Share

DPK 006

last update publish date: 2026-04-03 20:15:34

Carlos menatap perempuan tua yang berdiri di depan pintu direksi. Ia mengerutkan keningnya saat melihat perempuan anggun dalam balutan warna ungu itu menutup kembali pintu ruangan yang baru akan dibukanya.

“Kenapa nggak masuk, Bu Melati?” tanya lelaki muda itu dengan tatapan heran.

“Aku nggak mau ganggu. Sepertinya dia sedang sibuk.”

“Sibuk?” Ulang Carlos seolah kata itu aneh. Namun sesaat kemudian ia tersenyum, “mungkin … dia sedang mempersiapkan meeting sebentar lagi, Bu.”

Perempuan tua itu menganggukkan kepalanya. “Sebaiknya … jangan ada yang ganggu dulu.”

…..

Kiara menepuk dada kakaknya saat ia mulai merasa kehabisan napas. Dan saat lelaki itu melepaskan pagutannya, ia segera menarik napas dalam.

Kiara dapat merasakan udara memenuhi paru-parunya kembali. Dadanya mengembang dengan lega.

“Kamu … kenapa Ara?”

“Biarkan aku … bernapas dulu,” sahutnya dengan napas terengah.

Hanson justru tersenyum seperti sengaja menggodanya. Jemarinya terangkat menyentuh anak rambut adiknya yang menjuntai lepas di pipinya, dan menyelipkan ke balik telinganya dengan sangat lembut.

“Ara –”

Hanson menatap sepasang mata bening di hadapannya. Ia ingin sekali mengungkapkan apa yang dirasakannya saat ini. Tapi mata indah itu terlalu jernih. Ia tidak sampai hati untuk merusaknya.

Kiara menelengkan kepalanya. Ia menunggu kata yang keluar dari bibir Hanson. Namun setelah menunggu beberapa saat, Hanson hanya membisu.

“Kenapa Kak?”

Hanson melambaikan tangannya dan berpaling. Ia tak sanggup mengatakan ganjalan dalam hatinya.

“Kamu … sudah pernah pacaran?”

“Kenapa Kakak tanya gitu, sih?” Kiara mengerucutkan bibirnya saking kesalnya. “Kiara cuma kepikiran belajar biar cepat pulang buat ketemu Kakak, loh. Mana sempat Ara pacaran. Ih!”

“Kamu … nggak pernah … punya perasaan ke teman cowok?”

“Perasaan apa Kak?” Kiara mendekatkan wajahnya. Mata jernihnya terlihat bulat dan menggemaskan.

“Ya … perasaan seperti suka. Iya … suka.”

“Hmm … sepertinya memang aku ngerasain itu.”

Mendengar jawaban itu, hati Hanson seperti menciut begitu saja. Ia mengalihkan perhatiannya lagi dan kembali memelototi grafik di hadapannya untuk menyembunyikan perasaannya saat ini.

“Sepertinya aku suka tapi bukan sama temanku. Tapi sama Kakak.”

Hanson membeku. Ia tidak tahu bagaimana harus menyikapi pernyataan itu. Perasaannya sangat gelisah. Ia merasa senang sekaligus menganggap ini sebuah musibah.

Perlahan lelaki itu memalingkan wajahnya demi menatap gadis cantik itu. “Kamu … nggak boleh suka sama aku, Ara. Kamu itu adikku.”

Kiara mendongak sembari menelengkan kepalanya. “Tapi … dari kecil aku sudah suka sama kakak. Kakak juga, kan?”

Hanson mendengus kesal. Dunianya berubah tidak baik-baik saja.semenjak Kiara datang.

Namun sepasang kaki itu telah berjinjit dengan kedua tangan bergelanyut di leher Hanson. Dan tiba-tiba bibir lembut itu telah mendarat di bibirnya.

“Ciuman pertamaku bahkan buat Kakak,” bisiknya di telinga Hanson.

Hanson menelan ludahnya. Ada bagian tubuhnya yang berteriak, meronta mendamba untuk mendapatkan sesuatu yang lebih. Tapi Hanson justru mencengkeram lengan Kiara dan menyentaknya menjauh.

