Share

DPK 007

last update publish date: 2026-04-05 18:46:20

“Aku rasa kita tidak bisa terus mengandalkan pendapatan dari film yang kita rilis. Modal yang besar dibanding dengan realita bahwa selera penonton yang berubah.” Carlos menyimpulkan hasil rapat tentang kegagalan film terakhir. “Lalu … kita harus susun strategi baru. Bagaimana menurut Pak Hanson?”

Hanson terdiam. Raganya memang hadir dalam rapat itu, tapi pikirannya masih berkecamuk dengan para lelaki yang jelas mengganggu privacy Kiara. Mereka bahkan dengan berani mengirimkan foto-foto yang tak senonoh!

Sebagai kakak, Hanson tidak bisa membiarkannya. Apalagi Kiara sudah cukup dewasa, Hanson tidak mungkin membiarkan pria pria matang itu mengganggunya.

“Tidak boleh!” Hanson tiba-tiba saja berdiri dari kursinya. Telapak tangannya memukul meja di depannya, membuat seluruh team marketing yang ikut dalam meeting menoleh ke arahnya.

Carlos terkejut melihat reaksi Hanson. Sesaat ia terdiam seperti menelaah kalimat mana yang membuat pimpinan Hans Group itu murka.

Hanson menatap sekelilingnya. Ia segera menghela napas dan menarik sudut bibirnya. Ia tidak ingin semua team yang hadir tahu kalau ia tak fokus pada meeting kali ini.

“Aku cuma mau bilang … team marketing tidak boleh menyerah.”

“Maksudnya Pak? Apa Bapak sudah punya solusi untuk menambal defisit produksi film kita?” tanya seorang perwakilan team finance.

Hanson menelan salivanya. Ia harus berpikir cepat jika tidak mau terlihat konyol di hadapan anak buahnya sendiri.

“Sementara meeting kita selesai. Kumpulkan team produksi. Aku punya ide untuk menutup defisit kemarin.”

Semua peserta rapat saling berpandangan tanpa bisa mengatakan apapun.

Carlos menepuk pundak Hanson. “Jangan katakan kamu mau menambal masalah dengan masalah baru,” godanya.

Hanson menghela napas. “Itu gara-gara kamu yang seenaknya sebut namaku tadi.”

“Hah? Dimana salahnya?”

Carlos yang semula bingung, tiba-tiba tersenyum lebar. “Ooh …. Aku tahu sekarang. Kamu pasti ngelamun tadi selama meeting.”

Hanson mengangkat map di hadapannya, siap untuk melempar ke lelaki yang tertawa di hadapannya.

“Hans … kalo aku boleh tebak, nih,” goda Carlos sembari mengamati wajah Hanson yang terlihat kesal, “pasti gara-gara cewek!”

Hanson meletakkan map di tangannya. Ia tangannya terangkat, memijat pelipisnya sendiri seolah memvalidasi bahwa tebakan Carlos sepenuhnya benar.

“Pacar kamu? Atau … adik kamu?” tanyanya lagi.

“Kamu tau nggak, apa bener nomer cantik di gerai provider telepon itu bekas orang?” tanya Hanson.

“Setahuku sih, nomer-nomer yang nggak diperpanjang bakal di blokir dan … mungkin saja dijual lagi,” jawabnya, “memangnya kenapa?”

Hanson langsung melambaikan tangannya. “Udah … udah. Kamu siapkan meeting untuk team produksi besok. Ada yang harus aku lakukan sekarang.”

Tanpa membuang waktu, Hanson menutup laptopnya dan keluar dari ruangan meeting itu. Langkah panjangnya di koridor, tak bisa tidak mencuri perhatian para stafnya. Namun Hanson terlalu sibuk memikirkan hal lain, bahkan untuk sekedar membalas dengan sebuah senyuman.

“Kakak, sudah selesai meetingnya?” Suara manja itu tiba-tiba saja terdengar bersamaan dengan sentuhan lembut di pergelangan tangannya. “Jadi kita pulang sekarang kan?”

