แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Susu Cabai
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-27 11:12:10

Julia menoleh ke belakang.

“Buset, ngejar dia. Beneran mau nagih duit kemarin nih.” Ia menambah tenaga sehingga jaraknya dengan Hans semakin menjauh.

Hans menghentikan langkah, melihat wanita Cilok itu berbelok di perempatan jalan. Ia tidak menyangka cewek cilok itu lebih sulit dikejar.

“Ini cewek apa kuda? Lari seperti orang kesetanan saja,” ujar Hans ngos-ngosan.

Ia buru-buru berbalik ke arah mobil.

Julia sekali lagi memeriksa ke belakang, sudah tidak melihat cowok yang mengejarnya. Menghentikan langkahnya lalu duduk di trotoar jalan.

“Buset tuh orang. Bikin capek orang saja,” ujar Julia sambil mengatur nafas di pinggir jalan yang ramai oleh kendaraan berlalu-lalang.

Menggunakan topi hitamnya untuk mengipas-ngipas wajah yang terasa panas. Ia menoleh ke samping, matanya melotot melihat mobil yang kemarin menghampirinya.

“Mampus,” pikir Julia tidak dapat berkata-kata.

Segera berdiri dari posisi duduknya.

Hans turun dari mobil dengan ekspresi kesal.

“Kenapa lari?!”

“Aku lari karena kamu ngejar,” balas Julia.

“Kalau kamu tidak lari, aku tidak kejar. Dasar tidak jelas,” ucap Hans.

Mata Julia langsung menajam dengan rahang mengeras.

“Kamu yang enggak jelas. Terserah kakiku mau lari atau loncat-loncat. Pokoknya uang yang sudah diberikan enggak bisa ditarik lagi. Enggak melayani return,” tegas Julia tidak akan mengembalikan uang ganti rugi kemarin.

Hans tidak mengerti maksud dari perkataan Julia.

“Uang apa? Aku hanya ingin beli resepmu,” ungkap Hans terus terang.

Kepala Julia agak mundur dengan bibir kiri terangkat.

“Ganteng-ganteng rabun kamu ya? Cilok my love artinya aku jualan cilok, bukan jualan resep,” jawab Julia seadanya.

Hans hanya bisa tersenyum kesal. Mulut perempuan di depannya ini ringan sekali menghina dirinya. Kalau punya karyawan seperti ini pasti langsung dipecat.

Tapi untuk saat ini ini ia harus bersabar agar negosiasinya nanti berjalan mulus.

“Aku juga bisa baca. Maksudku ingin beli resep cilok milikmu,” jelas Hans mengutarakan maksudnya.

“Resep cilokku?” tanya Julia sambil menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi heran.

“Iya, resep cilokmu.” Hans memperjelas ucapannya.

“Enggak.” Julia menolak begitu saja dengan ekspresi datar sampai membuat Hans kaget.

Padahal belum ada negosiasi sudah ditolak.

Alasannya karena Julia teringat pesan ayahnya agar tidak memberikan atau menjual resep turunan dari leluhurnya itu.

“Aku bahkan belum sebut harganya. Aku bisa beli lima puluh juta resep untukmu itu. Bagaimana?” tawar Hans membuka harga.

“Ogah. Enggak tertarik,” tolak Julia lagi.

Ia menuju gerobak cilok untuk kembali berjualan.

Hans buru-buru menahan lengan Julia.

“Dua ratus juta. Itu sudah banyak,” ucap Hans memberikan empat kali dari harga awal.

Julia sesaat memikirkan ucapan ayahnya sebelum meninggal.

Ayah Julia: “Tapi kalau ditawari dua ratus juta, pikir-pikir dulu sebelum tolak. Lumayan itu.”

Jari Julia menggaruk pipinya sendiri.

“Dua ratus juta ya?” ia bertanya sekali lagi memastikan.

Hans segera melepaskan lengan Julia setelah melihat ada ekspresi ragu. Ia berdiri kembali dengan percaya diri.

“Benar, dua ratus juta,” ujarnya serius.

Julia berpikir sejenak. Dua ratus juta memang bukan uang yang kecil. Uang sebanyak itu, bisa untuk menanggung biaya sekolah Kendra dan modal untuknya memperbesar usahanya.

“Daripada kamu jualan tiap hari dorong gerobak. Kalau panas kepanasan, hujan kehujanan, mending pakai uang 200 juta buat modal usaha yang lebih baik. Iyakan?” Hans mulai mengeluarkan bujuk rayu agar pertimbangan Julia menjadi sebuah persetujuan.

Kepala Julia mulai mengangguk-mengangguk. Terpengaruh oleh perkataan Hans.

“Bener juga. Kalau gitu aku setuju. Tapi benar ya dua ratus juta, awas kalau bohong,” tunjuk Julia menggunakan jari telunjuk.

“Kamu kira seorang Hans akan berbohong? Tapi, setelah jual resepmu, kamu tidak boleh jualan cilok lagi,” tutur Hans.

Julia kembali memundurkan kepala, bingung. “Loh kenapa? Kok enggak boleh?”

