공유

BAB 02

작가: Langit Parama
last update 게시일: 2026-02-18 14:39:53

Jessie sontak mendongak, wajahnya pucat seketika. “Ma-maaf, Kapten? A-apa maksud Anda? Saya—”

“Kenapa?” Tristan menyela tajam. Alisnya berkerut tipis, suaranya datar namun mematikan. “Kamu benar-benar tidak memahami letak kesalahanmu?”

Jessie terdiam. Bibirnya bergetar, kata-kata seolah tercekat di tenggorokan.

“Kamu menyalahgunakan jabatanmu,” lanjut Tristan, suaranya kini lebih dingin dari baja. “Menindas bawahanmu, mempermalukan rekan kerja di ruang resmi perusahaan, dan membiarkan tindakan tidak bermoral direkam.”

Tatapan Tristan beralih sekilas pada Sasqia, lalu kembali mengunci Jessie dengan tekanan yang lebih kuat.

“Perusahaan ini tidak memberi ruang bagi orang yang menjadikan kekuasaan sebagai alat penghinaan.”

Ia melangkah satu langkah mendekat. “Kumpulkan barang-barangmu. HR akan mengurus sisanya.”

“Ka-Kapten?” suara Jessie bergetar. “A-Anda … serius?”

Tristan tak berkedip sedikit pun. Tatapannya tajam, tak menyisakan ruang untuk tawar-menawar.

“Kamu pikir saya sedang bercanda?” keningnya mengerut dalam, suaranya rendah namun menghantam.

Jessie menggeleng cepat, kepanikan mulai merayap di wajahnya. “Ti-tidak, Kapten. Tolong, jangan lakukan ini. Saya minta maaf. Saya janji, saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.”

Tak ada jawaban. Tristan hanya menatapnya datar, seolah Jessie hanyalah objek yang sedang ia nilai.

“S-saya … saya akan minta maaf pada Sasqia,” Jessie akhirnya berkata putus asa. “Kapten?”

“Maaf saja tidak cukup,” Tristan menggeleng pelan. Nada suaranya tenang, namun keputusan di baliknya mutlak. “Kamu menyalahgunakan kekuasaanmu. Dan itu tidak bisa ditoleransi.”

Ia mengalihkan pandangan pada para pramugari lain. “Kembali bekerja,” perintahnya singkat.

Tak satu pun berani membantah. Mereka segera meninggalkan ruang briefing satu per satu, menyisakan udara tegang yang semakin menyesakkan.

Begitu pintu tertutup, Tristan kembali menatap Jessie. “Sekarang,” katanya dingin, “Enyah dari hadapan saya.”

Jessie terdiam beberapa detik, matanya memerah menahan emosi antara marah, dan malu. Tanpa berkata apa pun lagi, ia berbalik dan melangkah pergi dengan langkah tergesa.

Pintu tertutup.

Tristan melirik Sasqia dari ujung rambut sampai ujung kaki. Hening sejenak.

“Ka-kapten, terima kasih banyak karena sudah membantu saya,” ucap Sasqia pelan dan terbata. Kepalanya tertunduk, bahunya sedikit menegang, seolah menahan gemetar yang tak ingin ia perlihatkan.

Tristan tidak segera menjawab. Pria itu berdiri tegak di hadapannya, menatap Sasqia tanpa berkedip—tatapan dalam, tajam, dan sulit ditebak.

“Bersiap,” ucapnya akhirnya. “Pesawat tidak akan take off kalau kamu tidak ada.”

Sasqia terhenyak, kepalanya terangkat menatap Tristan. “Ta-tapi—”

“Saya kapten kamu.” Tristan memotong tanpa ruang bantahan. “Ikuti perintah saya.”

Tanpa menunggu jawaban, Tristan melangkah pergi, meninggalkan ruang briefing dengan langkah tegas dan penuh wibawa.

“Ba-baik, terima kasih,” bisik Sasqia lirih, meski pria itu sudah tak mendengar.

Ia berbalik cepat, berlari kembali ke ruang ganti.

_____

Seluruh penumpang maskapai EBA127 telah memasuki kabin. Deretan kursi kini terisi penuh, dan para pramugari berdiri di posisi masing-masing dengan senyum profesional yang terlatih.

Namun, proses take off tertunda. Bukan karena cuaca. Bukan pula karena masalah teknis.

