LOGIN"Bobo!" bisik Violet sedikit panik. "Apa kamu bisa hapus title Living Pheromone itu dari aku?"
Bobo yang melayang di sampingnya mengusap mata yang masih mengantuk. "Tentu saja bisa, hoam..." Violet langsung berseri, senyum lega hampir terukir di wajahnya. Tapi senyum itu pudar seketika saat Bobo melanjutkan perkataannya. "Tidak bisa," jelas Bobo menekankan. "Living Pheromone itu sudah alami dari tubuh kamu. Bukan status yang bisa dihapus. Apalagi di dunia ini, manusia murni sangat dibutuhkan. Jadi ya terima aja." "Haish!" Violet menghela napas panjang, sembari menyibak rambut panjangnya frustasi. "Kamu benar-benar tidak bisa diandalkan!" Tanpa menunggu lebih lama, Violet bangkit dan berlari lagi. Kakinya terasa berat, tapi ia paksakan. Di belakangnya, suara derap kaki semakin keras dan dekat. Violet bisa mendengar napas berat para Beastmen yang mengejar. Dengan napas tersengal, dia mencoba mengingat-ingat lokasi dirinya saat ini. 'Ini hutan tempat Leo disekap, artinya aku ada di Benua Shartia.' Ingatannya sebagai tester game bekerja cepat. Di dunia Beastmen Dominion hanya ada dua benua besar, Shartia dan Nalgath. Dan terdapat satu pulau di tengah benua itu sebagai daerah netral, Pulau Edrin. Hanya dihuni beberapa Beastmen yang suka ketenangan. Violet menggerutu sambil terus berlari. "Kenapa aku harus dijatuhkan ke Benua Shartia? Harusnya kan Pulau Edrin tempat tutorial sesuai di game! Bobo sialan!" Di depannya tiba-tiba muncul sungai deras. Airnya coklat keruh, mengalir cepat dengan suara gemuruh yang menakutkan. Violet menghentikan langkahnya mendadak, terpaku di tepi. Di sekelilingnya, dari balik pepohonan, gerombolan Beastmen mulai muncul satu per satu. Serigala dengan bulu abu-abu, macan tutul dengan loreng hitam dan cakar panjang. Beberapa hyena dengan tawa mengerikan yang membuat bulu kuduk merinding. Mata mereka semua tertuju pada Violet, seperti memangsa yang baru ditemukan. "Wah, manusia murni?" salah satu serigala bersuara, matanya berbinar serakah. "Wanginya... benar-benar berbeda dari Beastmen betina pada umumnya," sambung yang lain, hidungnya bergerak-gerak mencium aroma Violet. Seekor macan tutul melangkah maju, matanya menyipit. "Bagaimana mungkin ada manusia murni di sini?" "Dia pasti anugerah dari Dewa Binatang untuk klan kita!" seru serigala tadi dengan semangat membara. "Hei! Kami yang menemukannya lebih dulu!" protes hyena dari sisi lain, suaranya parau. "Kami yang mencium aromanya pertama kali!" Mereka mulai ribut, saling dorong dan seenaknya mengklaim Violet. Violet hanya bisa terpaku, jantungnya berdebar kencang melihat pertengkaran itu. Kakinya gemetar, ingin lari tapi tak tahu ke mana. 'Haruskah aku lompat?' pikirnya, menatap sungai deras di depannya. 'Tapi aku tidak bisa berenang karena traumaku dulu.' Ingatan masa kecilnya muncul sekilas. Saat di panti asuhan, seorang anak laki-laki lebih besar menenggelamkannya di kolam sampai ia pingsan. Sejak itu ia takut air yang dalam, fobia yang tak pernah bisa ia atasi. Para Beastmen masih ribut. "Aku yang duluan melihatnya!" "Bohong, aku yang mencium aromanya pertama kali!" hyena bersikeras. "Dia akan jadi milik klan serigala!" Violet menarik napas dalam, memejamkan mata. 'Daripada diperebutkan makhluk-makhluk ini... lebih baik ambil risiko.' Tanpa pikir panjang, Violet melompat. "Hei! Dia melompat!" teriak salah satu Beastmen, tapi sudah terlambat. Tubuh Violet jatuh ke air dingin dengan suara memecah. Arus deras langsung menyeretnya, menggulungnya ke bawah seperti mainan. Violet berusaha berenang, tapi panik menguasai dirinya. Kakinya kejang, tangannya meronta tak karuan. Air masuk ke mulut dan hidungnya, membuatnya tersedak. 