Home / Romansa / Dekapan Panas Kakak Ipar / Bab 133. Pertemuan

Share

Bab 133. Pertemuan

Author: Dayatsa
last update publish date: 2026-08-30 18:58:55

Alena menjeda suaranya sejenak. Hal itu semakin membuat rasa penasaran Mama Lusy membuncah. Ia sudah menatap putrinya serius, bahkan sampai menimpuk lengan Alena saking gemasnya.

"Dia siapa, Alena?"

"Begini saja deh, Mama cepetan ganti baju, nanti Alena ajak ke suatu tempat, supaya Mama tahu apa yang Alena maksud." Alena bangkit begitu saja, lalu beranjak naik ke lantai dua meninggalkan sang Mama dengan segala pertanyaan yang bersarang.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 301. Permintaan Tante Renata

    Belum sampai Alena membalas pesan suaminya, tiba-tiba ada panggilan telfon masuk. Alena spontan menegakan duduknya dan mengubah ekspresi wajahnya. Dari sorot manik kecoklatannya berubah lebih tegang dengan tatapan lurus ke depan. Nyonya Renata membuka suara rendah. Bergetar. Membuat lamunan Alena seketika buyar kemana-mana. "Hallo, Alena, ini Tante Rena.""Hallo, Tante, ada apa ya?" Alena masih mencoba tenang. "Alena... Apa kita bisa bertemu sekarang. Ada yang ingin Tante bicarakan. Tante harap kita bisa bertemu, karena ini sangat penting," ungkap Tante Renata kembali. Ada sebuah harapan besar dibalik setiap kalimatnya. Nyonya Renata hanya berharap, semoga dengan kedatangan Alena, putranya akan kembali tersadar. "Bisa, Tante. Kebetulan Alena juga nggak lagi ngapa-ngapain.""Ya sudah, Tante tunggu di cafe Permata. Terimakasih ya, sayang."Alena kembali menutup gawainya. Ia masih bergeming diatas sofa, memikirkan apa y

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 300. Malam yang hampa

    Di lain tempat, meskipun waktu sudah menunjuk hampir pukul 00.00 malam, tapi dibalik ruangan luas dengan sorot lampu temaram itu, Alena sejak tadi belum mampu memejamkan mata. Ia tidur memunggungi suaminya, masih menyisakan rasa kecewa setelah bentakan beberapa jam lalu. Alena merubah posisi tidurnya. Perutnya yang sedikit membuncit memang sedikit membuatnya agak kesusahan berpaling. Alena menatap Aston sekilas, suaminya sudah terlelap, ada dengkuran halus dari napasnya. Alena kembali menegakan wajahnya. Ia tatap langit-langit plafon yang menyisakan rasa kecewa bercampur kegelisahan."Selangkah saja kamu pergi, maka peluru ini akan menembus jantungku, Alena!"DOR!!!Alena kembali memejamkan mata. Suara tembakan itu masih terus mengulang dalam ingatannya. Entah sejauh mana peluru itu menghancurkan hidup Leon. Mungkinkah saat ini pria itu tengah sekarat melawat sakitnya?Perasaan Alena benar-benar kacau. Ia masih belum dapat menemukan jawaban yang s

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 299. Koma

    KrietttPintu lebar operasi baru saja terbuka, serta tombol merah sudah berganti hijau yang artinya operasi sudah berakhir. Seorang Dokter baru saja melepaskan sarung tangan latek, menurunkan masker dan mengedarkan tatap mencari keluarga pasien. Tuan Haris dengan sigap bangkit lalu berjalan mendekat di susul derap langkah gontai Nyonya Renata dengan sisa isakan mirisnya. Wajah kedua pasangan itu sudah menyembulkan sembirut ketegangan, jantung berdesir pelan, serta tatapan kosong yang mengharap sisa keajaiban. "Anda dengan kedua orang tuan saudara Leonard Wildson?" Dokter bedah membuka suara. Tatapan lelah bercampur tegang antara tuntutan profesi dan rasa tanggung jawab, Dokter pria itu menghela napas berat sebelum membuka suara. "Operasinya... Lancar. tapi...."Ada jedaan beberapa detik, membuat Tuan Haris maupun Nyonya Renata sudah menahan napas. "Saudara Leon masih belum tersadar. Karena peluru tadi merobek struktur jantungnya, dan kemungkinan

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 298. Ketegangan di ruang operasi

