ujung kepala hingga kaki, seketika matanya melotot tajam menatap penampilan keponakannya yang dinilai kampungan.

“Astaga, apa-apaan ini, kenapa kamu memakai baju usang seperti ini? Liona, kamu bisa membuat Tante malu!” Imelda menggerutu hebat.

Liona tertunduk, ditatapnya baju yang ia pakai. Baju tersebut masih sangat layak, masih terkesan bagus diantara baju miliknya yang lain.

“Tapi Tan, hanya ini baju yang Liona punya,” beritahu Liona, wajahnya nampak bingung hendak menggunakan baju apa.

Imelda menepuk kening, raut wajahnya kesal tapi ia memiliki ide. “Tunggu sebentar!” Imelda kemudian melangkah menuju kamar putrinya, ia kembali dengan tangan memegang pakaian yang sudah pasti milik Nanda.

“Ganti dan pakailah ini, cepat!” Sambil menyerahkan pakaian itu, Imelda mendorong pelan tubuh Liona masuk kembali ke dalam kamar. Tak banyak protes, Liona hanya menuruti keinginan Imelda, ia lekas mengganti pakaian dan keluar ketika selesai.

Liona berusaha membenarkan midi dress yang ia pakai, agaknya ia merasa tidak nyaman karena bagian bahu nya sedikit terekspos.

“Tan, apa tidak ada baju yang lain?” Liona memberanikan diri bertanya, ia sangat tidak merasa nyaman, sesekali ia menutupi bahu dengan tangan.

Bukannya menjawab, Imelda malah menarik lengan keponakannya, tubuh Liona di putar ke kanan dan ke kiri sambil tersenyum penuh makna.

“Tidak ada, ini sudah pas!”

Tepat seperti dugaan Imelda, Liona begitu cocok dengan pakaian pilihannya. Namun meski begitu matanya masih mencari letak kekurangan gadis itu. Imelda kemudian meraih sesuatu dalam tas, ia secepatnya memakaikan lipstik merah muda pada bibir Liona, tak lupa Imelda juga menyemprotkan parfum agar gadis itu sedikit wangi. Pertemuan ini adalah pertemuan yang sangat penting, jadi tidak mungkin jika Imelda tidak menyiapkannya dengan sempurna.

Setelah dirasa cukup, Imelda pun pergi bersama Liona, taksi online yang ditumpangi keduanya menuju ke sebuah hotel bintang lima di kawasan pusat Kota. Disana, Oskar sudah menunggu kedatangan Imelda.

Perjalanan cukup singkat, jalanan lancar tanpa kemacetan, hingga akhirnya mobil berdecit tepat di pelataran Hotel.

“Ayo turun, kita sudah sampai!” Ajak Imelda, ia turun lebih dulu.

Tanpa tahu apapun, Liona mengikuti sang Tante, untuk pertama kalinya Liona menjejakkan kaki ke sebuah Hotel. Sejenak, Liona terdiam dengan mata yang mengembara ke tiap inci bangunan di depannya.

“Liona, ayo cepat! Dia telah menunggu kita!”

“Dia?” Ulang Liona. “Dia siapa maksud Tante?”

“Sudah jangan banyak tanya, ayo cepat!” Imelda segera menarik pergelangan tangan Liona, membawanya masuk ke dalam Hotel.

Begitu sampai di dalam, suasana nampak sepi, hanya ada segelintir orang, itupun hanya pegawai Hotel tersebut, nampaknya mungkin hanya Liona dan tantenya saja yang berkunjung.

“Nyonya Imelda Hanindya?” tanya resepsionis, ia memastikan.

“Ya, saya Imelda!” balas Imelda, tersenyum ramah, sedang Liona, ia hanya diam sedikit tertunduk.

“Baik, mari ikut saya!”

Salah satu karyawan Hotel yang lain mengarahkan Imelda masuk ke dalam lift, ketiganya pun masuk dan Lift mulai naik ke lantai atas. Hati Liona mulai gusar, pikirannya mulai bercabang, beberapa kali ia menelan ludah dengan kasar.

