LOGINKapal spiritual Rong Tian sudah melewati perbatasan wilayah Dataran Tengah sejak tadi pagi.
Langit di jalur angin ketinggian ini berbeda dari langit yang dikenal orang biasa di bawah.
Lebih gelap di ujungnya, lebih bersih di tengahnya, dan angin yang bertiup di sini tidak membawa debu atau bau tanah melainkan hanya udara yang terasa seperti belum pernah disentuh siapapun sebelumnya.
Wang Fu berdiri di sisi kiri geladak dengan kedu
Liang Cheng mengetuk cangkir dengan kuku. “Kabar berisik memang sering dipotong supaya ruangan tidak kotor.”Zhao Mingde memandangnya. “Kalau hanya kotor, cukup disapu. Orang memotong karena takut sesuatu terlihat utuh.”Juru arsip muda di sudut menelan ludah. Kuasnya akhirnya menyentuh kertas, tetapi garis yang keluar miring, dan ia buru-buru menutupnya dengan lengan.He Yuanji mengangkat mata. “Kalian berdua sama-sama melompat terlalu cepat. Laporan pertama belum cukup untuk menilai tubuh bayangan, tetapi cukup untuk membuktikan bahwa ada bayangan lewat.”Ruangan menjadi hening. He Yuanji jarang memberi kalimat yang mudah dibaca, dan saat ia melakukannya, para juru tulis di sekitar meja biasanya memperlambat napas.Liang Cheng menatapnya. “Paviliun Perak Langit juga menganggap orang itu layak diperhatikan?”&l
Duan Rong masih berusaha menjaga senyum. “Pemimpin Luo terlalu cepat menilai.”Luo Chenghai menutup peti biru. “Kalau begitu tulis ulang di depan kami. Tulis sesuai laporan asli, tambahkan catatan bahwa salinan pertama sempat diturunkan bahasanya, lalu tekan cap pos. Jika Tuan Duan merasa semua itu penghinaan, silakan tulis keberatan di bawah nama sendiri.”Juru salin kecil yang tadi menyindir Wei Song salah mencelupkan kuas. Tinta hitam menetes ke lengan bajunya, dan ia buru-buru menyembunyikan tangan di bawah meja.Pengawal karavan yang sempat tertawa kini pura-pura memeriksa tali sepatu. Mereka tidak lagi berani ikut meremehkan nama Tuan Jubah Putih setelah melihat satu juru salin utama pos dipaksa menulis ulang di depan orang banyak.Wei Song mendorong lembar kosong ke tengah meja. “Mulai ulang saja, Tuan Duan. Kuda kurir masih sanggup membawa kebenaran, asal penulis
Laporan resmi dari Benteng Utara Jin Gao meninggalkan halaman militer ketika embun masih menggantung di ujung panji Kekaisaran Bai Feng.Tabung bambu itu tampak kecil di tangan kurir muda bernama Wen An, tetapi cap merah Han Beitang di permukaannya membuat setiap pos jalan wajib memperlakukannya sebagai urusan wilayah, bukan cerita yang lahir dari meja rumah teh.Di dalam tabung itu, nama Tuan Jubah Putih belum menjadi legenda. Ia baru berupa catatan dingin yang menyebut Rumah Teh Seruling Senja, Sekte Puncak Matahari, Sekte Hutan Zhulin, Paviliun Awan Bijaksana, Balai Angin Senja, Klan Naga Air, dan Benteng Utara Jin Gao sebagai saksi berlapis atas kemunculan seorang pria berjubah putih di wilayah barat Kekaisaran Bai Feng.Namun kabar resmi selalu berjalan dengan kaki lebih berat daripada rumor.Saat kuda Wen An baru meninggalkan debu gerbang benteng, dua pengawal karavan sudah menceritakan versi m
