Masuk
“Naik dua kilogram, Sasqia?!”
Sasqia berjengit saat suara Jessie, purser senior Enver Blue Airways (EBA), membelah ruang briefing seperti cambukan. Beberapa kepala langsung menoleh. Beberapa bibir melengkung tipis, menahan senyum sinis yang sudah biasa lahir di ruangan ini. Jessie melangkah mendekat. Tangannya yang terawat dengan kuku diwarnai kutek merah itu mencengkeram lengan Sasqia, memutarnya setengah lingkaran seolah gadis itu hanyalah manekin pajangan. “Putar badan,” perintahnya singkat. Belum sempat Sasqia sepenuhnya sadar, jari Jessie mencubit keras pinggangnya, tepat di balik seragam biru navy yang membungkus tubuhnya terlalu ketat hari ini. Sasqia menggigit bibirnya kuat-kuat. Rasa perih menjalar, bukan hanya di kulit, tapi juga di dadanya. Ia menolak mengeluarkan suara. Menangis di sini hanya akan membuat segalanya lebih buruk. “Lihat ini,” dengus Jessie jengah. “Seragammu kelihatan sesak. Kamu pikir standar EBA itu main-main?” Ia mencubit lagi, kali ini lebih lama, lebih kuat. “Kamu kira Enver Blue Airways ini tempat penampungan pengungsi, hah?” Beberapa pramugari lain saling bertukar pandang. Ada yang menutup mulut menahan tawa, ada pula yang sengaja menatap Sasqia dari ujung kepala sampai kaki, menikmati setiap detik kehancurannya. “Kami hanya menerima pramugari berkelas,” lanjut Jessie, nada suaranya merendah namun semakin mematikan, “Bukan wanita yang tidak bisa mengendalikan nafsu makannya.” Tatapan Jessie menyapu tubuh Sasqia dengan jijik, berhenti di perutnya, lalu naik ke wajahnya. “Kebanyakan makan mie instan, ya?” sindirnya. Jessie kemudian menarik kasar kerah seragam Sasqia, memastikan kancing yang tampak menegang itu benar-benar terkunci. Jari-jarinya berhenti sesaat di logo EBA yang tersemat di dada kiri Sasqia, seolah logo itu telah ikut ternodai. Sasqia berdiri gemetar di atas timbangan digital. Angka di layar menyala tanpa belas kasihan. Membuat dadanya terasa sesak. “Maaf, Kak,” suaranya hampir tak terdengar. “Saya akan diet ketat minggu ini. Saya janji.” Jessie tertawa pendek. Sinis. “Tidak ada minggu ini.” Ia menatap Sasqia lurus, tanpa emosi. “Aturannya jelas. Kelebihan berat badan berarti diskors.” Nada suara Jessie mengeras. “Kamu dilarang terbang untuk jadwal Paris malam ini.” Dunia Sasqia runtuh seketika. Paris. Penerbangan internasional. Honor besar. Bonus tambahan. Kalau dia diskors, artinya potong gaji. Dan potongan gaji berarti satu hal, biaya rumah sakit ayahnya terancam tak terbayar. Karena tidak cukup dengan biaya untuknya pribadi. Ia bahkan terpaksa bertahan hidup dengan mie instan, menekan kebutuhan pribadinya sebisanya, agar sebagian besar gajinya bisa disisihkan untuk biaya pengobatan sang ayah yang mengidap gagal ginjal kronis dan harus dirawat di rumah sakit besar dengan biaya yang tak murah. Belum lagi tuntutan ibunya yang rutin menagih uang bulanan, seolah Sasqia tak pernah punya lelah. Ditambah biaya sewa kos yang harus dibayar tepat waktu setiap bulan. Jika bukan dari gaji pekerjaan ini, dari mana lagi Sasqia bisa membayar itu semua? Tangan gadis itu terangkat, jemarinya saling mengatup di depan wajahnya. “Kak, saya mohon …,” suaranya bergetar. “Jangan skors saya. Saya sangat butuh pekerjaan ini.” Matanya berkaca-kaca, nyaris tumpah. Jessie menggeleng