FAZER LOGIN"Ini tidak bisa dibiarkan!" Marvin memutar tubuhnya dengan cepat, menatap Leo yang berdiri kaku di dekat pintu dengan wajah pucat."Leo! Periksa seluruh CCTV koridor rumah sakit dalam satu jam terakhir! Pastikan siapa pun yang mencoba melukai Alina, tidak akan bisa lolos dariku!" perintah Marvin dengan suara berat dan tajam, mata merahnya memancarkan kemurkaan murni. "Temukan siapa saja yang mendekati kamar Alina! Aku ingin kau segera menangkapnya!""Baik, Tuan Vance! Saya akan langsung ke ruang keamanan!" jawab Leo tegap, lalu berbalik cepat dan berlari menelusuri koridor.Dokter dan dua perawat sibuk mendorong brankar Alina keluar dari kamar menuju ruang ICU. Marvin melangkah cepat di samping brankar, menggenggam erat jemari dingin istrinya tanpa berniat melepaskannya sedikit pun."Alina... dengarkan aku, Sayang. Jangan menyerah, kau kuat, kau pasti bisa," bisik Marvin emosional di telinga Alina. "Aku akan membalas semua orang yang menyakiti mu. Kau harus tetap hidup untukku!""Tua
Sialan! Beraninya dia mengirim ancaman ini ke nomerku,' gumam Marvin, wajahnya tak bisa menyembunyikan perasaan marahnya. Ponsel di tangan Marvin seketika bergetar hebat bersamaan dengan jemarinya yang mendadak dingin kaku. Pria itu menyipitkan mata, membaca deretan kalimat berikutnya dari nomor tak dikenal itu dengan napas yang memburu. [Bagaimana, Tuan Vance yang terhormat? Kejutanku sangat manis, bukan? Nikmati detik-detik terakhir ketenangan mu sebelum kau menyadari apa yang sudah kuhilangkan dari hidupmu.] "Bangsat!" umpat Marvin rendah, ia menggenggam erat ponsel miliknya. Dengan wajah pucat pasi, Marvin melempar ponselnya ke sofa dan berlari kencang mendekati ranjang tempat Alina terbaring. "Alina! Alina, bangun, Sayang! Buka matamu, jangan menakutiku, Alina!" panggil Marvin panik. Tangan besarnya menepuk-nepuk pelan pipi halus istrinya. Namun, Alina sama sekali tak bergeming. Deru napas wanita itu terasa begitu berat dan teratur, terlalu lelap untuk ukuran seseorang
"Melvin...."Alina membuka matanya. Jemarinya yang dingin perlahan merasakan kelembutan dalam genggaman Marvin, meski air mata hangatnya terus mengalir membasahi bantal."Alina... Kau mendengar apa yang aku katakan? Aku sudah membereskan masalah ini satu persatu," bisik Marvin parau, menempelkan dahi pucatnya pada punggung tangan Alina."Kau sudah kembali, Marvin..." suara Alina terdengar sangat dingin, hampir tak berbisik. "Kau sudah menyelesaikan urusan mu dengan Lenika? Jangan berada di sini sebelum kau benar-benar bisa menyelesaikan urusan mu dengan Lenika.""Tenang saja, aku sudah menyelesaikan semuanya, Alina!" tegas Marvin, matanya menatap lekat-lekat pada raut wajah istrinya yang tampak lelah dan sedih. "Kau sudah menyelesaikan semuanya? Kau sudah memberikan nama belakang mu untuk anak Lenika?""Aku akan memberikan nama belakang ku tanpa menikahinya, Alina. Ini karena aku mencintaimu! Aku tak akan pernah meninggalkanmu, apa pun yang terjadi, aku tidak akan memberikan tempat u
"Istirahat lah. Aku tidak akan menggangu mu, Alina."Pintu kamar rawat perlahan tertutup rapat. Begitu sosok Marvin menghilang, pertahanan Alina seketika runtuh. Isak tangis yang sejak tadi ditahannya pecah, meremas kuat sprei rumah sakit yang dingin.Di luar ruangan, Marvin menyandarkan punggungnya pada dinding. Pria itu mengusap wajahnya kasar, lalu menatap Leo yang berdiri tak jauh darinya."Tuan Marvin... Apa kau baik-baik saja?" panggil Leo ragu, melangkah mendekat."Aku baik-baik saja, Leo," jawabnya berbohong."Dokter sudah menyiapkan resep obat untuk Nyonya Alina. Ini resepnya," ucap Leo memberikan secarik kertas surat resep kepada Marvin."Tinggalkan di meja," potong Marvin dingin dengan suara parau. "Leo, hubungi pengacara pribadi keluarga Vance sekarang juga."Leo tertegun. "Pengacara? Untuk apa, Tuan?""Aku akan mengurus surat pengakuan anak dan pemberian nama belakang untuk bayi Lenika," jawab Marvin tegas, matanya memerah menatap pintu kamar istrinya. "Tuan... Apa kau y
