เข้าสู่ระบบ"Cih, dia benar benar merepotkan!" decak Xander sambil melirik sekilas ke arah tubuh Sienna yang terbaring lemah di sebelah jok kemudinya.
Mobilnya baru saja sampai di dalam basement apartemen mewahnya. Xander memutuskan tak pulang ke mensionnya, dia malah membawa Sienna ke sini. Entah apa yang Xander pikirkan. Dia memang sedang malas pulang ke mension karna kedatangan Sherly hari ini. Xander belum siap melihat kemesraan kakaknya dengan wanita yang sangat dicintainya itu. Akhirnya ia malah memilih pulang ke apartemennya sendiri.
Apartemen mewah ini jarang ia tempati. Hanya sesekali saja Xander tinggal disini ketika ia sedang penat atau sedang ada masalah dengan keluarganya. Tempat inilah yang akan jadi pelariannya.
Xander keluar dari mobil, berjalan memutar ke sisi lain. Dia membuka pintu mobil untuk mengeluarkan Sienna dari sana. Xander menggendongnya tubuh yang sudah tak berdaya itu masuk ke dalam lift.
"Sial, kenapa aku melakukan ini? Harusnya ku biarkan saja dia pingsan di kelab tadi." Laki laki itu menyesali perbuatannya menjadi pahlawan kesiangan. Kini dia harus kerepotan mengurus wanita ini di apartemennya.
Setelah meletakkan tubuh Sienna di ranjangnya. Xander berdiri merenggangkan sendi sendinya yang kaku. Sebelum memutuskan membersihkan dirinya di kamar mandi. Xander menelepon dokter pribadinya untuk datang ke mension ini.
"Ya, Smith. Datanglah kemari. Seperti biasa, aku butuh bantuanmu."
Setelah sambungan terputus. Laki laki itu pun pergi ke kamar mandi.
Xander tak bisa menikmati ritual berendam air hangatnya kali ini karna suara bel apartemen tiba tiba mengganggu.indera pendengarannya. Xander sudah tahu siapa yang datang.
Setelah mengenakan celana pendek dan tubuh atas yang dibiarkan terbuka. Xander keluar kamar dengan langkah gagah. Dia membuka pintu dan menemukan Smith sahabatnya sudah berdiri tegap di luar.
"Masuklah. Bukankah kau sudah tahu sandi apartemenku, kenapa masih bertingkah seperti orang lain, kenapa tidak langsung masuk saja!" Xander menggerutu sambil membawa laki laki itu ikut ke kamarnya untuk mengecek kondisi Sienna.
Tawa renyah terdengar keluar dari bibir Smith. "Meskipun sahabat, kau butuh privasi dude, aku tidak akan masuk sembarangan. Bagaimana kalau kau sedang itu..."
"Dasar konyol, kalau aku sedang melakukannya. Aku tidak akan meneleponmu untuk segera kemari!"
Lagi lagi Smith tertawa. Ya, dia suka sekali menggoda Xander yang kesabarannya memang sangat tipis setipis tisu dibagi tujuh.
"Dia terluka, tolong periksa keadaannya," pinta Xander sambil menunjuk Sienna dengan dagunya.
Smith yang baru mendekat ke arah ranjang sedikit syok mendapati pemandangan di depannya.
"Kau melukainya Xander?"
"No! That's impossible! Bukan aku. Dan aku tidak punya kepentingan untuk melukainya."
Ya, kecuali kejadian pada malam itu.
"Oke oke, ceritakan padaku apa yang terjadi."
Xander akhirnya menceritakan semuanya pada Smith. Laki laki itu mulai terlihat telaten memeriksa kondisi Sienna sambil mendengarkan Xander yang masih berbicara.
"Kasihan sekali gadis ini. Dia terluka tapi untunglah bukan luka yang serius."
"Apa perlu membawanya ke rumah sakit?"
