ログインQuand j'ai découvert que mon mari, Leonardo Marchetti, ne parvenait pas à tourner la page sur son premier amour, j'ai commencé à apprendre à notre fille Sofia à l'appeler « Tonton Leonardo ». Sofia s'est tordu la cheville à l'école. Au milieu de la nuit, Leonardo a reçu un appel. C'était Valentina, en pleurs. Sa fille Lily faisait un cauchemar et hurlait qu'elle voulait son père. Leonardo est parti sans un mot. J'ai appliqué une poche de glace sur la cheville gonflée de Sofia et lui ai murmuré : « Dis au revoir, Tonton Leonardo. » Leonardo avait promis d'assister à la journée sportive de Sofia. Puis Valentina a appelé, sanglotante, en disant que Lily n'avait pas de père pour participer à la course en sac avec elle. Leonardo est sorti sans hésiter. J'ai simplement tendu le téléphone à Sofia en lui disant d'annoncer à son professeur : « Tonton Leonardo ne pourra pas venir. » À chaque fois, Sofia hésitait. Elle ne comprenait pas pourquoi je lui faisais faire ça. Un jour, Leonardo a enfin réalisé à quel point il nous avait déçues. Il a tout lâché pour le récital de piano de Sofia et juré qu'il ne raterait ça sous aucun prétexte. Sofia était en coulisses avec les autres enfants. Puis le téléphone de Leonardo a vibré. C'était Valentina. Je n'entendais pas ce qu'elle disait, mais je devinais. Lily pleurait. Lily avait besoin de lui. Lily n'avait pas de père. Leonardo est revenu. Mais avant qu'il ne puisse s'excuser, la voix de Sofia s'est élevée depuis la scène. « C'est bon, Tonton Leonardo. Va t'occuper de ton autre enfant. Maman reste là pour me regarder, ça me suffit. »
もっと見るAndrew Chayton tidak mau bermain-main lagi dengan kedua anak lelakinya. Sudah saatnya memberi penegasan pada mereka, atau dua perusahaan yang akan diwariskan pada masing-masing anaknya akan terbengkalai. Hanya karena wanita.
Sudah cukup, Sabrina adalah mimpi buruk yang harus menjadi pelajaran berharga bagi mereka bertiga.
"Dengar, mulai hari ini, kalian tidak boleh berhubungan dengan wanita manapun. Sampai kalian berusia 30 tahun dan itu saatnya kalian menikah."
Suara Andrew terdengar seperti petir di siang bolong bagi Levin Chayton. Si bungsu yang sudah berusia dua puluh tiga tahun bulan kemarin itu tak percaya ayahnya akan mengeluarkan kalimat mengerikan itu.
"Dad, yang benar saja? Tanpa wanita?" tanya Levin dengan nada meninggi, bahkan nyaris bangkit dari tempat duduknya.
"Kenapa? Apakah hidupmu begitu sempit tanpa wanita?" tanya Andrew mendominasi ruang kerjanya.
Levin melirik Devin. Kakaknya yang terpaut dua tahun dengannya itu tentu saja tidak akan memberontak dengan keputusan Andrew. Karena dia lelaki dingin yang tidak tertarik pada wanita. Mungkin karena masa kecil mereka, yang terpaksa mereka berdua lalui tanpa kasih sayang seorang wanita, yang bisa mereka panggil Mom.
"Dua puluh tanpa wanita, apa aku salah bila aku punya seorang kekasih?" tanya Levin, berusaha menahan gemuruh di dadanya. Kelebatan gestur beberapa gadis di matanya, sungguh tak sanggup dia tinggalkan.
"Kau tidak punya satu, Levin. Jangan kau kira aku tidak tahu tingkah lakumu selama ini. Aku tidak ingin, gadis-gadismu menggerogoti harta kita, " desis Andrew dengan suara nyaris tak terdengar di kalimat terakhir, "Seperti Sabrina Brice."
Levin menghembus napas kasar. Bahkan ayahnya masih menyebut nama gadis ibunya dengan nada sinis, meski sudah 20 tahun mereka tak bertemu.
Andrew bangkit dari kursinya, menyatukan tangan di belakang punggung lalu berdiri di tepi jendela besar. Satu-satunya jendela di ruang kerjanya yang menampilkan pemandangan mansion miliknya. Menyebut nama Sabrina Brice selalu mengiris hatinya, tapi dia tak akan pernah lupa bahwa wanita itu adalah perempuan yang melahirkan keturunannya.
Perselingkuhannya dengan salah seorang pekerja kasar di mansion, membuat Andrew terluka sangat dalam. Apalagi, sama sekali tak diduganya, larinya Sabrina dengan pekerjanya sendiri, dengan membawa semua obligasi miliknya.
Wanita itu telah membuatnya hancur dan terpuruk. Setiap kali Andrew menyebutnya di depan Devin dan Levin dengan penuh kemarahan, adalah untuk menanamkan kebencian yang sama di dada mereka. Bahwa ketika itu, Andrew hanyalah bocah 19 tahun yang menerima warisan mendadak karena kedua orang tuanya tewas karena kecelakaan.