“Nggak! Sebelum kamu ganti nomer cantik kamu dengan nomer baru!” ucap Hanson dengan suara tegas.

“Yaah … tapi aku udah bayar kuotanya buat setahun loh,” rengek Kiara. Gadis itu menahan langkahnya agar Hanson ikut berhenti melangkah.

Hanson menghela napas. Ia tahu adiknya mulai merajuk. Lelaki itu memutar tubuhnya dan menatap gadis manis yang kini sedang mengerucutkan bibirnya itu.

“Ya udah, nanti kakak yang ganti. Yang penting kamu nggak berhubungan lagi sama laki-laki yang nggak jelas itu.”

Kiara selangkah mendekat. Ia berjingkat dan mendekatkan bibirnya di telinga kakaknya.

“Kakak … nggak lagi cemburu, kan?” bisiknya.

Hanson menelan salivanya. Cemburu! Mungkinkah itu yang dirasakannya saat ini?

Ia cuma tidak suka jika ada pria lain dekat dengan Kiara. Ia juga tidak suka jika Kiara mengagumi pria lain, bahkan jika itu hanya sebuah foto.

Rasanya begitu menyakitkan, ia seperti sebuah duri yang menancap dalam dagingnya.

Tapi … tidak mungkin ia cemburu dengan alasan yang tak masuk akal selamanya.

“Kakak cuma mau jaga kamu. Kakak nggak mau kamu salah pergaulan. Dan … kakak rasa, pemilik nomermu sebelumnya juga … bukan perempuan baik-baik.” Kalimat itu akhirnya meluncur keluar dari bibir Hanson.

“Tapi aku bisa jelasin ke mereka kalau nomer ini udah ganti pemilik,” sahut Kiara lagi. Suaranya mencicit manja, jelas mengungkapkan betapa sukanya ia pada nomer yang didapatnya ini.

Hanson menggelengkan kepalanya. “Kamu bisa pilih, ganti nomer kamu atau … kamu tinggal sama nenek sampai Arga benar-benar datang melamar kamu.”

Kiara melepaskan tangannya. Ia langsung bersedekap sembari merengut kesal.

“Kakak, nggak pernah bisa ngerti aku! Aku benci sama Kakak!” teriaknya.

Dan tanpa mengatakan apapun lagi, gadis itu melangkah setengah berlari keluar dari gedung Hans Corp.

Hanson sengaja tidak mengejarnya. Ia butuh banyak waktu untuk berpikir dan memahami dirinya yang kini justru terasa asing. Ia tidak bisa memahami sikapnya saat berada di dekat Kiara. Ia bukan lagi dirinya yang dulu.

….

“Kiara dimana?”

Pertanyaan itu adalah pertanyaan pertama yang terucap saat ia tiba di rumahnya. Nina, asisten rumah tangganya mengerutkan kening ketika mendengar pertanyaan itu.

“Nona sibuk di dapur seharian sebelum minta Pak Aryo antar ke kantor Bapak,” sahutnya, “dan … dia bilang mau nemani Pak Hans –”

“Jadi dia belum pulang?” potong Hanson sebelum mendengar jawaban panjang perempuan paruh baya itu.

Nina mengangguk. Ia dapat melihat dengan jelas rasa panik dan gelisah di wajah Hanson.

“Non nggak punya teman di kota ini. Mungkin … dia main ke rumah neneknya,” ucap Nina lagi seolah ingin menenangkannya, “apa aku perlu menanyakannya pada ibu Melati?”

Hanson langsung mengangkat tangannya. “Jangan! Aku nggak mau nenek kaget.”

Nina meraih ponsel dari saku celemek kerjanya. “Baik. Kalau gitu … aku coba tanya ke Dini.”

Hanson menganggukkan kepalanya saat Nina menyebut nama pengurus rumah neneknya. Ingatannya kembali pada kejadian sore tadi.

Kiara sepertinya benar-benar marah karena tidak bisa memahami pemikirannya. Atau mungkin kata-katanya yang terlalu keras tanpa memberikan alasan dan penjelasan yang masuk akal.

