Home / Romansa / Dekapan Hangat Kakak Angkatku / 3. Istri Tidak Berguna

Share

3. Istri Tidak Berguna

Author: NARA
last update Last Updated: 2025-12-26 20:50:08

"Kenapa baru pulang Mas?" tanya Sela terus mengikuti sang suami.

"Lembur." Jawab Brian singkat.

"Bukan karena ada perempuan lain?" tanya Sela hati-hati, padahal hatinya sudah remuk mendapati sang suami berkirim pesan mesra dengan seorang perempuan.

Brian menatap pada Sela. "Suami baru pulang kerja, sudah di tuduh macam-macam." sorot mata Brian tajam, menatap pada Sela. Kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.

Selagi suaminya berada di kamar mandi. Sela berusaha menyusun kalimat untuk menyampaikan pertanyaan pada sang suami mengenai pesan yang ia dapati di ponsel Brian.

Pintu kamar mandi terbuka. Brian keluar dengan handuk melingkar di pinggang, rambutnya basah. Tatapan mereka bertemu.

"Mas," panggil Sela lirih.

Namun, Brian seolah tidak mendengar. Ia melangkah santai ke arah tempat tidur.

"Mana bajuku, hah?" tanyanya dengan nada kesal, karena bajunya belum di siapkan oleh sang istri. Tatapannya langsung menusuk Sela. "Ngapain aja kamu seharian di rumah, sampai hal sepele menyiapkan baju aku saja tidak kamu siapkan. Becus tidak sih jadi istri? Benar-benar istri tidak berguna!"

Kata-kata yang keluar dari mulut sang suami, menghantam Sela lebih keras dari tamparan, ia sekarang menunduk. "Maaf Mas," ucapnya pelan. Kepalanya masih penuh oleh pesan-pesan itu, membuatnya lupa pada rutinitas yang selama ini selalu ia jalani dengan patuh.

"Bisanya cuma bilang maaf!" geram Brian. Ibu jarinya mendorong kepala Sela kasar, membuat tubuh perempuan itu sedikit terhuyung.

Ia ingin melangkah menuju lemari, tapi tangannya di tahan oleh Sela. "Mas tunggu," ucap Sela. Lalu menunjukkan pesan yang ia ambil dari ponsel suaminya. "Siapa perempuan yang mengirim pesan ini Mas?"

Wajah Brian mengeras. Alisnya bertaut, rahangnya mengeras menatap foto pesan yang ada di ponsel Sela.

Namun, ia memilih diam. Ia meneruskan langkah menuju lemari pakaian, mengambil baju tanpa sedikit pun berniat menjawab pertanyaan dari Sela.

Tentu saja Sela membuntuti sang suami, ia harus tahu siapa pengirim pesan itu.

"Siapa dia, Mas?" tanya Sela. Suaranya hampir pecah. "Siapa Bunga?"

Tidak ada jawaban, hanya suara gantungan baju yang beradu. Sela masih mengikuti Brian, berdiri beberapa langkah di belakangnya. Tangannya mengepal menggenggam ponselnya, sambil menahan gemetar.

"Apa kamu punya hubungan dengan dia, Mas?" tanya Sela lagi, berharap suaminya akan menjawab pertanyaan yang telah menusuk hatinya lebih dari belati.

Air mata kembali menggenang, siap jatuh kapan saja.

Brian akhirnya mengenakan bajunya, lalu berbalik menatap Sela dingin. "Kalau iya, kamu mau apa?" katanya datar, tanpa rasa bersalah.

Tubuh Sela membeku. Rasanya dunia berhenti berputar. Air matanya mengalir deras tanpa bisa ia tahan.

Pernyataan itu bukan sekadar jawaban, melainkan pengakuan atas pengkhianatan yang suaminya lakukan.

"Ja... jadi selama ini aku apa, Mas?" suara Sela nyaris tidak terdengar. "Aku kurang apa sampai kamu cari perempuan lain?"

Brian mendengus, menatap istrinya tanpa rasa bersalah. "Kamu masih tanya kamu kurang apa? Dasar bodoh!" Brian mendorong kepala Sela dengan jarinya. "Kamu itu istri tidak berguna, lihat Jane sahabat kamu itu. Udah cantik, pintar, punya penghasilan sendiri. Dan kamu apa? Hanya jadi benalu untukku!"

Air mata Sela terus menetes, sudah biasa ia mendengar suaminya itu membandingkan dirinya dengan sang sahabat, ataupun dengan orang lain.

