LOGINDua bulan berlalu tanpa tanpa terasa membawa perubahan manis yang semakin nyata di lingkungan Paviliun Mawar. Usia kandungan Rosalynd memasuki bulan ke empat. Beberapa gaun sutra istana yang awalnya pas di tubuh rampingnya, kini mulai diganti dengan gaun berpotongan yang sedikit longgar. Pagi itu, udara istana terasa sejuk dan menenangkan. Rosalynd berdiri di depan cermin di kamar utamanya. Ia mengusap pelan perutnya yang mulai menonjol di balik gaun warna krem. Senyum manis tak pernah hengkang dari bibirnya setiap kali si kecil menyapanya dengan tendangan cinta. Kenneth yang baru saja selesai berpakaian langsung melingkar kan kedua lengan kekarnya di pinggang Rosalynd, menarik tubuh wanitanya rapat ke dada bidangnya. Telapak tangannya menempel tepat di atas perut istrinya yang mulai membuncit. "Sepertinya jagoan ku sudah menunjukkan eksistensinya, Istriku," bisik Kenneth rendah tepat di perpotongan leher Rosalynd. Rosalynd segera menyandarkan kepalanya di dada Kenneth yang bidan
Berita kehamilan sang Permaisuri Agung telah menyebar hingga ke seluruh negeri. Namun, di dalam dinding Istana Utama Blackwood, dampak paling nyata dirasakan justru terlihat dari perubahan sikap sang Kaisar sendiri.Kenneth Valerius Blackwood telah berubah dari sosok Tiran dingin yang ditakuti menjadi seorang suami yang sangat protektif sampai di luar batas."Saya hanya ingin jalan-jalan sebentar di taman Mawar, bukan hendak pergi ke pertempuran garda terdepan, Tuan." kata Rosalynd sambil menatap heran ke arah suaminya.Karena sejatinya, pagi itu koridor menuju taman istana telah dipenuhi oleh belasan pengawal pribadi. Tak ketinggalan juga, Kenneth memerintahkan pada pelayan untuk melapisi setiap sudut tangga istana dengan karpet berbulu tebal. Hal itu dilakukannya untuk memastikan permaisurinya tidak akan terpeleset.Kenneth melangkah cepat menghampiri Rosalynd. Tanpa ragu lagi, ia menggenggam tangan istrinya dengan hati-hati."Lantai taman sedikit licin karena embun pagi, Sayangku.
Satu Minggu berlalu bagaikan mimpi indah yang enggan pergi bagi sepasang suami istri tersebut. Dinding kaca penthouse di puncak ibu kota menjadi saksi bisu bagaimana sang Tiran Blackwood melipat zirah kebesarannya demi menjadi sosok suami yang penuh kehangatan, perhatian dan kasih sayang yang berlimpah. Namun, masa peraduan pribadi itu harus jeda sejenak. Sore itu, ketika jemari Rosalynd sedang merapikan kerah jas kemeja Kenneth di depan cermin besar untuk persiapan kembali ke Istana Utama, pusing dan mual mendadak membuat kakinya seolah kehilangan kuasa. "Ugh—" Rosalynd membekap mulutnya pelan dan netranya terpejam menahan rasa aneh di kepalanya. "Rosalynd!" Dengan refleks secepat kilat, lengan kekarnya merengkuh tubuh Rosalynd sebelum limbung ke lantai. Wajah sang Tiran yang biasanya tenang dan mendominasi seketika memucat. Seolah dipenuhi kepanikan luar biasa yang tak pernah ia rasakan di medan perang mana pun. "Kau kenapa, Sayang? Bagian mana yang sakit?!" tanya Kenneth panik
Aroma pahit kopi hitam yang menguar tajam bersama kehangatan racikan teh herbal di dekat tempat tidur menyapa indra penciuman Rosalynd. Sentuhan serta usapan lembut jemari kasar suaminya membuat kelopak mata Rosalynd bergerak pelan. Hal pertama yang menyapa pandangannya begitu membuka mata bukanlah suasana istana yang kaku, melainkan wajah tampan suaminya yang berjarak dekat dengannya. Pria itu sudah berbaring miring menatapnya. Kali ini penampakannya tak menggunakan zirah tebal atau jas kebesaran yang kaku. Kenneth hanya mengenakan kemeja santai berbahan halus yang kancingnya sengaja dibiarkan terbuka. Rosalynd tersenyum tipis. Suaranya terdengar sedikit parau khas orang baru bangun tidur. "Sejak kapan Anda terbangun dan memperhatikan saya seperti ini, Tuan?" selidik Rosalynd dengan manja. "Sejak setengah jam yang lalu," respon Kenneth. Suara beratnya bergetar lembut ketika jemari kekarnya bergerak turun dan membelai garis rahang Rosalynd dengan teratur. "Menyaksikan mu bernapas