Sabrina hadir, memberikan cinta palsunya, hanya untuk membawa kabur semua hartanya.
"Jika kau ingin melihat ayahmu ini mati hari ini, bawa saja gadis-gadismu di sini. Sudah pasti, wajah Sabrina Brice ada di topeng-topeng mereka."
Levin melirik Devin. Seperti biasa, si sulung selalu bersikap dingin--alih-alih sebagai kakak yang bijaksana.
Devin menatap Levin dengan alis berkerut samar. Dia tahu, Levin banyak bermain dengan gadis, hingga Devin tak bisa lagi membedakan mana gadis Levin, mana yang pelayan di rumah ini. Mereka silih berganti menggandeng tangan Levin, keluar masuk rumah seperti pelayan. Namun itu hanya bila ayah mereka tidak di rumah.
"Kita harus menjaga kesehatan ayah, Levin. Baru tahun kemarin, ring tertanam di dadanya. Kau tentu tidak ingin mengambil ring itu untuk kau pakaikan di jari gadismu."
Levin mengepal tangan, sembari menatap Devin geram. Devin bangkit dari kursinya, merapikan keliman jas hitam pekatnya dan menghampiri Andrew.
"Dad, aku akan ke kota dan pulang malam. Tidak usah menungguku makan malam."
"Kuharap kau tidak pulang membawa gadis," ucap Andrew datar.
Devin tersenyum lebar. "Kalaupun aku membawa gadis, pasti untuk pelayan rumah ini. Sudah sepekan Liliana berhenti bekerja karena menikah. Jadi, aku belum mendapat ganti pelayan."
Andrew mendengus pendek. Sepertinya, dia harus mencarikan pelayan yang sudah berumur, agar tidak menggoda anak-anaknya. Tentu saja pekerjaan mereka tidak setangkas yang masih muda. Namun setidaknya, anak lelakinya tidak akan tergoda.
"Aku akan ke rumah Dough besok pagi. Beberapa tetangganya ada yang menjadi pelayan paruh waktu di mansion keluarga Morpheus," ucap Andrew tanpa memalingkan wajah dari jendela. "Dan akan aku cari yang sudah bersuami dan beranak banyak."
Devin melirik Levin. Rupanya, kejadian di pesta ulang tahun Levin kemarin yang menjadi penyebab Andrew membuat keputusan sepihak--tanpa wanita sampai mereka berusia 30 tahun.
Levin tepergok oleh salah seorang pekerja di kandang kuda, sedang bermesraan dengan istrinya yang tak lain adalah seorang pelayan. Devin tak habis pikir, Levin nekad melakukannya di rumah ini tempat suami istri itu bekerja. Dengan alasan sedang mabuk dan tak menyadari siapa wanita yang diciuminya di belakang rumah.
Sudut bibirnya yang sobek setelah menerima tinju si suami, bisa jadi bukan pelajaran berharga baginya. Bagi Levin hal itu justru akan semakin menantang jiwa playboy-nya.
"Sama persis seperti Sabrina," desis Andrew kemarin malam, setelah menyerahkan segepok uang pada si suami. Dia tak lagi bekerja di Mansion, istrinya juga.
Devin mengelus punggung ayahnya, membalik badan dan melebarkan tangan. Ayahnya masih marah, dan Levin justru bangun pagi tanpa merasa berdosa.
"Kau ikut, Lev? Pertemuan dengan pialang memang membosankan. Setidaknya minuman di sana bisa menyembuhkan bibir sobekmu."
Levin membuang muka, sembari menyentuh sudut bibirnya yang masih perih. Devin selalu punya stok kalimat menohok, namun tak pernah berhasil menyindirjya
Devin hanya menepuk bahunya dua kali sebelum meninggalkan ruangan.
Andrew membalik badan begitu Devin menutup pintu ruang kerjanya. Dia membuka laci dan mengeluarkan beberapa lembar kertas. Melemparkannya ke pangkuan Levin, lalu menghempaskan badan gempalnya di sofa--tepat di hadapan Levin.
Pemuda itu membaca setiap lembar kertas di pangkuannya. Keningnya mengernyit dan alisnya bertaut.
"Darimana Dad mendapat semua informasi ini? Ini--"
"Selama ini kau mengencani wanita-wanita yang menggerogoti uangmu. Sabrina Brice itu mimpi buruk yang ak akan kubiarkan terjadi pada kalian berdua."
Levin menggeleng lalu meletakkan kertas-kertas itu di meja kecil, sebelah sofanya. "Mereka semua wanita baik-baik, Dad. Dad jangan percaya omongan orang. Mereka hanya iri pada kita."
"Kau pikir aku sebodoh itu? Kau tahu pelayan dan suaminya itu? Mereka memang bekerja sama untuk menjebak lelaki mata keranjang seperti kamu! Demi uang!"
Levin tercekat. Seingatnya, Mimi--pelayan bertubuh paling indah di Mansion ini memang melamar tiga bulan yang lalu bersama suaminya. Dan Mimi memang pelayan paling genit yang membuatnya tidak tahan untuk menyentuhnya.
