로그인Hanson mendecak kesal saat tak lagi melihat mobil sedan itu di depan rumahnya, ia segera masuk dan melangkah cepat menuju lantai atas, tempat kamarnya dan kamar Kiara berada.
Suasana terasa begitu hening seperti biasa, karena dua asisten rumah tangga sudah kembali ke kamarnya masing-masing yang bangunannya pun terpisah dari rumah induk.Hanson memutar handle pintu kamar Kiara. Aroma jasmine langsung tercium bahkan sebelum Hanson masuk ke dalamnya,Ia melangkah men“Kiara nggak butuh rasa kasihan siapapun.” Hanson seperti tercekik. Kalimat itu seperti pisau yang dihujamkan ke ulu hatinya.“Ara, Kakak—” Kiara beringsut dari ranjangnya. Ia menegakkan tubuhnya dengan susah payah, lalu menyandarkan tubuhnya. “Aku sudah dewasa, Kak. Sudah waktunya aku menentukan masa depanku,” ucap Kiara, jelas tak ingin mendengar kalimat apapun dari kakaknya.Hanson menelan salivanya. Ia masih tak mengerti dengan jalan pikiran Kiara. Semua yang dilakukannya semalam adalah karena ia menghargainya. Ia bahkan berkali-kali harus tersiksa karena harus menahan hasratnya sebagai laki-laki. Ia tidak ingin Kiara menyesal karena kehilangan kesuciannya apalagi saat ia tidak sadar.“Ara … bisakah kamu melihatku sebagai … masa depan?” Kiara tersenyum sinis dan menggeleng pelan. “Sekarang … aku nggak bisa melihatnya. Aku nggak mau mengharapkan sesuatu yang mustahil.”“Ara, kenapa mustahil?”
Hanson mendecak kesal saat tak lagi melihat mobil sedan itu di depan rumahnya, ia segera masuk dan melangkah cepat menuju lantai atas, tempat kamarnya dan kamar Kiara berada.Suasana terasa begitu hening seperti biasa, karena dua asisten rumah tangga sudah kembali ke kamarnya masing-masing yang bangunannya pun terpisah dari rumah induk. Hanson memutar handle pintu kamar Kiara. Aroma jasmine langsung tercium bahkan sebelum Hanson masuk ke dalamnya, Ia melangkah mendekati ranjang, seolah hendak memastikan pemilik siluet tubuh indah yang sedang berbaring di atas ranjang itu. Hanson duduk di sisi ranjang. Matanya menatap wajah ayu dengan mata terpejam itu. Tangannya terangkat, perlahan jemarinya menyentuh anak rambut yang menjuntai menutupi pipinya. Bibir mungil itu kembali mencecap, seolah tak rela sisa manisnya anggur itu menguap begitu saja. Dadanya bergerak dengan lembut, naik turun dengan teratur, jelas memperlihatkan betapa lelap ti
Kiara langsung mendelik saat menyadari Hanson dengan sengaja mengarahkan telapak tangannya ke bagian paling privacynya.Ia langsung memejamkan mata saking canggungnya. Namun telapak tangannya justru merasakan kedut-kedut di batangnya yang mengeras. Kedut yang terasa begitu hidup. “Sekarang … kamu percaya, kan? Aku cuma begini kalau ada di dekat kamu,” lirih Hanson. Kiara menelan salivanya. Kali ini entah kenapa ia tidak bisa menolak untuk percaya. “Kak Hanson …” Kiara menggigit bibir bawahnya. Wajahnya memanas saking malunya. Ia ingin melepaskan tangannya, tapi Hanson justru menahannya. “Jangan gigit bibir kamu seperti itu, nanti luka,” lirih Hanson.Kiara menarik tangannya. Ia langsung mendorong tubuh Kakaknya menjauh. “Dih! Kakak mesum!” Hanson tertawa pelan, sebelum berbalik dan pergi. Ia seakan menutupi rasa yang sedang ditanggungnya saat ini. Bukan hanya tentang debaran di dadanya yang semakin kuat, tapi denyut
“Kakak ….” Suara ketukan pintu itu terdengar sangat keras, saking kerasnya membuat Asih yang sedang menyiapkan sarapan pagi, melongokkan kepalanya. Ia menggelengkan kepalanya saat Nina menggerakkan kepalanya seolah sebuah pertanyaan tanpa kalimat. Dua hari sudah berlalu sejak malam menghilangnya Kiara. Rumah yang sepi itu kembali ceria.“Apa?” Suara maskulin itu langsung terdengar sesaat setelah pintu terbuka lebar. Kiara langsung masuk tanpa permisi. Matanya menatap seisi kamar Hanson dan tersenyum saat melihat koleksi kaset film di atas mejanya. Hanson langsung berlari. Bukan karena tidak suka barang-barangnya disentuh oleh Kiara, tapi ia tak mau Kiara tahu hal hal yang tak seharusnya. “Kamu mau apa, Ara?” tanya Hanson. Ia sengaja menjadikan badannya sebagai penghalang tangan Kiara untuk menggapai tumpukan kaset koleksinya.“Kakak kenapa, sih? Ara cuma mau pinjem kaset film koleksi Kakak, kok,” sahut Kiara, “kemar
Semua mata di meja makan itu tertuju pada Kiara. Pak Gunadi menatapnya dengan senyuman. Wisnu bersandar di kursinya dengan mata menyorot tajam pada sosok yang baru bergabung itu. Sedangkan Prana berdiri dengan kedua tangan bertumpu di meja dan senyuman tipisnya.Lalu Hanson duduk di seberang meja dengan alat makan yang sudah diletakkan dari tadi. Mata elangnya tidak pernah lepas dari wajah Kiara sejak pertanyaan Prana itu menggantung di udara.Kiara menundukkan kepala. Ia menarik napas canggung. Ia tak bisa memungkiri apalagi Pak Gunadi jelas melihat momen tadi.“Aku …” Kiara mulai bersuara. Ia melirik ke arah Hanson. “Aku sudah mencoba untuk tidak mengakuinya. Aku sudah coba bilang ke diriku sendiri kalau itu hanya karena situasinya. Terlalu banyak hal yang terjadi sekaligus belakangan ini. Karena perasaan seperti itu tidak masuk akal, mengingat apa yang sudah kita lewati bersama sebagai kakak adik.”Hanson menatapnya lekat. Ia menunggu Kiara men
Satu langkah, Kiara maju dengan tenangnya, membuat jantung lelaki di hadapannya gemuruh tak karuan. Sepasang kakinya berjingkat, membuat tubuhnya bertumpu pada jari kaki, membuat bibir mereka saling bersentuhan dengan singkat. Sentuhan singkat itu membuat jantung Hanson berdegup lebih kuat. Semua yang sudah dilaluinya seperti terbayar lunas. Sentuhan itu seakan membangkitkan kembali harapannya. Sesaat ia bergeming, tubuhnya seperti kaku saking terkejutnya menerima sentuhan itu. Namun saat Kiara kembali mendaratkan kakinya dan membuat jarak di antara mereka; Hanson segera merengkuh pinggangnya. Ia menundukkan kepalanya, menghapus jarak di antara mereka dengan sebuah kecupan. Kecupan yang dalam, sedalam perasaan rindu yang disimpannya sepanjang hari ini. Suara dehem terdengar memecah keheningan, di antara derik serangga malam yang mulai berisik. Saking terkejutnya, Kiara mendorong dada Hanson. Ia langsung menoleh ke belakang. Wajahnya memucat, karena malunya. Ia hanya berharap si