"Tidak perlu Xander, tapi omong omong aku menemukan banyak tanda emhh.." Smith sepertinya ragu melanjutkan kalimatnya.
Xander masih menatap Smith lurus sambil mengerutkan alisnya.
"Tanda apa?"
"Tanda merah di sekujur tubuhnya. Terutama bagian dada. Terlihat banyak kiss mark disana. Apa kau benar benar datang tepat waktu untuk menyelamatkannya? Sepertinya tanda merah bukan sesuatu yang baik, aku khawatir kalau pria yang menyerangnya itu telah..."
"Tanda itu aku yang telah memberikannya," potong Xander, membuat Smith langsung membeku dengan wajah syok.
"Kemarin malam aku pulang dalam keadaan tidak sadar, dan aku telah melakukan kesalahan padanya."
"Apa? Itu bukan kabar baik Xander!" Smith menutup mulutnya sendiri saking terkejutnya.
"Apa kau menggunakan pengaman saat melakukannya?" Smith beralih menatap tubuh Sienna yang masih tak sadarkan diri.
"Tidak, aku bahkan yakin aku telah mengeluarkan banyak saat itu." Xander ikut menatap ke arah Sienna.
"Ouh, shit! Kau dalam masalah besar kalau begitu," ujar Smith.
Xander malah berjalan ke arah walk in closet miliknya dengan wajah tenang. Tak lama ia keluar dengan stelan kemeja hitam yang terlihat sangat cocok ditubuhnya.
"Aku akan mengurusnya. Akan ku pastikan dia tidak akan sampai hamil. Dia bukan masalah besar bagiku." Xander sudah memikirkan rencana untuk membereskan kesalahan yang dibuatnya pada malam itu bersama Sienna. Dia akan mengajak Sienna menemui Dokter kandungan setelah wanita itu sadar nanti.
"Xander, kamu akan menekan seorang wanita dengan kekuasanmu?"
"Mau bagaimana lagi, dia tidak boleh menjadi kerikil dalam hidupku. Dia hanya seorang maid rendahan, sama seperti perempuan lain dalam hidupku, tidak ada artinya sama sekali. Lagi pula kau tahu bukan selama ini perasaanku hanya tertuju untuk siapa?"
Smith mengusap wajahnya sendiri. Dia tak menyangka Xander masih saja terjebak pada perasaannya yang tak pernah berbalas pada sahabatnya Sherly.
"Ayolah Xander. Sherly sudah memiliki Jack. Dia dan kakakmu saling mencintai." Smith berusaha membuat mata Xander terbuka. Cintanya pada wanita bernama Sherly itu dirasa Smith sudah tidak masuk di akal. Sudah bertahun tahun Xander menyimpan perasaanya itu sendirian. Dan Smith tidak mengerti kenapa Xander tidak pernah lelah mencintai sendirian.
"Aku tahu, makanya aku hanya akan mencintai Sherly-ku diam diam. Tidak ada yang akan mengetahui perasaan ini. Aku tidak akan mengganggu hubungan kakak ku, Smith. Aku juga sangat menyayangi kakaku Jack!"
Smith menggeleng gelengkan kepala. Merasa bingung dengan cara berpikir Xander. Xander dangat tampan dan juga dia sudah sangat mapan secara finansial. Jika ingin mendapatkan pasangan, Xander tinggal menunjuk saja ke arah gadis gadis yang selama ini sering mengejar ngejarnya.
"Baiklah terserah kau saja. Aku sudah mengobati luka di wajahnya. Jika dia sudah bangun, lebih baik kau ajak dia makan. Tubuhnya lemas. Dia butuh asupan makan untuk memulihkan tenaganya."
"Hem, kau akan pergi sekarang?" tanya Xander sambil memperhatikan Smith yang tengah membereskan kembali peralatan medis ke tas kerjanya.
"Ya, aku ada jadwal praktek hari ini."
"Baiklah, aku akan mengantarmu ke depan pintu."
