FAZER LOGINMatahari mulai merangkak naik dan mengusir kabut pagi yang menyelimuti Taman Mawar Istana Utama. Rosalynd berdiri anggun ke taman untuk menemui seorang perwira. Begitu jarak suaminya dirasa cukup jauh, Rosalynd segera berbalik badan dan menghampiri pelayan wanita senior yang sedang memangkas beberapa ranting semak di dekat air mancur. Dengan gerakan kilat dan sangat halus. Ia menyelipkan kain sapu tangan berisi sandi rahasia mengenai titik lemah pertahanan logistik Barat ke dalam saku celemek sang pelayan. "Kirimkan sebelum fajar menyingsing," bisik Rosalynd cepat tanpa mengubah raut wajahnya. Namun, hal yang tak pernah dibayangkan oleh Rosalynd adalah dari balik bayangan pilar lengkung taman, pandangan tajam Kenneth sama sekali tidak luput mengamati gerak-gerik nya. Sang Tiran sengaja menghentikan instruksi militernya sejenak ketika netranya yang setajam elang menangkap kain putih yang sudah berpindah tangan. Alih-alih marah besar. Kenneth justru menyunggingkan senyum miring yang
Rosalynd mundur dengan sangat pelan dari balik daun pintu jati ruang kerja kekaisaran. Suara amarah Kenneth dan laporan militer yang dibawakan Sean masih terngiang-ngiang sangat jelas di telinganya. Gadis itu berjalan kembali menyusuri lorong yang temaram Paviliun Utama dengan langkah yang teratur tanpa menimbulkan suara. Senyuman tipis yang penuh dengan dominasi dingin terukir di wajah pucatnya. 'Ah, ternyata Raymond memindahkan seluruh pasukan Utara ke perbatasan Verona. Dan Kenneth lagi menyiagakan batalion Ksatria Hitam,' batin Rosalynd sambil meremas gaunnya erat-erat. Jika dia terus berakting menjadi batu yang keras dan menunjukkan kebencian secara terang-terangan, Kenneth semakin waspada. Sang Tiran pasti akan mengurungnya di dalam penjara emas ini dengan barisan pengawal yang jauh lebih ketat. Akan tetapi, jika ia ingin segera mempercepat bentrokan dua saudara itu. Ia harus membuat Kenneth meluruhkan seluruh pertahanan nya. 'Jangan gegabah, Rosalynd. Sebaiknya tebar
Langkah Rosalynd menyusuri lorong panjang paviliun utama istana Blackwood bergema teratur di atas lantai pualam yang dingin. Suasana megah yang dulu sempat hangat, kini kembali asing dan membeku. Ratusan lilin aromaterapi yang di pasang di sepanjang dinding tembaga memancarkan aroma mawar yang sangat tajam. Aroma itu adalah aroma kesukaan Rosalynd yang sengaja dipesan Kenneth untuk menyambut kepulangan nya. Para pelayan lama yang berjejer di sepanjang lorong menunduk dalam-dalam dengan tubuh yang sedikit gemetar. Beberapa di antaranya tak sanggup menahan rasa haru ketika melihat sang Permaisuri mereka kembali hidup-hidup setelah tragedi di tebing Oakhaven. Namun, rasa haru itu perlahan sirna ketika mereka sedikit mendongak dan melihat aura Rosalynd. Wajah yang dulu dipenuhi dengan senyum dan pendar kehangatan kini mengeras dingin bagai pualam tanpa cela. Tak ada kebahagiaan. "Aku sudah mengganti semua perabotan dan melipatgandakan penjagaan di kamar ini, Rosalynd. Tidak akan ada lag
Darah merah segar itu masih menetes pelan sampai-sampai membasahi ujung kerah mantel tebal yang dikenakan Rosalynd. Napas Kenneth seketika tercekat. Tangan sang Tiran yang biasanya begitu kokoh, kini bergetar hebat ketika meraih sapu tangan sutra dari dalam saku kemejanya. Dengan meruntuhkan keangkuhannya, Kenneth berlutut di atas papan kayu dermaga yang dingin dan menekan kain sutra itu dengan lembut ke leher Rosalynd untuk menghentikan pendarahan. "Tetap diam. Aku mohon, jangan bergerak Rosalynd." bisik Kenneth dengan suara serak yang hampir pecah oleh keputusasaan. Netra nya memerah menatap nanar wajah pucat permatanya di hadapannya. Rosalynd tidak menepis dan ia juga tidak meringis. Gadis itu hanya membiarkan Kenneth untuk mengobatinya dengan netra yang kosong, seolah tubuh yang disentuh pria itu hanyalah patung tanpa nyawa. Sedangkan, dari sudut gang pelabuhan yang remang-remang, Raymond menyaksikan pemandangan tersebut dengan jemarinya yang terkenal erat. Rahangnya menegang
