Share

Bab 105

last update publish date: 2026-06-09 13:00:44

“... sepasang suami istri mengadopsinya.”

Kiara menarik sudut bibirnya.

“Setelah itu, aku benar-benar harus menjaga diriku sendiri. Harus berpura-pura kuat dan bahagia.”

“Sekarang kamu nggak perlu pura-pura, Ara.” Hanson mengusap pipi Kiara dengan ibu jarinya. “Kamu bebas melakukan apapun yang kamu suka.”

Kiara memejamkan matanya.

“Seandainya waktu bisa berputar kembali, aku nggak akan biarkan kamu pergi, Ara.” Hanson menghela napas. Matanya menatap langit-langit kamar dengan cahaya temaram
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 107

    “Jo, kalau itu tujuanmu. Sebaiknya aku nggak terima kontrak kerja sama ini.” Kiara meraih tas di sisinya dan berdiri. “Aku nggak mau orang lain salah paham.” Jonathan melepas sarung tangan kotornya dan meletakkannya di atas meja. Lelaki itu langsung berdiri dan meraih tangan Kiara, menahannya untuk tidak melangkah pergi.“Aku nggak ada tunangan, calon istri atau apapun sejenisnya. Kalau itu yang kamu cemaskan,” balasnya, “aku benar-benar merindukanmu. Aku—” “Jo. Dengar … aku nggak perlu penjelasan apapun dari kamu. Kita sudah sama dewasa. Aku ataupun kamu, bebas menentukan dengan siapa kita mau bersama. Kita tidak bisa hidup dalam bayangan masa lalu,” potong Kiara.“Maksud kamu—” “Aku juga sudah punya seseorang di hatiku. Seseorang yang aku ingin hidup bersama.” Jonathan melepaskan cekalannya. Ia menundukkan kepalanya. “Aku … terlambat ya.” Kiara menghela napas, seolah semua kekhawatiran lepas dari pundaknya. “Aku … cuma bisa menganggapmu teman.” Jonathan mengangkat kepalanya. “

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 106

    “Lama tak bertemu,” ucap lelaki itu. Tangannya terulur, menunggu balasan dari Kiara. “Kamu … masih ingat aku, kan?” Kiara mengulurkan tangannya, membalas uluran tangan Jonathan yang masih menggantung di udara. Ia menarik sudut bibirnya, memberikan seulas senyumannya yang indah.“Tentu saja. Aku nggak mungkin ngelupain enam tahun kenangan kita,” sahut Kiara tulus. Jonathan, lelaki bertubuh tegap itu masih menatap Kiara tanpa berkedip. Beckie bahkan bisa melihat obsesi di mata lelaki itu. Obsesi yang justru terasa mencekam dalam tatapannya yang dalam. “Dua tahun terakhir, aku sempat mencarimu. Di panti itu, tapi mereka mengatakan kalah kamu sudah pergi,” tutur Jonathan lagi, “apa … om kamu akhirnya membawamu pulang?” Kiara menggelengkan kepalanya. “Dia nggak pernah muncul. Aku pergi dari panti karena … aku mendapatkan beasiswa sekolah seni.” “Aku memutuskan tinggal di asrama, dan mengambil beberapa part time job untuk menutupi kebutuhanku sehari-hari.” “Pantas saja,” gumam Jonath

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 105

    “... sepasang suami istri mengadopsinya.”Kiara menarik sudut bibirnya. “Setelah itu, aku benar-benar harus menjaga diriku sendiri. Harus berpura-pura kuat dan bahagia.” “Sekarang kamu nggak perlu pura-pura, Ara.” Hanson mengusap pipi Kiara dengan ibu jarinya. “Kamu bebas melakukan apapun yang kamu suka.” Kiara memejamkan matanya.“Seandainya waktu bisa berputar kembali, aku nggak akan biarkan kamu pergi, Ara.” Hanson menghela napas. Matanya menatap langit-langit kamar dengan cahaya temaram itu. “Kami yang membawamu ke rumah ini. Papa dan mama di surga, pasti sedih kalau tahu betapa menderitanya kamu di sana.”Hanson memiringkan badannya, menoleh ke arah Kiara. Melihat mata gadis itu terpejam dan napasnya yang teratur, ia pun tersenyum.“Tidurlah, kamu nggak akan pernah menderita lagi sekarang,” bisik Hanson, “kakak janji, akan jagain kamu seumur hidupku.” Hanson memejamkan matanya. Kiara memutar tubuhnya dengan gelisah. Setiap kalimat yang diucapkan oleh Hanson seperti menggema

