Home / Romansa / Dalam Pelukan Tuan Ganendra / Murkanya Si Tuan Muda Lumpuh

Share

Murkanya Si Tuan Muda Lumpuh

Author: Queenpenna
last update Last Updated: 2026-01-21 19:32:50

*

“Atas dasar apa kamu menerima pernikahan ini, nona?” Dengan tatapan tajam bak pedang yang menghunus pada Liona, Ganendra bertanya datar, tak ada ekspresi apapun yang ditujukan pria matang itu kecuali rasa benci, sementara Liona ia bingung, namun belum sempat Liona menjawab, suara Ganendra kembali terdengar terkesan seolah meremehkan.

“Uang? Oh atau semua hartaku?”

Ketika mendengarnya, sontak Liona membelalak. “A-apa m-maksud Tuan?”

“Jangan pura-pura bodoh, aku tahu tipikal perempuan sepertimu, kau tidak jauh berbeda dengan perempuan lainnya, atas dasar harta, kau sukarela menyerahkan dirimu untuk menikahi seorang yang lumpuh seperti ku, benar begitu bukan?!” Kata-kata Ganendra begitu sadis, ia berhasil membuat Liona sakit hati untuk pertama kali, rasanya Liona ingin sekali membantah ucapan tersebut, tapi mana bisa? Liona tidak memiliki keberanian, terlebih ketika menatap tajamnya sorot manik kelabu milik Ganendra.

“Jangan kau pikir, hanya karena kau adalah perempuan pilihan Papa ku, semua akan berubah, tentu saja tidak, aku akan menjadikanmu hidup bagai di neraka dalam rumah ini!” Ganendra mendorong vas bunga yang semula bertengger manis di atas meja nakas hingga jatuh dan hancur berkeping-keping, Liona yang menyaksikan hal itu lantas menutup telinga dengan kedua tangannya, ia takut bukan main. Tubuhnya bergetar hebat.

Apa salahku?

“Tuan, apa yang telah aku lakukan sampai kau bisa marah seperti ini?” tanya Liona, ia memberanikan diri menatap pria didepannya. Liona jelas tidak mengerti, sedang ia saja datang kerumah tersebut karena ulah Tantenya.

Merespon itu Ganendra tersenyum miring, begitu terlihat arogan. “Dengan kau datang kerumah ini, kau sudah melakukan kesalahan besar!”

“Tapi tuan, aku hanya di jebak, ini bukan murni kemauan ku!”

“Dijebak? Omong kosong!”

“Aku berani bersumpah tuan kalau aku—...

“Diam! Jangan berani bicara apapun lagi! Aku hanya ingin kau menandatangani surat perjanjian ini, cepat!” Ganendra melempar map merah tepat ke hadapan Liona, Liona yang ketakutan, ia membungkuk lalu meraih map tersebut.

Dibukanya secara perlahan, matanya yang jeli membaca sedikit bagian atas.

“SURAT PERJANJIAN PERNIKAHAN, apa maksudnya?” Dalam hati, Liona membacanya, ia terpaku di tempat berusaha mencerna.

“Gadis tuli! Aku tidak memintamu membacanya, tapi tanda tangani surat itu!” Sarkas Ganendra, tak ada pilihan lain, Liona segera menandatanganinya, entah apa isi surat itu yang jelas Liona hanya menjalani kemauan pria arogan didepannya, setelah berhasil membubuhkan tanda tangan, Liona pun menyerahkan kembali map tersebut pada sang pemilik tanpa berminat bertanya lebih.

Tak ada suara yang terdengar dari Ganendra, ia menghela nafas kasar sejenak, sekitar lima menit, Ganendra memanggil seseorang.

“Oskar! Antar aku ke kamar, aku sudah selesai!”

Oskar datang, kemudian ia mendorong kursi roda Ganendra, pintu kamar yang ditempati Liona kembali tertutup rapat, menyisakan Liona seorang diri, ia terduduk lemas di pojok dengan kenestapaan.

“Tante, kenapa Tante harus melakukan ini?” Sambil memeluk diri sendiri, Liona menangis meratapi hidup.

Sementara itu, Oskar terus mendorong kursi roda tuan muda majikannya menuju kamar, ia begitu telaten mengurus Ganendra. Dulu, Ganendra adalah pria yang hangat dan cukup baik, tapi karena kecelakaan yang merenggut nyawa istrinya, ia berubah menjadi dingin tak tersentuh, terlebih ketika Liam yang terus memaksanya untuk kembali menikah, Ganendra semakin berubah, ia tak hanya dingin tapi juga temperamen, Ganendra tak peduli pada ucapan Liam yang menjadi Ayahnya, bagi Ganendra, kehilangan Diviana–mendiang Sang Istri adalah pukulan telak untuknya, semangat hidupnya seolah pupus, cinta dan kasih sayang miliknya telah dibawa mati bersama jasad Diviana tepat pada saat Diviana dikebumikan.

