Mag-log inJessie sontak mendongak, wajahnya pucat seketika. “Ma-maaf, Kapten? A-apa maksud Anda? Saya—”
“Kenapa?” Tristan menyela tajam. Alisnya berkerut tipis, suaranya datar namun mematikan. “Kamu benar-benar tidak memahami letak kesalahanmu?” Jessie terdiam. Bibirnya bergetar, kata-kata seolah tercekat di tenggorokan. “Kamu menyalahgunakan jabatanmu,” lanjut Tristan, suaranya kini lebih dingin dari baja. “Menindas bawahanmu, mempermalukan rekan kerja di ruang resmi perusahaan, dan membiarkan tindakan tidak bermoral direkam.” Tatapan Tristan beralih sekilas pada Sasqia, lalu kembali mengunci Jessie dengan tekanan yang lebih kuat. “Perusahaan ini tidak memberi ruang bagi orang yang menjadikan kekuasaan sebagai alat penghinaan.” Ia melangkah satu langkah mendekat. “Kumpulkan barang-barangmu. HR akan mengurus sisanya.” “Ka-Kapten?” suara Jessie bergetar. “A-Anda … serius?” Tristan tak berkedip sedikit pun. Tatapannya tajam, tak menyisakan ruang untuk tawar-menawar. “Kamu pikir saya sedang bercanda?” keningnya mengerut dalam, suaranya rendah namun menghantam. Jessie menggeleng cepat, kepanikan mulai merayap di wajahnya. “Ti-tidak, Kapten. Tolong, jangan lakukan ini. Saya minta maaf. Saya janji, saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.” Tak ada jawaban. Tristan hanya menatapnya datar, seolah Jessie hanyalah objek yang sedang ia nilai. “S-saya … saya akan minta maaf pada Sasqia,” Jessie akhirnya berkata putus asa. “Kapten?” “Maaf saja tidak cukup,” Tristan menggeleng pelan. Nada suaranya tenang, namun keputusan di baliknya mutlak. “Kamu menyalahgunakan kekuasaanmu. Dan itu tidak bisa ditoleransi.” Ia mengalihkan pandangan pada para pramugari lain. “Kembali bekerja,” perintahnya singkat. Tak satu pun berani membantah. Mereka segera meninggalkan ruang briefing satu per satu, menyisakan udara tegang yang semakin menyesakkan. Begitu pintu tertutup, Tristan kembali menatap Jessie. “Sekarang,” katanya dingin, “Enyah dari hadapan saya.” Jessie terdiam beberapa detik, matanya memerah menahan emosi antara marah, dan malu. Tanpa berkata apa pun lagi, ia berbalik dan melangkah pergi dengan langkah tergesa. Pintu tertutup. Tristan melirik Sasqia dari ujung rambut sampai ujung kaki. Hening sejenak. “Ka-kapten, terima kasih banyak karena sudah membantu saya,” ucap Sasqia pelan dan terbata. Kepalanya tertunduk, bahunya sedikit menegang, seolah menahan gemetar yang tak ingin ia perlihatkan. Tristan tidak segera menjawab. Pria itu berdiri tegak di hadapannya, menatap Sasqia tanpa berkedip—tatapan dalam, tajam, dan sulit ditebak. “Bersiap,” ucapnya akhirnya. “Pesawat tidak akan take off kalau kamu tidak ada.” Sasqia terhenyak, kepalanya terangkat menatap Tristan. “Ta-tapi—” “Saya kapten kamu.” Tristan memotong tanpa ruang bantahan. “Ikuti perintah saya.” Tanpa menunggu jawaban, Tristan melangkah pergi, meninggalkan ruang briefing dengan langkah tegas dan penuh wibawa. “Ba-baik, terima kasih,” bisik Sasqia lirih, meski pria itu sudah tak mendengar. Ia berbalik cepat, berlari kembali ke ruang ganti. _____ Seluruh penumpang maskapai EBA127 telah memasuki kabin. Deretan kursi kini terisi penuh, dan para pramugari berdiri di posisi masing-masing dengan senyum profesional yang terlatih. Namun, proses take off tertunda. Bukan karena cuaca. Bukan pula karena masalah teknis. Melainkan karena satu nama. Sasqia. Penundaan itu memantik bisik-bisik. Tatapan sinis para pramugari lain bertebaran, mengingat kejadian di ruang briefing. Ada yang terang-terangan kesal, ada yang menyembunyikan iri. Di ambang pintu pesawat, Tristan berdiri tegap. Kedua tangannya bertaut rapi di belakang punggung. Posturnya kokoh, rahangnya mengeras, tatapannya lurus menembus kaca bandara. Ia menunggu sosok Sasqia tanpa gelisah, tanpa