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 104

    Kaca yang gelap, suara dengung halus mesin, dan mobil yang bergoyang di taman kota itu sama sekali tak ada yang mengusik, seolah dunia milik mereka berdua. Kiara menggigit bibirnya. Ia menggerakkan tubuhnya di atas tubuh Hanson. Tubuhnya menegang, menahan gelitik di dalam perutnya dan kedut itu terasa semakin kuat saat ia memegang kendali atas permainan itu. “Aah!” desis Hanson saat Kiara kembali menjepit miliknya dengan kuat. Ia dapat merasakan sesuatu menghisap miliknya, bukan hanya memijatnya. Tangan lelaki itu meremas gumpalan kenyal yang terus memantul di hadapannya. Puncak kemerahan yang menegang itu seperti menantangnya untuk dilumat. Kiara langsung menghentikan gerakannya saat bibir lelaki itu menyentuh puncak kemerahan di dadanya. Ia mendesah pelan, saat lelaki itu mulai menghisap di puncaknya dan sesuatu terasa hidup dan berkedut dengan kuat di bawah sana. “Ouh! Aku nggak tahan, Kak,” lirih Kiara. Ia mencengkram pundak Hanson semakin kuat. Perlahan ia kembali bergerak,

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 103

    Hanson tak ingin membuang waktu. Ia langsung menemui Temmy, pemilik club paling terkenal di selatan kota itu. “Tem! Dimana kamu sembunyikan adikku?” teriak Hanson setelah berhasil melalui beberapa penjaga keamanan yang menghalanginya. Lelaki tiga puluhan itu langsung berdiri dari kursinya. Wajahnya memucat begitu melihat Hanson berdiri tepat di depan pintunya. “Adik … adik siapa maksudmu?”“Kiara. Kamu sembunyikan di mana dia?” “Aku nggak menyembunyikan siapapun.” “Kamu tahu … kalau kamu tetap bungkam, aku pastikan polisi akan datang dan menggeledah,” ancam Hanson, “dan itu berarti … kamu akan kehilangan banyak uang. Bisa saja istanamu yang indah ini juga bakal ditutup permanen.” “Sialan! Kamu nyumpahin aku?” “Aku nggak nyumpahin kamu. Aku cuma nyumpahin orang yang menyembunyikan Kiara,” tutur Hanson, “kamu harus mikirin … apa akibatnya kalau … Kiara, adikku, artis yang lagi gemilang dalam karirnya itu justru mati dengan mengenaskan di tempat kamu.”“Mati?” ulang Temmy. Matanya

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 102

    Hanson baru saja akan kembali ke kamar tidurnya, saat suara dering itu terdengar dan nama Alex muncul di layarnya.Ia mengangkat panggilan itu. Alex cuma akan telepon saat ada sesuatu yang penting untuk disampaikan. Berbeda dengan Carlos yang kerap menghubunginya hanya untuk mengganggunya.“Iya Lex.”“Hans. Vanessa masih di kota ini,” Alex langsung pada topiknya. “Seseorang baru melihatnya di sebuah club malam. Aku memberitahumu, supaya kamu lebih hati-hati.” “Club malam?”“Sepertinya dia kenal atau punya relasi dengan pemiliknya. ‘Seventy eight degrees’ di selatan kota.”“Baik, aku mengerti.” Hanson hendak menutup panggilan telepon itu ketika Alex menambahkan. “Aku tidak tahu apa rencananya kali ini. Bersembunyi sekian lama, tapi … sebaiknya kamu jaga adikmu baik-baik. Menurut prediksiku, dia sedang menunggumu lengah. Kiara adalah target utamanya.” Hanson mengepalkan tangannya kuat. Rahangnya mengeras mendengar peringatan itu. Ia tidak bisa menyangkal, setelah kejadian terakhir de

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status