“Bagaimana Ganendra? Apa kau menyukai gadis itu, dia adalah gadis yang baik, Papa yakin dia berbeda,” Liam muncul dari ambang pintu, menghampiri Ganendra yang sedang termenung di depan kaca. Seperti biasa, Ganendra selalu duduk disana melihat taman besar dirumah itu sambil mengingat apapun hal yang ia lalui bersama Diviana ketika mendiang Istrinya masih hidup.

“Dia bukan gadis penikmat hiburan malam, papa sangat yakin dia berbeda!” lanjutnya.

Senyum remeh Ganendra tersungging. “Mau berbeda atau tidak, aku tidak peduli. Pernikahan akan tetapi terjadi bukan?!” Jawab sang Tuan muda. Liam menghela nafas, ia mengusap bahu sang anak berusaha menenangkan.

“Papa hanya ingin kamu menikah dan memiliki keturunan, itu saja. Karena hidup terus berjalan, lanjutkan hidupmu, Diviana sudah bahagia di atas sana!”

“Cukup Pa, jangan bicara apapun lagi. Aku sudah setuju menikahi dia, jadi papa tidak perlu membahas tentang Istriku,”

“Ya, papa tahu kamu setuju. Tapi, papa ingin kamu menikmati pernikahan mu, sama seperti dulu!”

Ganendra berbalik, menatap Liam dengan tajam.

“Jangan mimpi dan jangan berharap aku bisa menikmati pernikahanku juga bersikap baik pada gadis tuli itu!” Emosi Ganendra meledak, Liam memejamkan mata frustasi. Tak jauh dari sana, Oskar memberi kode agar Liam berhenti berbicara pada sang tuan muda. Akan sangat tidak baik jika Liam terus berbicara hal yang menyinggung Ganendra. Akhirnya, Liam pergi dari kamar putranya dengan perasaan sedih. Sampai kapan Ganendra akan terus seperti itu?

Putra yang sangat ia banggakan kini berubah begitu jauh.

“Oskar, jangan lupa berikan dia obat. Pastikan dia meminum obatnya dengan benar,” ucap Liam, pada Oskar yang kini mengangguk patuh. Besar harapan Liam agar Ganendra dapat kembali berjalan seperti sedia kala, menjadi putranya yang gagah dan memiliki keluarga kecil seperti impiannya.

*

Hari mulai berganti, sudah beberapa hari Liona berada di rumah itu, namun meski begitu ada sedikit perubahan dibandingkan kemarin, Liona tidak setakut pada awal kedatangannya ke rumah Liam, meski sampai detik ini ia merasa menjadi tawanan tetap, kebebasannya terenggut paksa dengan perjanjian yang tidak pernah ia kehendaki.

“Bagaimana sikap Ganen? Apa dia masih berbuat kasar?” Liam menghampiri Liona yang sedang membantu pekerja rumah tangga disana.

Ya, begitulah keseharian Liona, banyak yang ia lakukan di rumah tersebut, sampai detik ini ia belum resmi dipinang oleh Ganendra, bukan tanpa alasan Liam memberikan jangka waktu, itu semua agar Ganendra bisa pelan-pelan mengenal Liona lebih dekat, meski Ganendra sama sekali enggan membuka diri.

“Katakan saja sejujurnya.”

Liona menatap Liam sejenak lalu kembali tertunduk menatap lantai sebelum akhirnya bersuara. “Tuan muda sama sekali tidak ingin berbicara pada saya Tuan Liam!”

“Apa dia kasar?!” tanya Liam lagi.

Kepala Liona menggeleng, tapi Liam tahu gelengan kepala Liona terkesan ragu, jelas ada yang disembunyikan oleh gadis pilihannya itu.

“Jawab jujur!” tekan Liam.

“Kemarin malam Tuan muda mendorong Liona, Tuan! Liona terjatuh dan tubuhnya membentur dinding!” Tiba-tiba saja Dahlia menimpali, ia adalah saksi kemarahan Ganendra pada Liona karena hal sepele.

Dahlia segera menyingkap lengan baju Liona, memperlihatkan bekas luka yang Liona tutupi. “Lihatlah Tuan, tangan Liona memar karena ulah Tuan muda!”

“Astaga, Ganendra… apa yang harus aku lakukan!” Keluh Liam pelan sembari mengusap wajah frustasi. Liona berusaha tersenyum walau getir, memang apa yang bisa Liona lakukan selain menerima, kabur mungkin sebuah kata simpel namun mustahil.

“Maafkan putraku, Liona!” ucap Liam sebelum akhirnya ia pergi dari hadapan Liona.