Tapi … seandainya Kiara tetap kekeh dengan keinginannya, apa yang harus dilakukannya?

“Pak Hans.”

Suara itu seperti menyentak Hanson dari lamunannya. Entah berapa kali Nina memanggil namanya, hanya saja dari raut wajahnya, kekhawatiran itu jelas terlihat.

“Iya? Apa dia di sana?” tanya Hanson langsung pada intinya.

Namun melihat perempuan itu menggeleng pelan, hatinya langsung mencelos.

“Tapi … kemana dia semalam ini?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 043

    Kiara mendorong tubuh Hanson dengan wajah memucat. Tapi Hanson justru mencekal pergelangan tangannya. Dan saat tubuhnya doyong ke belakang, saat itu pula Kiara justru hilang keseimbangan. Tubuh ramping itu langsung menabrak Hanson. Mata Kiara membulat ketika bibirnya justru mendarat di leher Hanson. Napas hangat yang menyapu di lehernya, membuat lelaki itu semakin gelisah. Jakunnya justru terlihat naik turun, membuat Kiara semakin gemas untuk melewatkannya.Gadis itu menempelkan bibirnya, menyentuh bulatan yang kini terlihat berusaha stabil, tanpa banyak bergerak. Namun rasa hangat sekaligus basah itu membuat jantung Hanson semakin berdebar kuat. Ia berusaha menahan napas karena tak ingin Kiara merasakan kegelisahannya. Ini adalah kali pertama baginya seorang gadis menyentuh salah satu titik sensitif di tubuhnya. Dan entah kenapa, ia sama sekali tak merasa risih, jijik ataupun terganggu seperti yang dirasakannya pada perempuan lain. Suara lenguhan lembut keluar dari bibir Hanson. I

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 042

    Ting!Suara notifikasi terdengar di ponselnya. Ia melirik sekilas ke benda pipih di hadapannya. Tangannya masih memegang kemudi dengan fokus terpecah antara jalanan dan isi pesan singkat itu. Tepat di lampu merah, ia berhenti. Hanson membulatkan matanya saat melihat isi pesan itu. “Hotel Lotus? Kenapa dia ke kota itu? Apa dia juga menyelidiki keluarganya?” batin Hanson. Ia mendecak saking kesalnya. “Apa mungkin dia merasa kasih sayang keluarga Luminto masih kurang?” Tin! Tin! Suara klakson terdengar saat lampu kembali berwarna hijau, membuat Hanson tersentak kembali dari kekacauan pikirannya. “Aku harus bawa dia kembali!” Hanson langsung memutar kemudinya, ke arah yang berlawanan. Lima jam perjalanan terbaca di perangkat penunjuk jalan di hadapannya. “Kiara … siapapun keluargamu, aku nggak peduli,” batin Hanson, “kamu nggak boleh ninggalin aku buat yang kedua kalinya.” ….Setelah perjalanan lima jam yang terasa begitu lama. Akhirnya papan nama hotel Fontana pun terlihat. Hans

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 041

    “Lama tidak mendengar suaramu.” Terdengar suara Edwin dari seberang.Kiara tidak menjawab. Dia masih mencerna dan menebak apa maksud Edwin menelponnya. Bukankah Edwin membencinya? “Kamu diam saja. Apa kamu tak mau menyapa pamanmu?”“Kamu bukan pamanku.” Kiara menjawab dengan susah payah. “Tidak ada paman yang bakal membuang keponakannya sendiri di panti asuhan, bahkan di lain negara hanya untuk memastikan agar aku tak pernah kembali.”Hening sejenak di ujung sana. Lalu suara Edwin terdengar. Seperti sedang tertawa akan sesuatu. Tetapi, bagi Kiara itu sama sekali tidak lucu.“Jadi, kamu sudah tahu. Yah, seharusnya kamu memang bakalan tahu cepat atau lambat sih.” Edwin berbicara dengan entengnya.Kiara mengepalkan tangannya, begitu enteng suara orang itu terdengar di telinganya. Seolah meremehkan dirinya. “Apa yang kamu mau, Edwin?”“Temui aku.”“Tidak mau!” Kiara menolak cepat.“Kiara. Ini bukan permintaan. Aku tidak memintamu. Tetapi, kamu yang memang harus menemuiku.”Kiara mengerny

