Se connecter“Aku rasa kita tidak bisa terus mengandalkan pendapatan dari film yang kita rilis. Modal yang besar dibanding dengan realita bahwa selera penonton yang berubah.” Carlos menyimpulkan hasil rapat tentang kegagalan film terakhir. “Lalu … kita harus susun strategi baru. Bagaimana menurut Pak Hanson?”
Hanson terdiam. Raganya memang hadir dalam rapat itu, tapi pikirannya masih berkecamuk dengan para lelaki yang jelas mengganggu privacy Kiara. Mereka bahkan dengan berani mengirimkan foto-foto yang tak senonoh! Sebagai kakak, Hanson tidak bisa membiarkannya. Apalagi Kiara sudah cukup dewasa, Hanson tidak mungkin membiarkan pria pria matang itu mengganggunya. “Tidak boleh!” Hanson tiba-tiba saja berdiri dari kursinya. Telapak tangannya memukul meja di depannya, membuat seluruh team marketing yang ikut dalam meeting menoleh ke arahnya. Carlos terkejut melihat reaksi Hanson. Sesaat ia terdiam seperti menelaah kalimat mana yang membuat pimpinan Hans Group itu murka. Hanson menatap sekelilingnya. Ia segera menghela napas dan menarik sudut bibirnya. Ia tidak ingin semua team yang hadir tahu kalau ia tak fokus pada meeting kali ini. “Aku cuma mau bilang … team marketing tidak boleh menyerah.” “Maksudnya Pak? Apa Bapak sudah punya solusi untuk menambal defisit produksi film kita?” tanya seorang perwakilan team finance. Hanson menelan salivanya. Ia harus berpikir cepat jika tidak mau terlihat konyol di hadapan anak buahnya sendiri. “Sementara meeting kita selesai. Kumpulkan team produksi. Aku punya ide untuk menutup defisit kemarin.” Semua peserta rapat saling berpandangan tanpa bisa mengatakan apapun. Carlos menepuk pundak Hanson. “Jangan katakan kamu mau menambal masalah dengan masalah baru,” godanya. Hanson menghela napas. “Itu gara-gara kamu yang seenaknya sebut namaku tadi.” “Hah? Dimana salahnya?” Carlos yang semula bingung, tiba-tiba tersenyum lebar. “Ooh …. Aku tahu sekarang. Kamu pasti ngelamun tadi selama meeting.” Hanson mengangkat map di hadapannya, siap untuk melempar ke lelaki yang tertawa di hadapannya. “Hans … kalo aku boleh tebak, nih,” goda Carlos sembari mengamati wajah Hanson yang terlihat kesal, “pasti gara-gara cewek!” Hanson meletakkan map di tangannya. Ia tangannya terangkat, memijat pelipisnya sendiri seolah memvalidasi bahwa tebakan Carlos sepenuhnya benar. “Pacar kamu? Atau … adik kamu?” tanyanya lagi. “Kamu tau nggak, apa bener nomer cantik di gerai provider telepon itu bekas orang?” tanya Hanson. “Setahuku sih, nomer-nomer yang nggak diperpanjang bakal di blokir dan … mungkin saja dijual lagi,” jawabnya, “memangnya kenapa?” Hanson langsung melambaikan tangannya. “Udah … udah. Kamu siapkan meeting untuk team produksi besok. Ada yang harus aku lakukan sekarang.” Tanpa membuang waktu, Hanson menutup laptopnya dan keluar dari ruangan meeting itu. Langkah panjangnya di koridor, tak bisa tidak mencuri perhatian para stafnya. Namun Hanson terlalu sibuk memikirkan hal lain, bahkan untuk sekedar membalas dengan sebuah senyuman. “Kakak, sudah selesai meetingnya?” Suara manja itu tiba-tiba saja terdengar bersamaan dengan sentuhan lembut di pergelangan tangannya. “Jadi kita pulang sekarang kan?” “Nggak! Sebelum kamu ganti nomer cantik kamu dengan nomer baru!” ucap Hanson dengan suara tegas. “Yaah … tapi aku udah bayar kuotanya buat setahun loh,” rengek Kiara. Gadis itu menahan langkahnya agar Hanson ikut berhenti melangkah. Hanson menghela napas. Ia tahu adiknya mulai merajuk. Lelaki itu