แชร์

ONA 002

ผู้เขียน: Chocoberry pie
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-12 14:56:14

Handuk yang semula melilit sempurna di pinggangnya, tiba-tiba saja bergeser dan melorot begitu saja dari tempatnya semula.

Hanson langsung panik. Ia tidak ingin Kiara melihat bagian paling sensitifnya, walau … mungkin Kiara sempat melihatnya di kamar mandi beberapa saat yang lalu.

Sebelum Kiara sempat menundukkan kepala, tangan Hanson segera bergerak menutup mata adiknya.

“Ki – Kiara,” ucapnya tergagap karena paniknya, “balik badan dan tutup mata kamu.”

Dengan patuhnya, Kiara berbalik dengan mata tertutup. Hanson segera meraih handuknya dan melilitkan kembali kain berwarna putih itu ke pinggangnya.

“Kamu … cepat mandi, setelah itu turun buat makan malam,” perintahnya dengan canggung.

Setelah memakai pakaiannya, Hanson bergegas keluar dari kamarnya. Setelah memberikan instruksi pada pengurus rumah, ia pun pergi begitu saja.

….

“Hans? Tumben kamu kemari?”

Suara maskulin itu terdengar bersamaan tepukan di pundak Hanson.

Tanpa menoleh pun Hanson sudah tahu si pemilik suara. Carlos Juanda, sahabatnya sejak putih abu-abu dulu.

“Kenapa? Galau lagi soal Vanessa?” tebaknya, “dahlah … kenapa nggak kamu kasih saja dia kesempatan.”

Hanson meletakkan gelas kosongnya di atas meja. Ia menepis tangan Carlos dari pundaknya. “Kamu pikir aku bakal mau dikekang oleh makhluk bernama perempuan?”

Carlos terkekeh, lelaki muda itu duduk di sisi sahabatnya. Tangannya menuang cairan berwarna merah ke dalam dua gelas di hadapannya.

“Hmm … kuncinya cuma satu. Buka hati kamu, Hans,” nasihatnya.

“Vanessa sudah ku pecat.”

Carlos hampir saja tersedak mendengar ucapan Hanson. “What the hell! Kamu udah pecat lima sekretaris setahun ini, Hans.”

“Aku tahu.”

Carlos menggelengkan kepalanya. “Dan sekarang … kamu minum-minum karena menyesalinya?”

“Bukan.” Hanson meneguk cepat isi gelasnya dan meletakkan kembali ke atas meja. “Adikku pulang.”

“Kiara?”

Hanson menganggukkan kepalanya. “Lalu kenapa? Bukankah itu bagus?”

“Yaah… bagus,” gumam Hanson.

Hanson tahu seharusnya ia merasa senang. Tapi hal yang tak diketahui oleh Carlos adalah … sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untuk mengubah semuanya. Termasuk perasaan keduanya.

“Jadi … kita minum malam ini untuk merayakan kepulangan Kiara, kan? Apa dia makin cantik?” tanya Carlos sembari menaik turunkan sepasang alisnya, “gimana kalau aku lamar dia. Itung-itung agar ikatan persaudaraan kita makin kuat.”

Hanson menepuk pipi sahabatnya. “Apa kamu pikir dia itu barang?”

Carlos tertawa pelan saat Hanson menggerakkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan di depan wajahnya.

“Kamu nggak boleh deketin dia. Kiara nggak butuh cowok playboy macam kamu.”

Tiba-tiba seorang gadis cantik menghentikan langkahnya tepat di sisi Hanson. Melihat kehadirannya, Carlos mengangkat kedua tangannya sembari mendoyongkan tubuhnya untuk berbisik pada sahabatnya.

“Vanessa cari kamu. Sepertinya kamu harus kerja keras malam ini, sob.”

Setelah mengatakan itu, Carlos tertawa terkekeh dan melangkah menuju beberapa gadis cantik di meja seberang.

“Hans, kamu pecat aku?’ Suara cempreng itu membuat Hanson terpaksa mengangkat wajahnya. “Kenapa?”

