Share

Bab 3 — Tubuh Yang Memikat

Author: Onigiri
last update Last Updated: 2026-03-10 10:08:09

"Leo, ini sakit."

Violet merintih di sela-sela gerakan Leo yang semakin cepat. Rasa sakit bercampur sensasi aneh, membuatnya sulit berpikir jernih. 

Leo menciumnya lagi, kali ini lebih lembut dari sebelumnya. "Bunga, aku akan membuatmu merasa lebih baik. Nikmati saja."

Bisikan Leo membuat Violet berdebar tak karuan.

"Aah... Leo..."

Ruangan itu hanya diisi oleh suara desahan, erangan berat Leo, dan gesekan tubuh mereka. Bau khas campuran keringat dan aroma bunga Violet memenuhi udara.

Leo terus bergerak tanpa henti. Kadang cepat, kadang lambat. Tapi selalu dalam dan keras seolah melampiaskan hasrat yang tertahan selama ini.

Beberapa jam berlalu. Violet membuka mata perlahan. Dan yang pertama kali ia lihat adalah seorang pria berambut pirang terlelap di sampingnya.

Pria itu terlihat tampan dengan rahang tegas, alis tebal, dan bulu mata panjang. Tubuhnya kekar, penuh otot, dan ekor singa masih bergerak-gerak kecil dalam tidur. Melihat hal itu, seketika semua ingatan kembali dengan jelas di kepala Violet.

'Astaga. Aku benar-benar melakukan itu?' batinnya masih tak percaya.

Violet langsung berusaha menjauh dari pria itu. Tapi baru bergerak sedikit, tubuhnya langsung terasa sakit di sekujur badan.

"Aw!" Violet meringis. Dengan susah payah, ia duduk dan memanggil dengan suara pelan, berusaha tak membangunkan Leo. "Bobo!"

Seekor koala gendut muncul sambil menguap lebar. Cakarnya mengusap mata yang masih mengantuk. "Hoam... Kenapa? Sudah selesai?"

Violet langsung mencubit pipi gembul koala itu dengan kesal sekuat tenaga. "Bobo! Ini semua gara-gara kamu! Aku tidak pernah melewati batas sampai seperti ini dengan laki-laki."

Bobo melepaskan diri sambil mengusap pipinya yang memerah. Lalu dengan nada sebal ia menjawab.

"Lalu kenapa? Bukankah Jenderal Leo Reign tipe idealmu? Pria tinggi besar, kekar, dan punya burung yang besar pula. Kamu sudah dapat."

Wajah Violet memerah, antara marah dan malu. "Tapi bukan dengan cara seperti ini! Aku mau pulang! Sekarang juga!"

"Tidak bisa," balas Bobo menggeleng pelan. "Kamu sudah terikat dengannya. Lihat pergelangan tanganmu."

Violet menurunkan pandangannya. Di pergelangan tangan kanannya, melingkar sebuah garis emas tipis yang membentuk seperti gelang indah. Ia mencoba menggosoknya, tapi tidak akan hilang.

"Itu tanda kepemilikan yang ditinggalkan Leo untukmu. Tidak akan bisa hilang sampai kamu mati, bodoh," jelas Bobo dengan nada datar. "Begitu saja kamu lupa. Tester macam apa kamu ini?"

"Diam! Kamu tidak pantas mengejekku sekarang," omel Violet kesal mendengar ejekannya. Ia mengusap wajahnya frustasi. "Astaga! Bagaimana sekarang?"

"Ya mau bagaimana lagi. Jalani saja," sahut Bobo dengan santai.

Violet mendelik, lalu mencubit Bobo lagi. "Mudah kamu mengatakannya!"

Tiba-tiba, Leo bergerak di belakangnya. "Bunga..."

Violet tersentak. Jantungnya hampir berhenti. Dengan refleks, ia diam di tempat. Bobo langsung menghilang.

Leo meraih pinggang Violet dan menariknya ke dalam pelukan dari belakang. Tubuhnya yang hangat menempel di punggung Violet. Ia menggesekkan kepalanya di leher Violet sambil menggeram lembut, seperti singa yang puas setelah makan.

Violet membeku. Nafasnya tertahan. Batinnya berdoa, 'Tolong jangan bangun...'

Dan ternyata Leo hanya diam beberapa saat, mengendus-endus leher Violet dengan puas, lalu tertidur lagi. Tangannya tetap melingkar di pinggang Violet, tapi tidak ada gerakan lebih lanjut. Ia hanya ingin Violet ada di dekatnya.

Violet membuka mata sejenak. Dalam hati menghela napas lega. 'Untung saja dia tak benar-benar bangun.'

Setelah memastikan Leo benar-benar tidur, ia dengan hati-hati menjauhkan lengan Leo dari pinggangnya. Gerakannya lambat dan pelan, takut membangunkan singa itu.

Violet meraih kemejanya yang robek. Kain tipis itu sudah tidak berbentuk, tapi setidaknya masih bisa menutupi dadanya yang penuh bekas merah. Roknya pun masih bisa dipakai, meskipun kusut dan robek di beberapa bagian.

