Share

BAB 349

Author: Langit Parama
last update publish date: 2026-09-01 00:08:16

“Mas ...?” panggil Sasqia sekali lagi ketika keheningan di antara mereka terasa semakin panjang.

Kaelix menghembuskan napas berat. Tatapannya tetap tertuju pada sang istri, dingin dan penuh pertimbangan.

“Memangnya tidak ada cara lain?”

“Itu yang dibilang dokter, Mas,” jawab Sasqia tenang. “Kalau dokter sampe menyarankan begitu, berarti kondisi psikologis Sherly memang perlu diperhatikan. Dia terus cari mamanya.”

Kaelix menyandarkan tubuhnya pada dinding lorong. “Apakah ini pernah terjadi s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nia Khair
suami idaman emang kael,,, mau bilang ya tuhan sisakan satu yang seperti kael tapi aku dah bersuami wkwkw
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 351

    Waktu berlalu tanpa terasa. Kini kandungan Sasqia telah memasuki usia lima bulan. Perutnya yang dahulu masih samar kini mulai membulat dengan jelas, membuat setiap pakaian yang dikenakannya terasa sedikit lebih sempit di bagian pinggang. Pagi itu, ia kembali menjalani pemeriksaan kandungan ditemani Kaelix. Sasqia duduk di ranjang pemeriksaan sambil mengusap perutnya pelan. Sementara Kaelix berdiri di sampingnya, sesekali melirik layar ponselnya sebelum akhirnya menyimpannya kembali. Pintu ruangan terbuka. “Selamat pagi, Nyonya Sasqia. Tuan Kaelix,” sapa Dokter Maya ramah sembari masuk membawa berkas pemeriksaan. “Pagi, Dok,” balas Sasqia. Kaelix mengangguk singkat. “Pagi, Dokter.” Dokter Maya kemudian memeriksa beberapa catatan sebelum tersenyum. “Bagaimana kondisi selama beberapa minggu terakhir?” “Baik, Dok. Paling gampang lapar dan kadang masih mual kalau pagi.” “Itu masih cukup wajar di usia kehamilan seperti ini.” Dokter Maya kemudian melirik perut Sasqia. “Dan dari per

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 350

    Sore harinya, suasana di ruang rawat Sherly mulai lebih tenang. Bocah itu sudah jauh lebih segar setelah tidur cukup lama. Tubuhnya masih lemah, tetapi demamnya mulai turun. Ia bahkan kembali memainkan Barbie yang diberikan Kaelix beberapa jam sebelumnya, sesekali mencium dan memeluknya seolah boneka itu benda hidup. Sasqia duduk di sisi brankar, mengawasi dengan senyum tipis. Mahendra berdiri tak jauh dari sana, sementara Kaelix berada di dekat jendela sambil sesekali memeriksa ponselnya. Tiba-tiba— Tok. Tok. Tok. Ketiganya menoleh bersamaan ketika pintu diketuk. Belum sempat ada yang menjawab, pintu perlahan terbuka. Seorang pria berdiri di ambang pintu, langkahnya terhenti sesaat. Raka. Raut wajah Mahendra seketika berubah. Rahangnya mengeras begitu mengenali sosok yang berdiri di hadapannya. Ingatan mengenai kehancuran rumah tangganya dengan Soraya seolah kembali berputar begitu saja—laki-laki yang pernah menjadi menantunya itu adalah salah satu bagian dari luka yang tid

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 349

    “Mas ...?” panggil Sasqia sekali lagi ketika keheningan di antara mereka terasa semakin panjang. Kaelix menghembuskan napas berat. Tatapannya tetap tertuju pada sang istri, dingin dan penuh pertimbangan. “Memangnya tidak ada cara lain?” “Itu yang dibilang dokter, Mas,” jawab Sasqia tenang. “Kalau dokter sampe menyarankan begitu, berarti kondisi psikologis Sherly memang perlu diperhatikan. Dia terus cari mamanya.” Kaelix menyandarkan tubuhnya pada dinding lorong. “Apakah ini pernah terjadi sebelumnya? Waktu ayah dan ibunya berpisah? Saat ayahnya meninggalkan Sherly?” Sasqia menggeleng perlahan. “Setahu aku, gak pernah.” “Kenapa?” “Mungkin karena sejak kecil Sherly memang tinggal sama Kak Shiren.” Kaelix menyipitkan mata. “Sejak kecil?” Sasqia mengangguk. “Memangnya ke mana ayahnya? Bekerja di luar kota?” Tatapan Sasqia menerawang. Ingatannya kembali pada masa-masa ketika rumah keluarganya masih dipenuhi masalah yang sama. “Dulu Mas Raka memang gak bertanggung jawab setelah

