LOGIN“Mas, sudah dong. Kamu kenapa sih megangin itu terus,” protes seorang wanita yang perutnya tampak sudah membuncit di pangkuan suaminya. Mereka berada di atas ranjang besar bernuansa merah jambu.
Lelaki yang disebut dengan panggilan “Mas” itu tengah bersandar di headboard. Daster tipis yang dikenakan istrinya sudah tampak berantakan sana sini. Bagian bawahnya pun tersingkap. Menampilkan bagian privasinya yang terbungkus dengan dalaman merah. “Habisnya gunung kembar kamu semakin besar, Sayang. Kamu hamil gini makin seksi. Makanya aku males banget pulang ke rumah. Maunya di sini saja sama kamu,” ucap lelaki itu. Setelah berucap demikian, dia mengendus leher wanitanya. Sang wanita membalas perlakuan suaminya dengan mengecup bibirnya singkat. “Kasihan Lily, Mas. Kamu selalu ninggalin dia setiap bulan, dia pasti kesepian. Kalau Mas memang nggak bisa adil, kenapa nggak Mas ceraikan saja Lily?” tanya wanita itu. Di detik berikutnya dia mendesah karena Aldo meraba bagian bawah tubuhnya perlahan. “Buat apa kasihan? Dia nggak lagi hamil, Nila. Kamu yang butuh perhatianku lebih banyak. Kalau aku kelamaan di sana, kamu butuh apa-apa aku nggak bisa turutin. Aku juga nggak bisa cerai sama Lily begitu saja. Dia yang sudah menemani aku dari nol. Aku sudah bahas dari awal, kan? Kamu sudah sepakat soal ini. Kamu sendiri yang bilang kalau kamu tidak masalah jadi istri kedua.” Aldo mengingatkan kembali pada Nila soal kesepakatan awal mereka. Saat itu, Nila memang sudah sepakat, dan mau menerima semua persyaratan yang diajukan Aldo saat mereka mau menikah. “Aku cuma ngingetin kamu, Mas. Bukannya berniat untuk jadi satu-satunya buat kamu. Jadi istri kedua kamu juga udah bikin aku bahagia. Makasih ya, Mas. Makasih karena kamu meluangkan lebih banyak waktu buat aku. Walaupun kita harus diam-diam, tetap saja aku ngerasa diutamain sama kamu,” ucap Nila dengan nada manja. Nila sebenarnya merasa menang karena mendapatkan lebih banyak perhatian Aldo. Kalau bisa, dia malah ingin menguasai lelaki itu. Hanya saja, Nila tidak bisa bertindak secara terang-terangan. Itu karena dia tahu kalau Aldo masih belum mau melepaskan Lily sampai detik ini. Setiap menyinggung soal Lily, Aldo selalu menegaskan kalau dia tidak bisa menceraikan Lily. Nila sendiri masih mencari cara supaya suaminya itu mau menceraikan Lily tanpa terkesan memaksa. Dia ingin menguasai Aldo, termasuk seluruh hartanya. Padahal soal fasilitas, Aldo bertindak adil. Dia juga membelikan sebuah rumah besar beserta isinya untuk Nila. Lelaki itu juga membelikan Nila sebuah mobil mewah. Tapi semua itu belum cukup untuk Nila. Dia berpikir, kalau bisa menguasai seluruh harta Aldo, dia akan mendapatkan bagian lebih banyak. “Aku sudah berulang kali bilang sama kamu, kan? Jangan bahas Lily. Di sini, itu urusannya cuma aku sama kamu. Aku juga nggak pernah bahas kamu di depan Lily. Kamu seharusnya bersyukur, kamu bisa mendapatkan perhatian yang lebih dibanding lily.” Aldo mulai mengoceh. Dia memang tidak suka saat Nila membahas soal Lily. Wanita itu memiliki sisi spesial di mata Aldo. Dia memiliki alasan kuat kenapa sampai detik ini tetap mempertahankan Lily walaupun istri pertamanya itu tidak bisa mengandung. Dulu, saat dia belum memiliki apa-apa, Lily bersedia menerima dirinya apa adanya. Lily tidak pernah mempermasalahkan apapun, walau hidup mereka berdua dalam kesulitan. Aldo merasa, apa yang dia miliki sekarang ada campur tangan Lily di dalamnya. Aldo mengakui, dia salah sudah melakukan ini. Tapi dia tidak munafik, dia sangat menginginkan kehadiran seorang anak dalam pernikahan. Maka dia memilih menikahi Nila diam-diam sebagai solusinya. Meskipun dalam segi anak Lily tidak bisa memberikannya, tetapi banyak hal dari Lily yang tidak bisa Aldo temui dalam diri Nila. Salah satunya kedewasaan Lily. Dibandingkan dengan Nila, Lily jauh