Share

ONA 005

last update publish date: 2026-01-14 20:15:15

Hanson tertawa terkekeh. Ia menggelengkan kepalanya seolah kalimat yang keluar dari mulut Carlos adalah candaan terlucu yang pernah ia dengar.

“Mana mungkin,” elaknya sembari menggelengkan kepala, “kamu pikir aku sudah gila?”

Carlos menunjuk bibir Hanson, lalu menunjuk bibirnya sendiri. “Tapi … tapi itu bukti nyata. Aku nggak percaya kalau kamu kebentur sampe bibir kamu bengkak gitu. Itu … itu jelas bekas —”

Hanson menghela napas dan menggelengkan kepalanya. “Jangan biarkan pikiran negatif menguasaimu, bro,” tandasnya, “udah … tolong sampaikan ke semua team marketing, semua harus di ruang meeting tiga puluh menit lagi.”

Carlos mengerutkan keningnya. Ia masih tak percaya kalau penilaiannya salah. Luka itu jelas bekas gigitan. Tapi perempuan mana yang begitu berani mendekati Hanson.

Lelaki itu mengedikkan pundaknya dan melangkah keluar dari ruang kerja Hanson. Namun sebelum menutup pintu, ia kembali menoleh.

“Kamu … harus kenalin aku ke pacar kamu,” ujarnya, “aku benar-benar penasaran, gadis seperti apa yang bisa membuat gunung es mencair.”

Hanson menggelengkan kepala dan kembali menenggelamkan diri pada file di hadapannya.

Namun tiba-tiba ketenangan itu terusik oleh suara pintu yang kembali terbuka dengan keras.

“Kakak!”

Hanson mengangkat wajahnya, menatap lurus si pemilik suara manja yang melebarkan senyumannya di depan pintu.

Gadis itu bergegas mendekat. Ia meletakkan setumpuk kotak bekal di atas meja, tepat di hadapannya.

“Kakak belum makan siang, kan? Aku bawain ini buat kakak,” ucapnya dengan suara manjanya yang khas.

Hanson mendorong kotak itu ke sisi lain mejanya. “Aku harus siap-siap meeting.”

“Tapi Kak … aku udah tiga jam masak semua ini buat kakak,” rengek Kiara.

Hanson menoleh, menatap gadis yang terus menempel padanya itu. Melihat kepalanya tertunduk, entah kenapa hatinya terasa begitu sedih.

Ia menghela napas sebelum meraih salah satu kotak itu dan membukanya.

Melihat reaksi itu, Kiara tersenyum lega. Ia membuka tiga kotak lainnya.

Aroma wangi masakan yang masih hangat, seolah menggodanya untuk menikmati sajian itu. Kiara langsung membuka kotak alat makan dan menyendok sepotong daging kecoklatan dari dalamnya.

“Aaa ….” Perintah Kiara agar Hanson membuka mulutnya.

Dengan rasa canggung, Hanson membuka mulut. Matanya menatap wajah cantik di dekatnya dengan perasaan tak karuan. Dan senyum itu … senyum Kiara bahkan membuatnya kembali pada ingatan malam itu.

Ia menelan daging itu dengan perasaan bersalah. Ia tak seharusnya membiarkan perasaan aneh ini tumbuh.

Tapi matanya justru semakin liar. Ia sama sekali tak bisa mengendalikan saat matanya justru menatap bibir merahnya yang terlihat basah, lembut dan menggoda. Ia tak seharusnya mempunyai keinginan untuk menciumnya.

“Gimana Kak? Masakanku enak, nggak?”

Hanson mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia segera mengalihkan pandangannya kembali ke arah file-file lembar yang sedang dipelajarinya.

“Lumayan. Kamu … belajar banyak selama ini,” puji Hanson.

“Nggak juga, sih. Cuman … tadi aku masukin segenggam rasa rindu dan sejumput cinta ke dalam sana,” balas Kiara sementara kedua tangannya membentuk sebuah simbol hati dengan menyatukan kedua telunjuk dan ibu jarinya.

