LOGIN“Kita sudah sampai, Tuan,” ucap sopir pribadi Kaelix saat mobil berhenti mulus di depan rumah Sasqia.
Kaelix melirik sekilas ke arah bangunan itu, lalu kembali menyandarkan punggung dengan tenang. “Kamu saja yang turun,” ujarnya datar. “Dan jangan lupa minta Pak Mahendra membawa kamera milik putrinya.” “Baik, Tuan.” Zidan segera keluar dari mobil, langkahnya mantap menuju pintu rumah. Ia menekan bel satu kali. Tak lama, pintu terbuka“Sherly mau berenang, Tante!” Bocah kecil itu berlari menghampiri Sasqia, lalu menarik-narik tangan bibinya dengan penuh semangat. “Ayo ... ayo berenang!” Sasqia tersenyum kecil. Ia mengusap lembut kepala keponakannya sebelum melirik ke arah langit di balik dinding kaca ruang tamu. Langit sudah mulai menggelap. “Sekarang udah sore, Sayang,” ucapnya lembut. “Kalau nanti Sherly berenang terus keburu malam, gimana kalau Mama sama Kakek ternyata mau pulang?” “Nggak.” Soraya menjawab lebih cepat daripada siapa pun. “Kami memang berencana menginap.” Mahendra spontan menoleh. “Soy ....” Nada suaranya mengandung teguran halus. Sebab sebelum berangkat, mereka sudah sepakat hanya akan bertamu sebentar, lalu pulang malam itu juga. Soraya justru tersenyum santai. “Sekali-sekali menginap di rumah anak sendiri memangnya kenapa?” “Iya, Sas,” sahut Shiren. “Sherly dari tadi semangat banget lihat kolam renang kamu.” Ia menatap putrinya yang sudah melompat-lompat kegirangan. “Aku belum sempat
“Punya suami yang tampan, kaya, baik, ditambah tinggal di rumah semewah ini, masih sempat-sempatnya nangis juga, Sas?” celetuk Shiren sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa. Nada bicaranya terdengar ringan, namun sindiran tipis di balik kalimat itu tetap terasa. Mahendra melirik putri sulungnya sekilas. Tatapan itu dingin. Cukup untuk membuat Shiren mendengus pelan dan memilih mengalihkan pandangan. Mahendra kembali menatap Sasqia. “Nak ... ada masalah?” Sasqia buru-buru menggeleng. “Enggak ada, Pa.” “Lalu kenapa matamu merah?” Sasqia menarik napas pelan sebelum memaksakan senyum. “Aku cuma ... kepikiran.” “Kepikiran apa?” Ia menundukkan kepala. “Aku ngerasa belum bisa ngasih apa-apa buat Mas Kael.” Mahendra mengernyit. “Memangnya suami kamu pernah meminta balasan?” “Enggak!” Sasqia langsung menggeleng cepat. “Mas Kael gak pernah minta apa pun.” Ia menggenggam kedua tangannya sendiri. “Cuma ... Mas Kaelix pengen punya anak.” Suaranya semakin lirih. “Sedangkan sampai sekarang
“M-Mas ... aku bisa jelasin.” Suara Sasqia bergetar. Tangannya perlahan terangkat, seolah ingin meraih lengan Kaelix. Namun pria itu sama sekali tidak bergeming. Tatapannya tetap dingin. tajam, hingga sulit ditebak apa yang sebenarnya sedang ia rasakan. “Jelaskan apa?” tanyanya pelan. Sasqia membuka mulut. Tetapi belum sempat satu kata pun keluar, Kaelix kembali berbicara. “Selama tiga bulan ini ...,” ucapnya lirih. “Saya benar-benar tertipu.” Kalimat itu membuat napas Sasqia tercekat. “Saya pikir ... kamu sudah menerima saya.” “Mas ....” “Saya pikir sikapmu selama ini tulus.” Tatapan Kaelix tidak pernah lepas dari wajah istrinya. “Kamu menurut. Kamu lembut. Kamu mulai memperhatikan saya. Sampai akhirnya saya percaya ... bahwa kejadian di hari pernikahan itu hanya masa lalu.” Ia menghembuskan napas panjang. “Seharusnya saya tidak lengah.” “M-Mas, dengerin aku dulu ....” “Ternyata saya salah.” Nada suaranya tetap tenang. Namun justru ketenangan itulah yang membuat dada Sas
Pagi itu, suasana ruang keluarga terasa hangat. Mahendra duduk di atas karpet ruang tengah, menemani Sherly yang sedang sibuk menyusun balok-balok warna-warni. “Yang ini buat istana, Kek!” seru Sherly antusias. Mahendra terkekeh pelan. “Iya, Putri Sherly maunya istana, ya?” Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar dari arah dapur. Shiren menghampiri mereka sambil membawa secangkir kopi hangat. “Pa,” panggilnya, “kapan kita main ke rumahnya Sasqia?” Mahendra mengangkat pandangan. “Kenapa memang?” “Aku penasaran sama rumah barunya. Soalnya ada di kawasan menteng.” Belum sempat Mahendra menjawab, Sherly langsung berdiri sambil mengangkat kedua tangannya. “Iyaaa! Ayo ke rumah Tante Qia!” Mahendra tersenyum melihat tingkah cucunya. “Pengen ketemu Tante?” Sherly mengangguk cepat. “Sama Om Kaelix!” “Tuh, Pa.” Shiren ikut tersenyum. “Sherly juga pengen.” Mahendra mengusap kepala cucunya pelan. “Nanti ya, Kakek ajak.” “Kapan?” tanya Sherly tak sabar. “Hari ini aja,” usul Shiren.