lebih terbuka untuk segala hal. “Iya, Mas, iya. Aku minta maaf. Lagian tujuanku baik, kan? Aku lagi nggak ngejelekin lily. Mas Aldo kapan ada waktu yang agak panjang? Kita harus pulang ke desa, Mas. Kita sudah setahun menikah, tapi mas belum pernah ketemu sama orang tua aku.” Nila tidak ingin menyulut emosi Aldo. Dia mengalihkan pembicaraan mereka dengan segera. Selama setahun menikah siri dengan Aldo, Lelaki itu memang belum pernah berkunjung sekali pun ke rumah orang tua Nila yang ada di sebuah desa. Aldo terus saja memberikan alasan-alasan saat Nila membahas soal itu. Padahal orang tuanya sudah sering menanyakan tentang Aldo. Mereka ingin bertemu dengan menantunya tersebut. “Untuk sekarang kayaknya belum, Sayang. Aku baru saja minta perpanjangan waktu selama satu minggu di sini sama Lily. Nanti kalau aku minta waktu lagi, dia bisa-bisa curiga. Aku nggak mau semua ini kebongkar sekarang, terus Lily minta cerai sama aku. Aku juga belum bilang sama orang tuaku kalau aku sudah nikah sama kamu. Setidaknya tunggu aku bicara sama papa mamaku, baru kita pergi ke rumah orang tua kamu.” Seperti biasanya, Aldo menolak lagi. Terkadang Nila beranggapan bahwa Aldo tidak serius dengan hubungan mereka. Mereka sudah satu tahun bersama, tetapi Aldo tidak juga memberitahukan pernikahan mereka pada orang tuanya. Begitu juga dengan kunjungan ke rumah orang tua Nila, Aldo seakan menganggap itu sebagai hal yang tidak penting. “Terus kapan, Mas? Tunggu anak ini lahir? Orang tua aku beneran mau ketemu sama kamu. Bulan depan, bagaimana? Kita jadikan kesempatan kamu di sini buat ke rumah orang tua aku? Aku bingung mau kasih alasan apa lagi sama mereka, Mas.” Nila memasang wajah memelas, berharap Aldo mau mempertimbangkan usulannya. Aldo tampak berpikir sejenak. Dia sadar kalau sudah terlalu banyak beralasan pada Nila soal permintaan dia untuk bertemu dengan orang tuanya. “Oke, bulan depan aku usahain, ya? Lihat kondisinya juga bagaimana. Soalnya aku mulai lihat Lily bersikap beda. Dia kayaknya merasakan perubahan sikapku. Jadi bulan depan aku berencana untuk agak lama di sana. Aku mau nenangin Lily dulu, buat mengembalikan perasaan dia. Aku benar-benar nggak bisa kehilangan dia, Nila. Tolong kamu pahami, ya. Aku nggak bisa milih di antara kalian berdua.” Egois. Satu kata yang memang sangat cocok untuk Aldo. Dia dengan sangat percaya diri mengikat dua wanita dalam dekapannya. Sementara dia tidak bisa memperlakukan keduanya dengan adil. Terlebih lagi, ikatan yang Aldo bentuk tidak berdasarkan kesepakatan bersama. Membuat dua hati wanita tersakiti karena sebab yang berbeda. “Terserah Mas saja bagaimana baiknya. Kalau memang bulan depan mau full di rumah lily juga nggak apa-apa. Nanti aku pulang ke desa sendirian saja. Soalnya bulan depan kandunganku sudah masuk sembilan bulan. Aku takut sendirian di rumah ini,” ucap Nila dengan wajah menghiba. Dia sebenarnya tidak rela kalau Aldo sebulan penuh di rumah Lily. Nila takut, kalau Aldo terlalu lama di rumah istri tuanya dia akan jatuh cinta lagi pada Lily. Itu akan membuat usahanya selama ini untuk membuat Aldo berpaling menjadi sia-sia. Nila sudah melangkah sejauh ini, dia tidak akan membiarkan Aldo kembali ke sisi Lily. Lelaki itu harus lebih condong padanya, itu yang Nila mau. Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Nila, apalagi dengan ekspresinya yang menyedihkan, Aldo menjadi tidak tega. “Nanti aku pikirkan bagaimana caranya supaya Lily memberiku izin di sini lebih lama bulan depan. Jangan pulang ke desa. Jangan tinggalkan aku, Nila.” “Makasih ya, Mas. Maaf kalau aku dan anak kamu manja. Seharusnya aku lebih kasih kamu waktu buat ada di samping Lily juga. Sebenarnya bukan kamu yang egois, tapi aku.” Aldo melingkarkan kedua tangannya di perut Nila yang memang sudah besar itu. Dia mengecupi pipi wanita itu berkali-kali. “Sayang, kamu nggak salah apa-apa. Anak kita juga. Kemarin dokter juga bilang, wajar kalau ibu hamil jadi jauh lebih manja. Sekarang kita lupain semua obrolan kita yang tadi. Soalnya ada yang lebih penting,” bisik Aldo dengan nada berat. “Memangnya apa yang lebih penting dari masalah-masalah yang kita bahas, Mas? Perasaan selain itu, nggak ada yang lebih penting.” Nila kebingungan. Dia memang merasa tidak ada yang lebih penting selain bahasan mereka. “Kamu masa nggak bisa rasain, sih? Punyaku sudah tegang maksimal, Sayang. Dia minta masuk ke rumahnya. Ini punya kamu juga sudah basah, aku bisa rasain.” Aldo dengan santainya mengelus-elus privasi Nila yang masih tertutup dalaman itu. “Gimana nggak basah, kalau Mas terus elus-elus dia kayak gitu? Jadi maunya apa?” “Maunya punyaku masuk ke kamu sekarang, Sayang. Aku sudah nggak tahan,” rengek Aldo. Dia benar-benar sudah sangat menginginkan tubuh Nila sekarang. “Tadi pagi sudah, Mas. Kamu lupa?” “Aku mau lagi, Sayang. Kamu candu soalnya. aku kan udah bilang, saat hamil gini, kamu semakin seksi.” Aldo merayu sambil menurunkan tali daster Nila. “Kamu nakal, Mas. Ah! Iya, iya, aku turutin maunya Mas, tapi jangan elus-elus terus. Nanti aku keluar gimana?” “Itu yang aku mau, Sayang,” ucap Aldo yang sekarang tengah membantu Nila menurunkan celana dalamnya. “Ah! Mas! Kamu nakal! Main masuk-masukin saja ih,” “Tapi enak, kan?” “Ah! Iya, enak banget, Mas.” Seketika ruang kamar itu pun menjadi saksi pergulatan panas mereka berdua. Nila terus mendesahkan nama Aldo setiap lelaki itu mengeluar-masukkan miliknya. Begitupula dengan Aldo. Lelaki itu tampak sangat menikmati kehangatan yang diberikan oleh Nila.Langkah Bima terasa sangat berat saat melewati pintu kaca otomatis gedung pusat Samudra Property yang menjulang tinggi. Setiap pasang mata karyawan di lobi seolah menjadi hakim yang tahu akan dosa-dosanya. Dia berusaha tidak peduli, dan terus berjalan. Tidak ada lagi ruang untuk melarikan diri. Di lantai paling atas, di sebuah ruangan luas dengan pemandangan kota yang tanpa batas, Dewa sudah menunggu. Tidak sendirian, di sana juga ada Johan yang duduk dengan raut wajah mendung namun penuh harap.Saat pintu ruangan terbuka, Bima tidak berani mendongak. Dia melangkah perlahan ke tengah ruangan, lalu tanpa aba-aba, dia jatuh bersimpuh di depan Dewa. Suara tangisnya yang tertahan selama di perjalanan kini pecah tak terbendung."Mas... Mas Dewa... maafkan aku," isak Bima dengan suara parau. "Aku pengecut. Aku serakah. Aku sudah mengkhianati kepercayaan Mas dan Papa. Aku benar-benar menyesal."Dewa diam sejenak, menatap adiknya dari kursi kebesarannya. Tidak ada gurat kepuasan di wajah
Tangan Bima bergetar hebat saat memegang ponselnya. Ruangan kantor yang biasanya terasa seperti singgasana kekuasaan, kini terasa seperti sel isolasi yang dingin dan menyesakkan. Napasnya pendek-pendek, keringat dingin membasahi kemeja mahalnya yang kini tampak kusut. Tidak ada lagi keangkuhan. Tidak ada lagi rencana licik. Yang tersisa hanyalah seorang lelaki yang sedang menatap jurang kehancuran total.Dengan sisa keberanian yang ada, dia akhirnya menekan nomor Johan. Tidak ada pilihan lain. Dia tahu pasti kalau menelepon ayahnya saat ini sama saja dengan menyerahkan leher untuk disembelih, sayangnya Johan adalah satu-satunya pelampung yang tersisa di tengah badai yang menenggelamkan Niagara Property.Nada sambung terdengar beberapa kali, setiap detiknya terasa seperti siksaan abadi bagi Bima. Hingga akhirnya, suara berat dan berwibawa itu terdengar."Halo, Bima? Kenapa tadi papa telepon kamu tidak angkat?" suara Johan terdengar tenang. Ada nada dingin yang tidak biasanya.Mungki