ragu. Tak lama kemudian, sosok yang dinanti itu muncul. Seorang gadis dengan tinggi sekitar 165 sentimeter, mengenakan seragam biru navy dengan aksen putih khas Enver Blue Airways, melangkah cepat nyaris berlari. High heels tujuh sentimeter di kakinya berbunyi tergesa di lantai bandara, selaras dengan napasnya yang tersengal. “Kapten, maafkan saya terlambat,” ucap Sasqia lirih, berusaha menstabilkan suara. Keringat dingin tampak di pelipisnya, namun punggungnya tetap tegak. “Masuk,” jawab Tristan singkat. Tanpa menunggu penjelasan, pria itu berbalik dan melangkah masuk ke kabin, menuju kokpit. Tidak ada teguran, tidak ada tatapan panjang—hanya perintah. Ia memilih langsung masuk ke kokpit. Di belakangnya, Sasqia melangkah masuk dengan senyum profesional yang nyaris sempurna. Ia mendekat pada rekan kru yang membisikkan bahwa pesawat siap lepas landas. Sasqia mengangguk, lalu meraih interphone. “Selamat malam, penumpang terhormat Enver Blue Airways 127. Saya Sasqia Adhisty, kepala kru kabin Anda dalam penerbangan menuju Paris malam ini. Sesaat lagi kita akan memulai perjalanan di ketinggian 35.000 kaki. Pastikan sabuk pengaman Anda terpasang dengan sempurna. Kami berkomitmen memberikan layanan terbaik demi kenyamanan Anda. Terima kasih telah memilih terbang bersama Enver Blue Airways.” Setelah menempuh penerbangan lima belas jam nonstop dari Jakarta menuju Paris, pesawat Enver Blue Airways 127 akhirnya mendarat mulus tepat pukul lima pagi waktu setempat. Udara pagi Paris menyusup perlahan ke dalam kabin saat pintu pesawat dibuka. Sasqia berdiri di sisi pintu depan, siap mengantar para penumpang turun. Suaranya mengalun lembut, jernih, dan menenangkan. Senyum itu tampak begitu manis di wajah cantiknya—hidung mancung, bibir kecil dengan belahan halus di bibir bawah, serta sepasang mata indah yang selalu tampak ramah, apa pun yang sedang ia rasakan. “Terima kasih telah memilih Enver Blue Airways. Selamat pagi, dan selamat menikmati Paris.” Satu per satu penumpang berlalu. Di depan bandara, mobil jemputan terparkir rapi. Beberapa taksi yang mengangkut para pramugari mulai satu per satu meninggalkan area bandara menuju penginapan. Sasqia menyeret koper navy miliknya menuju salah satu taksi yang terparkir di depan bandara. Namun sebelum langkahnya sempat menjauh, seorang sopir pria paruh baya menghentikannya. “Permisi, Nona,” sapanya dalam bahasa Inggris yang sopan. “Iya?” Sasqia berhenti, menatapnya penuh. “Tuan saya menunggu Anda di dalam mobil,” ucap pria itu sambil menunjuk ke arah sebuah mobil mewah tak jauh dari mereka. Sasqia mengikuti arah telunjuk tersebut. Tristan duduk di kursi belakang mobil itu, kaca jendelanya sengaja diturunkan—cukup untuk memastikan dirinya terlihat.Malam itu, meja makan yang biasanya ramai terasa jauh lebih lengang. Hanya ada Mahendra dan Sherly yang duduk berhadapan. Bocah kecil itu mengayun-ayunkan kedua kakinya di kursi sambil sesekali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Namun, sejak tadi matanya terus melirik ke arah kursi yang biasanya ditempati sang ibu dan neneknya. “Kakek ….” panggil Sherly pelan. Mahendra mengangkat pandangannya. “Iya, Sayang?” Sherly memiringkan kepalanya. “Mama sama Nenek ke mana?” Pertanyaan polos itu membuat tangan Mahendra yang sedang memegang sendok terhenti sejenak. Ia tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan kegelisahan di wajahnya. “Mama dan Nenek lagi ada urusan, Sayang.” “Urusan apa?” Sherly kembali bertanya dengan wajah penuh rasa ingin tahu. “Kok belum pulang?” Mahendra terdiam beberapa detik, memilih kata-kata yang paling mudah dipahami cucunya. “Mama sama Nenek lagi menyelesaikan urusan penting. Kalau urusannya sudah selesai, mereka pasti pulang.” Sherly mengangguk pelan. “Oh ...
