Share

7. Aktivitas Panas

Penulis: NARA
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-31 02:46:50

"Sayang, akhirnya kamu datang." Jane langsung memeluk Brian, saat pria itu masuk ke dalam rumah.

Tentu saja Brian balik memeluknya, setelah melepas pelukannya. Brian kini memberikan buket bunga yang ia bawa. "Untuk kamu sayang,"

Jane mengambil buket bunga tersebut sambil tersenyum lebar. "Terima kasih sayang."

"Hanya terima kasih?"

"Tentu saja tidak, dong." Jane mendaratkan ciuman di bibir Brian, suami dari sahabatnya sendiri.

Saat Jane ingin melepas bibirnya, Brian langsung menahannya, dan ia balik mencium bibir Jane dengan rakus.

"Sayang sudah ih." Jane terpaksa melepas ciuman Brian.

"Lagi." Brian menarik pinggang Jane. "Malam ini kita main sampai pagi ya, sayang."

"Acc dong, masa tidak." balas Jane sambil mengukir senyum. "Oh ya, bagaimana dengan Sela?"

"Jangan bahas dia," Brian melepas pinggang Jane, dan melangkah menuju ruang tengah.

Jane mengikutinya dari belakang. "Aku takut, dia mengetahui hubungan kita, sayang."

"Tidak akan, selagi kamu masih tetap baik padanya."

Jane kini duduk tepat di samping Brian, pria yang menjalin hubungan terlarang dengannya setahun belakangan. "Tapi kalau dia tahu bagaimana, sayang?" tanya Jane.

"Dia bodoh, mana mungkin dia tahu. Sudah sayang, jangan membahas dia terus. Ini malam kita,"

Jane menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

"Sayang, apa aku boleh tinggal disini. Selagi orang tua kamu sedang ke luar kota?" tanya Brian, ia tahu orang tua Jane sedang berada di luar kota.

"Jangan sayang, aku takut. Jika tiba-tiba Sela datang,"

"Tidak mungkin, dia kalau datang pasti memberi tahu kamu, kan?"

"Iya juga sih."

"Jadi aman kan." Brian mengangkat tubuh Jane dan mendudukkannya di pangkuan. "Aku ingin permainan kamu yang hot, sayang."

"Boleh, tapi kita makan malam dulu ya, aku sengaja belum makan. Dan ingin makan malam dengan kamu, sayang."

"Oke sayang."

Keduanya berjalan bersama menuju meja makan, sambil bergandengan mesra.

"Oh ya sayang, aku benar-benar minta maaf pada mama dan papa kamu ya." kata Jane di sela-sela makan malamnya.

"Kenapa?"

"Karena aku belum bisa memenuhi undangan makan malamnya." Jawab Jane, mengingat lagi dirinya sudah begitu akrab dengan kedua orang tua Brian, tentu saja mereka juga sudah mengetahui hubungan terlarangnya. Dan juga tidak melarangnya, yang ada malah mendukungnya.

"Besok malam saja kita ke sananya, dan makan bersama." usul Brian.

"Boleh sayang,"

Setelah menyantap makan malam yang terasa terlalu singkat bagi keduanya, Jane dan Brian melangkah menuju kamar. Untuk segera menikmati hubungan terlarangnya.

Pintu kamar ditutup perlahan, dan keheningan malam segera berganti dengan bisikan-bisikan yang hanya mereka pahami.

Brian menatap Jane dengan sorot mata penuh hasrat. Pujian meluncur begitu saja ketika Jane melepaskan satu per satu pakaian yang menempel di tubuhnya. "Tubuhmu benar-benar begitu indah sayang," ucapnya.

"Tentu dong, dan tubuh ini hanya milik kamu sekarang." Jane tersenyum penuh percaya diri, lalu duduk di pangkuan Brian. Kedua tangannya melingkar di leher pria itu, menariknya ke dalam kehangatan yang salah namun membuatnya candu.

"Gila, baru seperti ini saja aku sudah tidak tahan sayang." Kata Brian.

"Tahan dong sayang, memang sudah berapa lama Sela tidak memberi kamu jatah?" tanya Jane, jemarinya menari di dada Brian.

Brian menjawab tanpa ragu. "Berbulan bulan, dan itu karena kamu sayang. Aku selalu puas jika bersama kamu. Jadi tidak sudi untukku menyentuh si bodoh itu."

Jane hanya tersenyum mendengar jawaban Brian, lalu mendorong tubuhnya agar terbaring di atas ranjang. "Apa kamu sudah siap sayang?" tanyanya.

"Tentu sayang,"

Tatapan mereka bertemu, dan tanpa kata, mereka sepakat menenggelamkan diri dalam aktifitas panas penuh gairah dan dosa.