Tapi kenyataan yang baru ia dapat dengan pernyataan sang suami yang memiliki hubungan dengan perempuan bernama Bunga, amat sangat menyakitkan.

"Aku sudah coba untuk bekerja, tapi kamu larang Mas." masih dalam isak tangisnya, Sela coba untuk membela diri.

"Jadi penjaga toko roti? Jadi kuli cucu gosok? Mau di taruh nama mukaku punya istri kerja di toko roti dan jadi babu. Suamimu ini manager di perusahaan besar bodoh!"

"Tapi dengan ijazah aku yang hanya lulus SMA—"

"Diam!" bentak Brian memotong perkataan sang istri. "Jika bukan karena kamu yatim piatu, dan aku ingin balas budi pada orang tuamu yang sudah mati itu, sudah aku lempar kamu ke jalanan!" seru Brian, dan langsung melangkah keluar dari dalam kamar.

"Mas, tunggu." Sela berlari mengejar sang suami. "Mas, jangan pergi." Sela berdiri di hadapan Brian, mencegahnya untuk pergi.

"Minggir bodoh!" Seru Brian sambil mendorong tubuh Sela, hingga istrinya itu jatuh tersungkur di atas lantai.

Jane yang masih berada di rumah sahabatnya tersebut, langsung menghampiri Sela.

"Apa yang kamu lakukan, Bri!"

"Ajari sahabat kamu yang bodoh ini jadi perempuan mandiri." kata Brian tanpa menimpali ucapan Jane. Lalu ia keluar dari dalam rumah sambil membanting pintu.

"Mas." Panggil Sela di sela-sela isak tangisnya.

"Bangun Sel," kata Jane membantu sahabatnya berdiri. "Tinggalkan Brian, dia benar-benar kurang ajar padamu!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    8. Bunuh Diri

    "Apa yang harus aku lakukan, Bri? Sela sudah tahu hubungan kita." Suara Jane bergetar, nyaris pecah, sesaat setelah pintu rumahnya tertutup, ketika Brian memastikan Sela telah pergi meninggalkan rumahnya.Ruangan itu terasa pengap, seolah udara ikut menekan dadanya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa, kedua tangan menutup wajah, napasnya tersengal oleh rasa panik dan penyesalan yang datang bersamaan.Sejak awal, Jane tahu hubungan terlarangnya dengan Brian adalah kesalahan besar. Namun ia memilih menutup mata, menenggelamkan diri dengan janji-janji Brian, dengan ilusi cinta yang terasa nyata meski dibangun di atas pengkhianatan. Kini, saat semuanya terbongkar, ia justru tidak siap menerima akibatnya.Brian berdiri di hadapannya dengan wajah tenang, terlalu tenang untuk situasi seperti ini, seperti orang tidak bersalah.Ia mendekat, meraih dagu Jane dan memaksanya menatap lurus ke matanya. "Sayang, kamu tidak perlu cemas," ucapnya ringan, seolah masalah ini hanyalah gangguan kecil yang

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    7. Aktivitas Panas

    "Sayang, akhirnya kamu datang." Jane langsung memeluk Brian, saat pria itu masuk ke dalam rumah.Tentu saja Brian balik memeluknya, setelah melepas pelukannya. Brian kini memberikan buket bunga yang ia bawa. "Untuk kamu sayang,"Jane mengambil buket bunga tersebut sambil tersenyum lebar. "Terima kasih sayang.""Hanya terima kasih?""Tentu saja tidak, dong." Jane mendaratkan ciuman di bibir Brian, suami dari sahabatnya sendiri.Saat Jane ingin melepas bibirnya, Brian langsung menahannya, dan ia balik mencium bibir Jane dengan rakus."Sayang sudah ih." Jane terpaksa melepas ciuman Brian."Lagi." Brian menarik pinggang Jane. "Malam ini kita main sampai pagi ya, sayang.""Acc dong, masa tidak." balas Jane sambil mengukir senyum. "Oh ya, bagaimana dengan Sela?""Jangan bahas dia," Brian melepas pinggang Jane, dan melangkah menuju ruang tengah. Jane mengikutinya dari belakang. "Aku takut, dia mengetahui hubungan kita, sayang.""Tidak akan, selagi kamu masih tetap baik padanya." Jane kini