“Pulang! Sebaiknya kamu pulang sekarang!”

“Tapi Kak, Kiara masih mau main sama Kakak!” Protesnya.

“Kamu nurut, ya. Kamu pulang sekarang,” pinta Hanson. Matanya kembali menatap grafik di layar laptopnya.

“Tapi … aku masih pingin nemenin Kakak di sini,” rengeknya.

“Ya udah … duduk di sana,” ujarnya. Jemarinya menunjuk ke arah sofa di sudut ruangan.

Dengan wajah kesal, Kiara melangkah dan menghempaskan pantatnya di atas sofa itu.

Hanson kembali fokus mempelajari materi meeting yang ada di hadapannya. Sesekali matanya melirik gelisah pada gadis yang kini justru asik bermain dengan ponselnya.

“Ting!” Suara itu terdengar dari ponsel Kiara. Bukan cuma.sekali, tapi bahkan beberapa kali. Suara yang tak dapat diabaikan oleh Hanson.

Kiara menatap layar ponselnya dengan kening berkerut. Sebuah nomer asing muncul dan kalimat sapaan itu muncul dari aplikasi hijau.

“Say! PAP dong. Aku kangen nih!”

Kiara langsung melotot saat membaca kalimat yang berasal dari sebuah nomer asing dengan foto profil seorang pria asing. Dari gambar profilnya, ia dapat melihat postur lelaki awal tiga puluhan yang dengan sengaja menarik kaosnya dengan satu tangan, sengaja memamerkan otot perutnya yang indah.

Kiara tersenyum dan mulai membalas pesan itu. “Kamu duluan dong.” Ketiknya dan langsung mengirimnya.

Selang beberapa detik, suara notifikasi kembali terdengar. Tetap dari nomer yang sama dan kali ini sebuah foto tampak dengan jelas di layarnya.

“Huaah …. Ganteng banget!” Ucapnya tanpa sadar.

Hanson langsung mengangkat kepalanya, menatap gadis yang kini justru terlihat senyum-senyum pada benda pipih di tangannya.

Rasa penasaran tak bisa lagi ditahannya. Ia melangkah pelan menghampiri Kiara, sangat pelan, saking pelannya ia bahkan menahan napasnya sendiri.

Tapi saat ia telah berhasil berdiri di belakang Kiara, ia justru merasa sangat kesal.

“Kiara! Siapa dia?”

Suara maskulin itu membuat Kiara gelagapan. Saking kagetnya, ponsel di tangannya bahkan hampir jatuh.

“Hah! Kak … bukan siapa-siapa.”

“Laki-laki baik mana yang mau kirim foto telanjangnya ke seorang gadis?” Suara Hanson semakin meninggi. “Jujur! Siapa dia? Pacar kamu?”

“Bu … bukan, Kak. Aku nggak tau siapa dia,” jelas Kiara dengan wajah memucat.

“Nggak kenal? Tapi dia punya nomer kamu!”

Kiara meraih tangan Hanson. Wajahnya memelas, bibirnya mengerucut, khas saat ia sedang merajuk.

“Kak … kalo Kakak nggak kasih kesempatan buat aku jelasin,” ucapnya dengan frustasi, “nggak papa deh, anggap aja Kiara yang salah. Memang Kiara, kan … nggak pernah bener di mata Kak Hanson.”

Hanson menghela napas dalam. Ia tahu Kiara punya hak untuk berpacaran dengan lelaki manapun. Tapi … lelaki di foto itu sama sekali tak sepadan dengan usia Kiara. Dan sebagai kakak, ia merasa wajib memberinya nasihat.

Setelah sedikit tenang, Hanson duduk di sisi Kiara. Matanya menatap gadis berwajah mungil di sampingnya. Mata indahnya tampak berkaca-kaca, karena mood yang berantakan akibat hardikan kakaknya.

