LOGIN“Kak …” Kiara hampir kehabisan napas. Karena ciuman Hanson semakin menuntut.“Aku … nggak … napas …” lirih Kiara dengan napas terengah. Ciuman Hanson beralih ke lehernya. Kiara secepat mungkin menarik napas, mengisi paru-parunya kembali dengan udara. Kiara hendak protes, tetapi kalimat itu terkunci di tenggorokannya saat ia merasakan sentuhan tangan lelaki itu membelai tubuhnya. Deru napasnya memburu. Panas menjalar di sekujur tubuhnya saat tangan Hanson menyentuh tepat di bagian paling sensitif di tubuhnya.“Kak—”“Bagaimana, Hans? Apa Kiara mau makan?” Terdengar suara Nenek Melati dari balik pintu.“Nenek!” Kiara berbisik terkejut. Ia mendorong tubuh Hanson yang masih kuat bertahan. Seketika kakinya reflek menendang saat suara Nenek Melati terdengar.“Ugh!” Hanson terkejut ketika kaki Kiara menendang perutnya. Hanson terguling dari tepi ranjang ke lantai. Suara gedebuknya cukup keras.Kiara segera menarik selimutnya ke atas dan memperbaiki baju piyamanya dalam cepat. Ia menarik
Carlos masih menaik-turunkan alisnya dengan antusias. Seketika itu juga Hanson mengambil bola kertas kedua dari keranjang sampah dan menimbang-nimbangnya di tangan.“Aku serius, Bro!” Carlos memundurkan tubuhnya. “Dengarkan dulu logikanya.”“Logika apa?” Hanson menaruh bola kertas itu kembali. Bukan karena tidak ingin melempar. Tapi karena penasaran. “Nggak ada logika yang bisa membenarkan ide seperti itu. Itu ide buruk!”“Ada.” Carlos menarik kursinya lebih dekat. “Dengar. Keluarganya tahu kamu?”“Tahu dong.”“Keluarganya merestuimu?”“Tentu saja.”“Apa yang membuat hubunganmu rumit kalau gitu?”“Restu.”Carlos mengerutkan kening. “Kalau begitu … maksudmu, Nenek Melati belum tahu siapa pacarmu? Dan kamu takut nggak direstui?”Hanson diam.Carlos mengetuk meja sekali. “Nah. Jadi, solusinya simpel. Kamu perlu situasi yang membuat Nenek Melati tidak punya pilihan lain selain merestui.”“Dan situasi itu adalah—”“Yang aku bilang tadi!” Carlos mengangkat kedua tangannya. “Sebelum kamu lem
“Hans!” Suara itu membuat Hanson terkejut. Ia langsung melepaskan diri dari cekalan Kiara. Ia langsung menoleh. Matanya menatap sosok yang berdiri tepat di depan pintu. “Nenek—” Hanson segera bangkit dari sisi ranjang. “Ngapain Nenek datang sepagi ini?”Nenek Melati menatap kedua cucu di depannya dengan curiga. Terutama karena reaksi gugup Hanson yang sangat kentara.“Sejak kapan nenek harus minta ijin ke kamu buat datang?” sahut Nenek Melati cepat. “Jeffrey bilang, kamu sakit,” lanjut perempuan tua itu sembari mengalihkan tatapannya kepada Kiara. Kiara menegakkan tubuhnya, sementara tangannya sibuk merapikan gaun tidurnya yang sedikit berantakan. “Nggak papa Nek, Ara cuman capek—”Melati kembali mengarahkan pandangannya pada Hanson. Tatapan tajam yang justru terlihat marah “Hans, kalau kamu nggak becus urus adikmu, biar nenek yang urus,” ketus nenek Melati, “pasti kamu terlalu sibuk sama kerjaanm
“Dia Beckie,” sahut Kiara. Gadis itu mengernyitkan keningnya karena melihat wajah gusar Hanson. “Beckie?” Kali ini Kiara menganggukkan kepalanya. “Kenapa? Jangan bilang kalau Kakak … cemburu sama Beckie.” “Tapi ….” Hanson menunjuk sosok berjaket kulit di layarnya. “Dia … bukan cowok?” Kiara menahan tawanya. Beckie memang selalu berpenampilan seperti lelaki. Bukan hanya caranya berpakaian, tapi juga gaya rambut dan juga caranya melangkah. Mungkin itu semua adalah insting alaminya sebagai anak sulung yang harus bertahan hidup tanpa sosok ayah sebagai pelindung. “Beckie … Rebecca Sukiawan,” papar Kiara. Ia masih menatap wajah Hanson dengan mengulum senyumnya. “Manajerku.” Hanson menghela napas lega. Kini semua kegundahan dalam hatinya sudah terjawab. Bahkan Alex yang sudah dimintanya untuk menyelidiki pria yang dekat dengan Kiara, sejak beberapa minggu yang lalu saja, belum mendapatkan jawaban. Dan … mungkin tak akan pernah menemukan jawabannya.“Astaga … jadi selama ini … aku—” K
“Kiara nggak butuh rasa kasihan siapapun.” Hanson seperti tercekik. Kalimat itu seperti pisau yang dihujamkan ke ulu hatinya.“Ara, Kakak—” Kiara beringsut dari ranjangnya. Ia menegakkan tubuhnya dengan susah payah, lalu menyandarkan tubuhnya. “Aku sudah dewasa, Kak. Sudah waktunya aku menentukan masa depanku,” ucap Kiara, jelas tak ingin mendengar kalimat apapun dari kakaknya.Hanson menelan salivanya. Ia masih tak mengerti dengan jalan pikiran Kiara. Semua yang dilakukannya semalam adalah karena ia menghargainya. Ia bahkan berkali-kali harus tersiksa karena harus menahan hasratnya sebagai laki-laki. Ia tidak ingin Kiara menyesal karena kehilangan kesuciannya apalagi saat ia tidak sadar.“Ara … bisakah kamu melihatku sebagai … masa depan?” Kiara tersenyum sinis dan menggeleng pelan. “Sekarang … aku nggak bisa melihatnya. Aku nggak mau mengharapkan sesuatu yang mustahil.”“Ara, kenapa mustahil?”
Hanson mendecak kesal saat tak lagi melihat mobil sedan itu di depan rumahnya, ia segera masuk dan melangkah cepat menuju lantai atas, tempat kamarnya dan kamar Kiara berada.Suasana terasa begitu hening seperti biasa, karena dua asisten rumah tangga sudah kembali ke kamarnya masing-masing yang bangunannya pun terpisah dari rumah induk. Hanson memutar handle pintu kamar Kiara. Aroma jasmine langsung tercium bahkan sebelum Hanson masuk ke dalamnya, Ia melangkah mendekati ranjang, seolah hendak memastikan pemilik siluet tubuh indah yang sedang berbaring di atas ranjang itu. Hanson duduk di sisi ranjang. Matanya menatap wajah ayu dengan mata terpejam itu. Tangannya terangkat, perlahan jemarinya menyentuh anak rambut yang menjuntai menutupi pipinya. Bibir mungil itu kembali mencecap, seolah tak rela sisa manisnya anggur itu menguap begitu saja. Dadanya bergerak dengan lembut, naik turun dengan teratur, jelas memperlihatkan betapa lelap ti