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    6. Membuntuti

    Hari demi hari berlalu, Sela seakan jauh dari sang suami. Karena Brian jarang pulang ke rumah. Menangis juga percuma untuk Sela, dengan tekad bulat demi rumah tangganya kembali, ia mempunyai niat untuk mencari tahu siapa perempuan yang memiliki hubungan dengan suaminya."Aku harus menemui perempuan itu." ucap Sela, jika sang suami tidak ingin meninggalkan perempuan itu, setidaknya setelah Sela menemuinya, perempuan itu yang akan meninggalkan sang suami, itu harapan Sela satu satunya.Bergegas Sela keluar dari rumah, untuk membuntuti Brian yang belum lama pulang tapi kini sudah pergi lagi. Karena Sela yakin, suaminya pasti akan menemui perempuan itu.Dengan menggunakan ojek online, Sela membuntuti mobil sang suami.Sela yang tidak pernah bicara tidak sopan pada orang lain, kini memarahi pengemudi ojek online, saat lampu merah menghentikannya mengikuti laju mobil suaminya, emosinya akhir-akhir ini benar-benar tidak bisa ia kendalikan."Gimana sih Pak, bisa mengemudi saja tidak bisa!" k

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    5. Makam

    Disini Sela berada, duduk bersimpuh diatas rerumputan tepat di tengah-tengah makam kedua orang tuanya. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya kecuali tangis pilu yang menyanyat hati, menandakan ia sedang hancur sehancur hancurnya.Suaminya, pria yang ia cintai dengan gamblang mengatakan memiliki perempuan lain, dan kedua mertuanya yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri, malah mendukung putranya, dan itu membuat Sela benar-benar merasa sendiri."Apa salahku." ucapnya lirih di sela-sela isak tangisnya.Entah sudah berapa lama Sela menangis, kini Sela mulai menghentikan tangisnya. Apalagi penjaga makam mendatanginya."Mbak, mbak baik-baik saja?" tanya Penjaga makam.Sela segera menyeka air mata. "Iya Pak, aku baik-baik saja." Bohong Sela."Baiklah, makam akan di tutup jam lima. Sebelum jam lima, mbak harus segera keluar dari makam ya Mbak." Penjaga makam memberitahu.Sela mengangguk. "Baik Pak." ucapnya.Setelah penjaga makam pergi. Sela menegakkan kepalanya, menatap bergant

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    4. Jangan Banyak Menuntut

    "Aku tidak bisa, Jane." Ujar Sela."Ya ampun, Brian bukan pria baik Sel. Buka mata kamu lebar-lebar!" Jane benar-benar kesal dengan sang sahabat. "Aku rasa lebih baik kamu bercerai dengannya," Saran Jane.Sela hanya diam, lebih fokus memikirkan bagaimana hubungannya ke depan dengan Brian, tapi untuk berpisah dengan suaminya itu, jujur Sela benar-benar tidak mau."Aku akan memaafkan Brian, Jane."Jane melotot menatap pada sahabatnya tersebut, setelah mendengar apa yang dikatakan Sela."Apa aku tidak salah dengar Sel, kamu masih ingin bertahan dengan Brian? Sungguh tidak masuk akal." Ucap Jane sambil menggelengkan kepalanya."Aku sangat mencintainya,""Kamu benar-benar bodoh!" kesal Jane."Aku akan bicara pada papa dan mama mengenai ini, mereka pasti bisa menyadarkan Brian." ujar Sela menyebut kedua mertuanya."Aku tidak bisa bicara apa-apa, selain mengatakan. Kamu benar-benar bodoh, Sel."***Semalam Brian benar-benar tidak pulang. Sela yakin suaminya itu pasti menginap di rumah orang

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    3. Istri Tidak Berguna

    "Kenapa baru pulang Mas?" tanya Sela terus mengikuti sang suami."Lembur." Jawab Brian singkat."Bukan karena ada perempuan lain?" tanya Sela hati-hati, padahal hatinya sudah remuk mendapati sang suami berkirim pesan mesra dengan seorang perempuan.Brian menatap pada Sela. "Suami baru pulang kerja, sudah di tuduh macam-macam." sorot mata Brian tajam, menatap pada Sela. Kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Selagi suaminya berada di kamar mandi. Sela berusaha menyusun kalimat untuk menyampaikan pertanyaan pada sang suami mengenai pesan yang ia dapati di ponsel Brian.Pintu kamar mandi terbuka. Brian keluar dengan handuk melingkar di pinggang, rambutnya basah. Tatapan mereka bertemu."Mas," panggil Sela lirih.Namun, Brian seolah tidak mendengar. Ia melangkah santai ke arah tempat tidur. "Mana bajuku, hah?" tanyanya dengan nada kesal, karena bajunya belum di siapkan oleh sang istri. Tatapannya langsung menusuk Sela. "Ngapain aja kamu seharian di rumah, sampai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status