tegas. Tidak ada sedikit pun empati di sana. “Lepas seragammu sekarang.” Ucapnya dengan nada perintah. “Kamu tidak layak menggunakan logo EBA di dadamu.” Tanpa menunggu reaksi, Jessie berbalik pergi, meninggalkan ruang briefing tanpa melakukan Grooming Inspection rutin pada pramugari lain. Seolah penghinaan Sasqia sudah cukup menjadi tontonan hari ini. Sasqia berdiri terpaku beberapa detik. Dadanya naik turun. Ia tahu, permohonannya tidak akan pernah didengar. Namun bukan Sasqia namanya jika menyerah begitu saja. Selama masih ada satu celah untuk bertahan, selama masih ada harapan agar ia tetap bekerja dan gajinya tidak terpotong bahkan satu sen pun, ia akan memperjuangkannya—apa pun resikonya. “Kak.” Sasqia mempercepat langkah, mengejar Jessie yang hendak keluar dari ruang briefing. Tubuhnya menghadang, napasnya belum sepenuhnya stabil, tetapi matanya menatap penuh tekad. “Kak, please … saya mohon banget,” ucapnya lirih, suaranya bergetar menahan panik. “Jangan skors saya. Saya akan lakukan apa saja asal tetap bisa kerja.” Jessie berhenti. Perlahan, ia memutar badan. Tatapannya menyipit tajam, menelanjangi Sasqia dari ujung rambut hingga ujung kaki, sebelum sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang membuat bulu kuduk meremang. “Apa saja?” ulang Jessie, satu alisnya terangkat tipis, penuh makna. Sasqia mengangguk cepat, tanpa ragu. Kepalanya menunduk sedikit, seolah siap menerima apa pun yang akan dijatuhkan padanya. Jari telunjuk Jessie terangkat, lalu menunjuk lantai tepat di hadapannya. “Berlutut,” katanya ringan, seolah sedang memberi instruksi sepele. “Dan cium kaki saya.” Dunia Sasqia seakan berhenti berputar. “Be-berlutut?” bibirnya bergetar, tenggorokannya terasa kering. Ludahnya ditelan susah payah. Jessie mendengus pelan. “Tidak mau?” Ia berbalik, melangkah pergi. “Kalau begitu, urusan kita selesai.” “Tunggu!” Sasqia refleks meraih lengan Jessie, membuat langkah perempuan itu terhenti. “Saya … saya mau,” katanya pelan, hampir tak terdengar. Jessie menoleh. “Ragu?” tanyanya sinis. “Saya mau,” ulang Sasqia, kali ini lebih tegas, meski matanya mulai memerah. Senyum Jessie mengembang lebar, puas, menang. “Bagus.” Lalu ia menoleh ke sekeliling. “Kalian semua,” perintahnya pada pramugari lain, “Buka kamera. Sayang sekali kalau momen cantik ini tidak diabadikan.” Beberapa ponsel terangkat. Layar menyala. Rekaman dimulai. Sasqia menarik napas panjang. Dadanya sesak, hatinya perih. Tapi bayangan tagihan rumah sakit ayahnya jauh lebih menyakitkan daripada rasa malu ini. Ia menurunkan tubuhnya perlahan. Lututnya menyentuh lantai dingin. Bersimpuh. Tatapannya jatuh pada kaki Jessie yang terbalut high heels merah menyala, simbol kekuasaan kecil yang kini menginjak harga dirinya. Tangan Sasqia bergetar saat menyentuh kaki kanan sang senior. Kamera-kamera itu merekam tanpa ampun. Kepalanya mulai menunduk, perlahan, semakin dekat dengan kaki Jessie. Dan tiba-tiba— BRAK! Pintu ruang briefing terbuka keras. Semua kepala menoleh. Seorang pria berdiri di ambang pintu, tegap, berwibawa, dengan seragam pilot rapi dan empat bar di pundaknya berkilau elegan. Kapten pilot. Aura tekanannya memenuhi ruangan dalam sekejap. Tristan Enver Valerio. Jessie tersentak, refleks menarik kakinya menjauh. Ia mundur beberapa