“Karena resepmu dibeli oleh perusahaanku. Kalau mau jualan cilok lagi, tidak boleh pakai resep yang sama,” jelas Hans.

Mendengar peraturan seperti itu, Julia langsung berubah pikiran.

“Enggak-enggak, enak saja. Enggak jadi jual. Pergi sana jangan ganggu aku cari duit,” usirnya.

Hans kebingungan di mana letak yang membuat Julia langsung berubah pikiran.

“Tu-tunggu dulu. Kenapa berubah pikiran? Bagaimana kalau dua ratus lima puluh juta?” tawar Hans lagi berusaha membujuk lagi.

“Aku bilang enggak ya enggak! Punya kuping enggak sih?!” tegas Julia mulai risih.

Namun Hans berusaha menghalang-halangi Julia agar tidak pergi. Bagaimanapun ia harus bisa membeli resep cilok itu hari ini juga.

“Pikir-pikir dulu, Mbak,” bujuknya.

“Woi!”

Hans tersentak oleh suara bentakan yang terarah kepadanya.

Seorang pria berkumis tipis, dengan pakaian ala preman turun dari motor rakitan dari berbagai kap motor bekas.

“Bang Mamat,” sapa Julia.

“Ada apa ini, Julia?” tanya bang Mamat sambil menjauhkan Hans dengan kasar.

Hans sampai terdorong mundur dan hampir jatuh.

“Tau nih orang gila. Masa mau beli resep cilokku terus enggak bolehin aku jualan. Udah ditolak tapi malah maksa,” ungkap Julia mengadu.

Bang Mamat melototkan mata. “Wah macam-macam kamu. Pergi enggak?! Atau mau aku piting lehermu itu?!” usirnya dengan nada mengancam.

Nyali Hans langsung ciut. “I... iya bang, santai-santai.” Ia buru-buru menuju ke mobilnya.

“Pergi! Awas saja aku lihat kamu paksa Julia lagi. Aku cari kamu sampai di rumahmu,” tambah Bang Mamat memberikan ancaman lagi.

Hans hanya bisa mengangguk. “Iya, Bang. Sorry, Bang.”

Langsung menginjak gas sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi padanya.

“Terima kasih sudah bantuin aku,” kata Julia sambil tersenyum.

“Santai saja.” Bang Mamat mulai bergaya sok keren, merasa seperti superhero. “Mau aku temani jualan?” tawarnya mencari kesempatan.

“Enggak usah, Bang. Bang Mamat lanjutkan saja urusannya. Aku lebih suka jualan sendiri,” tolak Julia dengan lembut lalu mulai mendorong gerobak cilok lagi.

Dari kejauhan Hans menatap kesal ke arah Julia sambil menelpon seseorang.

“Aku punya tugas buat kalian. Foto orangnya sudah aku kirim,” ucap Hans dengan nada datar.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 9

    Setelah melayani beberapa pelanggan yang membeli cilok, Julia kembali menghampiri Mahendra sambil membawa air minum. “Nih, minum,” kata Julia yang sengaja membawa double botol minuman hari ini. Mahendra segera mengambil air minum itu dan segera meneguk airnya.Julia duduk di atas rumput dan ikut meneguk air minum sambil menatap Mahendra. Sembari menyeka sisa air di bibir, Julia berkata, “kalau kamu enggak kuat mending penelitian di rumahku saja. Enggak usah ikut aku jualan.” Tangan Mahendra memutar penutup botol untuk menutup air minum. “Aku maunya begitu,” kata Mahendra sambil menghembuskan nafas panjang. “Tapi?” tanya Julia. “Kamu tahu DOPEM?” Julia menggelengkan kepala atas pertanyaan Mahendra. “Enggak tahu.” “DOPEM, Dosen Pembimbing yang membimbing proses penyusunan skripsi mahasiswa,” jelas Mahendra. Mulut Julia membentuk huruf ‘o’ tanpa suara dengan sedikit mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tadi malam DOPEM mengarahkanku untuk mengikuti semua proses penjua

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 8

    “Apa-apaan sih, Bang Mamat?!” Julia segera menarik tangan bang Mamat agar melepaskan Mahendra. “Kamu belain dia berarti ada apa-apa!” tuduh bang Mamat yang semakin tersulut dan kembali ingin menyerang Mahendra.“Bang Mamat!” Julia mendorong bang Mamat supaya menjauh dari Mahendra. “Kami gak ada hubungan apa-apa. Dia itu anak kuliahan semester akhir yang ingin meneliti usaha cilok milikku buat skripsiannya!” lanjutnya menjelaskan dengan nada kesal.“Skripsi? Jadi enggak ada hubungan apa-apa?” tanya bang Mamat amarahnya meredah.“Enggak! Stop biasakan asal mukul sebelum cari tahu! Bang Mamat buat aku malu, tahu Enggak?! His!” omel Julia berbalik ke gerobaknya. “Ayo pergi!” ajaknya pada Mahendra. Mahendra buru-buru mengikuti langkah Julia.Bang Mamat menatap punggung Mahendra dengan tajam.“Mahendra. Tunggu saja kamu!” geram bang Mamat sambil menendang udara.“Sorry ya. Baru hari pertama kamu sudah dapat masalah,” ujar Julia tak berani menatap Mahendra gara-gara perlakuan bang Mam