memutar tubuhnya dan menatap gadis manis yang kini sedang mengerucutkan bibirnya itu. “Ya udah, nanti kakak yang ganti. Yang penting kamu nggak berhubungan lagi sama laki-laki yang nggak jelas itu.” Kiara selangkah mendekat. Ia berjingkat dan mendekatkan bibirnya di telinga kakaknya. “Kakak … nggak lagi cemburu, kan?” bisiknya. Hanson menelan salivanya. Cemburu! Mungkinkah itu yang dirasakannya saat ini? Ia cuma tidak suka jika ada pria lain dekat dengan Kiara. Ia juga tidak suka jika Kiara mengagumi pria lain, bahkan jika itu hanya sebuah foto. Rasanya begitu menyakitkan, ia seperti sebuah duri yang menancap dalam dagingnya. Tapi … tidak mungkin ia cemburu dengan alasan yang tak masuk akal selamanya. “Kakak cuma mau jaga kamu. Kakak nggak mau kamu salah pergaulan. Dan … kakak rasa, pemilik nomermu sebelumnya juga … bukan perempuan baik-baik.” Kalimat itu akhirnya meluncur keluar dari bibir Hanson. “Tapi aku bisa jelasin ke mereka kalau nomer ini udah ganti pemilik,” sahut Kiara lagi. Suaranya mencicit manja, jelas mengungkapkan betapa sukanya ia pada nomer yang didapatnya ini. Hanson menggelengkan kepalanya. “Kamu bisa pilih, ganti nomer kamu atau … kamu tinggal sama nenek sampai Arga benar-benar datang melamar kamu.” Kiara melepaskan tangannya. Ia langsung bersedekap sembari merengut kesal. “Kakak, nggak pernah bisa ngerti aku! Aku benci sama Kakak!” teriaknya. Dan tanpa mengatakan apapun lagi, gadis itu melangkah setengah berlari keluar dari gedung Hans Corp. Hanson sengaja tidak mengejarnya. Ia butuh banyak waktu untuk berpikir dan memahami dirinya yang kini justru terasa asing. Ia tidak bisa memahami sikapnya saat berada di dekat Kiara. Ia bukan lagi dirinya yang dulu. …. “Kiara dimana?” Pertanyaan itu adalah pertanyaan pertama yang terucap saat ia tiba di rumahnya. Nina, asisten rumah tangganya mengerutkan kening ketika mendengar pertanyaan itu. “Nona sibuk di dapur seharian sebelum minta Pak Aryo antar ke kantor Bapak,” sahutnya, “dan … dia bilang mau nemani Pak Hans –” “Jadi dia belum pulang?” potong Hanson sebelum mendengar jawaban panjang perempuan paruh baya itu. Nina mengangguk. Ia dapat melihat dengan jelas rasa panik dan gelisah di wajah Hanson. “Non nggak punya teman di kota ini. Mungkin … dia main ke rumah neneknya,” ucap Nina lagi seolah ingin menenangkannya, “apa aku perlu menanyakannya pada ibu Melati?” Hanson langsung mengangkat tangannya. “Jangan! Aku nggak mau nenek kaget.” Nina meraih ponsel dari saku celemek kerjanya. “Baik. Kalau gitu … aku coba tanya ke Dini.” Hanson menganggukkan kepalanya saat Nina menyebut nama pengurus rumah neneknya. Ingatannya kembali pada kejadian sore tadi. Kiara sepertinya benar-benar marah karena tidak bisa memahami pemikirannya. Atau mungkin kata-katanya yang terlalu keras tanpa memberikan alasan dan penjelasan yang masuk akal. Tapi … seandainya Kiara tetap kekeh dengan keinginannya, apa yang harus dilakukannya? “Pak Hans.” Suara itu seperti menyentak Hanson dari lamunannya. Entah berapa kali Nina memanggil namanya, hanya saja dari raut wajahnya, kekhawatiran itu jelas terlihat. “Iya? Apa dia di sana?” tanya Hanson langsung pada intinya. Namun melihat perempuan itu menggeleng pelan, hatinya langsung mencelos. “Tapi … kemana dia semalam ini?”