"Suaminya mengancam akan melaporkanmu pada Sherif atas tuduhan percobaan perkosaan, atau aku membayar gaji mereka selama setahun."
Levin menelan ludah. Dia kembali meraih kertas di meja. Ayahnya sungguh cermat. Dia juga menuliskan jumlah uang yang harus dikeluarkannya untuk membungkam beberapa wanita yang mengancam akan mencemarkan nama baik Chayton.
Quant à Leonardo, il ne renonçait pas vraiment.Au début, il nous envoyait des choses tous les jours. Des poupées, des figurines Minion en édition limitée, un vélo, des tablettes éducatives haut de gamme, des cours de piano, des bons pour un camp de vacances. Je ne voulais pas accepter, mais Sofia a dit très sérieusement : « Maman, c’est ce que Leonardo me doit. Il me le devait déjà avant. »J’ai marqué une pause. Puis j’ai accepté. Nous avons pris les cadeaux, mais Sofia n’a jamais appelé Leonardo « Papa ». Chaque fois qu’il venait, Sofia hochait poliment la tête et disait : « Bonjour, Tonton Leonardo. »Le visage de Leonardo pâlissait à chaque fois, mais il n’osait plus jamais la corriger. Plus du tout.Avant, c’était moi et Sofia qui courions après Leonardo. Qui lui demandions quand il rentrerait à la maison. Qui lui demandions s’il pouvait passer du temps avec Sofia. Qui lui demandions s’il nous aimait, ne serait-ce qu’un peu. Maintenant, c’était l’inverse. C’était lui qui nous pou
Le lendemain matin, Leonardo avait disparu.Sur la véranda, il avait laissé une lettre. « Nina, je t’en supplie. Ne jette pas ce qu’on avait. J’attendrai toujours. S’il te plaît. »Je l’ai lue et jetée à la poubelle.Sofia était assise sur le lit en train de manger des tartines. Elle a levé les yeux. « Maman, qu’est-ce qu’il y a ? Qu’est-ce que Leonardo a écrit ? »J’ai souri. « Rien. Juste un prospectus publicitaire. »Sofia a souri aussi. C’était le premier vrai sourire depuis qu’on avait quitté Leonardo.Au cours de l’année qui a suivi, beaucoup de choses se sont produites.D’abord, les crimes de Valentina lui sont retombés dessus. Une infirmière de l’hôpital avait filmé Valentina forçant Lily à boire de la soupe de fruits de mer. La vidéo avait été transmise à la police. Valentina a été inculpée pour maltraitance sur mineur. Elle a essayé de mentir, disant que c’était un accident. Mais les images de vidéosurveillance de l’hôpital, le témoignage de l’infirmière, les propres déclara
Leonardo a roulé toute la nuit jusqu’à l’aéroport. Le premier vol pour Los Angeles était complet. Il est resté assis dans le terminal jusqu’à l’aube, m’appelant des dizaines de fois, m’envoyant des centaines de messages.« Nina, je sais que j’ai eu tort. Où es-tu ? Laisse-moi te voir. Sofia va bien ? Je ne voulais pas vous faire de mal à toutes les deux. S’il te plaît, réponds-moi. »Je n’ai lu aucun de ces messages.Quand l’avion a atterri à Los Angeles, Sofia dormait. Sa petite tête reposait sur mon épaule, des traces de larmes séchées sur ses cils. Je l’ai portée hors de l’avion et j’ai pris un taxi jusqu’à la vieille maison de ma mère. Une petite maison dans un quartier tranquille. Rien de luxueux. Deux chambres, une véranda avec un fauteuil à bascule. La peinture s’écaillait, mais c’était à nous. Ma mère me l’avait laissée des années plus tôt.L’air nocturne de Los Angeles était humide. Le taxi a traversé une autoroute éclairée. Sofia s’est réveillée une fois, marmonnant : « Maman
Quand Valentina a réalisé que ses larmes ne menaient à rien, elle a arrêté de pleurer. Elle s’est essuyé le visage et a ri, d’un rire glacé.« Bon. Je l’ai fait exprès. Mais qu’est-ce que j’étais censée faire, hein ? Je suis veuve. Salvatore est mort. Je l’ai épousé pour le pouvoir, pas par amour. Il était le parrain de la famille, et être sa femme signifiait protection, argent, respect. Mais il ne m’a jamais vraiment laissé en profiter. Il me tenait en laisse. Quand il est mort dans cette guerre de gangs, il ne me restait plus rien. Plus de statut. Plus d’argent. Juste une gamine qui lui ressemblait. »Elle a croisé les bras. « Alors je t’ai trouvé, toi. Plus jeune. Plus naïf. Plus facile à contrôler. Quelqu’un qui me rendrait tout ce que j’avais perdu. »Leonardo l’a regardée comme s’il la voyait pour la première fois. « Tout était donc un mensonge ? La veuve éplorée sur sa tombe ? Les histoires tristes sur l’éducation de Lily toute seule ? »Valentina a souri avec amertume. « Un men












Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.