**
Sienna bangun dengan kepala yang terasa berputar putar. Dia mengendarkan pandangannya dan terkejut saat menyadari ruangan yang sedang ia tempati saat ini terasa begitu asing.
"Dimana ini?" Sienna langsung duduk meski tubuhnya masih sangat lemah.
"Kau sudah bangun?"
"Tuan..." Sienna terperangah saat melihat Xander tiba tiba masuk dengan wajah dingin. Dia membawa nampan berisi makanan di tangannya.
Pria itu mendekat membawa langkahnya ke sisi ranjang. "Makan ini, aku memesan makanan di luar. Setelah itu minum obatmu!"
Tanpa basa basi apalagi suara yang lembut. Xander meletakan nampan itu ke atas pangkuan Sienna.
"Kenapa aku bisa disini?"
"Cerewet! Lebih baik makan dulu. Dasar merepotkan!"
Sienna langsung mengatupkan bibir menahan jengkel. Dia hanya bertanya, kenapa harus menjawab seketus itu.
Sambil menyuap bubur ke dalam mulutnya, Sienna mencoba mengingat ingat kejadian yang terjadi padanya hari ini. Wajah Sienna menegang dan matanya melebar seketika. Akhirnya di berhasil mengingat kejadian mengerikan itu.
"Tuan yang menyelamatkanku?" tanya Sienna memastikan ingatannya tidak salah. Sebelum pingsan, Sienna masih sempat melihat apa yang dilakukan Xander pada laki laki yang membawanya ke toilet.
Sienna bergidig ngeri menatap ke arah Xander. Ternyata laki laki ini bisa jadi sangat berbahaya.
"Kamu pikir siapa lagi yang bisa menyelamatkanmu?" Xander duduk menyilangkan sayu kakinya ke atas paha, sementara satu tangannya ia rentangkan di bahu sofa. Dengan wajah yang masih terlihat dingin, Xander menyesap rokok, lalu tak lama mengeluarkan kepulan awan putih dari bibirnya.
"Apa yang terjadi pada laki laki itu? Apa dia selamat?"
"Dia hanya kritis!" Xander menjawab tanpa embel embel kelihatan bersalah. Meski Sienna tahu laki laki yang menyerangnya itu sudah melakukan kesalahan besar. Tapi sikap Xander juga tak bisa dibenarkan.
Tak ada lagi perbincangan di antara mereka setelahnya. Xander sibuk dengan rokoknya sementara Sienna sendiri sibuk dengan kegelisahannya berada di tempat ini.
"Aku ingin pulang ke rumah keluarga Lauther, nona Cathy pasti mencariku," ucap Sienna akhirnya.
Xander menekan ujung asbak dan meletakan puntung rokok yang sudah pendek ke atasnya.
"Kita akan pulang ke sana, tapi sebelum itu kau harus ikut denganku ke suatu tempat." Xander berdiri lalu menghampiri Sienna.
Tatapan tajam Sienna memaksa wanita itu menundukan kepalanya karna takut.
"Kemana?" Lirih Sienna tak berani bertatapan lagi dengan laki laki itu.
"Dokter kandungan."