Usai menyelesaikan makan malam, Sasqia kembali ke kamar hotel tempat seluruh kru menginap sebelum penerbangan esok hari. Suasana kamar begitu tenang. Ia meletakkan tas tangannya di atas meja, lalu duduk di tepi ranjang sambil mengembuskan napas panjang. Hari pertamanya kembali bekerja berjalan lebih baik daripada yang ia bayangkan. Meski sempat dikejutkan oleh kehadiran Tristan, pikirannya justru lebih banyak dipenuhi sosok lain. Kaelix. Tanpa sadar, senyum tipis terukir di bibirnya saat mengingat bagaimana suaminya mengantarnya ke bandara pagi tadi. “Mas ...,” gumamnya lirih. “Kenapa perhatian banget, sih?” Dadanya kembali terasa hangat. Sasqia membuka laci kecil di samping ranjang. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah botol obat berukuran mungil. Botol itu sudah begitu akrab di tangannya. Ia memandanginya cukup lama. Tatapannya perlahan menerawang. Sebelumnya, ia selalu merasa belum siap. Belum siap membangun keluarga dengan laki-laki yang saat itu bahkan belum benar-benar
“M-Mas Tristan?” Langkah Sasqia terhenti tepat di depan pintu kokpit. Matanya membulat, jelas tak menyangka akan bertemu sosok yang pernah begitu dekat dengannya, dan yang harus dia hindari. “Kok ... Mas ada di sini?” Tristan yang baru keluar dari kokpit menatapnya tenang. “Kenapa memangnya?” tanyanya datar. “Ini memang pekerjaan saya sejak dulu.” Sasqia buru-buru menggeleng. “Bukan, bukan itu maksud saya.” “Lalu?” “Bukannya Mas di EBA 127?” tanyanya hati-hati. “Kenapa sekarang di sini?” Tristan menghembuskan napas pelan. “Kebetulan mulai hari ini saya dipindahkan ke EBA 128.” “Mulai ... hari ini?” “Iya.” Napas Sasqia seakan tertahan. Hari pertama ia kembali bekerja. Hari pertama pula Tristan dipindahkan ke kru yang sama. Terlalu bertepatan. Tristan memperhatikan perubahan ekspresi wanita di hadapannya sebelum bertanya pelan, “Jadi ... suamimu mengizinkan kamu kembali bekerja?” Sasqia mengangguk. “Iya.” “Syukurlah. Karena kamu menikah dengan Kaelix.” Sasqia menatapnya b
Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?
Sasqia spontan berbalik. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah cepat kembali ke arah mobil. “Sas? Mau ke mana?” Jevier menoleh kaget, lalu segera menyusulnya. “Sas, tunggu!” Namun Sasqia tak menghiraukan panggilan itu. Ia terus berjalan, hampir setengah berlari, seola
“Hah?” Sasqia tersenyum kecil sambil meraih tangan ayahnya yang masih menyentuh pipinya, lalu menggenggamnya lembut. “Nggak, Pa. Ini tadi blush on-nya kebanyakan.” “Blush on?” Mahendra mengerutkan kening. “Itu, riasan perona pipi. Biar kelihatan segar,” jelas Sasqia ringan. “Karena Qia buru-buru,
“Kamu memecat Jessie, Tristan?” tanya Miriam sambil memiringkan kepala, menatap putranya tajam di tengah makan malam keluarga itu. Meja panjang dipenuhi berbagai hidangan mewah, tetapi suasana terasa jauh dari hangat. Tristan duduk tenang, menopang dagunya dengan sat