“Tante, sebenarnya kita mau kemana? Kenapa kita ke Hotel?” tanya Liona, wajahnya kentara sekali bingung, firasatnya tidak enak. Tangan gadis itu bahkan berkeringat dingin.

“Menemui seseorang, nanti kamu juga akan tahu sendiri, bersabarlah!” Hanya itu kata yang keluar dari mulut Imelda, kata yang sama sekali tidak mampu menenangkan Liona.

Pintu lift mulai berdenting, mereka sampai di lantai tujuan. Kaki Liona melangkah dengan jantung yang kian berdegup, lain hal nya dengan Imelda ia terlihat sumringah tatkala melihat dua orang tinggi besar yang berdiri tepat di ambang pintu.

“Silahkan masuk, tuan Oskar sudah menunggu!” ucap satu orang bodyguard milik Oskar mempersilahkan. Tatapan keduanya begitu dingin dan datar tanpa ekspresi.

“Maaf kami terlambat sedikit Tuan!” Imelda tanpa ragu mengambil tempat duduk tepat di hadapan Oskar. Begitupun dengan Liona yang ikut duduk karena tangannya ditarik paksa.

“Tidak masalah, yang paling penting sesuai janji. Apa dia gadis itu?” Mata Oskar menatap Liona yang sedikit menunduk segan.

“Iya, bagaimana? dia sangat cantik bukan?” Tangan Imelda merangkul kedua pundak Liona, tak lupa sedikit mengangkat dagu Liona agar wajah cantik itu terlihat didepan Oskar.

Liona yang risih, ia berusaha menggeliat lalu kembali menunduk menatap kaki yang mulai gemetar. Ada apa ini sebenarnya? Batin Liona semakin bertanya-tanya dalam diam.

“Cantik dan sangat lugu, saya yakin Tuan besar pasti akan menyukai gadis ini!” kata Oskar terus menatap Liona dari ujung kepala hingga kaki.

“Tentu saja, Liona ini gadis yang baik, dia tidak hanya cantik! Dia sangat cocok untuk menjadi Istri idaman!” ujar Imelda, sontak Liona tersentak kaget, ia reflek mendongak menatap Tantenya.

“Istri? Maksud Tante?”

“Iya Liona, Tante dan Tuan Oskar akan menjodohkan kamu dengan seseorang, kamu akan menjadi Istri dari seseorang yang sangat kaya raya,” beritahu Imelda tanpa rasa bersalah karena telah membuat Liona kaget.

“Kamu tidak perlu lagi lelah mencari pekerjaan Liona, dengan menikah kamu akan hidup enak!” Sambungnya lagi.

“M-menikah? Tante, Liona masih belum ingin menikah, Liona masih belum cukup mengerti tentang pernikahan!” Digenggamnya lengan Imelda, berusaha meyakinkan Tantenya bahwa Liona tidak mau menerima perjodohan itu. Perjodohan seperti apa yang dimaksud, sedang Liona sendiri tidak tahu siapa pria yang dipilih Tantenya.

“Pernikahan tidak perlu dipelajari sampai kamu mengerti Liona, kamu hanya perlu mengabdikan diri pada suamimu, itu saja!”

“Tidak tan, Liona tidak mau!”

“Harus mau!” Bentak Imelda, matanya melotot tajam. “Dengar, dari kecil aku sudah mengasuhmu sampai sebesar ini, aku membiayaimu, memberimu tempat tinggal, jadi patuhilah permintaanku Liona, berbaktilah kepadaku seperti kamu berbakti pada orang tua mu sendiri!”

Imelda mencengkram dagu Liona yang kini menangis, ketakutan merajai gadis muda itu, tubuhnya bergetar hebat.

“Silahkan bawa dia Tuan Oskar, dan berikan uang muka yang kau janjikan!” Tubuh Imelda beranjak bangun, ia mengangkat tangan meminta pada Oskar pundi-pundi uang yang dijanjikan.