“... aku bisa lakukan apapun buat kamu. Termasuk menyingkirkan Kayuna Group dari bumi Nusantara.” Kiara menelan salivanya. Napasnya semakin kacau saat hembusan napas lelaki itu membelai kulit di dadanya dan rasa gelitik yang kuat menyentuh di puncaknya yang menegang. “Kakak—” Sentuhan basah itu terasa panas saat hembusan napas hangat Hanson menyentuhnya. Tubuhnya menegang, gelisah dalam gairah yang semakin memuncak. Kiara menggigit bibirnya saat merasakan sentuhan di bawah sana. Terasa lembut, menggoda, membuat sensasi aneh di dalam perutnya. Tangannya meremas kuat sprei di bawahnya saat sesuatu di bawah sana mulai menekan di celah di antara kedua pahanya. Panas, lembut dan terasa menyesak di dalam rongganya. Kedut-kedut itu terasa kuat, menciptakan sensasi aneh di dalam perutnya. Apalagi saat Hanson mulai menggerakkan tubuhnya dengan ritme yang bervariasi. Napasnya semakin kacau. Jantungnya berdetak semakin kencang dan bibirnya tak sanggup menahan desah menanggung setiap henta
Kiara dapat merasakan kejujuran dari tatapan matanya. Mendadak ia merasakan kengerian dalam dadanya. Apa jadinya seandainya Jonathan bertemu dengan Hanson? Apa jadinya jika Jonathan tahu lelaki yang dicintainya adalah kerabat pria yang sudah membuatnya menderita. Kiara mendesah pelan, saat merasakan remasan di pantatnya. Hanson menarik tubuhnya mendekat, membuat tubuh mereka saling bersentuhan. Napas mereka saling bersilang, membelai wajah keduanya. “Tapi aku bukan matahari,” sahut Kiara, “dan kakak bukan bulan.” “Kamu benar. Kita bukan bulan ataupun matahari. Dan aku nggak mau jadi mereka yang terus saling mengejar. Aku mau terus ada di dekat kamu.”Hanson mendekatkan bibirnya, melumat bibir mungil gadis di depannya dengan penuh hasrat. Tangannya memeluk tubuh gadis di depannya seolah takut ia kembali tenggelam.Kiara meletakkan satu tangannya di dada Hanson. Tangan itu menekan kuat, jelas menolak sentuhan lelaki di depannya. “Kak, kamu belum jawab pertanyaanku,” ucap Kiara deng
“Jo, kalau itu tujuanmu. Sebaiknya aku nggak terima kontrak kerja sama ini.” Kiara meraih tas di sisinya dan berdiri. “Aku nggak mau orang lain salah paham.” Jonathan melepas sarung tangan kotornya dan meletakkannya di atas meja. Lelaki itu langsung berdiri dan meraih tangan Kiara, menahannya untuk tidak melangkah pergi.“Aku nggak ada tunangan, calon istri atau apapun sejenisnya. Kalau itu yang kamu cemaskan,” balasnya, “aku benar-benar merindukanmu. Aku—” “Jo. Dengar … aku nggak perlu penjelasan apapun dari kamu. Kita sudah sama dewasa. Aku ataupun kamu, bebas menentukan dengan siapa kita mau bersama. Kita tidak bisa hidup dalam bayangan masa lalu,” potong Kiara.“Maksud kamu—” “Aku juga sudah punya seseorang di hatiku. Seseorang yang aku ingin hidup bersama.” Jonathan melepaskan cekalannya. Ia menundukkan kepalanya. “Aku … terlambat ya.” Kiara menghela napas, seolah semua kekhawatiran lepas dari pundaknya. “Aku … cuma bisa menganggapmu teman.” Jonathan mengangkat kepalanya. “
“Lama tak bertemu,” ucap lelaki itu. Tangannya terulur, menunggu balasan dari Kiara. “Kamu … masih ingat aku, kan?” Kiara mengulurkan tangannya, membalas uluran tangan Jonathan yang masih menggantung di udara. Ia menarik sudut bibirnya, memberikan seulas senyumannya yang indah.“Tentu saja. Aku nggak mungkin ngelupain enam tahun kenangan kita,” sahut Kiara tulus. Jonathan, lelaki bertubuh tegap itu masih menatap Kiara tanpa berkedip. Beckie bahkan bisa melihat obsesi di mata lelaki itu. Obsesi yang justru terasa mencekam dalam tatapannya yang dalam. “Dua tahun terakhir, aku sempat mencarimu. Di panti itu, tapi mereka mengatakan kalah kamu sudah pergi,” tutur Jonathan lagi, “apa … om kamu akhirnya membawamu pulang?” Kiara menggelengkan kepalanya. “Dia nggak pernah muncul. Aku pergi dari panti karena … aku mendapatkan beasiswa sekolah seni.” “Aku memutuskan tinggal di asrama, dan mengambil beberapa part time job untuk menutupi kebutuhanku sehari-hari.” “Pantas saja,” gumam Jonath