Ruangan penyidik dipenuhi suasana hening. Di sisi kanan duduk Soraya dengan wajah tegang. Sementara di sisi kiri, Shiren duduk sambil terus menggenggam kedua tangannya sendiri. Seorang penyidik meletakkan sebuah map di atas meja. “Kami hanya ingin meminta klarifikasi, tidak lebih.” Tatapannya bergantian mengarah kepada keduanya. “Siapa yang membuat jamu yang diberikan kepada Nyonya Sasqia?” Soraya langsung menjawab. “Bukan saya.” Shiren buru-buru menyela. “Mama saya yang membuat jamunya, Pak.” Soraya spontan menoleh, tatapannya tajam. “Ren! Apa lagi ini?” Penyidik mengangkat tangan, meminta keduanya tenang. “Ibu Soraya. Kami ingin mendengar jawaban Ibu terlebih dahulu.” Soraya menarik napas panjang. “Saya memang pernah membuat jamu, tapi itu bertahun-tahun lalu saat Shiren baru menikah dan ingin segera hamil. Setelah itu tidak pernah lagi, apalagi untuk Sasqia.” Penyidik mencatat setiap jawaban. “Lalu mengapa anak Ibu mengatakan semua bahan berasal dari Ibu?” Soraya menggele
Kaelix memungut beberapa lembar foto yang berserakan di atas ranjang. Sorot matanya berubah tajam begitu melihat satu per satu gambar yang ada di tangannya. Lalu selembar surat dengan tulisan yang begitu provokatif. Rahang Kaelix perlahan mengeras, tatapannya kemudian beralih kepada sang istri yang masih membelakanginya. “Apa maksud semua ini?” gumamnya pelan. “Siapa yang mengirimkan ini kepadamu, Sayang?” Sasqia tidak menjawab. Ia justru menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha menahan tangis yang kembali menyeruak. Kedua bahunya bergetar pelan. Kaelix menghembuskan napas panjang. Ia meletakkan foto-foto itu di atas ranjang, lalu berpindah duduk lebih dekat. Dengan hati-hati, tangannya menyentuh bahu sang istri. “Sayang ....” Pelan-pelan ia memutar tubuh Sasqia hingga kembali menghadapnya. Mata wanita itu sudah sembap, hidungnya memerah. Bekas air mata masih membasahi kedua pipinya. Dada Kaelix seketika terasa sesak. “Kamu menangis karena foto-foto ini?” Sasqia tetap bun
Ruang tamu mendadak terasa begitu sunyi setelah mobil polisi meninggalkan halaman rumah. Kaelix dan Mahendra kini duduk saling berhadapan. Untuk beberapa saat, tidak ada satu pun yang membuka suara. Kaelix akhirnya memecah keheningan. “Sekali lagi saya minta maaf, Pa.” Mahendra mengangkat pandangannya. “Saya sudah membuat keributan di rumah ini. Saya juga sadar, apa yang saya lakukan mungkin terlihat berlebihan.” Kaelix menghembuskan napas pelan. “Saya melaporkan istri dan anak Papa sendiri kepada pihak kepolisian. Saya tahu keputusan ini berat. Apalagi Shiren masih memiliki Sherly. Anak itu sudah kehilangan ayahnya, dan sekarang harus melihat ibunya dibawa ke kantor polisi.” Tatapan Kaelix perlahan menunduk. “Percayalah, Pa. Ini bukan keputusan yang saya ambil karena emosi. Saya hanya ingin memberikan keadilan untuk istri saya. Saya juga ingin mencari tahu siapa yang harus bertanggung jawab.” Rahangnya mengeras. “Suami mana yang bisa diam ketika melihat istrinya menderita sela