"Alina! Kau gila?!" bentak Marvin dengan napas memburu, kedua tangannya seketika mencengkeram bahu Alina, memaksa istrinya berbalik menghadapnya."Kau mungkin menganggapku gila. Namun, aku serius mengatakan ini, Marvin."Mata Marvin yang memerah menatap wajah pucat Alina dengan ketakutan yang teramat luar biasa."Tarik ucapanmu, Alina! Tarik ucapanmu sekarang! Aku tidak mau mendengar omong kosong ini!" teriak Marvin gemetar, suaranya pecah di tenggorokan. "Bagaimana bisa kau memintaku menikahi wanita lain?! Hah?! Aku ini suamimu!"Alina terkekeh dingin, sebuah kekehan pahit yang terdengar begitu hampa dan meremukkan hati. Air matanya menetes pelan menembus kain sprei rumah sakit."Lalu aku harus bagaimana, Marvin...? Aku tidak bisa memberikan mu keturunan," bisik Alina dengan nada teramat serak. "Anakku sudah mati... Bayi yang kupertahankan dengan mempertaruhkan nyawaku sendiri sudah tidak ada! Sedangkan di luar sana... Ada wanita yang bisa memberikan mu anak dan harapan untuk mu.""D
"I-iya, Alina... Bayiku sehat," jawab Lenika terbata, air matanya luruh makin deras melihat tangan pucat Alina yang bergetar di atas perut buncitnya.Alina menarik tangannya perlahan, menggenggam jemarinya sendiri yang mendadak dingin. Senyum pahit terukir di bibirnya yang pucat, membuat siapa pun yang melihatnya merasa teriris."Baguslah... Setidaknya ada bayi yang beruntung bisa bertahan hidup, jaga baik-baik bayi mu, kesempatan menjadi seorang ibu mungkin tidak datang untuk kedua kali," gumam Alina lirih. Suaranya pecah oleh duka. Ia menolehkan wajahnya yang buta ke arah Marvin, merasakan kesedihan yang tak bisa diungkapkan."Apa dia sudah memiliki calon ayah?" tanya Alina.Lenika tertegun untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia berbicara."Ayahnya sudah meninggal. Aku akan membesarkan dia sendiri. Sementara dia akan memakai nama belakang marga orang tuaku," jawab Lenika, dengan suara lemah."Melvin... Bukankah dulu kau mengatakan bahwa akan memberikan nama belakang mu kepadanya?"
"Marvin! Kau baik-baik saja, kan? Tolong jawaba aku, Marvin! Bangun, Marvin! Aku mohon jangan tinggalkan aku!" tangis Alina pecah, ia meraih kepala Marvin dan mendekapnya ke dadanya. Marvin melenguh pelan, kelopak matanya terbuka sedikit, menatap Alina dengan senyuman lemah yang dipaksakan. "Aku...
Marvin mencoba mengatur napasnya yang mulai berat. Darah yang merembes di punggungnya membuat kesadarannya perlahan menipis, namun ia berusaha untuk tidak tumbang di depan Alina. "Dengarkan aku, Nona Sterling," bisik Marvin, suaranya kembali sedingin es meski wajahnya pucat pasi. Alina memusatka
Alina merasa dunianya runtuh seketika. Menikah? Di gudang kotor ini? Dengan pria yang selama ini ia anggap sebagai sipir penjara? "Tidak! Kau gila! Aku tidak mau menikah dengannya!" teriak Alina histeris, meronta hingga kursi kayunya berderit keras. "Aku hanya ingin menikah dengan Julian!" Pr
"Putuskan hubunganmu dengan pria brengsek itu, Alina! Keluarga Sterling tidak menerima menantu dari putra musuhnya sendiri!"Suara Arthur Sterling menggelegar di ruang kerja mansion yang mewah. Alina hanya bisa menggigit bibir, menatap ayahnya dengan sorot mata penuh pemberontakan."Aku tidak akan







