Share

Terluka Lagi

Author: Erumanstory
last update Last Updated: 2026-02-22 05:26:55

Mobil Aldo menderu memasuki halaman rumah besar keluarga Adijaya dengan kecepatan yang tidak stabil. Begitu mesin mati, Aldo keluar dengan langkah yang tampak berat, seolah setiap langkahnya membawa beban berton-ton.

Kemejanya yang tadi pagi rapi kini tampak kusut, dan wajahnya menunjukkan sisa-sisa badai emosional yang baru saja dia lalui di perjalanan dari Puncak ke Jakarta.

​Di ruang tengah, Rahma sudah duduk dengan tenang di sofa velvet miliknya, sementara Tita sudah tertidur di kamar atas
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Rencana Pembalasan

    Musik dentum techno yang memekakkan telinga di bar milik Robert terasa seakan menghantam kepala Nila yang sudah pening. Di depannya, tiga gelas kosong bekas vodka shot berjejer berantakan. Nila, yang hanya beberapa hari lalu masih menjadi nyonya besar di apartemen mewah, kini duduk meringkuk di sudut remang-remang bar, dengan riasan wajah yang luntur dan aroma alkohol yang menyengat dari napasnya.​Stres dan frustrasi telah mengubahnya menjadi sosok yang tidak lagi peduli pada citra. Setiap kali dia memejamkan mata, wajah Aldo yang penuh rasa jijik dan tawa menghina terus membayanginya. Dia merasa dunianya telah runtuh, dan satu-satunya tempat yang menerimanya hanyalah tempat ini—lubang hitam yang dulu sangat ingin dia tinggalkan.​"Satu lagi, Hans!" teriak Nila dengan suara serak, melambaikan tangan ke arah meja bar.​Hans, yang sedang sibuk mengelap gelas, menoleh sebentar lalu memberi isyarat kepada pelayannya untuk menuangkan minuman lagi. Dia menatap Nila dengan pandangan antara

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Tentang Tita

    Setelah pintu kamar tertutup dan suara isak tangis Nila di ruang tamu perlahan menjauh karena dia dipaksa keluar oleh petugas keamanan yang sudah dipesan oleh Doni, Aldo terduduk lemas di tepi ranjang. Keheningan yang menyergap ruangan itu terasa sangat menyiksa. Dia menatap boks bayi Tita yang kosong. Kamar itu terasa begitu luas, dingin, dan penuh dengan sisa-sisa aroma parfum Nila yang kini membuatnya mual.​Aldo menyadari satu hal, dia tidak bisa membiarkan Tita tetap tinggal di rumah ini dalam waktu dekat. Tempat ini terlalu penuh dengan kenangan pahit, dan dia sendiri tidak yakin mampu mengurus balita sendirian di tengah proses perceraian yang pasti akan menguras seluruh energinya.​Dengan tangan yang masih sedikit bergetar, Aldo meraih ponselnya dan mencari kontak sang ibu. Hanya keluarganya yang dia miliki sekarang. Hanya ibunya yang sejak awal sudah memperingatkannya.​"Halo, Ma..." suara Aldo terdengar sangat lelah saat telepon diangkat.​"Iya, Aldo? Ada apa, Nak? Suaramu te

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Tiada Ampun

    Lampu koridor apartemen mewah itu terasa menyilaukan mata Nila yang sembab. Dengan langkah tertatih dan napas yang masih tersenggal akibat tangis yang tak kunjung reda, dia merogoh tasnya, mencari kunci cadangan dengan tangan gemetar. Dia harus masuk. Dia harus menjelaskan segalanya. Dia harus memeluk kaki Aldo sampai pria itu luluh.​Sayangnya, saat pintu terbuka, pemandangan di dalamnya membuat jantung Nila seolah berhenti berdetak.​Aldo berdiri di tengah ruang tamu yang luas, dikelilingi oleh beberapa koper besar miliknya yang sudah tertutup rapi. Di tangannya, Aldo memegang sebuah bingkai foto pernikahan mereka yang kacanya sudah retak. Begitu mendengar suara pintu, Aldo menoleh. Tatapannya tidak lagi berisi cinta, melainkan sebuah tatapan dingin. ​"Mas... Mas Aldo..." Nila jatuh tersungkur di depan pintu. Dia merangkak mendekat, mencoba meraih ujung celana Aldo. "Mas, tolong... dengarkan aku. Aku salah, Mas. Aku khilaf. Itu semua hanya jebakan, pria itu yang memaksaku..."​Ald