Violet bangkit dengan langkah tertatih, menahan rasa sakit. Setiap langkah terasa menyakitkan. Tapi ia memaksakan diri lalu pergi dari penjara itu.

'Aku tidak boleh terjebak di sini,' pikirnya bertekad.

Violet berlari sekencang yang ia bisa. Ia terus berlari melewati pepohonan, melewati semak belukar, sampai jauh dari penjara itu, sampai nafasnya tersengal dan kakinya sempoyongan.

Violet akhirnya bersandar di sebuah pohon besar, menarik nafas sejenak. Keringat membasahi seluruh tubuhnya.

Bobo muncul lagi di depan Violet dengan malas. "Violet, kamu mau ke mana?"

Violet menoleh dengan tatapan datar. Ia masih jengkel namun tetap menjawab. "Tentu saja pergi sejauh mungkin! Aku tidak mau ada di sini!"

"Tidak bisa. Cepat kembali," Bobo memerintahkan.

"Tidak mau!" balas Violet bersikeras.

Bobo menghela napas panjang, sambil menepuk jidat. Bibirnya berdecak kesal. "Ck, merepotkan. Kamu mengganggu waktu tidurku."

"Apa cuma tidur yang kamu pikirkan?" desis Violet. "Aku sedang kesu—"

Violet belum selesai bicara. Dari sekelilingnya, terdengar suara geraman. Mirip geraman Leo sebelumnya, tapi kali ini lebih dari satu.

Violet menatap sekeliling, jantungnya berdebar kencang. Dari balik pepohonan, beberapa pasang mata bersinar muncul. Mata-mata itu milik makhluk-makhluk Beastmen lain yang mengawasi.

Bobo berkata dengan wajah malas, "Lihat? Aroma tubuhmu itu memikat Beastmen lain. Kamu tidak bisa melarikan diri."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dekapan Panas Empat Suami Binatang Perkasa   Bab 10 — Bermuka Dua

    Pesta masih berlangsung. Tapi Violet memilih untuk pergi lebih dulu dari aula karena lelah. Yang tersisa hanya orang-orang dari empat klan besar yang masih menikmati pesta.Suasana masih cukup kondusif di antara para Beastmen itu.Violet pergi menuju satu ruangan yang pernah ia gunakan untuk berganti pakaian di istana Raja Targos. Namun, ia heran dengan ketiga suaminya tadi yang pergi.'Mereka ke mana, ya? Sampai sekarang belum kembali,' pikirnya penasaran.Di lorong, Violet bertemu salah satu pelayan dan langsung bertanya."Hei, em..." Sejenak, Violet agak ragu mengatakannya. "Apa kamu lihat suamiku?"Pelayan itu membungkuk sopan."Suami-suami Nona Violet sedang di ruang kerja Raja. Ada di lantai dua," jawabnya, lalu menawarkan. "Mau saya antar?"Violet tersenyum tipis dan menggeleng. "Tidak perlu. Aku tahu tempatnya."Pelayan itu berlalu, sambil menunduk untuk yang terakhir kali sebelum pergi.Violet pun melanjutkan langkah, menuju anak tangga di depan sana. Baru mencapai pertengaha

  • Dekapan Panas Empat Suami Binatang Perkasa   Bab 9 — Pernikahan Empat Suami Binatang

    "Tentu saja hari ini. Tidak ada alasan untuk menunda," ucap Raja Targos dengan santai. Ia berdiri lalu memerintah pada para pelayannya. "Ayo, semua persiapkan secepatnya. Kita pergi ke kuil Dewa Binatang!"Violet menepuk jidatnya, frustrasi setengah mati.'Aku benar-benar akan menikah dengan empat Beastmen hari ini juga? Astaga, bagaimana bisa hidupku berubah secepat ini?' batinnya masih tak percaya.Para pelayan dan prajurit Klan Gajah bergerak cepat, mempersiapkan prosesi pernikahan.**Kuil itu megah, dikelilingi pepohonan raksasa dengan bunga-bunga bercahaya. Di dalamnya, patung Dewa Binatang menjulang tinggi dari batu giok putih.Violet berdiri di depan patung itu, gaun putih sederhana bersulam emas membalut tubuhnya. Rambutnya dihiasi mutiara dan bunga-bunga kecil.'Astaga, aku belum pernah menikah,' gumam Violet dalam hati, gugup. 'Kenapa sekalinya menikah malah dengan empat pria sekaligus?'Di hadapannya, empat Beastmen berdiri tegap, rapi dengan pakaian formal. Violet merasa