“... sepasang suami istri mengadopsinya.”Kiara menarik sudut bibirnya. “Setelah itu, aku benar-benar harus menjaga diriku sendiri. Harus berpura-pura kuat dan bahagia.” “Sekarang kamu nggak perlu pura-pura, Ara.” Hanson mengusap pipi Kiara dengan ibu jarinya. “Kamu bebas melakukan apapun yang kamu suka.” Kiara memejamkan matanya.“Seandainya waktu bisa berputar kembali, aku nggak akan biarkan kamu pergi, Ara.” Hanson menghela napas. Matanya menatap langit-langit kamar dengan cahaya temaram itu. “Kami yang membawamu ke rumah ini. Papa dan mama di surga, pasti sedih kalau tahu betapa menderitanya kamu di sana.”Hanson memiringkan badannya, menoleh ke arah Kiara. Melihat mata gadis itu terpejam dan napasnya yang teratur, ia pun tersenyum.“Tidurlah, kamu nggak akan pernah menderita lagi sekarang,” bisik Hanson, “kakak janji, akan jagain kamu seumur hidupku.” Hanson memejamkan matanya. Kiara memutar tubuhnya dengan gelisah. Setiap kalimat yang diucapkan oleh Hanson seperti menggema
Kaca yang gelap, suara dengung halus mesin, dan mobil yang bergoyang di taman kota itu sama sekali tak ada yang mengusik, seolah dunia milik mereka berdua. Kiara menggigit bibirnya. Ia menggerakkan tubuhnya di atas tubuh Hanson. Tubuhnya menegang, menahan gelitik di dalam perutnya dan kedut itu terasa semakin kuat saat ia memegang kendali atas permainan itu. “Aah!” desis Hanson saat Kiara kembali menjepit miliknya dengan kuat. Ia dapat merasakan sesuatu menghisap miliknya, bukan hanya memijatnya. Tangan lelaki itu meremas gumpalan kenyal yang terus memantul di hadapannya. Puncak kemerahan yang menegang itu seperti menantangnya untuk dilumat. Kiara langsung menghentikan gerakannya saat bibir lelaki itu menyentuh puncak kemerahan di dadanya. Ia mendesah pelan, saat lelaki itu mulai menghisap di puncaknya dan sesuatu terasa hidup dan berkedut dengan kuat di bawah sana. “Ouh! Aku nggak tahan, Kak,” lirih Kiara. Ia mencengkram pundak Hanson semakin kuat. Perlahan ia kembali bergerak,
Kiara menatap kakaknya penuh harap. Ia menggigit bibir bawahnya dengan gelisah saat lelaki itu melangkah mendekat dan mengangkat tangannya. “Kenapa nggak ganti baju? Kamu bisa sakit kalau kedinginan gini,” ucap Hanson sembari memutar tubuh adiknya dan mendorongnya masuk ke kamar yang terletak tepa
“Nggak ada yang bisa kamu sembunyikan dari aku.” Tatapan mata tajam itu sesaat membuat Kiara merasa gentar. Apa yang sebenarnya diketahui oleh gadis itu? Tapi detik berikutnya, gadis itu menarik sudut bibirnya, membuat suasana kaku di antara keduanya mencair seketika.“Kamu lulusan terbaik akadem
“Ara … suka Kakak. Karena Kakak bukan cuma baik, tapi juga ganteng. Tapi ….” Kiara menatap wajah Kakaknya yang justru tampak terkejut akan pernyataan yang diucapkannya. Sesaat ia terdiam. Alam sadarnya seolah memperingatkannya dengan keras bahwa lelaki itu akan menjauhinya jika ia menyatakan peras
Carlos mengulum senyumnya saat matanya menangkap bercak berwarna merah di leher sahabatnya. “Semalam … berapa ronde?” godanya sembari menaik turunkan alisnya. “Kamu kira aku petinju, apa?” Senyum Carlos semakin lebar. “Ganas juga ya, pacar kamu. Macem kucing liar, suka gigit.” Carlos mengangkat