Oskar tidak banyak bicara, ia meraih amplop coklat tebal dalam tas lalu memberikannya pada Imelda.

“Sisanya, akan aku berikan setelah gadis ini resmi menikah dengan Tuanku!” kata Oskar, Imelda mengangguk. Sedang Liona, ia ikut berdiri meraih tangan Imelda.

“Tante, jangan Tante…tolong, Liona janji, Liona akan bekerja keras untuk membayar semua hutang Liona pada Tante jika tante ingin Liona membayarnya. Tapi tolong jangan seperti ini Tan!” Air mata Liona tumpah, wajahnya mulai pucat, ia panik bukan main. Imelda sama saja menjualnya.

“Sudah cukup Liona, Tuan saya pamit, saya serahkan Liona pada Tuan, mulai detik ini, Tuan berhak atas hidupnya, jangan lupa kesepakatan kita!” setelah mengatakan itu, Imelda pergi dari hadapan Oskar, tak dipedulikan pegangan tangan Liona, gadis itu terseret dan dihempaskan oleh Imelda saat berusaha menariknya.

“Bima, Edy. Pegang gadis itu, jangan biarkan dia kabur!” Suara Oskar menginterupsi. Dengan sigap dua bodyguard yang berada di depan menghadang langkah Liona. Gadis itu memberontak ketika dipegangi, sambil terisak ia memohon agar dilepaskan.

“Tuan, tolong lepaskan saya tuan, kasihani saya!” air mata Liona kian meleleh.

Tak terpikirkan olehnya bahwa Imelda, satu-satunya sanak saudara yang ia pikir keluarga akan setega itu, menukarnya dengan uang.

“Jangan menangis, hapus air matamu, Tuan kami sudah membelimu!” ujar Oskar.

“Kita ke rumah besar sekarang!” Sambung Oskar lagi, kemudian melangkah keluar lebih dulu.

“Lepaskan, tuan. Saya mohon tuan… tolong lepaskan!” Liona berusaha melepaskan diri meski nihil, ia terus menggeliat saat tubuhnya dibawa secara paksa meninggalkan hotel.

“Diam, jangan berisik, Edy tutup saja matanya!”

“Baik Tuan Oskar!” salah satu pengawal mengambil kain hitam, lalu dipakaikannya pada kedua netra Liona, seketika semua menjadi gelap bagi Liona, bahkan ia tidak tahu saat ini telah dimasukan kedalam mobil mewah. Mobil itupun melaju membelah jalanan ibu kota. Liona mungkin tidak dapat melihat jalanan yang ia lalui, gadis itu tidak tahu apapun, tapi satu hal yang Liona tahu bahwa saat ini ia telah dibeli oleh seseorang.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Dalam Pelukan Tuan Ganendra   Murkanya Si Tuan Muda Lumpuh

    *“Atas dasar apa kamu menerima pernikahan ini, nona?” Dengan tatapan tajam bak pedang yang menghunus pada Liona, Ganendra bertanya datar, tak ada ekspresi apapun yang ditujukan pria matang itu kecuali rasa benci, sementara Liona ia bingung, namun belum sempat Liona menjawab, suara Ganendra kembali terdengar terkesan seolah meremehkan. “Uang? Oh atau semua hartaku?” Ketika mendengarnya, sontak Liona membelalak. “A-apa m-maksud Tuan?” “Jangan pura-pura bodoh, aku tahu tipikal perempuan sepertimu, kau tidak jauh berbeda dengan perempuan lainnya, atas dasar harta, kau sukarela menyerahkan dirimu untuk menikahi seorang yang lumpuh seperti ku, benar begitu bukan?!” Kata-kata Ganendra begitu sadis, ia berhasil membuat Liona sakit hati untuk pertama kali, rasanya Liona ingin sekali membantah ucapan tersebut, tapi mana bisa? Liona tidak memiliki keberanian, terlebih ketika menatap tajamnya sorot manik kelabu milik Ganendra. “Jangan kau pikir, hanya karena kau adalah perempuan pilihan Papa