langkah, sementara ponsel-ponsel yang tadi merekam buru-buru diturunkan dan disembunyikan. “Apa-apaan ini?” Suara Tristan berat, dingin, dan menusuk. Tatapannya menyapu ruangan, lalu berhenti pada Sasqia yang masih bersimpuh di lantai—rapuh, terhina. “Bangun,” perintahnya tegas. Sasqia tak bergerak, seolah kakinya membeku. “Saya bilang bangun.” Nada suaranya meninggi, tak memberi ruang untuk dibantah. Sasqia tersentak, segera berdiri dengan kaki dan tangan gemetar. Tatapan Tristan beralih ke Jessie. Dingin. Tajam. Menghukum. “Mulai hari ini, kamu dipecat.”Sasqia baru saja tiba di kamar kosnya setelah dari rumah sakit. Ia belum sempat bertemu langsung dengan ayahnya. Dokter Jevier memintanya kembali setelah beristirahat usai bekerja, mengingat ia baru saja menempuh penerbangan panjang. Lagipula, saat ia sempat mengintip ke ruang rawat, sang ayah masih terlelap. Pria paruh baya itu memang sering terjaga sepanjang malam, dan baru bisa tidur ketika pagi menjelang. Sasqia membuka koper perlahan. Di antara lipatan pakaian, ia mengeluarkan sebuah kotak mainan. Boneka beruang berwarna krem dengan syal kecil bergambar Menara Eiffel, serta sebuah kotak musik balerina berwarna merah muda yang anggun. “Semoga Sherly suka,” gumamnya pelan sambil tersenyum tipis. “Nanti sore aku ke rumah untuk kasih ini ke dia. Setelah itu, jenguk Papa lagi ke rumah sakit.” Pandangannya beralih ke kasur sederhana di sudut kamar. “Sekarang istirahat dulu,” katanya pada diri sendiri, lalu tersenyum kecil. “Tapi mandi dulu, deh.” Sebelum masuk ke kamar mandi, Sa
“Kapten?” bisik Sasqia lirih. Matanya mengerjap pelan, menatap pria yang kini berdiri begitu dekat di hadapannya. Jarak wajah mereka hanya satu tarikan napas. Tristan menelan ludah berat. Jakunnya naik turun jelas. Pandangannya sempat jatuh pada bibir Sasqia, bibir yang beberapa detik lalu tanpa izin telah ia kecup—sebelum akhirnya beralih ke mata indah wanita itu. “Maaf, saya lupa diri. Saya pikir kamu mantan saya,” ucapnya, suaranya rendah namun tegas. Ia kembali menegakkan punggungnya, memberi jarak yang semestinya. “Jika kamu merasa keberatan, kamu berhak menuntut saya atas pelecehan.” Mulut Sasqia terbuka, namun tak satu pun kata keluar. Ia hanya menelan ludah, dadanya naik turun tak beraturan. “Tidak perlu, Kapten,” katanya akhirnya. “Karena Kapten tidak sengaja atau bermaksud apa-apa.” “Tidak, Sasqia,” ucap Tristan tenang, namun sorot matanya serius. “Saya tetap bersalah. Apa yang bisa saya lakukan untuk menebusnya?” “Kapten …,” Sasqia menunduk sejenak, seolah menimbang
Di restoran hotel Paris itu, Tristan duduk seorang diri, menunggu Sasqia menyusul. Baru tiga menit berlalu sejak ia mengambil tempat, sementara secangkir teh hangat yang dipesannya baru saja tiba. “Silakan menikmati teh hangatnya, Tuan.” Tristan mengangguk singkat saat pramusaji meletakkan cangkir di hadapannya. Jemarinya meraih porselen putih itu, meniup pelan uap tipis yang mengepul, lalu menyeruput sedikit. Aromanya lembut, rasanya pas—tidak terlalu pahit, tidak pula manis. “Saya sempat mengira salah orang,” ucap sebuah suara dari sisi kanannya. “Ternyata benar, adikku ada di sini.” Tanpa menoleh, Tristan sudah mengenali siapa pemilik suara itu. Kaelix Enver Valerio—kakak kandungnya, sekaligus CEO Maskapai EBA. Kaelix berdiri santai di sampingnya, kedua tangan masuk ke saku celana, senyum miring menghiasi wajah tampannya. Ia lalu menarik kursi di hadapan Tristan dan duduk, seolah kehadirannya tak perlu izin. “Sudah lama kita tidak sarapan bersama,” ujarnya ringan. “Sejak sa