Lagi-lagi jantung Hanson berdebar lebih cepat. Suara manja ditambah gerakan centil Kiara benar-benar membuat jantungnya tak lagi nyaman. Kedamaian hidup Hanson benar-benar sudah terusik oleh kehadirannya.

“Sebenarnya … kamu nggak perlu repot kirim makan siang buatku. Aku bisa makan di kantin.” Hanson berusaha mengendalikan perasaannya. Ia berasumsi semakin jarang berinteraksi dengan Kiara, akan semakin tenang hidupnya.

Namun penolakan Hanson justru membuat Kiara semakin tertantang. Ia melingkarkan tangannya di leher Hanson, memeluknya tanpa perasaan ragu.

“Tapi masakan kantin, nggak seenak masakanku, Kak. Aku mau Kakak makan enak, sehat dan tentunya buatanku.” Kiara mengecup pipi Hanson, seolah itu hal yang wajar.

Tubuh Hanson terasa kaku seketika. Ia menelan ludahnya, saat tubuhnya justru bereaksi. Bukan saja jantungnya yang berdebar, tapi badannya juga terasa panas dan dingin secara bersamaan.

“Ara, Kakak harus siap-siap. Sebentar lagi Kakak harus hadir dalam meeting marketing,” tutur Hanson kemudian,.”kamu … pulang dulu, ya.”

“Tapi Kak —” Kiara mengerucutkan bibirnya.

“Tapi apa?” tanya Hanson.

“Aku kemari bukan cuma buat anter makan siang,” sahutnya kemudian.

“Lalu?”

“Aku ….” Kiara menundukkan kepalanya, seolah ragu untuk mengucapkan sesuatu yang ada di kepalanya.

“Katakan. Kakak akan penuhi asal kamu nggak minta diambilin bulan,” tegas Hanson tanpa basa basi.

Senyum di bibir Kiara kembali mengembang. Mata bulatnya seolah mengucapkan terima kasih yang sangat, bahkan sebelum ia memberitahukan permintaannya.

“Sungguh?” tanyanya dengan mata berbinar, “aku … aku nggak minta diambilin bulan atau bintang kok, kak. Sungguh. Kiara cuma … pingin kerja. Kiara bosen diem di rumah mulu. Makan, tidur, makan, tidur ... sama guling-gulingan nggak jelas di kamar doang.”

“Nggak usah! Kalau kamu bosan, kamu bisa main ke rumah nenek. Kamu bisa ketemu nenek.”

“Tapi Kak ….” Kiara mendesah pelan.

“Kamu ingat, kemarin … nenek keliatan bahagia ketemu kamu. Apa salahnya kalau –”

“Tapi aku nggak mau, Kak,” bantah Kiara, matanya berkaca-kaca seolah kalimat Hanson begitu menyakiti perasaannya.

Hanson berdiri dari kursinya. Ia mengangkat dagu Kiara, hingga mata mereka bertemu.

“Apa … nenek mengatakan sesuatu kemarin? Katakan sama kakak … apa … nenek marah sama kamu?”

Cairan bening itu merosot turun melewati pipinya saat mata bulatnya berkedip, membuat hati Hanson ikut merasakan perih yang tak terlukis.

“Nenek mau … aku dan Arga bertunangan,” lirihnya, "agar hubungan bisnis kedua keluarga semakin kuat."

“Arga … Arga Hutama?” Hanson melepaskan dagu Kiara. Hatinya mencelos saat mendengar berita itu. “Lalu … kamu mau?”

Kiara menundukkan kepalanya. “Aku … aku nggak mungkin bikin nenek sedih.”

“Jadi kamu mau?”

“Aku setuju bertunangan kalau … aku nggak juga dapat pekerjaan yang aku inginkan.”

Hanson menelan ludahnya. Ia tak tahu harus merasa senang atau justru sebaliknya.

“Jadi … pekerjaan apa yang kamu mau?” tanya Hanson, “kakak akan usahakan.”

Kiara mengusap air matanya. Ia menarik sudut bibirnya, memberikan seulas senyuman pada lelaki di hadapannya.

“Kiara pingin kerja di industri hiburan. Kiara mau ketemu dan berteman dengan banyaaak gadis cantik,” ucapnya dengan bersemangat.