'Sesak.' Dunia seolah berputar. Violet melihat cahaya di atas, samar-samar, tapi tubuhnya terus ditarik ke bawah. Sampai akhirnya sesuatu meraih lengannya dan menariknya ke atas. Violet terbatuk-batuk hebat begitu kepalanya muncul ke permukaan. Air keluar dari mulut dan hidungnya dalam semburan-semburan kecil. Tubuh Violet menggigil hebat, gemetar bukan hanya karena dingin, tapi karena ketakutan masa kecilnya kembali menghantuinya. "Kamu tidak apa-apa?" ucap seorang pria dari depan. Violet mendongak perlahan. Seorang pria dengan rambut oranye berkilauan seperti api membara menatapnya. Wajahnya tampan, dengan mata ungu pucat. Bibir dan matanya ikut tersenyum ramah, tapi ada sesuatu di baliknya yang membuat Violet waspada. Violet terdiam. Ingatannya bekerja cepat, mengakses ribuan data karakter game yang pernah ia uji. “Kael Veyron.” Pemimpin Klan Rubah, salah satu tokoh paling licik dan manipulatif dalam Game Beastmen Dominion. Kael nantinya akan menjadi seorang penjahat ulung yang terkenal dengan tipu muslihatnya. Kael selalu tersenyum. Tapi di balik senyum itu, ada rencana jahat yang tak terduga. Ia ambisius, cerdas, dan tidak pernah menyerah pada apa yang diinginkannya. 'Sial. Kenapa aku harus bertemu dengannya? Dia orang yang cukup berbahaya. Ini namanya keluar dari kandang singa, masuk kandang rubah.'Pesta masih berlangsung. Tapi Violet memilih untuk pergi lebih dulu dari aula karena lelah. Yang tersisa hanya orang-orang dari empat klan besar yang masih menikmati pesta.Suasana masih cukup kondusif di antara para Beastmen itu.Violet pergi menuju satu ruangan yang pernah ia gunakan untuk berganti pakaian di istana Raja Targos. Namun, ia heran dengan ketiga suaminya tadi yang pergi.'Mereka ke mana, ya? Sampai sekarang belum kembali,' pikirnya penasaran.Di lorong, Violet bertemu salah satu pelayan dan langsung bertanya."Hei, em..." Sejenak, Violet agak ragu mengatakannya. "Apa kamu lihat suamiku?"Pelayan itu membungkuk sopan."Suami-suami Nona Violet sedang di ruang kerja Raja. Ada di lantai dua," jawabnya, lalu menawarkan. "Mau saya antar?"Violet tersenyum tipis dan menggeleng. "Tidak perlu. Aku tahu tempatnya."Pelayan itu berlalu, sambil menunduk untuk yang terakhir kali sebelum pergi.Violet pun melanjutkan langkah, menuju anak tangga di depan sana. Baru mencapai pertengaha
"Tentu saja hari ini. Tidak ada alasan untuk menunda," ucap Raja Targos dengan santai. Ia berdiri lalu memerintah pada para pelayannya. "Ayo, semua persiapkan secepatnya. Kita pergi ke kuil Dewa Binatang!"Violet menepuk jidatnya, frustrasi setengah mati.'Aku benar-benar akan menikah dengan empat Beastmen hari ini juga? Astaga, bagaimana bisa hidupku berubah secepat ini?' batinnya masih tak percaya.Para pelayan dan prajurit Klan Gajah bergerak cepat, mempersiapkan prosesi pernikahan.**Kuil itu megah, dikelilingi pepohonan raksasa dengan bunga-bunga bercahaya. Di dalamnya, patung Dewa Binatang menjulang tinggi dari batu giok putih.Violet berdiri di depan patung itu, gaun putih sederhana bersulam emas membalut tubuhnya. Rambutnya dihiasi mutiara dan bunga-bunga kecil.'Astaga, aku belum pernah menikah,' gumam Violet dalam hati, gugup. 'Kenapa sekalinya menikah malah dengan empat pria sekaligus?'Di hadapannya, empat Beastmen berdiri tegap, rapi dengan pakaian formal. Violet merasa