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 7

    Hans yang masih nyenyak dalam tidur terganggu oleh suara dering ponsel yang berulang kali. “Siapa tengah malam begini telepon?! Ganggu orang tidur saja!” kesal Hans sambil mengangkat telepon. “Tolong, Bos. Kami habis dipukuli oleh tukang cilok itu, Bos. Mereka bisa beladiri,” lapor kang Tarnet mengadu sambil meringis kesakitan saat memegangi area sekitar wajahnya yang merah dan biru kehijauan. Alis Hans mengerut. “Apa maksudmu?” “Bos, mereka sangat kejam. Selain memukuli kami, mereka juga merebut ponsel dan jam tanganku,” jawab kang Tarnet. "Bukan itu! Aku menyuruh kalian mengawasinya, kenapa bisa dipukuli?" tanya Hans tidak masuk di akalnya jika seorang preman bisa dipukuli oleh seorang wanita. "Tadi kamu menyusup ke rumahnya untuk mencari resepnya, Bos. Tapi–" "Apa?!" Hans menyapu wajahnya, kini dia tahu kenapa dua preman ini dihajar. Rasanya ingin mengeluarkan kata-kata mutiara untuk dua preman itu. "Aku menyuruh kalian mengawasinya bukan... Ah!" Hans memilih

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 6

    "Kakak! Awas!" teriak Kendra sambil melemparkan piring. Julia berbalik dengan cepat lalu menahan tangan kang Tarnet menggunakan kaki. KRASH! Piring pecah saat menghantam kepala kang Tarnet. Junus menyerang dari belakang tapi Julia berhasil menangkap tangan Junus dan membanting ke arah kang Tarnet hingga bertabrakan. "Beraninya nyerang diam-diam!" Julia yang sudah sangat geram langsung mengambil loyang dan menghantamkan ke arah kepala kang Tarnet dan Junus berulangkali. PLAK! PLAK! PLAK! Suara nyaring bersahutan dengan teriakan kesakitan dari Junus dan kang Tarnet. Kendra mengambil golok dan linggis tanpa memperdulikan Julia yang masih menghajar dua preman itu. "Hiyat!" Julia lompat tinggi-tinggi lalu memberikan pukulan terakhir ke arah kang Tarnet. Mata kang Tarnet berputar dengan wajah kebiruan. "Huh, puas rasanya," kata Julia sambil menyeka kening. "Ampun... Jangan pukul lagi. Aku punya istri tiga dan 10 anak. Tidak ada yang tanggung hidup mereka," mohon Kang T

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 5

    “Itu ‘kan orangnya?” tanya preman gondrong pirang bernama kang Tarnet.Preman botak bernama Junus memperhatikan Julia yang mendorong pulang gerobak cilok.“Iya itu, Kang. Mirip dengan yang di foto,” balas Junus.Kang Tarnet menoleh dengan alis bertautan. “Dia atau bukan?” tanya kang Tarnet sekali lagi.“Iya, Kang. Mirip dengan yang di foto.” Junus mengulangi jawabannya yang kedua kali.“Kalau mirip berarti bisa jadi iya bisa jadi bukan. Dasar bodoh! Sini HP-mu.”Kang Tarnet merebut ponsel dari tangan Junus yang memasang wajah memelas salah tingkah. Setelah itu, ia mencocokkan foto tersebut dengan wanita penjual cilok. Dari pakaian, wajah, dan topi yang dikenakan sama semua. “Ini bukan mirip. Tapi memang dia yang jadi target kita. Begitu saja tidak becus! Ambil!” Kang Tarnet mengembalikan ponsel milik Junus dengan setengah memarahi.Junus hanya pasrah dimarahi sambil mengambil kembali ponsel miliknya.Mereka mengikuti cewek yang memakai pakaian serba panjang itu cukup lama. Beberapa

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 4

    Julia menoleh ke belakang. “Buset, ngejar dia. Beneran mau nagih duit kemarin nih.” Ia menambah tenaga sehingga jaraknya dengan Hans semakin menjauh. Hans menghentikan langkah, melihat wanita Cilok itu berbelok di perempatan jalan. Ia tidak menyangka cewek cilok itu lebih sulit dikejar. “Ini cewek apa kuda? Lari seperti orang kesetanan saja,” ujar Hans ngos-ngosan. Ia buru-buru berbalik ke arah mobil. Julia sekali lagi memeriksa ke belakang, sudah tidak melihat cowok yang mengejarnya. Menghentikan langkahnya lalu duduk di trotoar jalan. “Buset tuh orang. Bikin capek orang saja,” ujar Julia sambil mengatur nafas di pinggir jalan yang ramai oleh kendaraan berlalu-lalang. Menggunakan topi hitamnya untuk mengipas-ngipas wajah yang terasa panas. Ia menoleh ke samping, matanya melotot melihat mobil yang kemarin menghampirinya. “Mampus,” pikir Julia tidak dapat berkata-kata. Segera berdiri dari posisi duduknya. Hans turun dari mobil dengan ekspresi kesal. “Kenapa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status