“Karena kamu nggak profesional.”

“Oh … jadi karena aku melibatkan perasaanku di jam kerja.” koreksinya.

Vanessa duduk di sisi Hanson. Perempuan berparas cantik itu memenuhi kembali gelas Hanson dengan cairan berwarna merah.

“Baiklah … aku salah. Aku cuma … terburu-buru, karena … nenek kamu bilang, aku adalah menantu yang cocok untuk keluarga Luminto.”

Hanson menatap wajah cantik di hadapannya. Ia mendecih mendengar pernyataan itu. Menantu yang cocok, cocok untuk siapa? Bahkan Hanson tak mempunyai sedikit perasaan pun pada Vanessa.

“Ya sudah, kamu nikahin saja nenekku.”

Vanessa mengepalkan tangannya. Cepat ia menarik napas panjang hanya demi menenangkan perasaannya. Ia paham, menghadapi Hanson bukan perkara mudah. Tapi bagaimanapun juga, ia harus memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan hatinya dan menjadi satu-satunya nyonya Luminto, istri pemilik separuh usaha negeri ini.

Hanson meletakkan kepalanya di atas meja. Ia tahu batas toleransi alkohol nya yang rendah, karena ia tidak terbiasa minum.

“Hans, kamu sudah mabuk.” Suara cempreng itu kembali terdengar. “Ayo, aku antar kamu pulang.”

Hanson memaksakan diri mengangkat wajahnya. Namun kepalanya terasa berputar. Bahkan semua orang yang ada di sekitarnya terlihat berdiri dalam posisi miring!

Vanessa melingkarkan tangannya ke pinggang Hanson, hendak memapahnya pergi dari tempat yang riuh dan beraroma alkohol yang pekat itu.

Dengan langkah sempoyongan, akhirnya Vanessa berhasil membawanya keluar dan masuk ke dalam mobilnya.

“Hans, kamu nggak pernah mau minum-minum walau sekedar untuk urusan bisnis. Tapi malam ini ….” Vanessa tersenyum lebar. “Aku tahu … kamu minum karena menyesal udah pecat aku, kan.”

Hanson mengerjapkan matanya. Tangannya menepuk kepalanya yang terasa pening, seolah dengan tepukan itu semua akan kembali normal.

Tapi yang dirasakannya justru sebaliknya. Kepalanya justru berdenyut dan suara cempreng itu seperti bergema di telinganya.

Lelaki itu merasakan sentuhan di pipinya dan saat ia membuka mata, yang dilihatnya justru wajah ayu Kiara yang begitu dekat. Hembusan napas hangat itu seakan merayunya untuk membangkitkan hasratnya.

“Hans, aku cinta sama kamu. Aku cuma mau nikah sama kamu.”

Hanson menelan kasar ludahnya. “Kiara …” desahnya memuja dalam hembusan napasnya.

Vanessa menarik sudut bibirnya saat tangan Hanson terangkat dan menyentuh tengkuknya. Ia mendekatkan bibirnya, untuk sekedar mengecup bibir lelaki yang sudah mencuri hatinya itu.

Namun tiba-tiba, Hanson mendorong tubuh gadis itu keluar dari mobilnya. Hanson segera menutup pintu mobilnya dan dengan napas terengah, ia mulai melonggarkan pakaiannya.

Vanessa segera bangkit dari lantai beton lahan parkir. Dengan wajah kesal, ia mencoba membuka pintu mobil Hanson. Tapi nyatanya, pintu itu telah terkunci.

Vanessa mengatupkan bibirnya. Tangannya mulai memukul kaca jendela mobil Hanson dengan amarah.

Tapi Hanson sama sekali tak menghiraukannya. Ia justru menghela napas lega saat menyadari perempuan itu sama sekali bukan Kiara, adiknya.

“Jalan! Kita pulang sekarang.”

“Tapi … bagaimana dengan Vanessa?” tanya Andhika, sopir sekaligus asistennya.

“Jalan sekarang!”