  • Dekapan Panas Empat Suami Binatang Perkasa   Bab 8 — Pernikahan Atau Perang

    "Benar, Nona Violet. Dengan menjadi suamimu, mereka bisa leluasa melindungimu dari ancaman." Targos menegaskan.Begitu Targos mengumumkan keputusan itu, aula yang tadinya hening seketika bergemuruh. Para Beastmen dari berbagai klan mulai ribut.Seekor Beastmen Harimau dengan loreng tebal di wajahnya berdiri."Kenapa harus dari empat klan itu saja? Manusia dengan Living Pheromone langka seharusnya milik yang terkuat!"Yang lain ikut berseru setuju. "Benar! Kami juga berhak. Kita harus bertarung mendapatkannya! Hanya satu yang terkuat yang pantas!"Dari kerumunan, Kael yang sejak tadi hanya diam ikut menghasut. Wajah rubahnya tampak menyeringai licik."Mereka pikir mereka siapa? Hanya karena mereka klan besar, mereka bisa seenaknya mengambil manusia murni? Ini tidak adil!"Suasana semakin memanas. Beberapa Beastmen mulai mengeluarkan cakar mereka, siap bertarung.Para pemimpin keempat klan yang terpilih dengan berani menerima tantangan. Namun, sebelum itu terjadi, Targos segera menghent

  • Dekapan Panas Empat Suami Binatang Perkasa   Bab 7 — Empat Suami

    'Apa aku akan mati?' pikir Violet penuh kepasrahan yang tak rela. Tubuhnya terjun bebas ke bawah.Dari bawah, Leo melompat tinggi. Tangannya yang kekar meraih tubuh Violet tepat sebelum ia menyentuh tanah.Violet memejamkan mata rapat-rapat, tubuhnya gemetar ketakutan. Saat ia membuka mata, di depannya adalah pria pertama yang ia lihat di dunia ini."Bunga, kamu tidak apa-apa?" suara Leo berat namun penuh kecemasan. "Apakah elang itu melukaimu?"Violet terdiam. Bayangan saat Leo menidurinya secara paksa terlintas dalam kepalanya."Lepaskan aku!"Refleks, Violet mendorong Leo. Ia turun secara paksa dari pangkuan Leo, hampir jatuh karena kakinya lemas."Bunga—" Leo hendak meraih Violet, tapi Violet langsung menyela dengan suara lantang."Jangan mendekat!"Leo terdiam, terkejut dengan reaksi Violet. Matanya menangkap sesuatu di lengan Violet—tetesan darah dan anak panah kecil masih menancap di sana.'Itu, panah dari klan Singa,' pikirnya."Bunga, kamu terluka. Sepertinya anak buahku tida

  • Dekapan Panas Empat Suami Binatang Perkasa   Bab 6 — Diperebutkan

    "Kamu pikir aku akan percaya dengan rubah licik sepertimu? Kamu dirancang tak punya empati atau kepedulian pada orang lain, Kael Veyron," gumam Violet dalam hati sambil terus berlari.Ingatan Violet sebagai tester game bekerja cepat. Peta Beastmen Dominion terlintas jelas di benaknya. Sungai yang baru saja ia lewati adalah sungai Mant.'Kalau dari sini, aku bisa keluar dari wilayah Benua Shartia,' pikirnya pantang menyerah.Ada satu tempat yang ingin Violet datangi, yakni Pulau Edrin. Pulau yang tak pernah terjadi kekacauan antar klan dan hanya ada ketenangan. Dan yang paling terkenal dengan sikap netralnya adalah Klan Gajah.Violet bergegas melanjutkan perjalanan, meski tubuhnya sudah lelah. Klan Gajah terkenal dengan sikap netralnya, berbeda dengan klan lain yang selalu berseteru satu sama lain. Tempat yang paling aman untuk bersembunyi, setidaknya untuk sementara.Tiba-tiba, langkah Violet terhenti. Suara auman singa bergema di kejauhan, dalam dan menggetarkan tanah. Violet langsun

  • Dekapan Panas Empat Suami Binatang Perkasa   Bab 5 — Tipu Muslihat

    "Kamu mengenalku, ya. Kamu berasal dari mana?" celetuk Kael bertanya.Violet tersadar dari lamunannya dan langsung menghindari tatapan licik Kael. Kepalanya sedikit menunduk."Aku, tidak ingat," jawabnya dengan suara pelan.Violet memilih pura-pura bodoh di depan Kael. Ia menggerutu dalam hati."Kamu tidak ingat, tapi kamu tahu namaku?" Kael menyipitkan mata, sedikit curiga. "Padahal aku baru melihatmu di sini. Aneh, kan?"Violet memalingkan wajah, berusaha menghindari tatapan tajam itu. "Entahlah. Aku tidak tahu kenapa bisa di sini. Tapi aku tahu orang-orang terkenal sepertimu.""Oh, ya? Memangnya menurutmu aku siapa?" balas Kael, nada bicaranya ringan, tapi tatapannya terus mengamati setiap reaksi Violet."Pemimpin Klan Rubah."Kael tersenyum lebar, matanya ikut menyipit puas. Ia mengulurkan tangan, berniat membantu Violet bangkit.Tapi Violet menepis pelan. Ia bangkit sendiri, meski tubuhnya masih lemas dan kakinya gemetar hebat."Terima kasih sudah menolongku."Kael hanya tertawa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status