Melainkan karena satu nama. Sasqia.

Penundaan itu memantik bisik-bisik. Tatapan sinis para pramugari lain bertebaran, mengingat kejadian di ruang briefing. Ada yang terang-terangan kesal, ada yang menyembunyikan iri.

Di ambang pintu pesawat, Tristan berdiri tegap. Kedua tangannya bertaut rapi di belakang punggung. Posturnya kokoh, rahangnya mengeras, tatapannya lurus menembus kaca bandara.

Ia menunggu sosok Sasqia tanpa gelisah, tanpa ragu.

Tak lama kemudian, sosok yang dinanti itu muncul.

Seorang gadis dengan tinggi sekitar 165 sentimeter, mengenakan seragam biru navy dengan aksen putih khas Enver Blue Airways, melangkah cepat nyaris berlari.

High heels tujuh sentimeter di kakinya berbunyi tergesa di lantai bandara, selaras dengan napasnya yang tersengal.

“Kapten, maafkan saya terlambat,” ucap Sasqia lirih, berusaha menstabilkan suara. Keringat dingin tampak di pelipisnya, namun punggungnya tetap tegak.

“Masuk,” jawab Tristan singkat.

Tanpa menunggu penjelasan, pria itu berbalik dan melangkah masuk ke kabin, menuju kokpit. Tidak ada teguran, tidak ada tatapan panjang—hanya perintah.

Ia memilih langsung masuk ke kokpit.

Di belakangnya, Sasqia melangkah masuk dengan senyum profesional yang nyaris sempurna. Ia mendekat pada rekan kru yang membisikkan bahwa pesawat siap lepas landas.

Sasqia mengangguk, lalu meraih interphone.

“Selamat malam, penumpang terhormat Enver Blue Airways 127. Saya Sasqia Adhisty, kepala kru kabin Anda dalam penerbangan menuju Paris malam ini. Sesaat lagi kita akan memulai perjalanan di ketinggian 35.000 kaki. Pastikan sabuk pengaman Anda terpasang dengan sempurna. Kami berkomitmen memberikan layanan terbaik demi kenyamanan Anda. Terima kasih telah memilih terbang bersama Enver Blue Airways.”

Setelah menempuh penerbangan lima belas jam nonstop dari Jakarta menuju Paris, pesawat Enver Blue Airways 127 akhirnya mendarat mulus tepat pukul lima pagi waktu setempat.

Udara pagi Paris menyusup perlahan ke dalam kabin saat pintu pesawat dibuka. Sasqia berdiri di sisi pintu depan, siap mengantar para penumpang turun.

Suaranya mengalun lembut, jernih, dan menenangkan. Senyum itu tampak begitu manis di wajah cantiknya—hidung mancung, bibir kecil dengan belahan halus di bibir bawah, serta sepasang mata indah yang selalu tampak ramah, apa pun yang sedang ia rasakan.

“Terima kasih telah memilih Enver Blue Airways. Selamat pagi, dan selamat menikmati Paris.”

Satu per satu penumpang berlalu.

Di depan bandara, mobil jemputan terparkir rapi. Beberapa taksi yang mengangkut para pramugari mulai satu per satu meninggalkan area bandara menuju penginapan.

Sasqia menyeret koper navy miliknya menuju salah satu taksi yang terparkir di depan bandara.

Namun sebelum langkahnya sempat menjauh, seorang sopir pria paruh baya menghentikannya.

“Permisi, Nona,” sapanya dalam bahasa Inggris yang sopan.

“Iya?” Sasqia berhenti, menatapnya penuh.

“Tuan saya menunggu Anda di dalam mobil,” ucap pria itu sambil menunjuk ke arah sebuah mobil mewah tak jauh dari mereka.