Deru mesin kendaraan mewah membelah jalanan khusus kekaisaran yang cukup lenggang menuju pusat kota. Di balik kemudi, Kenneth melonggarkan ikatan dasi atas kemeja serba hitamnya dan seolah menghilangkan kesan kaku nan mengintimidasi di ruang dewan. Rosalynd menoleh, menatap wajah tegas Kenneth dari samping yang diterangi remang lampu jalanan kota. "Kita mau kemana, Yang Mulia? Bahkan pengawal pribadi Anda tidak di izinkan untuk mengekori Anda di belakang." Kenneth tersenyum miring. Senyuman yang khusus diberikan pada wanita kesayangan nya. Tangannya yang tak memegang kemudi mobil bergerak menggapai jemari manis Rosalynd yang sudah disisipi Cincin Utama dan mengecup punggung tangan Rosalynd lembut. "Ke tempat di mana tidak ada Kaisar Blackwood dan tidak ada Selir Agung," katanya dengan suara hangat. "Hanya ada Kenneth dan Rosalynd." Setelah sekitar tiga puluh menit berkendara, mobil berhenti di sebuah pelataran griya tawang pribadi yang berdiri di puncak gedung tertinggi di ibu kot
Hal pertama yang Rosalynd rasakan ketika membuka mata bukanlah udara dingin istana, melainkan kehangatan lengan kekar suaminya yang masih melingkar erat dan protektif di pinggangnya. Kenneth belum hengkang. Pria yang biasanya sudah berdiri tegap dengan mengenakan zirah atau jas kebesarannya sejak fajar menyingsing, namun hal itu berbeda karena dirinya sedang berbaring di sebelah istrinya. Dengan sanggaan satu tangan di kepala, sang Tiran menatap wajah permaisurinya yang baru saja melenguh. "Selamat pagi, Cantikku," sapa Kenneth sambil menunduk untuk mengecup kening Rosalynd ringan. Rosalynd mengerutkan keningnya tipis dan membiarkan senyumnya merekah. "Sejak kapan Tiran Blackwood bolos dari rapat Dewan Militer pagi hari, Tuan?" "Sejak aku menyadari bahwa dengan menatap wajahmu di pagi hari jauh lebih penting daripada mendengarkan ocehan menteri tua bangka itu berdebat." respon Kenneth santai tanpa beban. Jemari kasar dan besarnya membelai lembut pipi halus Rosalynd. Ia seolah meni
Siang itu, matahari bersinar cukup terik. Akan tetapi, suasana di pelataran paviliun Mawar terasa sangat dingin.Rosalynd melangkah melewati gerbang melengkung yang dipenuhi hiasan mawar merah darah yang cantik dan anggun. Di belakangnya, Lily mengikuti Rosalynd dengan berjalan menunduk sambil mem
Suasana kamar mendadak sunyi. Suara pip dari terputusnya sambungan alat komunikasi di balik pisau itu seolah merenggut semua nya.Kondisi Lily sudah jatuh terduduk lemas di lantai marmer yang dingin. Wajahnya pucat pasi dan netranya terbelalak kaget."N—Nona. A—apa tadi suara Kaisar? Jadi, sejak t
Pintu tersembunyi di balik lemari kayu ek berderit pelan. Jantung Rosalynd berdegup kencang, tangannya spontan menarik sisa robekan gaun untuk menutupi tubuhnya.Akan tetapi, setelah ditunggu beberapa detik keluarlah wanita berpakaian pelayan sederhana melangkah keluar dengan buru-buru."Nona Rosal
"Kaisar malam ini akan datang. Bersiaplah dan jangan berani-berani membuat kesalahan jika kau masih ingin hidup dengan tenang.” Kalimat itu masih terngiang di kepalanya.Seluruh dunianya seolah hancur saat kakaknya sendiri, Permaisuri Cassandra, menyuruhnya untuk tidur dengan suaminya sendiri…Itu