  • Dalam Pelukan Tuan Ganendra   Pertemuan Pertama

    * Mobil yang ditumpangi oleh Liona mulai berdecit, berhenti di sebuah rumah mewah. Tubuh Liona pun dibawa paksa keluar dari mobil namun masih dengan mata yang tertutup kain. Menyedihkan, gadis itu berjalan sambil terseok didampingi oleh dua pengawal. “Bawa dia ke atas, Tuan besar sudah menunggu!” ucap seseorang sama tinggi besarnya dengan jajaran bodyguard didalam rumah mewah tersebut. “Bagaimana dengan tuan muda?” tanya Oskar. “Belum, tuan muda masih dalam perjalanan!” Tak ada lagi yang Oskar tanyakan, ia gegas menuju lift bersamaan dengan bodyguard yang membawa Liona, mereka menuju lantai teratas dimana tuan besar pemilik rumah itu berada. Sesampainya di lantai tujuan, Oskar berjalan tergesa menuju satu pintu besar berwarna coklat, dibukanya secara pelan lalu Oskar berdiri dengan tegap menghadap satu kursi kebesaran yang tengah di duduki seseorang. “Selamat siang tuan Liam, saya sudah membawa gadis ini!” ucap Oskar memberitahu, Liona hanya menunduk ia mendengarkan apapu

  • Dalam Pelukan Tuan Ganendra   Dijual

    *Pagi harinya ketika Liona terbangun dari tidurnya, hal yang ia lakukan adalah membereskan segudang pekerjaan rumah, termasuk menyiapkan sarapan pagi untuk penghuni rumah tersebut. “Liona, mana susu nya?” tanya Nanda sambil menguap, wajahnya kusut karena baru saja bangun tidur. “Sebentar, aku ambilkan!” Liona lantas berlari kecil menuju dapur, hari ini adalah hari Senin, kedua anak Imelda akan pergi ke sekolah, mereka duduk di bangku Sekolah menengah atas kelas akhir. “Liona, tugas kemarin sudah diselesaikan kan?” tanya Nindi, kembaran Nanda. “Sudah, bukunya aku simpan di meja sudut,” balas Liona, ia menyimpan satu gelas susu diatas meja makan. Begitulah kelakuan anak Imelda, ia menjadikan Liona tak hanya seperti pembantu, tapi juga gadis serbaguna, karena Liona tak hanya memiliki wajah cantik, namun juga memiliki otak yang pintar, tidak seperti Nanda dan Nindi. Dulu, Liona memiliki cita-cita menjadi Dokter, akan tetapi ketiadaan biaya membuatnya putus sekolah juga sadar diri, da

  • Dalam Pelukan Tuan Ganendra   Transaksi

    “Mahar 500 juta untuk keponakanku!" suara wanita berambut merah itu terdengar begitu lantang menyebutkan angka fantastis. “500 juta? apa kau yakin?," tanya lawan bicara wanita berambut merah tersebut memastikan diiringi dengan mata yang menatap serius. “Ya, apa kau keberatan?" “Tentu saja tidak, asalkan dengan satu syarat, dia masih suci!" Imelda-wanita berambut merah tersebut tertawa menyeringai. “Aku jamin 1000% bahwa keponakanku masih suci!" kemudian, Imelda melempar sebuah foto gadis muda tepat ke atas meja restaurant itu, gadis manis yang memiliki wajah begitu cantik dengan kulit putih bersih. Gadis yang mampu memikat mata siapapun yang melihatnya, termasuk Oskar-Pria setengah paruh baya yang sedang mencari gadis bersegel yang akan dipinang oleh anak Tuan majikannya. Ya, Oskar adalah seorang asisten orang terkaya dan terpandang di Kota J.K. Sebulan lalu, Tuan majikannya memintanya untuk mencarikan gadis untuk putra pewarisnya yang tidak pernah ingin menikah setelah seb

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status