    Wanita tadi langsung menekuk kedua lututnya sambi menjerit melihat Leon sudah terkapar di atas lantai dengan dada yang bersimbah darah. Sementara Alena menoleh, air matanya sudah menggenang, tapi karena hati Aston sudah mengeras, tangannya terus saja menarik lengan sang Istri untuk di ajaknya segera keluar.Melihat mata Istrinya berkaca-kaca, Aston merasa kesal. Begitu Alena masuk, ia membanting pintu mobil itu, membuat Alena tersentak hingga dadanya berdesir. Aston masih terdiam. Jemarinya saling mengetuk setir mobil. Ia menoleh Alena sekilas, istrinya murung sambil menahan rasa takut. "Kamu menangisi bajingan itu?" suara Aston sedikit naik, emosinya malah ini sulit terkontrol. Ada perasaan cemburu, luka, kecewa, sakit, dan masih banyak derita yang timbul dari Leon pada hidupnya. Aston selalu kuat, tapi melihat Alena menangis setelah tembakan bodoh itu, membuatnya ikut merasa kesal sekaligus cemburu. Alena menoleh. Wajahnya sudah sembab oleh k

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 297. Tembakan putus asa

    Aston maju sambil mendorong bahu Leon dengan tatapan tajam. Urat di lehernya menonjol biru, membuat aliran darah dalam tubuhnya mendidih, merasa tertipu dengan penyerahan diri Leon waktu itu. Padahal Aston sudah menyewa Pengacara guna kelancaran jalan hukum untuk menghadapi Leon nanti. Tapi nyatanya pria itu malah asik bebas dan berkeliaran di antara mereka."Kenapa kamu bisa bebas seperti ini?!" sentak Aston. Alena juga tak kalah syok. Ia sejak tadi mengusap lengan suaminya, melayangkan tatapan kecewa, benci, bahkan muak terhadap kembaran sahabatnya itu. Dan mungkin inilah rencana Leon selanjutnya yang sudah tercium Alena jauh-jauh hari. Tak mungkin Leon menyerahkan dirinya begitu saja jika tidak ada hal licik yang sudah pria itu rencanakan. "Kenapa, Aston? Kamu kaget? Kaget melihat saya dapat menghirup udara yang sama dengan kamu?" bantah santai Leon menggerakan kedua tangannya, menunjukan pada Aston seberapa besar kekuasaannya. Alena bergel

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 296. Hei, itu kursi saya!

    Karena memang di rasa keadaan sudah lebih tenang, dan tidak akan ada gangguan lagi, Aston berencana mengajak sang Istri untuk dinner di luar. Mungkin sudah lama semenjak Alena di nyatakan hamil, baru malam ini Aston mengajak sang istri. Keadaan Alena pun sudah lebih baik, mualnya berkurang, pusingnya pun sudah hilang. Alena sudah rapi dengan dressnya dan make up tipis. Malam ini Alena memakai midi dress, dress simple bewarna merah tua selutut yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Apalagi kehamilannya semakin terlihat, hal itu semakin membuat Alena terlihat manis dalam balutan dress tersebut.Alena hanya menjepit pita sisi rambutnya ke belakang, mengenakan sepatu flat shoes senada dengan dressnya, lalu tak lupa tas lengan bewarna hitam. Alena berputar kecil merasa bahagia. "Sayang... Dimana kemejanya?" bisik Aston dari arah walk in closet. Alena memutar jengah matanya. "Selalu saja seperti itu. Apa perlu aku kasih tulisan segede gaban biar orang tua

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 1. Mas, sentuhlah aku!

    "Mas, aku menginginkan kamu malam ini. Tolong sentuh lah aku," mohon Alena dibalik kabut gairahnya.Mantan Model cantik berusia 25 tahun itu berjalan sensual menghampiri suaminya dengan balutan daster lingerie berbahan linen bewarna putih terawang.Sementara Tama, dokter bedah berusia 28 tahun itu,

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 5. Kak, tapi Alena Ipar Kakak!

    Semenjak kecaman pedas yang Alena terima dari suaminya, semenjak itu pula Tama semakin menunjukan sikap acuh bahkan terkesan tak peduli dengan semua hal yang menyangkut Istrinya. Bukan hanya sehari dua hari Alena mencoba mengetuk pintu hati sang Suami, namun lagi-lagi yang dirinya dapat sebuah penol

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 4. Bagaimana aku bisa hamil?

    Setelah pemeriksaan tadi siang, sesuai edukasi Aston, Alena yang sudah rapi mengenakan dress elegan terkesan seksi, kini mulai bersolek tipis di depan kaca rias, memastikan make-up naturalnya dapat menarik gairah Tama nantinya. Sudut bibir Alena tertarik simpul. Lipstik pink nude itu merekah indah

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 3. USG Transvaginal

    Aston tidak menjawab dengan kalimat panjang. Ia hanya memberikan tatapan tegas yang memberi isyarat bahwa perintah medisnya tidak untuk didebat. Pria itu melangkah menuju alat pemindai ultrasonografi (USG) di samping ranjang pasien dan mulai mengenakan sarung tangan latex medis."Saya perlu melakuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status