Brak! Genggaman tangan Kenneth sangat kuat sehingga membuat surat perkamen itu sampai hancur. Napas sang Kaisar memburu parah, netranya memerah berkilat panik dan keputusasaan yang luar biasa. Ancaman bunuh diri itu, bukan gertakan main-main. Kenneth paham betul seberapa keras kepalanya wanitanya jika sedang terdesak. Bayang-bayang tubuh Rosalynd yang melompat dari tebing di Oakhaven kembali melukai ingatannya. "Yang Mulia. Bagaimana dengan instruksi armada tempur di perbatasan?" tanya Sean cemas. Ia menjaga jarak karena melihat aura kehancuran tuannya. "Tarik!" desis Kenneth sambil memegangi dadanya yang terasa ngilu. "Tarik seluruh pasukan! Batalkan blokade pelabuhan! Jangan ada satu pun prajurit yang menyentuh warga kota ini!" Sean membelalak kaget. "Ta—Tapi, Yang Mulia, jika Anda menarik pasukan sekarang, Pangeran Raymond bisa saja—" "Aku bilang tarik semuanya, Sean! Jika terjadi sesuatu dengannya di dermaga itu—maka aku sendiri yang akan memenggal kepalamu dan meratakan sel
Suasana di sepanjang pelabuhan bawah kota Verona mendadak riuh rendah. Bisik-bisik ketakutan di antara para pedagang ikan dan nelayan seolah menjadi desakan panik. "Tolong. Pangeran Raymond, pertimbangkan lah kembali!" "Kami tidak bisa makan jika jalur vital pelabuhan diblokade!" "Jangan korbankan seluruh warga kota hanya demi satu wanita asing, Pangeran!" Desakan demi desakan cemas dari warga yang berkerumun di luar Balai Obat terdengar semakin nyaring. Raymond yang berdiri mematung di depan pintu dan menatap warga Verona dengan rahang yang mengeras parah. "Cukup!" gertak Raymond dengan berat dan menggelegar. Gertakan itu seketika membuat warga yang riuh tadi bungkam seketika. "Aku tidak akan pernah tunduk pada gertakan sampah bajingan Blackwood itu! Bubar kalian semua dan kembali lah ke rumah masing-masing!" Raymond dengan kasar masuk ke dalam Balai Obat dan membanting pintu kayu dengan keras dan menguncinya dari dalam. Urat-urat di seluruh tubuhnya menegang ketika ia menyanda
Pintu tersembunyi di balik lemari kayu ek berderit pelan. Jantung Rosalynd berdegup kencang, tangannya spontan menarik sisa robekan gaun untuk menutupi tubuhnya.Akan tetapi, setelah ditunggu beberapa detik keluarlah wanita berpakaian pelayan sederhana melangkah keluar dengan buru-buru."Nona Rosal
Matahari pagi itu belum sempat menampakkan wujudnya di ufuk timur, namun pintu paviliun obsidian sudah digedor dengan sangat berwibawa."Perhatian, selir Rosalynd. Ibu Suri dan Permaisuri Agung telah tiba!" seru dayang Martha dari balik pintu kamar.Rosalynd tersentak kaget.Jantungnya berdegup ken
Jarak wajah mereka yang telah menjauh, Kenneth tetap mengunci kedua pergelangan tangan Rosalynd di atas kepala dengan satu tangan besarnya yang kokoh."Ck! Kau pikir aku Sudi menyentuh wanita dari klan Shanza, Rosalynd?" desis Kenneth dengan suara yang mulai merendah.Napas Rosalynd terengah-engah
Cengkeraman tangan Kaisar Kenneth di dagu Rosalynd terasa begitu kuat sehingga membuat tulang rahangnya linu. Rosalynd mendongak pasrah. Wajah Kenneth terlihat sangat tampan namun tanpa menyisakan rasa belas kasih. Hawa panas yang menguar dari tubuh pria itu seolah mampu mengubah suasana di dala