Tanpa menunggu perintah ketiga kalinya, Andhika segera melajukan mobil itu. Sesaat ia melihat dari kaca spionnya, bagaimana Vanessa berusaha mengejarnya beberapa saat.

Andhika menggelengkan kepalanya. Sepanjang tiga tahun bekerja sebagai asisten Hanson, ia semakin terbiasa dengan semua kekejamannya. Tapi ia masih tak bisa memahami alasan Hanson menolak setiap wanita cantik yang mendekatinya. Ia bahkan tak berani memberitahunya tentang gosip yang beredar bahwa Hanson adalah seorang gay!

….

Suara langkah kaki yang beradu pada anak tangga berbahan kayu, membuat Kiara mau tak mau menegakkan tubuhnya. Ia segera keluar dari kamarnya.

Tapi yang dilihatnya hanya seorang lelaki mabuk, yang mungkin tak akan dapat diajaknya sekedar berbincang tentang masa lalu di bawah kolong langit.

“Kakak, kenapa minum?” tanyanya sembari membantu Hanson berjalan menuju kamarnya, “aku cari Kakak dari tadi.”

Hanson melepaskan diri. Gerakan sempoyongan membuat tubuhnya nyaris jatuh, kalau saja dinding lorong tidak menopangnya.

Ia mengayunkan tangannya ke arah adiknya. “Syuh … syuh … nggak usah peduliin aku. Tidur sana.”

Kiara meletakkan kedua tangannya di pinggang. “Kakak sok, tau! Udah nggak sanggup jalan, tapi masih sok sok an kuat. Udah tau nggak kuat minum, tapi masih sok sok an minum.”

Hanson menegakkan tubuhnya. Ia kembali melangkah dengan sempoyongan.

Kiara mengikuti langkahnya, seolah sengaja menjaga jika sewaktu-waktu tubuh jangkung itu ambruk.

Dan sesuai perkiraannya, langkahnya kembali limbung. Kiara bergerak cepat. Sepasang tangannya memeluk pinggang kakaknya, menopangnya sembari melangkah satu – satu.

Hanson meraih tangan Kiara, melepaskan pelukan yang menopang tubuhnya sebelum merebahkan diri di atas ranjangnya.

Kiara menatap wajah kakaknya dengan cemas. Wajah Hanson yang merah karena reaksi alkohol itu mau tak mau menggelitik keinginannya untuk menyentuh keningnya, sekedar memeriksa suhu tubuhnya.

Tapi Hanson justru menangkap tangannya dan menariknya mendekat. Saking dekatnya Kiara bisa mencium aroma alkohol yang pekat dari bibirnya.

Jantung Kiara berdegup dengan kencang saat suara maskulin itu menyebut namanya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 109

    “... aku bisa lakukan apapun buat kamu. Termasuk menyingkirkan Kayuna Group dari bumi Nusantara.” Kiara menelan salivanya. Napasnya semakin kacau saat hembusan napas lelaki itu membelai kulit di dadanya dan rasa gelitik yang kuat menyentuh di puncaknya yang menegang. “Kakak—” Sentuhan basah itu terasa panas saat hembusan napas hangat Hanson menyentuhnya. Tubuhnya menegang, gelisah dalam gairah yang semakin memuncak. Kiara menggigit bibirnya saat merasakan sentuhan di bawah sana. Terasa lembut, menggoda, membuat sensasi aneh di dalam perutnya. Tangannya meremas kuat sprei di bawahnya saat sesuatu di bawah sana mulai menekan di celah di antara kedua pahanya. Panas, lembut dan terasa menyesak di dalam rongganya. Kedut-kedut itu terasa kuat, menciptakan sensasi aneh di dalam perutnya. Apalagi saat Hanson mulai menggerakkan tubuhnya dengan ritme yang bervariasi. Napasnya semakin kacau. Jantungnya berdetak semakin kencang dan bibirnya tak sanggup menahan desah menanggung setiap henta