“Kamu masih sangat muda. Dan … siapapun lelaki di hape kamu tadi, nggak pantes buat kamu. Dia … bukan cuma terlalu tua. Tapi —”

“Kak, aku nggak tau siapa dia,” potong Kiara dengan mata berkaca-kaca. “Aku baru beli nomer cantik di gerai. Kontak ku cuma ada nomer Kakak. Tapi … aku nggak tau, kenapa mereka pada chat aku seolah aku kenalan mereka.”

“Hah!”

Kiara meletakkan ponselnya di pangkuan kakaknya. “Kalau kakak nggak percaya, liat aja sendiri.”

Hanson menatap sederetan chat di aplikasi hijau ponsel adiknya. Semuanya nomer asing dan … semuanya milik lelaki berusia tiga puluhan!

“Heh! Apa-apaan ini!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 043

    Kiara mendorong tubuh Hanson dengan wajah memucat. Tapi Hanson justru mencekal pergelangan tangannya. Dan saat tubuhnya doyong ke belakang, saat itu pula Kiara justru hilang keseimbangan. Tubuh ramping itu langsung menabrak Hanson. Mata Kiara membulat ketika bibirnya justru mendarat di leher Hanson. Napas hangat yang menyapu di lehernya, membuat lelaki itu semakin gelisah. Jakunnya justru terlihat naik turun, membuat Kiara semakin gemas untuk melewatkannya.Gadis itu menempelkan bibirnya, menyentuh bulatan yang kini terlihat berusaha stabil, tanpa banyak bergerak. Namun rasa hangat sekaligus basah itu membuat jantung Hanson semakin berdebar kuat. Ia berusaha menahan napas karena tak ingin Kiara merasakan kegelisahannya. Ini adalah kali pertama baginya seorang gadis menyentuh salah satu titik sensitif di tubuhnya. Dan entah kenapa, ia sama sekali tak merasa risih, jijik ataupun terganggu seperti yang dirasakannya pada perempuan lain. Suara lenguhan lembut keluar dari bibir Hanson. I

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 042

    Ting!Suara notifikasi terdengar di ponselnya. Ia melirik sekilas ke benda pipih di hadapannya. Tangannya masih memegang kemudi dengan fokus terpecah antara jalanan dan isi pesan singkat itu. Tepat di lampu merah, ia berhenti. Hanson membulatkan matanya saat melihat isi pesan itu. “Hotel Lotus? Kenapa dia ke kota itu? Apa dia juga menyelidiki keluarganya?” batin Hanson. Ia mendecak saking kesalnya. “Apa mungkin dia merasa kasih sayang keluarga Luminto masih kurang?” Tin! Tin! Suara klakson terdengar saat lampu kembali berwarna hijau, membuat Hanson tersentak kembali dari kekacauan pikirannya. “Aku harus bawa dia kembali!” Hanson langsung memutar kemudinya, ke arah yang berlawanan. Lima jam perjalanan terbaca di perangkat penunjuk jalan di hadapannya. “Kiara … siapapun keluargamu, aku nggak peduli,” batin Hanson, “kamu nggak boleh ninggalin aku buat yang kedua kalinya.” ….Setelah perjalanan lima jam yang terasa begitu lama. Akhirnya papan nama hotel Fontana pun terlihat. Hans

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 041

    “Lama tidak mendengar suaramu.” Terdengar suara Edwin dari seberang.Kiara tidak menjawab. Dia masih mencerna dan menebak apa maksud Edwin menelponnya. Bukankah Edwin membencinya? “Kamu diam saja. Apa kamu tak mau menyapa pamanmu?”“Kamu bukan pamanku.” Kiara menjawab dengan susah payah. “Tidak ada paman yang bakal membuang keponakannya sendiri di panti asuhan, bahkan di lain negara hanya untuk memastikan agar aku tak pernah kembali.”Hening sejenak di ujung sana. Lalu suara Edwin terdengar. Seperti sedang tertawa akan sesuatu. Tetapi, bagi Kiara itu sama sekali tidak lucu.“Jadi, kamu sudah tahu. Yah, seharusnya kamu memang bakalan tahu cepat atau lambat sih.” Edwin berbicara dengan entengnya.Kiara mengepalkan tangannya, begitu enteng suara orang itu terdengar di telinganya. Seolah meremehkan dirinya. “Apa yang kamu mau, Edwin?”“Temui aku.”“Tidak mau!” Kiara menolak cepat.“Kiara. Ini bukan permintaan. Aku tidak memintamu. Tetapi, kamu yang memang harus menemuiku.”Kiara mengerny