Pagi itu, sinar matahari yang masuk melalui celah jendela kantor Niagara Property terasa begitu menyengat, seolah sedang menelanjangi kegagalan yang tersimpan di dalam ruangan mewah tersebut. Bima duduk di kursi kebesarannya dengan senyum yang belum pudar sepenuhnya. Di hadapannya, terdapat dokumen kontrak pembelian lahan di Kalimantan yang baru saja dia kunci semalam dengan harga fantastis. Dia merasa telah menjadi pemenang. Dia merasa telah mengalahkan Dewa, sang "kakak" yang begitu diagungkan ayahnya."Hari ini adalah awal dari kehancuranmu, Dewa," gumam Bima sambil menuangkan wiski ke dalam gelasnya, meski jam baru menunjukkan pukul sembilan pagi.Seketika ketenangan semu itu pecah saat pintu kantornya digebrak tanpa permisi. Riko, asisten pribadinya, masuk dengan wajah pucat pasi. Napasnya tersengal-sengal, dan tangannya gemetar hebat sambil memegang sebuah tablet serta tumpukan kertas laporan."Pak... Pak Bima..." suara Riko tercekat di tenggorokan.Bima mengerutkan kening,
Persiapan pesta ulang tahun ke-5 Samudra Property berlangsung dengan kecepatan yang mengagumkan. Di bawah instruksi ketat Dewa, sekretarisnya, dan tim event organizer terbaik di Jakarta bekerja siang dan malam. Bagi dunia luar, ini adalah perayaan kesuksesan sebuah raksasa properti, tetapi bagi Dewa, setiap detail dari pesta ini adalah bagian dari struktur jebakan yang sangat presisi.Di sisi lain kota, di kantor Niagara Property yang mulai tampak suram, Bima duduk dengan mata memerah karena kurang tidur. Di depannya, layar monitor menampilkan deretan data yang berhasil "disedot" oleh virusnya dari komputer Dewa. Data itu berisi rencana akuisisi lahan besar-besaran di wilayah Kalimantan Timur, tepat di titik yang diklaim akan menjadi pusat komersial baru."Ini dia... ini adalah kunci keberuntunganku," gumam Bima dengan suara parau. "Dewa benar-benar bodoh. Dia menyimpan strategi bernilai triliunan ini di folder yang bisa aku akses. Jika aku bisa mendahuluinya membeli lahan-lahan k
Beberapa hari kemudian, pertemuan yang direncanakan kembali terjadi. Kali ini Bima mengundang Dewa untuk minum kopi di sebuah kafe eksklusif dengan pemandangan kota. Bima datang dengan senyum yang lebih lebar dari sebelumnya, sebuah senyum yang mengandung kemenangan terselubung. Di dalam tas kerjanya, dia sudah menyimpan salinan data yang dia "curi" dari flashdisk yang dicolokkan Dewa ke komputernya tempo hari.Tentu saja dia tidak sadar kalau ternyata itu bukan data yang dia inginkan. Sementara Dewa bersikap senormal mungkin. Dia berusaha menyembunyikan semua rasa kesal, dan juga kecewanya. Dia ingin memberi kesempatan pada Bima agar dia bangga dengan pencapaian palsunya. "Mas Dewa, terima kasih sudah mau meluangkan waktu lagi. Bagaimana draf proyek yang kemarin aku berikan? Apa ada masukan?" tanya Bima dengan nada bicara yang sangat sopan, seolah ia adalah adik yang haus akan ilmu.Dewa menyesap kopinya perlahan, wajahnya tampak tenang dan sangat bersahabat. Tak ada sedikit pun
Malam telah larut di Jakarta. Suasana di dalam ruang kerja pribadi Dewa terasa hening, hanya ditemani suara detak jam dinding dan desis halus pendingin ruangan. Dewa duduk menyandarkan punggungnya di kursi kulit besar, menatap lurus ke arah jendela kaca yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota dari kejauhan. Saat ini, pikirannya tidak sedang berada di sana.Pikirannya melayang kembali ke pertemuan tadi siang. Wajah antusias Bima, pelukan hangat ayahnya, Johan, dan flashdisk yang hampir saja melumpuhkan Samudra Property. Ada rasa sesak yang menghimpit dada Dewa. Bukan karena dia takut akan ancaman bisnis, melainkan karena kenyataan pahit tentang ikatan darah yang baru saja ditemukannya.Dia harus ditakdirkan bersaudara dengan orang yang menganggapnya lawan terberat. Dewa termenung. Dia membayangkan wajah Johan yang begitu bahagia saat memperkenalkan Bima sebagai adiknya. Dewa bisa melihat binar tulus di mata pria tua itu—seorang ayah yang hanya ingin menyatukan kepingan keluarganya