"Cerai?" Mendengar jawaban Sienna yang di luar prediksi, membuat Xander sempat terbelalak, lalu detik berikutnya kemarahan pekat mulai menyelimuti wajah tampannya. "Ya, cerai saja. Jangan membuang waktu terlalu lama. Jika tuan gagal melupakan wanita itu, lebih baik nanti kita akhiri saja pernikahan ini,” tukas wanita di hadapannya tak kalah sengit. Sienna sendiri tak tahu dari mana datangnya keberanian ini. Tapi yang jelas ia tidak ingin hidup selamanya dengan laki-laki yang bahkan masih menyimpan nama perempuan lain dalam hatinya. ”Jaga ucapanmu nyonya Lauther," desis Xander. Tatapan mengerikan laki-laki itu mengikat Sienna tanpa kelembutan. "Jangan pernah sekalipun berpikir bisa bercerai denganku!" Entah kenapa emosi Xander begitu tersulut mendengar kata 'perceraian' meluncur bebas dari bibir wanita yang saat ini tengah menatapnya sendu. Membayangkan Sienna meminta cerai, Xander sendiri tidak tahu, mendadak ada bagian hatinya yang tidak rela. "Kenapa?" Sienna bangkit sambi
”Tuan.." Sienna akhirnya protes ketika hujaman keras yang diberikan suaminya di belakang sana seakan ingin menghancurkan miliknya. Sudah hampir setengah jam berlalu, dan Xander masih belum mau berhenti. ”Heum.” Namun protesnya justru hanya disambut deheman berat. Xander mengumpulkan rambut Sienna, menariknya dalam satu genggaman tangan yang kuat. Ia pun membungkuk, lalu membubuhkan ciuman-ciuman panas di sekitar leher wanita itu. Sienna hanya bisa melenguh tak karuan, tangannya berniat mendorong tubuh Xander di belakang, tapi dengan cepat laki-laki itu menahan pergerakan Sienna. "Aku belum selesai," ucapnya sambil mencengkeram dagu Sienna agar menoleh ke arahnya. "Tap___" Protes Sienna kembali disumpal dengan pagutan yang jauh lebih panas. "Kita teruskan di sofa," bisiknya, lalu Xander akhirnya melepaskan miliknya, tapi bukan untuk membiarkan Sienna pergi, melainkan ia mengangkat tubuh wanita itu yang sudah sangat kacau, menelentangkannya pasrah di atas sofa panjang d
Malu, itulah satu perasaan yang melingkupi Sienna keesokan paginya. Setelah ingat apa yang telah terjadi padanya semalam, wajah wanita itu langsung berubah, merah seperti tomat yang baru diangkat dari dalam panci rebus. "Ya Tuhan Sienna.., apa yang telah kau perbuat semalam, bodoh!" rutuknya sambil memukul pelan kepalanya sendiri, menyalahkan kenekatannya yang teramat fatal. Sienna melihat sekelilingnya, ruangan besar yang semalam menjadi saksi pergumulan panasnya dengan Xander itu sudah mirip kapal pecah, bajunya dan milik lak-laki itu berserakan dimana-mana dan ranjang tempat ia tidur bahkan sudah tidak berbentuk. Sienna ingat dalam kesadarannya yang timbul-tenggelam, ia sudah berbuat sangat berani. Telapak tangannya pun di angkat, terkejut bahwa semalam ia sudah jadi gadis yang sangat liar. Tangan ini.. astaga.. ia tak menyangka apa yang sudah dilakukan oleh tangan ini semalam, memegang area terlarang suaminya. Sienna bahkan masih ingat betul betapa kerasnya benda itu ketika be
"Apa yang kau inginkan?" tanya wanita yang sekarang telah mabuk berat namun ia masih berusaha menahan dada laki-laki yang saat ini tengah menatapnya lapar. "Jangan belaga Sienna, bukankah ini tujuanmu datang menemuiku disini?" Xander menyeringai, senang melihat wajah ketakutan istrinya. Perempuan yang sedang ditindihnya pun menggeleng, bergerak resah, berusaha mendorong tubuhnya tapi gagal, sia sia saja Sienna melawan, tenaga laki-laki itu jelas bukan tandingannya. Xander mendekatkan kepalanya, ia memejamkan mata, hidungnya menarik nafas panjang saat mencium wangi sampo beraroma mawar yang manis dari rambut wanita itu. "Wangimu sangat lezat Sienna," bisiknya serak, kemudian mulai membubuhkan kecupan ringan di telinga lalu merambat turun pada sepanjang batang leher Sienna yang mulus. Lidahnya menjulur, mengecap, kemudian memberikan ciuman keras hingga meninggalkan tanda merah di permukaan kulit wanita itu. "Engh.." Perempuan itu semakin menggeliat, sentuhan Xander membuat tubu