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Terluka Lagi

    Mobil Aldo menderu memasuki halaman rumah besar keluarga Adijaya dengan kecepatan yang tidak stabil. Begitu mesin mati, Aldo keluar dengan langkah yang tampak berat, seolah setiap langkahnya membawa beban berton-ton. Kemejanya yang tadi pagi rapi kini tampak kusut, dan wajahnya menunjukkan sisa-sisa badai emosional yang baru saja dia lalui di perjalanan dari Puncak ke Jakarta.​Di ruang tengah, Rahma sudah duduk dengan tenang di sofa velvet miliknya, sementara Tita sudah tertidur di kamar atas. Rahma menyesap tehnya, matanya menatap tajam ke arah pintu saat Aldo melangkah masuk.​"Aldo?" Rahma berdiri, meletakkan cangkir tehnya dengan ekspresi yang dipoles sedemikian rupa hingga tampak penuh kekhawatiran. "Ya Tuhan, Aldo! Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu pucat sekali, Nak?"​Aldo tidak langsung menjawab. Dia menjatuhkan dirinya di sofa di depan ibunya, menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Napasnya terdengar berat dan tersengal.​"Ma..." suara Aldo parau, hampir pecah.​Rahm

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Berusaha Profesional

    Aldo berdiri di tepi balkon vila Pak Gunawan, matanya menatap kosong ke arah lembah yang diselimuti kabut tipis. Napasnya masih menderu, dadanya terasa sesak seolah ada batu besar yang menghimpit jantungnya. Bayangan Nila yang bersandar manja pada pria asing itu terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Setiap tawa manja Nila yang tadi ia dengar berubah menjadi gema yang menyakitkan.​Aldo bukan pria sembarangan. Darah keluarga yang mengalir di tubuhnya telah menempanya untuk menjadi pribadi yang tangguh di bawah tekanan. Dia mengepalkan tangan kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, memaksakan diri untuk menarik napas dalam-dalam. Dia tidak boleh hancur di sini. Tidak di depan rekan bisnisnya, dan tidak saat dia masih memiliki tanggung jawab besar.​Setelah lima menit dalam keheningan yang mencekam, Aldo membalikkan badan. Wajahnya yang tadi merah padam karena amarah, kini berubah menjadi datar dan sedingin es. Dia memungut ponselnya yang layarnya retak di lantai, lalu berjalan

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Tertangkap Basah

    Udara pagi di Puncak terasa begitu segar, kontras dengan gemuruh di dada Rahma yang kini sedang menanti kabar di kediamannya. Di beranda sebuah vila mewah yang didesain dengan gaya kolonial, Aldo duduk berhadapan dengan Pak Gunawan. Meja kayu jati di depan mereka dipenuhi dengan roti panggang, kopi yang masih mengepul, dan beberapa dokumen kontrak yang belum dibubuhi tanda tangan. Rencananya, setelah sarapan, semua akan diselesaikan.​"Terima kasih sudah datang jauh-jauh ke sini, Aldo. Kerja sama ini sangat penting bagi saya, dan saya tahu kamu adalah orang yang paling tepat untuk memegang kendali," ucap Pak Gunawan sambil menyesap kopinya.​Aldo tersenyum tipis, meski matanya sedikit merah karena kurang tidur. "Sudah kewajiban saya, Pak. Kebetulan istri saya juga sedang ada acara bakti sosial di Cianjur, jadi saya tidak merasa terlalu bersalah meninggalkan rumah."​"Bakti sosial?" Pak Gunawan menaikkan alisnya, sebuah akting yang sangat rapi. ."Wah, istrimu sangat mulia ya. Jarang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status