Di luar rumah, di balik jendela dengan gorden yang tidak tertutup rapat, Sela berdiri terpaku.

Dadanya semakin sesak melihat apa yang Jane dan Brian lakukan, setelah suaminya itu masuk ke dalam rumah tersebut.

Derasnya air mata yang kini membanjiri kedua pipinya, menandakan betapa hancur hati Sela. Meskipun dugaannya belum pasti jika Bunga adalah Jane.

Tapi melihat kemesraan keduanya, membuat Sela yakin. Sang suami dengan sahabatnya sendiri, memiliki hubungan, apalagi keduanya kini masuk ke kamar.

"Jane, kenapa suamiku, kenapa?" tanya Sela tanpa menghentikan tangisnya.

Dengan langkah gemetar, Sela mendorong pintu rumah sang sahabat yang ternyata tidak terkunci. Ia berjalan perlahan, seakan berharap ada keajaiban yang menghentikannya sebelum kenyataan benar-benar akan menghancurkannya.

Di setiap langkah Sela, ia mengingat kenangan bersama sang sahabat, tawa bersama Jane, rahasia yang dibagi, kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun, apakah semuanya palsu?

Dari balik pintu kamar, suara samar terdengar. Sela berhenti tepat di depan pintu kamar sang sahabat. Tangannya terangkat ragu untuk membuka pintu. Ia tidak ingin membayangkan apa yang terjadi di dalam sana, namun hatinya memaksanya untuk tahu.

Ada amarah, ada duka, ada pengkhianatan yang menyesakkan. Kakinya terasa lemas, tapi tekadnya menguat.

Ia menarik nafas panjang, mengusap air mata yang tidak kunjung berhenti. Apa pun yang akan ia temukan, malam ini akan menjadi berbeda dengan masa lalu yang ia bagi dengan sang sahabat.

Dengan hati yang remuk dan keberanian yang tersisa, Sela membuka pintu kamar yang ternyata juga tidak di kunci.

Pandangan pertama yang Sela lihat setelah membuka pintu adalah, sang suami dan juga sang sahabat sedang melakukan aktivitas panas diatas tempat tidur.

Bagaikan tanpa tulang, tubuh Sela langsung terduduk di lantai. Tangisnya semakin jadi, melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat.

"Mas, Jane." ucap Sela di sela-sela isak tangisnya.

Ia tidak sanggup menatap dua orang yang menyadari keberadaannya.

Jane dan juga Brian menghentikan aktivitas panasnya. "Sialan!" seru Brian melihat keberadaan sang istri.

Ia langsung turun dari atas kasur setelah memakai celana. "Bodoh, ngapain disini!" kesal Brian tanpa rasa bersalah.

Sela menatap sang suami. "Mas, apa ini?" tanyanya meminta penjelasan. "Apa nama Bunga di ponsel kamu itu, Jane?"

"Jika iya, mau apa kamu hah!" Brian mendorong tubuh Sela yang terduduk di lantai dengan menggunakan kaki. "Enyahlah dari hadapanku, bodoh!"

Tangis Sela semakin jadi, membuat Brian menarik tangannya untuk berdiri, lalu mendorongnya kasar keluar dari dalam kamar.

Dorongan Brian yang kasar membuat punggungnya membentur dinding, dan Sela meringis kesakitan.

Brian mencengkeram kedua lengan Sela dengan kasar, menatapnya tajam tanpa belas kasih.

"Mas, sakit." pekik Sela lemah.

Brian mengabaikan. "Dengar baik-baik," suara Brian dingin dan mengancam. "Jangan pernah bilang ke siapa pun soal ini. Kalau kamu masih mau jadi istriku, kamu diam. Paham?!" Ancam Brian.

Air mata Sela semakin deras. "Mas, kamu jahat."

"Diam!" bentak Brian.

Tangannya terangkat, hendak mendaratkan pukulan di pipi Sela.

Namun, sebelum itu terjadi, sebuah tangan lain menangkap pergelangan tangan Brian dengan kuat.

"Jangan sentuh adikku!"

Suara itu tegas, penuh amarah yang tertahan.

Brian terkejut, ia menoleh dan mendapati Kai berdiri di sana, wajahnya keras, rahangnya mengeras menahan emosi.

Kai mendorong tubuh Brian hingga terhuyung.

"Menjauh dari adikku!" serunya lantang.

Sela menatap pria itu dengan mata basah. "Kak Kai,"

Kai langsung menarik Sela, melindunginya ke dalam pelukannya.

Ia menatap kondisi adiknya, wajah pucat, tubuh gemetar, dan amarahnya semakin membara.

"Kita pergi sekarang," ucap Kai tegas.