Liona menatap punggung pria paruh baya itu hingga akhirnya menghilang dari pandangan. Jujur, Liona juga merasa kasihan, hanya karena putra kesayangan, seorang Ayah harus dibuat pusing oleh tingkah laku Ganendra yang tidak semestinya.

“Liona, apa kamu lelah? Jika iya, beristirahat lah, biar aku yang mengerjakan semuanya!” kata Dahlia menyentuh bahu Liona, hanya Dahlia teman setia Liona dirumah mewah tersebut.

“Aku tidak lelah sama sekali bi, biar aku bantu semuanya. Sebentar lagi Tuan muda akan pulang, aku tidak mau dia marah karena semua belum selesai!”

“Tapi tubuhmu..---

“Tidak masalah, ayo kita selesaikan!” Liona menyela, ia tersenyum amat manis pada Dahlia, hari ini Ganendra berulang tahun, ulang tahunnya bertepatan dengan ulang tahun mendiang Istrinya, kebetulan mereka memiliki tanggal lahir yang sama, oleh sebab itu Ganendra bilang semua harus dipersiapkan dengan matang. Dahlia dan yang lainnya diminta mendekor kamar milik Ganendra, tidak akan ada ampun jika ada hal kecil terlupakan.

“Baiklah, tapi kalau kamu sudah tidak sanggup, katakan saja. Bagaimanapun kamu adalah seorang calon Istri Tuan muda yang berarti kamu adalah majikan ku!” Dahlia berujar, Liona membalasnya hanya dengan sebuah senyum miris.

Bukan calon istri, lebih tepatnya hanya seorang Partner diatas kertas. Dalam hati Liona mengutarakannya.

Hampir selama beberapa jam Liona membantu Dahlia, semua rampung dilakukan. Liona dan Dahlia duduk beristirahat sejenak, kemudian mereka kembali mengecek apakah semua benar-benar sudah selesai. Mereka lantas menuju kamar sang Tuan muda.

“Tunggu bi, apa tidak apa-apa jika aku ikut masuk ke dalam?” Liona sempat ragu ketika Dahlia menggandengnya masuk ke dalam kamar putra Liam.

“Tentu saja tidak, kamu adalah calon istri tuan Ganendra, kenapa harus takut?”

“Tuan Ganendra sangat membenciku bi, jadi…–

“Tidak apa-apa, ayo masuk! Kita hanya mengecek saja!” Dahlia membawa Liona masuk kedalam.

Akhirnya Liona ikut masuk ke dalam, matanya mengembara ke penjuru kamar. Kamar Ganendra yang semula bernuansa putih, kini telah berubah berwarna oleh pernak pernik dekorasi balon berbentuk hati juga taburan kelopak bunga mawar merah yang menghiasi.

Belum lagi jajaran lilin-lilin aroma terapi bunga Lily menyeruak dalam indra penciuman. Liona memejamkan mata acap kali menghirup aroma itu, sangat menenangkan, terlebih ia juga menyukai bunga Lily.

“Kapan dia datang?” tanya Liona, ia berjalan pelan menelusuri kamar milik Ganendra, ini adalah kali pertama ia masuk dan terkagum dengan seluruh isinya.

“Mungkin sebentar lagi?!”

Liona tak menyahut lagi, ia terus berjalan pelan, menelusuri setiap inci kamar selagi Tuan muda arogan itu belum datang.

“Ya Tuhan ini sangat menakjubkan!” puji Liona. Disana, terdapat walk in closet yang memuat semua tas juga beberapa barang wanita, dan Liona tahu benar jika itu adalah barang-barang milik Diviana, Istri Ganendra. Saking cintanya Ganendra pada Istrinya, semua hal tetap tersimpan apik juga terawat.

“Bi, apa dia Diviana?” Tunjuk Liona pada sebuah bingkai foto besar, disana ada seorang wanita berambut panjang menggunakan gaun pengantin berwarna putih, wajahnya cantik, hidungnya begitu bangir, matanya indah dengan manik karamel. Oh tak hanya itu saja, masih banyak potret Diviana yang Ganendra pajang.

“Dia sangat cantik!”

“Ya, dia Nona Diviana!”

“Pantas saja tuan muda tidak bisa melupakan Nona Diviana,” tangan Liona terulur, meraih sebuah bingkai foto kecil di meja nakas.

Ganendra yang baru saja tiba serta melihat Liona menyentuh potret istrinya tentu dibuat murka, matanya melotot tajam.