Hanson menghela napas. “Oke. Kakak bisa bantu kamu buat ikut audisi film baru kita.”

Sepasang mata bulat itu langsung berbinar. Senyumnya semakin melebar.

“Beneran? Asik!” teriak Kiara.

Gadis itu langsung melompat, memeluk tubuh Hanson dengan erat.

Saking terkejutnya, tanpa sadar Hanson justru menangkap tubuhnya hingga kini bergelayut manja dalam pelukannya.

Aroma manisnya vanila yang menguar dari tubuhnya, mengingatkannya kembali dalam suasana malam itu. Mata mereka bertemu, bertatapan tanpa kedip.

Getar-getar terasa di dalam hatinya, saat tubuh mereka saling bersentuhan. Hembusan napas hangat seolah saling bersilang, membelai kulit wajah mereka.

Kiara menurunkan tatapannya, namun matanya justru terpaku pada bibir dengan kumis tipis yang dirindukannya. Dengan gugup ia menurunkan kembali pandangannya, lagi-lagi matanya justru terarah pada benjolan di leher Hanson. Benjolan yang kini bergerak naik turun dengan erotisnya.

Kiara menggigit bibirnya sendiri. Ia melonggarkan pelukannya di leher Hanson. Ia tahu dengan pasti, hubungan mereka sama sekali tak mungkin. Sekokoh apapun perasaannya, Hanson adalah kakaknya sendiri.

Namun bukannya melepaskannya, Hanson justru menyentuh tengkuknya dan mendekatkan bibirnya, menghilangkan jarak di antara mereka.

Hanson tak sanggup membohongi perasaannya. Sejak ciumannya malam itu, ia merasa hubungannya dengan Kiara, tidak bisa lagi sebagai saudara. Ia ingin lebih dari itu.

“Kiara, Kakak bisa merawatmu seumur hidup. Jangan bertunangan apalagi menikahi Arga Hutama.”

“T– tapi Kak.”

Hanson tak ingin mendengar bantahan Kiara. Ia kembali mendekatkan bibirnya, melumat bibir merah itu lebih dalam dan lebih liar.

Tanpa mereka sadari, nenek mereka berdiri mematung melihat kejadian itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 080

    “Ara, kamu akhir pekan nanti kamu ada waktu, kan?” Arga melemparkan pertanyaannya sekali lagi.“Dia—”“Kakak!” Kiara membentak sampai Hanson terkejut.Hening sepersekian detik.Kiara menunjuk Hanson dengan kesal. “Kalau Kakak yang menjawab lagi, aku lempar ini sendok!”Seketika Arga tertawa keras. Hanson justru terlihat tidak bersalah sama sekali.“Oke. Silakan jawab sendiri.” Hanson tampak kesal.Kiara mendengus kesal lalu menoleh ke Arga. “Kenapa?”“Aku mau ngajak kamu jalan,” ujar Arga.“Ara nggak suka keluar kalau cuaca panas.” Hanson menyela lagi sambil mengambil udang goreng dan memindahkannya ke piring Kiara.Kiara menatap udang itu. Lalu pandangannya tertuju pada Hanson. Ia menatap piringnya sendiri yang sekarang hampir penuh.Arga rupanya tidak mau kalah.“Oh iya?” Lelaki itu mengambil salad buah dan meletakkannya di sisi piring Kiara. “Kalau begitu kita bisa cari tempat dingin.”Hanson ikut menambahkan potongan ayam ke piring Kiara. “Dia masih sakit. Jadi harus makan banyak.