Sore mulai berganti malam. Lampu-lampu taman di halaman rumah telah menyala sejak beberapa menit lalu. Namun, sosok yang ditunggu Sasqia tak kunjung muncul. Wanita itu berdiri di teras rumah sambil sesekali melongok ke arah gerbang. “Mas Kael kok belum pulang, ya?” gumamnya pelan. Ia melirik layar ponselnya. Jarum jam sudah melewati waktu kepulangan sang suami. “Biasanya kalau ada rapat atau lembur, Mas pasti ngabarin.” Keningnya berkerut tipis “Atau ... jangan-jangan masih ada urusan di kantor?” Sasqia menghembuskan napas pelan, lalu tersenyum sendiri. “Aneh. Baru beberapa jam gak ketemu aja aku udah sekangen ini.” Padahal mereka baru saja pulang dari Swiss. Baru semalam mereka kembali menghabiskan waktu bersama. Namun entah mengapa, ia tetap ingin segera melihat wajah sang suami. Tanpa berpikir panjang, Sasqia menekan nama Mas Kael di layar ponselnya. Beberapa detik berlalu, panggilan itu tidak tersambung. ‘Nomor yang Anda tuju sedang berada dalam panggilan lain.’ Sasqia me
Shiren menutup pintu ruang kerjanya rapat-rapat. Baru setelah itu ia menghembuskan napas panjang, seolah beban besar baru saja terlepas dari pundaknya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi, lalu menyandarkan kepala sambil memejamkan mata. “Untung aja,” gumamnya lirih. “Tadi hampir ketahuan.” Beberapa detik kemudian, ia kembali membuka mata. Keningnya perlahan berkerut. “Tapi kenapa Kaelix sampe bawa jamu itu ke laboratorium?” Jemarinya tanpa sadar mengetuk permukaan meja. “Dia bener-bener selidikin itu.” Shiren menggigit bibir bawahnya pelan. “Padahal itu cuma jamu. Gak mungkin dia sampe sejauh itu kalau bukan karena bener-bener curiga dari awal.” Ia mengepalkan tangan di atas meja. “Untungnya tadi aku cepet alihin semuanya ke Mama.” Setidaknya untuk sementara, perhatian Kaelix sudah beralih. _____ Tak terasa, jam kerja pun berakhir pada pukul lima sore. Satu per satu karyawan mulai meninggalkan gedung perusahaan. Shiren ikut melangkah keluar sambil menyampirkan tas di bahunya.
“Sssh ….” Sasqia meringis pelan ketika Tristan mengoleskan salep pada lututnya yang mulai membiru. “Tahan sedikit. Sebentar lagi selesai,” ujar Tristan lembut. Ia berjongkok di hadapan Sasqia yang duduk di tepi ranjang. Gerakannya hati-hati, nyaris terlalu hati-hati untuk sekadar mengobati luka
Suara sendok beradu pelan dengan piring. Sasqia membeku. Kakek mengangkat alisnya tinggi. Kaelix tersenyum tipis—bukan karena terhibur, melainkan karena tertantang. Sementara Sasqia merasakan jantungnya berdetak tidak wajar. Tristan tetap tenang, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sepenu
Lebih bagus? Untuk dia? “Kapten.” Sasqia menggeleng tegas, berusaha mengusir debar aneh di dadanya. “Tidak perlu. Saya hanya perlu mengambil kembali kalung yang Mama saya ambil.” Tristan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya. Tatapannya tenang, namun sulit ditebak. “Jadi
Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?