Bra itu jatuh ke lantai tanpa suara. Sasqia mengerang pelan di dalam mulutnya dan Kaelix, saat payudaranya terbebas, menggantung indah. Kaelix langsung meremasnya, bukan kasar, tapi penuh nafsu yang terkendali. Jempolnya memilin puting yang sudah mengeras, membuat Sasqia menggeliat dan mencengkeram bahu Kaelix lebih erat. “Ahh ... pelan-pelan,” desahnya Sasqia lirih, membuat Kaelix tersenyum tipis. Kaelix mengangkat tubuh Sasqia dengan mudah, membawanya ke ranjang king-size yang sudah siap dengan seprai putih bersih. Sasqia terbaring di sana, napasnya tersengal, matanya setengah terpejam karena malu dan hasrat yang mulai membara tanpa diduga. Kaelix melepas bathrobe-nya. Tubuhnya telanjang sempurna, otot perutnya yang kotak-kotak terukir jelas, garis V sampai ke pangkal pahanya, rapi seperti dipahat. Bisepnya mengencang setiap kali ia bergerak, menunjukkan seberapa kuat pria itu sebenarnya, dada bidang, dan batangnya yang sudah tegak sempurna, tebal dan panjang, ujungnya sudah b
Mulut Sasqia ternganga. Matanya melebar, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari Kaelix. “Anda … Anda sedang membeli saya?” suaranya bergetar, antara marah dan terluka. Kaelix tersenyum tipis. Ia sedikit membungkukkan punggung tegapnya, mendekat hingga suaranya jatuh tepat di dekat telinga Sasqia. Bibir pria itu nyaris menyentuh daun telinganya. “Saya menawarkan pertukaran yang adil,” bisiknya tenang. “Kamu butuh uang. Saya hanya butuh teman untuk menghabiskan malam dingin di Paris.” Ia kembali berdiri tegak, seolah pembicaraan barusan hanyalah urusan bisnis biasa. Sasqia tersinggung. Dadanya naik turun cepat. Ia bangkit berdiri dengan gerakan tajam. “Maaf,” ucapnya tegas. “Saya bukan wanita seperti itu. Saya punya harga diri. Saya tidak menjual diri saya untuk uang.” Belum sempat Kaelix menanggapi, ponsel Sasqia yang tergeletak di atas meja bergetar, layar menyala menampilkan panggilan masuk. Keduanya refleks menoleh. Nomor rumah sakit. Nama dokter yang
Setiap kali Sasqia memejamkan mata, yang terbayang justru ruang perawatan rumah sakit—wajah pucat ayahnya, suara mesin medis yang berdengung pelan. Ia sudah mencoba mencari pinjaman. Menghubungi beberapa teman, bahkan membuka aplikasi pinjaman daring. Namun nominal yang dibutuhkan terlalu besar, dan waktunya terlalu sempit. “Mungkin pergi sebentar ke bar bisa bikin kepala lebih ringan,” gumamnya pelan. Ia bangkit dari ranjang, menatap sekeliling kamar yang elegan itu. Lampu temaram, karpet lembut, tirai panjang dengan pemandangan kota Paris yang berkilau di kejauhan. “Kemewahan seperti ini pun gak ada artinya kalau Papa kesakitan,” bisiknya lirih. Sasqia mengusap wajahnya pelan, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya. Ia tak merias wajah, tak pula mengganti pakaian tidurnya yang sederhana. Hanya mengenakan long coat tebal berwarna krem untuk menutupi piyama tipisnya, lalu keluar dari kamar. Hotel itu memiliki tiga bar berbeda, namun ia memilih rooftop bar—ingin merasakan angin mala