Sasqia mengikuti arah telunjuk tersebut. Tristan duduk di kursi belakang mobil itu, kaca jendelanya sengaja diturunkan—cukup untuk memastikan dirinya terlihat.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 112

    “Kita sudah sampai, Tuan,” ucap sopir pribadi Kaelix saat mobil berhenti mulus di depan rumah Sasqia. Kaelix melirik sekilas ke arah bangunan itu, lalu kembali menyandarkan punggung dengan tenang. “Kamu saja yang turun,” ujarnya datar. “Dan jangan lupa minta Pak Mahendra membawa kamera milik putrinya.” “Baik, Tuan.” Zidan segera keluar dari mobil, langkahnya mantap menuju pintu rumah. Ia menekan bel satu kali. Tak lama, pintu terbuka. Soraya muncul di ambang pintu, menatap pria di hadapannya dengan kening berkerut. “Selamat siang, Bu. Saya ingin bertemu dengan Pak Mahendra,” ucap Zidan sopan. Soraya mengamati dari ujung kepala hingga kaki, tatapannya penuh selidik. “Kamu siapa?” Namun sebelum Zidan menjawab, pandangannya teralih ke mobil yang terparkir di depan gerbang. Matanya menyipit. “Itu … Tuan Kaelix, kan?” “Benar, Bu. Hari ini T

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 111

    Kaelix berdiri bersandar di kusen pintu. Kedua tangannya terlipat di dada, sorot matanya dingin—mengamati apa yang dilakukan adik bungsunya. Bukan sekadar mengamati, tatapannya juga terlihat menghakimi. “Masuk ke kamar orang tanpa izin,” ucapnya datar. “Sekarang merekamnya juga?” Jevier menelan ludah, berusaha tetap tenang. “Aku cuma ....” “Untuk apa itu?” potong Kaelix dengan nada rendah. Sunyi sejenak. Kaelix melangkah masuk perlahan, sepatu kulitnya beradu pelan dengan lantai. Tatapannya beralih ke dinding penuh foto itu. Lalu kembali ke Jevier. “Jadi,” gumamnya rendah, sudut bibirnya terangkat tipis, “Kamu juga mulai berpikir hal yang sama?” Jevier terdiam. Kaelix mendekat, berhenti tepat di depannya. “Bahwa Sasqia …,” jedanya disengaja, suaranya merendah, menusuk, “Hanya dijadikan pelarian oleh Tristan.” “Aku tidak berpikir sepert

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 110

    “Papa senang,” ucap Mahendra pelan setelah pintu rumah kembali tertutup, “Akhirnya bisa bertemu langsung dengan orang yang selama ini menanggung semua biaya pengobatan Papa.” Sasqia tertegun. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia menelan ludah, lalu memaksakan senyum kecil di wajahnya. “Iya, Pa,” jawabnya lirih. “Kamu jangan sampai menyinggung dia,” lanjut Mahendra, tatapannya penuh arti. “Dia sudah banyak membantu keluarga kita.” Kalimat itu membuat Sasqia langsung mengangkat kepala. Matanya membulat. Soraya yang duduk di samping hanya menyunggingkan senyum tipis, seolah menikmati arah pembicaraan itu. “Benar,” sambungnya dingin. “Jangan sampai kamu jual mahal kalau dia meminta sesuatu. Apalagi sampai bersikap tidak sopan pada orang seperti Tuan Kaelix.” Sasqia menghembuskan napas pelan, menahan sesuatu yang mulai mengendap di dadanya. “Papa juga setuju,” ujar Mahendra lembut. “Tidak baik membuat kecewa seseorang yang sudah membantu kita tanpa pamrih.” Sasqia langsung menoleh.

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 109

    “Kaelix?” ulang Mahendra, alisnya berkerut, nama itu terasa tidak asing di telinganya. “Iya, saya Kaelix,” jawab pria itu tenang. “Maaf datang tanpa pemberitahuan. Saya hanya ingin melihat rumah seharga dua miliar yang saya beli.” Ucapan itu membuat Mahendra membeku. “Yang … Anda beli?” suaranya nyaris tercekat. Kaelix hanya mengangguk singkat. “Ah,” lanjutnya santai, “Anda pasti Papa Sasqia? Yang kemarin dirawat karena kanker?” Mahendra refleks mengangguk. “Anda terlihat jauh lebih baik sekarang,” ujar Kaelix, nada bicaranya tetap tenang, bahkan terdengar sopan. “Saya senang melihatnya, Pak.” Mahendra menatapnya lekat. Ada sesuatu yang mulai terhubung di benaknya. “Apa mungkin …,” ia menyipitkan mata, “Anda yang membayar semua biaya rumah sakit saya? Termasuk rawat jalan, bahkan kalau saya harus dirawat lagi nanti?” Kaelix tidak langsung menjawab. Ia hanya menyunggingkan senyum tipis. Senyum yang sulit diartikan. “Semoga rumah ini bisa menjadi tempat paling nyaman untuk An