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 108

    Kiara dapat merasakan kejujuran dari tatapan matanya. Mendadak ia merasakan kengerian dalam dadanya. Apa jadinya seandainya Jonathan bertemu dengan Hanson? Apa jadinya jika Jonathan tahu lelaki yang dicintainya adalah kerabat pria yang sudah membuatnya menderita. Kiara mendesah pelan, saat merasakan remasan di pantatnya. Hanson menarik tubuhnya mendekat, membuat tubuh mereka saling bersentuhan. Napas mereka saling bersilang, membelai wajah keduanya. “Tapi aku bukan matahari,” sahut Kiara, “dan kakak bukan bulan.” “Kamu benar. Kita bukan bulan ataupun matahari. Dan aku nggak mau jadi mereka yang terus saling mengejar. Aku mau terus ada di dekat kamu.”Hanson mendekatkan bibirnya, melumat bibir mungil gadis di depannya dengan penuh hasrat. Tangannya memeluk tubuh gadis di depannya seolah takut ia kembali tenggelam.Kiara meletakkan satu tangannya di dada Hanson. Tangan itu menekan kuat, jelas menolak sentuhan lelaki di depannya. “Kak, kamu belum jawab pertanyaanku,” ucap Kiara deng

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 107

    “Jo, kalau itu tujuanmu. Sebaiknya aku nggak terima kontrak kerja sama ini.” Kiara meraih tas di sisinya dan berdiri. “Aku nggak mau orang lain salah paham.” Jonathan melepas sarung tangan kotornya dan meletakkannya di atas meja. Lelaki itu langsung berdiri dan meraih tangan Kiara, menahannya untuk tidak melangkah pergi.“Aku nggak ada tunangan, calon istri atau apapun sejenisnya. Kalau itu yang kamu cemaskan,” balasnya, “aku benar-benar merindukanmu. Aku—” “Jo. Dengar … aku nggak perlu penjelasan apapun dari kamu. Kita sudah sama dewasa. Aku ataupun kamu, bebas menentukan dengan siapa kita mau bersama. Kita tidak bisa hidup dalam bayangan masa lalu,” potong Kiara.“Maksud kamu—” “Aku juga sudah punya seseorang di hatiku. Seseorang yang aku ingin hidup bersama.” Jonathan melepaskan cekalannya. Ia menundukkan kepalanya. “Aku … terlambat ya.” Kiara menghela napas, seolah semua kekhawatiran lepas dari pundaknya. “Aku … cuma bisa menganggapmu teman.” Jonathan mengangkat kepalanya. “

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 106

    “Lama tak bertemu,” ucap lelaki itu. Tangannya terulur, menunggu balasan dari Kiara. “Kamu … masih ingat aku, kan?” Kiara mengulurkan tangannya, membalas uluran tangan Jonathan yang masih menggantung di udara. Ia menarik sudut bibirnya, memberikan seulas senyumannya yang indah.“Tentu saja. Aku nggak mungkin ngelupain enam tahun kenangan kita,” sahut Kiara tulus. Jonathan, lelaki bertubuh tegap itu masih menatap Kiara tanpa berkedip. Beckie bahkan bisa melihat obsesi di mata lelaki itu. Obsesi yang justru terasa mencekam dalam tatapannya yang dalam. “Dua tahun terakhir, aku sempat mencarimu. Di panti itu, tapi mereka mengatakan kalah kamu sudah pergi,” tutur Jonathan lagi, “apa … om kamu akhirnya membawamu pulang?” Kiara menggelengkan kepalanya. “Dia nggak pernah muncul. Aku pergi dari panti karena … aku mendapatkan beasiswa sekolah seni.” “Aku memutuskan tinggal di asrama, dan mengambil beberapa part time job untuk menutupi kebutuhanku sehari-hari.” “Pantas saja,” gumam Jonath

