LOGINHembusan napas hangat yang membelai pipinya, membuat Kiara merasa tak nyaman. Cotton bud itu pun berhenti bergerak. Kiara menyadari jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa senti saja. Ia sedikit menjauhkan wajahnya dan menatap Theo dengan penuh kecurigaan.“Kamu mau ngapain?” tanya Kiara.Theo tidak bergerak. Dia mengerjapkan mata karena kepergok. “Emm. Menyelidiki … seseorang yang kemarin malam seperti habis menangis.”Jantung Theo berdegup kencang. Kiara menangkap gerakan kecilnya. Dia menunggu dengan gelisah balasan dari Kiara. Seharusnya dia memang tidak mengucapkan kata-kata itu.Kiara menghela napas dengan berat sebelum kembali menegakkan punggungnya. Sampai jarak di antara mereka kembali ke jarak yang sebelumnya. Kiara menutup wadah salep itu.“Sudah.” Kiara meletakkan cotton bud bekas ke tepi meja. “Memarnya jangan ditekan.”Theo masih diam sebentar. Lalu dia menarik napas panjang dan menyandarkan kepalanya ke belakang sofa. “Oke.”“Kamu istirahat dulu.” Kiara memberesk
Kiara berdiri menatap keluar dari jendela besar apartemen. Ia bisa melihat langit yang mulai terang, sementara di bawah sana kendaraan melintas dengan leluasa, tanpa kemacetan seperti di kotanya.Ia menghela napas. Jam menunjukkan pukul empat. Entah berapa lama Theo menyelesaikan tindakannya. Kiara merebahkan tubuhnya di atas sofa. Sofa Theo memang lebih nyaman dari kelihatannya.Kiara memejamkan mata, tapi pikirannya masih tak bisa lepas dari ingatannya pada kejadian malam itu. Ia duduk perlahan. Rambutnya berantakan. Lehernya sedikit pegal. Ia melirik ke atas meja, benda pipih dengan layar gelap itu seakan memanggilnya. “Kayaknya nyalain sebentar deh.” Kiara memutuskan untuk menyalakan ponselnya sebentar.Banyak sekali pesan, notifikasi dan juga panggilan telepon, terutama dari Hanson. Kiara menatap deretan pesan itu tanpa membukanya. Tapi ada satu nama yang membuatnya tertarik untuk membuka pesannya.Beckie.‘Nona artis, cek internet deh. Ada gosip tentang kamu.’“Hmm? Apa maksu
Theo melangkah keluar dari mobilnya. Suasana pagi masih begitu sejuk. Dia melangkah menuju RS Kasih dengan ponsel di tangan. Hanson sudah ada di sana. Dia sudah menunggu sejak pagi buta setelah sampai di kota ini.Bugh!Kepalan tangan Hanson menghantam sisi rahang Theo sebelum lelaki itu sempat mengangkat wajahnya dari layar ponsel. Theo mundur dua langkah dengan memegangi rahangnya yang terasa sedikit nyeri. Ponselnya jatuh ke tanah.“Di mana kamu sembunyikan Kiara?” Hanson melangkah maju. Suaranya penuh tekanan menunjukkan amarahnya sedang bergejolak.Theo memegang sisi rahangnya. Mengedipkan mata beberapa kali, mencoba mencerna keadaan. “Apa maksudmu—”Bugh!Kali ini di tulang pipi kiri. Theo menangkis sebagian dengan lengannya tapi tidak cukup. Kepalanya terlempar ke sisi kanan karena pukulan. Theo menggelengkan kepalanya pelan. Sedikit pusing tapi ia masih bisa berdiri tegak.“Kamu memukul orang sembarangan,” desis Theo.“Aku melakukannya karena kamu pantas mendapatkannya. Kataka
“Aduh!” Wanita itu berbalik, tubuhnya tersentak karena tarikan kuat Hanson.Tapi itu bukan Kiara.Hanson mengusap wajahnya dengan kasar. “Maaf. Maafkan saya. Salah orang.”“Lain kali hati-hati dong! Kalau aku jatuh gimana? Nggak sopan banget!” Wanita itu pergi dengan marah.Hanson menghela napas panjang. Ia sangat gelisah. “Bagaimana ini?”Matanya menatap sekelilingnya, mencoba menemukan sesuatu entah bayangan gadis itu, atau petunjuk apapun. Dan tatapannya berhenti pada papan informasi keberangkatan di ujung ruangan. Hanson berdiri di depannya. Matanya menelusuri baris demi baris sampai menemukan yang dia cari.“Kereta Malam — Kota Bunga — Berangkat 22.00.”Jam di papan itu menunjukkan pukul 22.15. Lima belas menit yang lalu kereta sudah berangkat.Hanson menutup matanya sekejap lalu membukanya lagi. Papan itu masih menunjukkan hal yang sama. Ia sudah terlambat lima belas menit.Hanson meraih ponselnya. “Andhika!”Andhika mengangkat di nada pertama seperti biasanya. “Boss?”“Kita ha
"Ke stasiun kereta, Pak."Pengemudi taksi mengangguk tanpa bertanya. Kiara kembali menatap keluar jendela dengan pikiran kalut.Ucapan Hanson ketika menggumamkan kata cinta kemarin, masih menggema di kepalanya. Kiara ingat, bagaimana dia menggenggam tangan Kiara lalu memeluknya. Tatapan mata yang teduh dan hangat.‘Karena dengan begitu aku bisa berada di sisimu dengan leluasa. Aku bisa menciummu, memelukmu bahkan berpacaran dan menikahimu, Kiara.’‘Aku cinta kamu sebagai seorang wanita.’‘Kamu memang pembawa sial, buat orang-orang yang pernah menindasmu.’Kiara menggigit bibirnya. Kata-kata itu terdengar nyata saat diucapkan. Terasa menyegarkan bagi perasaannya yang aneh. Tetapi ia tidak bisa melupakan apa yang ia lihat tadi. Posisi Vanessa sangat intim. .Hanson, dari semua yang Kiara ketahui tentang laki-laki itu, tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan. Tidak pernah membiarkan sesuatu terjadi tanpa keputusan darinya.Maka jika perempuan itu berada di sana. Di ruangan itu. Berlu
Carlos masuk ke ruang kerja Hanson. Satu tangannya di rambut Vanessa, mencengkeram kuat sambil menggiringnya masuk. Wajahnya kaku seolah tak peduli teriak kesakitan gadis itu. “Hentikan! Lepaskan!” Vanessa berusaha melepaskan tangan Carlos dari rambutnya. Tetapi perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh. Vanessa terlalu lemah untuk melawan.Di belakang keduanya, Pak Rusman masuk mengikuti. Begitu sampai di sana, Carlos mendorong Vanessa ke lantai, membuat wanita itu terjerembab begitu saja tepat di hadapan Hanson. “Argh!” jerit Vanessa.Hanson duduk di belakang mejanya. Ia duduk dengan tenang. Dadanya bergerak naik turun pertanda emosi tengah menggelegak dalam dada.“Tutup pintunya.” Hanson berkata datar.Carlos menutup pintu. Kini di ruangan itu menjadi sunyi. Pak Rusman mengambil tempat di kursi tamu tanpa diminta. Dia membuka kopernya, dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen yang dia susun rapi di atas pahanya. Sepertinya bersiap untuk sesuatu.Carlos berdiri di sisi kanan ruangan