Tombak-tombak di depan tidak patah. Mereka hanya miring sepersekian, cukup untuk membuat garis komando kehilangan sudut.Langkah kedua jatuh di sisi kiri. Baris belakang yang seharusnya menutup celah mendadak bergerak terlalu cepat, lalu tertahan oleh posisi kaki mereka sendiri.Langkah ketiga menekan pusat formasi.Seluruh tombak miring ke tanah satu demi satu.Tak seorang pun jatuh ke tanah, tetapi barisan itu sudah kehilangan bentuknya. Ujung-ujung tombak miring, langkah para prajurit tertahan, dan di depan mata semua saksi, Rong Tian meruntuhkan wibawa formasi tanpa perlu membuat satu tubuh pun berdarah.Prajurit muda yang tadi paling cepat menegakkan dada kini menunduk lebih dulu. Tombaknya masih di tangan, tetapi ujungnya menghadap tanah, dan di bawah tatapan para karavan yang tertahan, itu sudah cukup untuk membuat wajahnya panas.Cao Zhen berdiri kaku
Salinan penilaian Paviliun Awan Bijaksana sampai ke Benteng Utara Jin Gao sebelum matahari hari berikutnya condong ke barat.Kuda pengantar pesan tiba dengan busa putih di mulut, pelananya basah oleh keringat, dan pembawa suratnya tak sempat membersihkan debu dari alis sebelum gulungan dipindahkan ke tangan penjaga gerbang.Benteng Utara Jin Gao tidak sebesar kota, tetapi nadinya jauh lebih keras.Dindingnya tebal, parit kering mengitari sisi luar, panji Kekaisaran Bai Feng berkibar di atas menara, dan halaman dalam dipenuhi bunyi tombak panjang, sepatu besi, tali busur, serta perintah pendek yang dilatih agar tidak bergantung pada emosi.Han Beitang membaca laporan itu di ruang kerjanya yang sederhana. Di hadapannya ada peta wilayah barat Kekaisaran Bai Feng, satu baki teh hitam, segel militer, dan dua orang kepercayaan yang sudah terlalu lama berdiri di dekat kekuasaan untuk berpura-pura tidak cema
Cheng Yuwen mengangkat tangan kecil, menghentikan Sun Kehui sebelum pria itu membalas. “Kami tidak ingin berdebat sebelum menimbang. Paviliun Awan Bijaksana punya Formasi Tujuh Lapis untuk membaca aliran qi, keselarasan dengan tanah, stabilitas meridian, dan kemungkinan jejak teknik yang merusak.”Ia menunjuk lingkaran di lantai. “Jika qi Tuan selaras dengan hukum wilayah, kami akan mencatatnya. Jika tidak, kami juga harus mencatatnya.”Rong Tian berjalan ke tengah formasi. “Alat yang jujur boleh membaca.”Sun Kehui tersenyum lagi, kali ini lebih tipis. “Semoga Tuan tetap berkata demikian setelah hasilnya keluar.”Wei Dazhi mengambil kuas. Tangannya belum gemetar, tetapi genggamannya lebih rapat daripada sebelumnya.Cheng Yuwen memberi isyarat. Lonceng kecil di sisi meja diketuk, dupa penenang di empat sudut menyala lebih terang, da
Lin Tao, dengan belati Lan Fen masih menempel di lehernya, dipaksa bangkit. Tangannya gemetar. Keringat dingin membasahi punggungnya. Kakinya hampir tidak mampu menopang tubuh.Pintu kamar terbuka tanpa suara.Sesosok tubuh tinggi berjubah hitam melangkah masuk. Tudungnya yang dalam menyembunyikan
Penjara Kekaisaran terletak jauh di bawah kompleks istana, sebuah labirin batu dan kegelapan. Rong Tian sudah tidak di sel. Rong Tian sudah masuk lebih dalam, menembus pertahanan Makam Pedang Kekaisaran.Pemandangan di sekelilingnya terus berubah. Satu saat, hutan persik penuh kelopak merah muda be
Saat itu Rong Tian, yang masih berdiri tenang di tengah lorong, mengangkat pedang kayu persiknya yang tampak biasa saja. Pedang itu, yang terlihat seperti mainan anak-anak yang dibuat oleh tukang kayu desa, kini memancarkan aura yang samar.Aura itu tidak terlihat dengan mata telanjang. Namun, bagi
Ying Jian mengangkat busurnya tinggi-tinggi dengan gerakan yang sangat terlatih. Otot-otot lengannya menegang, jari-jarinya menarik tali busur hingga maksimal. Sebuah anak panah muncul di busur itu, bercahaya dengan kilatan biru kehijauan yang redup namun menakutkan.Sring!Anak panah itu melesat k