Kai tidak memberi kesempatan Sela menyetujui ucapnya. Ia langsung menggendong Sela yang sudah kehilangan tenaga, lalu melangkah pergi meninggalkan Brian dan Jane yang hanya bisa terdiam.

***

Sela terus menangis, saat Kai membawanya pulang ke rumah besar dan megah yang dulu pernah Sela tinggali.

Mendengar tangisan sang adik, membuat Kai benar-benar tidak bisa berpikir tenang dan frustasi. Ia pergi ke minibar yang ada di dalam rumahnya untuk menenggak minuman beralkohol yang bisa menenangkannya.

Setelah merasa tenang, Kai masuk ke kamar dimana sang adik berada.

"Berhenti menangisi Sela!" Serunya.

"Kak, Mas Brian dan Jane. Mereka mengkhianati aku," ucapnya. "Aku sangat mencintai mas Brian, Kak."

"Aku juga mencintaimu, apa kamu tahu itu." dalam pengaruh minimum beralkohol yang baru di tenggaknya. Kai mengungkapkan perasaan yang sudah lama terpendam.

Tidak sanggup lagi untuk Kai memendam perasaannya tersebut, yang sudah pasti salah.

Sela mengangkat kepalanya, menatap pada Brian. "Kak, apa—"

"Aku mencintaimu, Sela. Sangat mencintaimu," tiba-tiba Kai mendorong tubuh adik tirinya tersebut hingga terbaring di atas tempat tidur. "Apa kamu tahu, betapa sakitnya aku, saat kamu memutuskan menikah dengan Brian? Dan sekarang aku akan membuat kamu hanya menjadi milikku!"

Tiba-tiba, Kai menindih tubuh adiknya tersebut. Dan dengan paksa melepas pakaiannya.

"Kak, apa yang Kakak lakukan! Jangan sentuh aku, Kak!"

"Kenapa? Bukankah suamimu itu, tidak pernah menyentuh kamu seperti ini kan? Dan sekarang, tugas suamimu akan aku gantikan."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    8. Bunuh Diri

    "Apa yang harus aku lakukan, Bri? Sela sudah tahu hubungan kita." Suara Jane bergetar, nyaris pecah, sesaat setelah pintu rumahnya tertutup, ketika Brian memastikan Sela telah pergi meninggalkan rumahnya.Ruangan itu terasa pengap, seolah udara ikut menekan dadanya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa, kedua tangan menutup wajah, napasnya tersengal oleh rasa panik dan penyesalan yang datang bersamaan.Sejak awal, Jane tahu hubungan terlarangnya dengan Brian adalah kesalahan besar. Namun ia memilih menutup mata, menenggelamkan diri dengan janji-janji Brian, dengan ilusi cinta yang terasa nyata meski dibangun di atas pengkhianatan. Kini, saat semuanya terbongkar, ia justru tidak siap menerima akibatnya.Brian berdiri di hadapannya dengan wajah tenang, terlalu tenang untuk situasi seperti ini, seperti orang tidak bersalah.Ia mendekat, meraih dagu Jane dan memaksanya menatap lurus ke matanya. "Sayang, kamu tidak perlu cemas," ucapnya ringan, seolah masalah ini hanyalah gangguan kecil yang

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    7. Aktivitas Panas

    "Sayang, akhirnya kamu datang." Jane langsung memeluk Brian, saat pria itu masuk ke dalam rumah.Tentu saja Brian balik memeluknya, setelah melepas pelukannya. Brian kini memberikan buket bunga yang ia bawa. "Untuk kamu sayang,"Jane mengambil buket bunga tersebut sambil tersenyum lebar. "Terima kasih sayang.""Hanya terima kasih?""Tentu saja tidak, dong." Jane mendaratkan ciuman di bibir Brian, suami dari sahabatnya sendiri.Saat Jane ingin melepas bibirnya, Brian langsung menahannya, dan ia balik mencium bibir Jane dengan rakus."Sayang sudah ih." Jane terpaksa melepas ciuman Brian."Lagi." Brian menarik pinggang Jane. "Malam ini kita main sampai pagi ya, sayang.""Acc dong, masa tidak." balas Jane sambil mengukir senyum. "Oh ya, bagaimana dengan Sela?""Jangan bahas dia," Brian melepas pinggang Jane, dan melangkah menuju ruang tengah. Jane mengikutinya dari belakang. "Aku takut, dia mengetahui hubungan kita, sayang.""Tidak akan, selagi kamu masih tetap baik padanya." Jane kini