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 105

    “... sepasang suami istri mengadopsinya.”Kiara menarik sudut bibirnya. “Setelah itu, aku benar-benar harus menjaga diriku sendiri. Harus berpura-pura kuat dan bahagia.” “Sekarang kamu nggak perlu pura-pura, Ara.” Hanson mengusap pipi Kiara dengan ibu jarinya. “Kamu bebas melakukan apapun yang kamu suka.” Kiara memejamkan matanya.“Seandainya waktu bisa berputar kembali, aku nggak akan biarkan kamu pergi, Ara.” Hanson menghela napas. Matanya menatap langit-langit kamar dengan cahaya temaram itu. “Kami yang membawamu ke rumah ini. Papa dan mama di surga, pasti sedih kalau tahu betapa menderitanya kamu di sana.”Hanson memiringkan badannya, menoleh ke arah Kiara. Melihat mata gadis itu terpejam dan napasnya yang teratur, ia pun tersenyum.“Tidurlah, kamu nggak akan pernah menderita lagi sekarang,” bisik Hanson, “kakak janji, akan jagain kamu seumur hidupku.” Hanson memejamkan matanya. Kiara memutar tubuhnya dengan gelisah. Setiap kalimat yang diucapkan oleh Hanson seperti menggema

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 104

    Kaca yang gelap, suara dengung halus mesin, dan mobil yang bergoyang di taman kota itu sama sekali tak ada yang mengusik, seolah dunia milik mereka berdua. Kiara menggigit bibirnya. Ia menggerakkan tubuhnya di atas tubuh Hanson. Tubuhnya menegang, menahan gelitik di dalam perutnya dan kedut itu terasa semakin kuat saat ia memegang kendali atas permainan itu. “Aah!” desis Hanson saat Kiara kembali menjepit miliknya dengan kuat. Ia dapat merasakan sesuatu menghisap miliknya, bukan hanya memijatnya. Tangan lelaki itu meremas gumpalan kenyal yang terus memantul di hadapannya. Puncak kemerahan yang menegang itu seperti menantangnya untuk dilumat. Kiara langsung menghentikan gerakannya saat bibir lelaki itu menyentuh puncak kemerahan di dadanya. Ia mendesah pelan, saat lelaki itu mulai menghisap di puncaknya dan sesuatu terasa hidup dan berkedut dengan kuat di bawah sana. “Ouh! Aku nggak tahan, Kak,” lirih Kiara. Ia mencengkram pundak Hanson semakin kuat. Perlahan ia kembali bergerak,

  • Dekapan Panas Kakakku   DPK 006

    Carlos menatap perempuan tua yang berdiri di depan pintu direksi. Ia mengerutkan keningnya saat melihat perempuan anggun dalam balutan warna ungu itu menutup kembali pintu ruangan yang baru akan dibukanya. “Kenapa nggak masuk, Bu Melati?” tanya lelaki muda itu dengan tatapan heran. “Aku nggak

  • Dekapan Panas Kakakku   DPK 007

    “Aku rasa kita tidak bisa terus mengandalkan pendapatan dari film yang kita rilis. Modal yang besar dibanding dengan realita bahwa selera penonton yang berubah.” Carlos menyimpulkan hasil rapat tentang kegagalan film terakhir. “Lalu … kita harus susun strategi baru. Bagaimana menurut Pak Hanson?”H

  • Dekapan Panas Kakakku   ONA 005

    Hanson tertawa terkekeh. Ia menggelengkan kepalanya seolah kalimat yang keluar dari mulut Carlos adalah candaan terlucu yang pernah ia dengar. “Mana mungkin,” elaknya sembari menggelengkan kepala, “kamu pikir aku sudah gila?” Carlos menunjuk bibir Hanson, lalu menunjuk bibirnya sendiri. “Tapi … t

  • Dekapan Panas Kakakku   ONA 004

    Hanson tak menjawab, hanya seulas senyuman canggung menggantikan jawabannya.Perempuan tua itu mendengus kesal. “Kamu sadar kan, kalau nenek kamu ini sudah tua. Berapa lama lagi usia nenekmu ini? Kenapa permintaan sederhana saja, kamu nggak mau kasih. Nenek cuma mau gendong cicit nenek. Itu saja, k

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status