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 040

    “Sialan!” Beckie membuang muka.Kiara memutar bola mata kesal. “Jangan-jangan kamu CEO yang menyamar.”Theo meletakkan sendoknya dan menatap kedua wanita di hadapannya. “Saya memang tukang parkir. Percayalah, parkir itu seru. Ini pekerjaan yang santai.”“Kalau begitu aku tanya. Hobi kamu apa? Jaga loket tol?” tanya Beckie semakin kesal. “Lihat jam tanganmu. Sepertinya bagus.”Theo tertawa pendek. “Belum pernah dicoba. Tapi … sepertinya seru juga jaga loket tol.”Beckie hendak membuka mulutnya. Tetapi, sebelum sempat mengeluarkan komentar, sebuah suara memotong dari arah pintu kantin.“Dokter Theo!”Ketiganya menoleh. Seorang perawat muda berjalan cepat ke arah mereka membawa selembar kertas yang tampaknya butuh tanda tangan segera. Wajahnya terlihat terburu-buru. “Dokter, maaf mengganggu makan siangnya. Formulir dari lantai tiga perlu ditandatangani sekarang untuk—”“Sebentar.” Theo mengangkat satu tangan ke arah perawat itu, lalu menoleh ke Beckie dan Kiara yang terlanjur mendengarka

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 039

    Bangku taman di ujung jalan itu sudah basah oleh embun pagi.Tap Kiara tidak peduli. Ia sudah duduk di sana entah sejak jam berapa. Atau lebih tepatnya sejak kakinya berhenti berjalan. Di sekelilingnya, kota perlahan-lahan bangun. Pedagang sayur mendorong gerobaknya. Lampu-lampu jalan satu per satu mati digilas sinar matahari yang mulai merangkak naik.Kiara menatap lesu ke arah depan. Ponselnya sudah bergetar berkali-kali sejak tadi. Nenek Melati dan kakaknya, Hanson. Ia hanya menatap nama-nama yang muncul di layar, lalu membiarkannya menghilang dengan sendirinya.Hingga satu nama yang muncul. Kali ini dia tidak bisa mengabaikannya. Kiara menyentuh logo berwarna hijau di layarnya dan menyeretnya ke atas. Belum sempat ia mengucapkan sepatah kata, suara di ujung sana sudah mendahuluinya.“Kamu di mana?”Kiara menelan salivanya. “Taman. Yang dekat dengan perempatan Jalan Kenari.”“Kamu … tetap di sana. Jangan kemana-mana.”Telepon terputus. Kiara menghela napas panjang. Toh dia tidak p

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 038

    Ia membacanya baris demi baris. Nama Kevin Luminto tertera di bagian atas sebagai pihak yang mengadopsi. Nama bayi yang diadopsi dikosongkan di dokumen aslinya. Lalu di sampingnya, dalam tulisan tangan Papa Kevin, tertulis satu nama.Kiara.“Jadi, Kiara bukan adik kandungku?” Tubuh Hanson membeku. Matanya kembali mengamati dokumen adopsi itu dengan seksama. Kemudian perhatian Hanson tertuju pada akta kematian.Hanson menghela napas berat. Ia mengambil lembar terakhir. Akta kematian. Nama yang tertera di sana membuat matanya berhenti sejenak.Bayi perempuan, lahir mati. Putri dari Kevin Luminto dan Tiara Indah. Hanson menutup matanya sejenak. “Jadi begitu. Bayi itu … bayi kandung Papa dan Mama telah meninggal saat lahir. Dan Kiara yang selama ini aku kenal sebagai adikku adalah bayi lain yang Papa bawa pulang.” Hanson meletakkan akta kematian itu perlahan di atas meja.Dia mengusap wajahnya dengan kasar. “Pantas saja golongan darah Kiara berbeda dariku, mama dan papa. Karena memang se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status