Butuh waktu sekitar tiga puluh menit, Mobil yang ditumpangi Sienna pun akhirnya sampai di tempat tujuan. "Kita sudah sampai nona, itu mobil tuan Xander. Dugaanku benar, dia memang ada disini." Pierre menunjuk mobil milik tuannya yang terparkir di depan halaman sebuah bangunan rumah megah yang saat ini ada di hadapannya. Sienna ikut menatap ke arah yang sama, ia menarik nafas panjang, berusaha mengumpulkan semua keberanian dalam dirinya. Entah apa yang akan terjadi ke depan, dia hanya ingin memastikan suaminya baik-baik saja. "Aku akan masuk sendiri ke rumah itu, kau kembali lah ke mension, ini sudah larut dan terima kasih sudah mengantarku." "Aku akan menunggu disini nona," imbuh Pierre. Merasa berat harus meninggalkan Sienna sendirian. "Tidak perlu Pierre, aku mungkin akan pulang dengan tuan Xander." Pierre tampak ragu, tapi akhirnya ia tetap menuruti keinginan perempuan itu. Setelah Sienna turun dan melangkah ke depan teras rumah besar bercat putih, mobil Pierre pun mengh
Makan malam tiba, berbagai hidangan tersaji rapih di atas meja makan persegi panjang yang ada di ruang tengah. "Sienna, soup apa ini? aromanya begitu sedap." Jack yang pertama kali membuka percakapan di antara keluarga Lauther yang lain. Dia melirik antusias ke arah adik iparnya itu yang tengah menuangkan soup ke dalam wadah mangkuk yang berjejer rapih di depannya. Sienna tersenyum riang, tangannya kemudian menyodorkan salah satu mangkuk yang sudah terisi soup ke hadapan Jack. "Soup daging domba, cicipi lah tuan." "Ah, kau masih saja memanggilku tuan, panggil lah aku dengan sebutan kak, sekarang kau adalah adikku juga kan," pinta Jack sembari menerima soup yang Sienna berikan. Dia langsung mengambil satu suap dan memasukkan makanan itu ke dalam mulut. "Ya ampun enak sekali, apa kau yang memasak ini Sienna?" Xander yang sejak tadi diam, akhirnya melirik ke arah istrinya, begitu mangkuk berisi soup diberikan, aroma rempah dan daging yang menggugah selera memang langsung membangkitka
Xander menendang udara dengan kakinya. Dadanya saat ini bergemuruh hebat menahan luapan emosi yang siap meledak ke permukaan. "Sial!" desisnya sambil berlalu meninggalkan kamar kakaknya Jack. Hatinya tak suka melihat kemesraan Sherly dan kakaknya tadi. Tapi Xander bisa apa? Dia tak punya wewenang
Sienna masih mengumpat meski mobil Xander telah menghilang dari pandangannya. Dia menatap sekeliling dengan wajah bingung."Bagaimana ini?" gumamnya sambil mengusap pipi basahnya. Kepanikan mulai melanda saat Sienna sadar kini ia tengah berada di tempat asing yang sama sekali tak ia kenal.Sialan p
Melihat Sienna tak akan lagi melalukan perlawanan. Xander mulai menggerakkan diri dengan tidak sabar.Sienna yang belum terbiasa kembali melengkungkan punggungnya ke atas saat dorongan demi dorongan terus diberikan menimbulkan sengatan aneh di tubuh.Tekanan yang pas dan kehangatan yang memeluk mil
Langit malam semakin terasa menakutkan saat kilatan cahaya petir terlihat saling menyambar dari luar jendela. Saat ini, hujan tengah turun dengan sangat deras memeluk salah satu sudut bumi. Sienna baru saja selesai dengan semua pekerjaanya. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja menjadi salah sat