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 108

    “Daripada sibuk mencampuri hubungan saya dengan Sasqia,” suara Tristan rendah, dingin, dan tajam, “Lebih baik kamu urus anakmu sendiri. Sana.” Kaelix akhirnya berbalik sepenuhnya. Tatapannya lurus, menusuk mata sang adik. “Jadi … hasil tes DNA tadi sama sekali tidak membuatmu puas?” tanyanya datar. Tristan menyunggingkan senyum tipis. “Bukan tidak puas,” balasnya tenang. “Saya tidak percaya.” Hening sejenak. “Tidak percaya?” kedua alis Kaelix bertaut. “Kamu sedang mengatakan kalau hasil itu palsu?” “Iya,” jawab Tristan tanpa ragu. “Dan itu sudah pasti.” Napas Kaelix terdengar berat. Ia menggeleng pelan, seolah sedang menahan sesuatu dalam dirinya. “Entah kamu ini bodoh,” gumamnya rendah, “Atau …,” tatapannya menajam. “Iri.” Tristan terkekeh pelan, nyaris mengejek. “Iri? Untuk apa?” “Bukan iri,” potong Kaelix cepat, suaranya kini lebih dalam, lebih menekan. “Tapi cemburu.” Ia melangkah satu langkah mendekat. “Karena kamu kesal, marah, melihat wanita itu lebih memilih saya, b

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 107

    Sasqia menutup pintu kamarnya perlahan.Punggungnya langsung bersandar pada daun pintu, seolah menahan sesuatu yang sejak tadi menekan dadanya. Ia menghela napas panjang, matanya terpejam sesaat.Ia sendiri tidak menyangka. Pertemuan singkat dengan Kaelix sore tadi justru memberinya keberanian untuk akhirnya melawan.“Rasanya lebih lega, ya,” gumamnya lirih. “Ngelawan, daripada cuma diem dan terus nerima.”Ada keheningan yang terasa berbeda di dalam dadanya. Lebih ringan.Perlahan, Sasqia melangkah menuju ranjang lalu duduk di tepinya. Tangannya meletakkan paper bag berisi kamera itu di atas kasur dengan hati-hati.Senyum kecil terukir di wajahnya. “Gimana dia bisa tahu kalau aku suka motret senja?”Ia menggeleng pelan, masih tidak habis pikir.Tangannya terulur, mengambil kamera itu, lalu kembali membuka galeri hasil jepretan tadi.Satu per satu foto ia geser. Langit. Gedung. Pantulan cahaya senja di kaca mobil taksi yang ditumpanginya. Semua terlihat begitu hidup.Namun ketika ia sa

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 43

    “Jangan bilang kamu belum punya jawabannya,” ujar Tristan pelan, matanya menyipit tipis. “Sudah hampir satu minggu, kan? Besok tepat hari ketujuh sejak saya menyatakan perasaan.” Jantung Sasqia berdegup keras. Tujuh hari. Ternyata Tristan menghitungnya

    last update최신 업데이트 : 2026-03-24
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 44

    Mobil Tristan akhirnya berhenti di depan kost putri milik Sasqia, wanita yang malam ini resmi menjadi kekasihnya. “Terima kasih, Kapten. Sudah mengantar saya, dan mentraktir makan malam juga,” ucap Sasqia tulus. “Kapten?” gumam Tristan rendah. “Saya kekasih kamu mulai malam ini, tidak ada pangg

    last update최신 업데이트 : 2026-03-24
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 45

    “Semalam Sasqia tidak datang, Pak?” tanya Jevier pagi itu saat memasuki kamar rawat inap Mahendra. Mahendra yang sedang bersandar di ranjang tersenyum tipis. “Tidak, Dok. Tapi dia sudah mengirim pesan. Katanya langsung pulang ke kost.” Jevier mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, ia menyiapk

    last update최신 업데이트 : 2026-03-24
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 39

    Sejenak, Jevier hanya mampu menatap Mahendra tanpa suara. Dadanya bergetar halus, detak jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan datang secepat ini. Dan yang lebih mengejutkan, ia tak benar-benar ingin mengelak.

    last update최신 업데이트 : 2026-03-23
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status