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    6. Membuntuti

    Hari demi hari berlalu, Sela seakan jauh dari sang suami. Karena Brian jarang pulang ke rumah. Menangis juga percuma untuk Sela, dengan tekad bulat demi rumah tangganya kembali, ia mempunyai niat untuk mencari tahu siapa perempuan yang memiliki hubungan dengan suaminya."Aku harus menemui perempuan itu." ucap Sela, jika sang suami tidak ingin meninggalkan perempuan itu, setidaknya setelah Sela menemuinya, perempuan itu yang akan meninggalkan sang suami, itu harapan Sela satu satunya.Bergegas Sela keluar dari rumah, untuk membuntuti Brian yang belum lama pulang tapi kini sudah pergi lagi. Karena Sela yakin, suaminya pasti akan menemui perempuan itu.Dengan menggunakan ojek online, Sela membuntuti mobil sang suami.Sela yang tidak pernah bicara tidak sopan pada orang lain, kini memarahi pengemudi ojek online, saat lampu merah menghentikannya mengikuti laju mobil suaminya, emosinya akhir-akhir ini benar-benar tidak bisa ia kendalikan."Gimana sih Pak, bisa mengemudi saja tidak bisa!" k

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    5. Makam

    Disini Sela berada, duduk bersimpuh diatas rerumputan tepat di tengah-tengah makam kedua orang tuanya. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya kecuali tangis pilu yang menyanyat hati, menandakan ia sedang hancur sehancur hancurnya.Suaminya, pria yang ia cintai dengan gamblang mengatakan memiliki perempuan lain, dan kedua mertuanya yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri, malah mendukung putranya, dan itu membuat Sela benar-benar merasa sendiri."Apa salahku." ucapnya lirih di sela-sela isak tangisnya.Entah sudah berapa lama Sela menangis, kini Sela mulai menghentikan tangisnya. Apalagi penjaga makam mendatanginya."Mbak, mbak baik-baik saja?" tanya Penjaga makam.Sela segera menyeka air mata. "Iya Pak, aku baik-baik saja." Bohong Sela."Baiklah, makam akan di tutup jam lima. Sebelum jam lima, mbak harus segera keluar dari makam ya Mbak." Penjaga makam memberitahu.Sela mengangguk. "Baik Pak." ucapnya.Setelah penjaga makam pergi. Sela menegakkan kepalanya, menatap bergant

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    4. Jangan Banyak Menuntut

    "Aku tidak bisa, Jane." Ujar Sela."Ya ampun, Brian bukan pria baik Sel. Buka mata kamu lebar-lebar!" Jane benar-benar kesal dengan sang sahabat. "Aku rasa lebih baik kamu bercerai dengannya," Saran Jane.Sela hanya diam, lebih fokus memikirkan bagaimana hubungannya ke depan dengan Brian, tapi untuk berpisah dengan suaminya itu, jujur Sela benar-benar tidak mau."Aku akan memaafkan Brian, Jane."Jane melotot menatap pada sahabatnya tersebut, setelah mendengar apa yang dikatakan Sela."Apa aku tidak salah dengar Sel, kamu masih ingin bertahan dengan Brian? Sungguh tidak masuk akal." Ucap Jane sambil menggelengkan kepalanya."Aku sangat mencintainya,""Kamu benar-benar bodoh!" kesal Jane."Aku akan bicara pada papa dan mama mengenai ini, mereka pasti bisa menyadarkan Brian." ujar Sela menyebut kedua mertuanya."Aku tidak bisa bicara apa-apa, selain mengatakan. Kamu benar-benar bodoh, Sel."***Semalam Brian benar-benar tidak pulang. Sela yakin suaminya itu pasti menginap di rumah orang

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    3. Istri Tidak Berguna

    "Kenapa baru pulang Mas?" tanya Sela terus mengikuti sang suami."Lembur." Jawab Brian singkat."Bukan karena ada perempuan lain?" tanya Sela hati-hati, padahal hatinya sudah remuk mendapati sang suami berkirim pesan mesra dengan seorang perempuan.Brian menatap pada Sela. "Suami baru pulang kerja, sudah di tuduh macam-macam." sorot mata Brian tajam, menatap pada Sela. Kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Selagi suaminya berada di kamar mandi. Sela berusaha menyusun kalimat untuk menyampaikan pertanyaan pada sang suami mengenai pesan yang ia dapati di ponsel Brian.Pintu kamar mandi terbuka. Brian keluar dengan handuk melingkar di pinggang, rambutnya basah. Tatapan mereka bertemu."Mas," panggil Sela lirih.Namun, Brian seolah tidak mendengar. Ia melangkah santai ke arah tempat tidur. "Mana bajuku, hah?" tanyanya dengan nada kesal, karena bajunya belum di siapkan oleh sang istri. Tatapannya langsung menusuk Sela. "Ngapain aja kamu seharian di rumah, sampai

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status