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 040

    “Sialan!” Beckie membuang muka.Kiara memutar bola mata kesal. “Jangan-jangan kamu CEO yang menyamar.”Theo meletakkan sendoknya dan menatap kedua wanita di hadapannya. “Saya memang tukang parkir. Percayalah, parkir itu seru. Ini pekerjaan yang santai.”“Kalau begitu aku tanya. Hobi kamu apa? Jaga loket tol?” tanya Beckie semakin kesal. “Lihat jam tanganmu. Sepertinya bagus.”Theo tertawa pendek. “Belum pernah dicoba. Tapi … sepertinya seru juga jaga loket tol.”Beckie hendak membuka mulutnya. Tetapi, sebelum sempat mengeluarkan komentar, sebuah suara memotong dari arah pintu kantin.“Dokter Theo!”Ketiganya menoleh. Seorang perawat muda berjalan cepat ke arah mereka membawa selembar kertas yang tampaknya butuh tanda tangan segera. Wajahnya terlihat terburu-buru. “Dokter, maaf mengganggu makan siangnya. Formulir dari lantai tiga perlu ditandatangani sekarang untuk—”“Sebentar.” Theo mengangkat satu tangan ke arah perawat itu, lalu menoleh ke Beckie dan Kiara yang terlanjur mendengarka

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 039

    Bangku taman di ujung jalan itu sudah basah oleh embun pagi.Tap Kiara tidak peduli. Ia sudah duduk di sana entah sejak jam berapa. Atau lebih tepatnya sejak kakinya berhenti berjalan. Di sekelilingnya, kota perlahan-lahan bangun. Pedagang sayur mendorong gerobaknya. Lampu-lampu jalan satu per satu mati digilas sinar matahari yang mulai merangkak naik.Kiara menatap lesu ke arah depan. Ponselnya sudah bergetar berkali-kali sejak tadi. Nenek Melati dan kakaknya, Hanson. Ia hanya menatap nama-nama yang muncul di layar, lalu membiarkannya menghilang dengan sendirinya.Hingga satu nama yang muncul. Kali ini dia tidak bisa mengabaikannya. Kiara menyentuh logo berwarna hijau di layarnya dan menyeretnya ke atas. Belum sempat ia mengucapkan sepatah kata, suara di ujung sana sudah mendahuluinya.“Kamu di mana?”Kiara menelan salivanya. “Taman. Yang dekat dengan perempatan Jalan Kenari.”“Kamu … tetap di sana. Jangan kemana-mana.”Telepon terputus. Kiara menghela napas panjang. Toh dia tidak p

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 038

    Ia membacanya baris demi baris. Nama Kevin Luminto tertera di bagian atas sebagai pihak yang mengadopsi. Nama bayi yang diadopsi dikosongkan di dokumen aslinya. Lalu di sampingnya, dalam tulisan tangan Papa Kevin, tertulis satu nama.Kiara.“Jadi, Kiara bukan adik kandungku?” Tubuh Hanson membeku. Matanya kembali mengamati dokumen adopsi itu dengan seksama. Kemudian perhatian Hanson tertuju pada akta kematian.Hanson menghela napas berat. Ia mengambil lembar terakhir. Akta kematian. Nama yang tertera di sana membuat matanya berhenti sejenak.Bayi perempuan, lahir mati. Putri dari Kevin Luminto dan Tiara Indah. Hanson menutup matanya sejenak. “Jadi begitu. Bayi itu … bayi kandung Papa dan Mama telah meninggal saat lahir. Dan Kiara yang selama ini aku kenal sebagai adikku adalah bayi lain yang Papa bawa pulang.” Hanson meletakkan akta kematian itu perlahan di atas meja.Dia mengusap wajahnya dengan kasar. “Pantas saja golongan darah Kiara berbeda dariku, mama dan papa. Karena memang se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status