Share

BAB 72

Author: Langit Parama
last update publish date: 2026-03-12 00:05:40

“Lebih cepat, Raka. Mama sudah hampir sampai,” desah Soraya lirih, jemarinya mencengkeram bahu kekar sang menantu seolah mencari penopang.

“Iya, Ma. Kita keluarin bareng-bareng, ya.”

“Jangan di dalam, keluarkan di luar. Mama takut hamil,” ucap Soraya terputus-putus di sela napas yang memburu.

Raka mengangguk samar, lalu mempercepat ritmenya. Tubuh Soraya terhempas pelan hingga kepalanya membentur sandaran ranjang, membuatnya terisak tertahan.

“Akh … sial …!” gumam Raka ketika gelombang itu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
may cus
ga expect bakal main serong
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 272

    Mobil Kaelix memasuki area parkir sebuah pusat perbelanjaan mewah di kota. Begitu pintu mobil dibuka, Sherly langsung mengulurkan kedua tangannya ke arah Kaelix. “Om, gendong.” Kaelix melirik sebentar. “Kamu capek?” suaranya berat dan tegas. Sherly mengangguk polos. “Capek jalan dari mobil.” Sasqia spontan tertawa kecil. “Padahal baru turun.” Kaelix tidak berkomentar, tidak juga menolak. Ia membungkuk, lalu mengangkat tubuh kecil itu ke dalam gendongannya. “Pegangan yang kuat.” “Iya, Om.” Sherly langsung melingkarkan kedua lengannya di leher Kaelix dengan wajah ceria. Sementara tangan mungilnya sibuk memainkan dasi pria itu. “Om ganteng,” celetuk Sherly, tatapan polos itu terus mengamati wajah tampan di hadapannya. Kaelix menoleh, sudut bibirnya terangkat tipis. “Terima kasih.” “Tapi Papa dulu juga ganteng.” Senyum di bibir Sasqia perlahan memudar. Ia khawatir ucapan polos bocah itu membuat suasana menjadi canggung. Namun Kaelix sama sekali tidak berubah ekspresi. “Setia

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 271

    Raka baru saja tiba di depan sekolah TK putrinya. Sekolah itu jauh berbeda dari yang pernah ia bayangkan. Bangunannya megah, halaman bermainnya luas, dan deretan mobil mewah memenuhi area penjemputan. Ia berdiri beberapa meter dari gerbang, kedua matanya tak lepas mengamati anak-anak yang mulai berhamburan keluar kelas. Entah apa yang ia harapkan dengan datang ke sana. Mungkin hanya ingin melihat putrinya tumbuh, meski dari kejauhan. Atau mungkin, masih ada harapan kecil untuk memperbaiki semua yang telah ia hancurkan. “Itu Sherly ....” gumamnya pelan saat melihat gadis kecil berpita merah keluar sambil menggenggam tas mungilnya. Senyum tipis langsung terukir di bibir Raka. “Sher—“ Belum sempat namanya terucap sempurna, Sherly tiba-tiba berlari kecil melewati dirinya. Raka mengernyit. Tatapannya mengikuti arah lari putrinya hingga berhenti pada sebuah sedan hitam mewah yang baru saja terparkir di depan gerbang sekolah. Pintu belakang terbuka. Seorang pria bertubuh tinggi turu

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 270

    Jevier berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Kedua tangannya masuk ke saku jas dokter, sementara tatapannya lurus ke arah gedung lain di seberang rumah sakit. Sudah beberapa hari ini ia tak lagi menerima jadwal kontrol Mahendra. Padahal sebelumnya, pria itu selalu menjadi pasien tetapnya. “Kak Kael ...,” gumamnya pelan. Sudut bibirnya terangkat tipis, tetapi tanpa senyum. “Jadi benar, kamu sengaja memindahkan Pak Mahendra ke dokter lain.” Ia menghembuskan napas panjang. Alasannya memang masuk akal. Mahendra berhak memilih dokter mana pun. Namun entah mengapa, Jevier merasa keputusan itu bukan datang dari sang pasien. “Padahal selama ini lewat Pak Mahendra aku masih bisa sesekali bertemu Sasqia.” Kini kesempatan itu benar-benar hilang. Jevier menyandarkan bahunya pada kaca jendela, tatapannya menerawang jauh. “Kamu benar-benar sedang menutup semua jalan untukku, ya, Kak?” Ia terkekeh pelan, tetapi tawa itu terdengar hambar. “Takut aku mengganggu rumah tangga kalian?” _____