"Benar, Nona Violet. Dengan menjadi suamimu, mereka bisa leluasa melindungimu dari ancaman." Targos menegaskan.Begitu Targos mengumumkan keputusan itu, aula yang tadinya hening seketika bergemuruh. Para Beastmen dari berbagai klan mulai ribut.Seekor Beastmen Harimau dengan loreng tebal di wajahnya berdiri."Kenapa harus dari empat klan itu saja? Manusia dengan Living Pheromone langka seharusnya milik yang terkuat!"Yang lain ikut berseru setuju. "Benar! Kami juga berhak. Kita harus bertarung mendapatkannya! Hanya satu yang terkuat yang pantas!"Dari kerumunan, Kael yang sejak tadi hanya diam ikut menghasut. Wajah rubahnya tampak menyeringai licik."Mereka pikir mereka siapa? Hanya karena mereka klan besar, mereka bisa seenaknya mengambil manusia murni? Ini tidak adil!"Suasana semakin memanas. Beberapa Beastmen mulai mengeluarkan cakar mereka, siap bertarung.Para pemimpin keempat klan yang terpilih dengan berani menerima tantangan. Namun, sebelum itu terjadi, Targos segera menghent
'Apa aku akan mati?' pikir Violet penuh kepasrahan yang tak rela. Tubuhnya terjun bebas ke bawah.Dari bawah, Leo melompat tinggi. Tangannya yang kekar meraih tubuh Violet tepat sebelum ia menyentuh tanah.Violet memejamkan mata rapat-rapat, tubuhnya gemetar ketakutan. Saat ia membuka mata, di depannya adalah pria pertama yang ia lihat di dunia ini."Bunga, kamu tidak apa-apa?" suara Leo berat namun penuh kecemasan. "Apakah elang itu melukaimu?"Violet terdiam. Bayangan saat Leo menidurinya secara paksa terlintas dalam kepalanya."Lepaskan aku!"Refleks, Violet mendorong Leo. Ia turun secara paksa dari pangkuan Leo, hampir jatuh karena kakinya lemas."Bunga—" Leo hendak meraih Violet, tapi Violet langsung menyela dengan suara lantang."Jangan mendekat!"Leo terdiam, terkejut dengan reaksi Violet. Matanya menangkap sesuatu di lengan Violet—tetesan darah dan anak panah kecil masih menancap di sana.'Itu, panah dari klan Singa,' pikirnya."Bunga, kamu terluka. Sepertinya anak buahku tida
"Kamu pikir aku akan percaya dengan rubah licik sepertimu? Kamu dirancang tak punya empati atau kepedulian pada orang lain, Kael Veyron," gumam Violet dalam hati sambil terus berlari.Ingatan Violet sebagai tester game bekerja cepat. Peta Beastmen Dominion terlintas jelas di benaknya. Sungai yang baru saja ia lewati adalah sungai Mant.'Kalau dari sini, aku bisa keluar dari wilayah Benua Shartia,' pikirnya pantang menyerah.Ada satu tempat yang ingin Violet datangi, yakni Pulau Edrin. Pulau yang tak pernah terjadi kekacauan antar klan dan hanya ada ketenangan. Dan yang paling terkenal dengan sikap netralnya adalah Klan Gajah.Violet bergegas melanjutkan perjalanan, meski tubuhnya sudah lelah. Klan Gajah terkenal dengan sikap netralnya, berbeda dengan klan lain yang selalu berseteru satu sama lain. Tempat yang paling aman untuk bersembunyi, setidaknya untuk sementara.Tiba-tiba, langkah Violet terhenti. Suara auman singa bergema di kejauhan, dalam dan menggetarkan tanah. Violet langsun
"Kamu mengenalku, ya. Kamu berasal dari mana?" celetuk Kael bertanya.Violet tersadar dari lamunannya dan langsung menghindari tatapan licik Kael. Kepalanya sedikit menunduk."Aku, tidak ingat," jawabnya dengan suara pelan.Violet memilih pura-pura bodoh di depan Kael. Ia menggerutu dalam hati."Kamu tidak ingat, tapi kamu tahu namaku?" Kael menyipitkan mata, sedikit curiga. "Padahal aku baru melihatmu di sini. Aneh, kan?"Violet memalingkan wajah, berusaha menghindari tatapan tajam itu. "Entahlah. Aku tidak tahu kenapa bisa di sini. Tapi aku tahu orang-orang terkenal sepertimu.""Oh, ya? Memangnya menurutmu aku siapa?" balas Kael, nada bicaranya ringan, tapi tatapannya terus mengamati setiap reaksi Violet."Pemimpin Klan Rubah."Kael tersenyum lebar, matanya ikut menyipit puas. Ia mengulurkan tangan, berniat membantu Violet bangkit.Tapi Violet menepis pelan. Ia bangkit sendiri, meski tubuhnya masih lemas dan kakinya gemetar hebat."Terima kasih sudah menolongku."Kael hanya tertawa