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 348

    Setelah makanan di piringnya tandas dan obat yang diberikan dokter berhasil diminum, Sherly akhirnya terlelap di atas brankar. Wajah kecilnya masih terlihat pucat, tetapi napasnya sudah jauh lebih teratur. Tangan mungilnya bahkan masih menggenggam salah satu sisi kotak Barbie yang tadi dibawakan Kaelix. Sasqia memandangi keponakannya dengan senyum tipis. “Syukurlah,” bisiknya dengan penuh rasa kelegaan. “Akhirnya dia mau makan dan minum obat.” Beberapa saat kemudian, tatapannya beralih kepada Kaelix yang berdiri di sisi brankar. Kedua tangan pria itu terselip di saku celana, sementara matanya sesekali tertuju pada Sherly. “Mas.” Sasqia memanggil dengan lembut. “Hm?” “Makasih, ya.” Kaelix menoleh, tatapannya tenang. “Udah dateng dan bikin Sherly gak sedih lagi.” Senyum kecil muncul di wajah Sasqia. “Tadi dia sampe gak mau makan karena terus minta ketemu mamanya. Tapi setelah Mas dateng, dia jauh lebih tenang.” Kaelix mengangguk pelan. “Dia keponakan kamu,” tatapannya kembali

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 347

    “Tante ....” Suara kecil itu terdengar begitu lirih hingga nyaris tenggelam di antara suara alat medis di dalam ruangan. Sasqia yang sejak tadi duduk di sisi brankar langsung menoleh. Begitu melihat kelopak mata Sherly bergerak perlahan, wajahnya seketika diliputi kelegaan. “Iya, sayang.” Sasqia tersenyum hangat. Tangannya terulur mengusap rambut bocah itu dengan lembut. “Akhirnya kamu bangun juga.” Sherly berkedip beberapa kali, berusaha menyesuaikan pandangan dengan cahaya ruangan. Wajahnya masih pucat, bibirnya tampak kering, tetapi kesadarannya sudah jauh lebih baik. Tatapannya kemudian bergeser. “Kakek?” Mahendra yang berdiri di sisi lain brankar langsung mendekat. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh begitu saja. “Iya, Sayang. Kakek di sini.” Tangannya menggenggam jemari kecil Sherly.

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 346

    Sasqia dan Mahendra kini berada di dalam ruang rawat inap Sherly. Ruangan itu terasa begitu sunyi. Hanya suara lembut alat pemantau yang sesekali terdengar di antara napas mereka. Mahendra berdiri di sisi brankar, memandangi cucunya yang masih terbaring lemah. Wajah Sherly terlihat pucat, bibirnya sedikit kering, sementara selimut menutupi tubuh kecilnya hingga sebatas dada. Di sisi lain, Sasqia duduk di kursi dekat brankar. Tatapannya tak pernah benar-benar beranjak dari wajah sang keponakan. Ada rasa sesak yang perlahan memenuhi dadanya. Entah kenapa, melihat Sherly dalam keadaan seperti ini membuat pikirannya melayang jauh. Bagaimana kalau suatu hari anaknya sendiri terbaring seperti ini? Bagaimana rasanya menjadi seorang ibu dan melihat anaknya menderita, sementara dirinya tidak mampu melakukan apa pun? Sasqia tanpa sadar mengusap perutnya. “Biar aku yang bicara sama Mas Kael, Pa,” ucapnya akhirnya. Mahendra menoleh. “Bicara soal apa?” Sasqia terdiam beberapa saat

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 48

    “Kaelix memberikan sponsor itu pada pramugari lain?” Mata Miriam membulat tajam. “Padahal aku sudah lebih dulu mencantumkan nama Jessie.” “Ada alasannya,” jawab Remmer tenang, mencoba meredam gejolak di suara istrinya. “Apa alasannya?” dagu Miriam terangkat tinggi, s

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 15

    Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 102

    Makan malam berlangsung di meja makan besar dengan seluruh anggota keluarga berkumpul. Mahendra duduk di ujung meja, diikuti Soraya di sampingnya. Di sisi lain ada Raka dan Shiren, sementara Sasqia duduk berhadapan dengan mereka. Sherly kecil juga ikut duduk, sibuk memainkan sendoknya sendiri. Su

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 105

    “Papa ke mana, Ma?” Raka berdiri di ambang ruang tengah sambil melonggarkan kerah bajunya. Tatapannya jatuh pada ibu mertuanya yang sedang duduk santai di sofa, kaki menyilang anggun sambil membaca majalah. Soraya hanya mengangkat pandangan sekilas dari halaman yang ia baca. “Lagi istirahat di

    last updateLast Updated : 2026-04-05
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status