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 269

    “Ada keperluan apa Ibu datang ke sini?” tanya Kaelix seraya berjalan menuju sofa, lalu duduk dengan tenang. Miriam menghembuskan napas pelan sebelum ikut menghampiri. Ia mengambil tempat di samping putra sulungnya. “Ibu datang karena merindukan kamu.” Nada suaranya terdengar lembut. Tangannya perlahan menggenggam tangan Kaelix, seolah takut putranya akan menjauh. “Ibu kadang masih sulit percaya kalau anak pertama Ibu sudah sebesar ini.” Senyumnya mengembang tipis. “Rasanya baru kemarin Ibu mengandung kamu, melahirkan kamu, menggendong kamu ke mana-mana.” Kaelix hanya memandang ibunya tanpa banyak bicara. Miriam kemudian mengangkat sebelah tangannya, mengusap pelan rahang tegas putranya dengan penuh kasih. “Kamu tetap anak kecil Ibu ... meski sekarang sudah menjadi suami orang.” Kaelix menghembuskan napas pelan. Perlahan ia menurunkan tangan sang ibu dari pipinya. Namun alih-alih melepaskannya, pria itu justru menggenggam tangan tersebut dengan kedua tangannya. Tanpa ragu, Kae

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 268

    Sasqia baru saja menuangkan jamu ke dalam gelas. Aroma rempah memenuhi dapur. Ia mengernyit pelan sebelum akhirnya meneguk sedikit demi sedikit meski rasa pahit langsung memenuhi lidahnya. “Uh ...,” raut wajahnya berubah menjadi menahan pahit dari jamu tersebut. “Demi Mas Kael,” gumamnya sambil tersenyum kecil. Baru saja ia meletakkan gelas kosong itu di atas meja, suara langkah kaki terdengar dari arah ruang tengah. “Sasqia.” Wanita itu spontan menoleh. “Ibu ....” Miriam berjalan mendekat. Tatapannya jatuh pada botol jamu yang masih berada di atas meja. Keningnya langsung berkerut. “Itu apa?” Sasqia mengikuti arah pandang sang ibu mertua. “J-jamu, Bu.” “Jamu?” Miriam mengambil botol itu tanpa meminta izin. Dibacanya sekilas tulisan kecil yang menempel pada botol kaca tersebut. “Untuk apa?” Sasqia terdiam. Tatapannya perlahan menunduk, jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Miriam mengangkat wajahnya. “Jangan bilang ...,” sorot matanya berubah tajam. “kamu sedang berniat un

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 267

    Taksi yang membawa Shiren kembali ke perusahaan usai jam makan siang akhirnya berhenti tepat di depan gedung EBA. Shiren membayar ongkos, lalu turun sambil merapikan blazer dan name tag barunya. Belum sempat melangkah menuju pintu lobi, langkahnya terhenti. Seorang pria berdiri beberapa meter di depannya. “Kamu?” desis Shiren, wajahnya seketika mengeras. Raka tersenyum tipis. Sudah hampir setahun mereka bercerai, tetapi wanita itu masih terlihat sama cantiknya. Bahkan kini tampak jauh lebih percaya diri. “Apa kabar, Ren?” sapanya pelan. “Cantik banget sekarang.” Shiren terkekeh sinis. “Gak usah sok akrab.” Raka mengembuskan napas panjang, lalu melangkah mendekat. “Aku cuma mau ketemu.” “Ngapain?” “Aku ... kangen.” “Kangen?” Shiren mengangkat sebelah alisnya. “Dulu waktu masih jadi suami, ke mana rasa kangen itu?” Raka terdiam. “Aku minta maaf, Ren.” “Gak perlu.” Shiren menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Langsung aja. Ada perlu apa?” Pandangan Raka turun pada ser

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 39

    Sejenak, Jevier hanya mampu menatap Mahendra tanpa suara. Dadanya bergetar halus, detak jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan datang secepat ini. Dan yang lebih mengejutkan, ia tak benar-benar ingin mengelak.

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 36

    Sasqia masih menatap layar ponselnya beberapa detik setelah panggilan itu berakhir. Nama Tristan perlahan menghilang dari layar, namun suaranya seolah masih tertinggal di telinganya. Ia menghela napas pelan, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. “Telepon da

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 27

    “Tuan, kita sudah sampai.” Suara sopir membangunkan Tristan yang duduk di kursi belakang. Ia baru saja tiba di vila tempat kakeknya beristirahat. Sejak mendarat di bandara, ia langsung menuju ke sini—bahkan sempat terlelap sebentar di perjalanan. Ia membuka mata perlahan, lalu keluar dari mobi

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 30

    “Apa yang mereka lakukan di dalam?” Kaelix bergumam lirih sambil menatap langit malam yang bertabur bintang. Ia duduk seorang diri di bangku taman vila, diterangi cahaya lampu kekuningan yang temaram. Di antara jemarinya, sebatang rokok menyala redup. Bara merah di ujungnya berkedip setiap kali i

    last updateLast Updated : 2026-03-21
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status