“Gadis bodoh, apa yang kau lakukan?!!!!!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Queenpenna
jangan lupa ramaikan komentarnya yaa
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dalam Pelukan Tuan Ganendra   Murkanya Si Tuan Muda Lumpuh

    *“Atas dasar apa kamu menerima pernikahan ini, nona?” Dengan tatapan tajam bak pedang yang menghunus pada Liona, Ganendra bertanya datar, tak ada ekspresi apapun yang ditujukan pria matang itu kecuali rasa benci, sementara Liona ia bingung, namun belum sempat Liona menjawab, suara Ganendra kembali terdengar terkesan seolah meremehkan. “Uang? Oh atau semua hartaku?” Ketika mendengarnya, sontak Liona membelalak. “A-apa m-maksud Tuan?” “Jangan pura-pura bodoh, aku tahu tipikal perempuan sepertimu, kau tidak jauh berbeda dengan perempuan lainnya, atas dasar harta, kau sukarela menyerahkan dirimu untuk menikahi seorang yang lumpuh seperti ku, benar begitu bukan?!” Kata-kata Ganendra begitu sadis, ia berhasil membuat Liona sakit hati untuk pertama kali, rasanya Liona ingin sekali membantah ucapan tersebut, tapi mana bisa? Liona tidak memiliki keberanian, terlebih ketika menatap tajamnya sorot manik kelabu milik Ganendra. “Jangan kau pikir, hanya karena kau adalah perempuan pilihan Papa

  • Dalam Pelukan Tuan Ganendra   Pertemuan Pertama

    * Mobil yang ditumpangi oleh Liona mulai berdecit, berhenti di sebuah rumah mewah. Tubuh Liona pun dibawa paksa keluar dari mobil namun masih dengan mata yang tertutup kain. Menyedihkan, gadis itu berjalan sambil terseok didampingi oleh dua pengawal. “Bawa dia ke atas, Tuan besar sudah menunggu!” ucap seseorang sama tinggi besarnya dengan jajaran bodyguard didalam rumah mewah tersebut. “Bagaimana dengan tuan muda?” tanya Oskar. “Belum, tuan muda masih dalam perjalanan!” Tak ada lagi yang Oskar tanyakan, ia gegas menuju lift bersamaan dengan bodyguard yang membawa Liona, mereka menuju lantai teratas dimana tuan besar pemilik rumah itu berada. Sesampainya di lantai tujuan, Oskar berjalan tergesa menuju satu pintu besar berwarna coklat, dibukanya secara pelan lalu Oskar berdiri dengan tegap menghadap satu kursi kebesaran yang tengah di duduki seseorang. “Selamat siang tuan Liam, saya sudah membawa gadis ini!” ucap Oskar memberitahu, Liona hanya menunduk ia mendengarkan apapu

  • Dalam Pelukan Tuan Ganendra   Dijual

    *Pagi harinya ketika Liona terbangun dari tidurnya, hal yang ia lakukan adalah membereskan segudang pekerjaan rumah, termasuk menyiapkan sarapan pagi untuk penghuni rumah tersebut. “Liona, mana susu nya?” tanya Nanda sambil menguap, wajahnya kusut karena baru saja bangun tidur. “Sebentar, aku ambilkan!” Liona lantas berlari kecil menuju dapur, hari ini adalah hari Senin, kedua anak Imelda akan pergi ke sekolah, mereka duduk di bangku Sekolah menengah atas kelas akhir. “Liona, tugas kemarin sudah diselesaikan kan?” tanya Nindi, kembaran Nanda. “Sudah, bukunya aku simpan di meja sudut,” balas Liona, ia menyimpan satu gelas susu diatas meja makan. Begitulah kelakuan anak Imelda, ia menjadikan Liona tak hanya seperti pembantu, tapi juga gadis serbaguna, karena Liona tak hanya memiliki wajah cantik, namun juga memiliki otak yang pintar, tidak seperti Nanda dan Nindi. Dulu, Liona memiliki cita-cita menjadi Dokter, akan tetapi ketiadaan biaya membuatnya putus sekolah juga sadar diri, da

  • Dalam Pelukan Tuan Ganendra   Transaksi

    “Mahar 500 juta untuk keponakanku!" suara wanita berambut merah itu terdengar begitu lantang menyebutkan angka fantastis. “500 juta? apa kau yakin?," tanya lawan bicara wanita berambut merah tersebut memastikan diiringi dengan mata yang menatap serius. “Ya, apa kau keberatan?" “Tentu saja tidak, asalkan dengan satu syarat, dia masih suci!" Imelda-wanita berambut merah tersebut tertawa menyeringai. “Aku jamin 1000% bahwa keponakanku masih suci!" kemudian, Imelda melempar sebuah foto gadis muda tepat ke atas meja restaurant itu, gadis manis yang memiliki wajah begitu cantik dengan kulit putih bersih. Gadis yang mampu memikat mata siapapun yang melihatnya, termasuk Oskar-Pria setengah paruh baya yang sedang mencari gadis bersegel yang akan dipinang oleh anak Tuan majikannya. Ya, Oskar adalah seorang asisten orang terkaya dan terpandang di Kota J.K. Sebulan lalu, Tuan majikannya memintanya untuk mencarikan gadis untuk putra pewarisnya yang tidak pernah ingin menikah setelah seb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status