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 079

    Pagi itu Kiara bergegas keluar dari kamarnya. Ia segera menuruni tangga menuju ruang makan.Namun langkahnya berhenti tepat di anak tangga terakhir saat matanya melihat sesuatu yang tak biasanya. Ia melihat seorang lelaki duduk berhadapan dengan Nenek Melati. Lelaki itu tersenyum santai. Kemeja putih dengan lengan tergulung sampai siku membuat penampilannya terlihat rapi dan maskulin. Rambut hitamnya tertata rapi dan wajahnya terlalu familiar untuk dilupakan.Arga Hutama. Kiara membeku di tempatnya. “Arga sekarang makin ganteng ya.” Nenek Melati terlihat tersenyum bangga sambil menuangkan teh.Arga terkekeh. “Nenek masih aja suka lebay.”Kiara pelan-pelan mundur satu langkah. Bahkan Kiara menahan napas agar tidak ketahuan. Kakinya baru saja menapak di anak tangga yang lebih tinggi ketika seseorang memanggilnya. “Ara!”Kiara memejamkan mata sesaat. Sudah ketahuan. Ia menegakkan tubuhnya dan menoleh. Nenek Melati melambaikan tangan dengan senyuman lebar di bibirnya. “Ara! Ngapain be

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 078

    “Kak …” Kiara hampir kehabisan napas. Karena ciuman Hanson semakin menuntut. “Aku … nggak … napas …” lirih Kiara dengan napas terengah. Ciuman Hanson beralih ke lehernya. Kiara secepat mungkin menarik napas, mengisi paru-parunya kembali dengan udara. Kiara hendak protes, tetapi kalimat itu terkunci di tenggorokannya saat ia merasakan sentuhan tangan lelaki itu membelai tubuhnya. Deru napasnya memburu. Panas menjalar di sekujur tubuhnya saat tangan Hanson menyentuh tepat di bagian paling sensitif di tubuhnya. “Kak—” “Bagaimana, Hans? Apa Kiara mau makan?” Terdengar suara Nenek Melati dari balik pintu. “Nenek!” Kiara berbisik terkejut. Ia mendorong tubuh Hanson yang masih kuat bertahan. Seketika kakinya reflek menendang saat suara Nenek Melati terdengar. “Ugh!” Hanson terkejut ketika kaki Kiara menendang perutnya. Hanson terguling dari tepi ranjang ke lantai. Suara gedebuknya cukup keras. Kiara segera menarik selimutnya ke atas dan memperbaiki baju piyamanya dalam

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 077

    Carlos masih menaik-turunkan alisnya dengan antusias. Seketika itu juga Hanson mengambil bola kertas kedua dari keranjang sampah dan menimbang-nimbangnya di tangan.“Aku serius, Bro!” Carlos memundurkan tubuhnya. “Dengarkan dulu logikanya.”“Logika apa?” Hanson menaruh bola kertas itu kembali. Bukan karena tidak ingin melempar. Tapi karena penasaran. “Nggak ada logika yang bisa membenarkan ide seperti itu. Itu ide buruk!”“Ada.” Carlos menarik kursinya lebih dekat. “Dengar. Keluarganya tahu kamu?”“Tahu dong.”“Keluarganya merestuimu?”“Tentu saja.”“Apa yang membuat hubunganmu rumit kalau gitu?”“Restu.”Carlos mengerutkan kening. “Kalau begitu … maksudmu, Nenek Melati belum tahu siapa pacarmu? Dan kamu takut nggak direstui?”Hanson diam.Carlos mengetuk meja sekali. “Nah. Jadi, solusinya simpel. Kamu perlu situasi yang membuat Nenek Melati tidak punya pilihan lain selain merestui.”“Dan situasi itu adalah—”“Yang aku bilang tadi!” Carlos mengangkat kedua tangannya. “Sebelum kamu lem

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 076

    “Hans!” Suara itu membuat Hanson terkejut. Ia langsung melepaskan diri dari cekalan Kiara. Ia langsung menoleh. Matanya menatap sosok yang berdiri tepat di depan pintu. “Nenek—” Hanson segera bangkit dari sisi ranjang. “Ngapain Nenek datang sepagi ini?”Nenek Melati menatap kedua cucu di depannya dengan curiga. Terutama karena reaksi gugup Hanson yang sangat kentara.“Sejak kapan nenek harus minta ijin ke kamu buat datang?” sahut Nenek Melati cepat. “Jeffrey bilang, kamu sakit,” lanjut perempuan tua itu sembari mengalihkan tatapannya kepada Kiara. Kiara menegakkan tubuhnya, sementara tangannya sibuk merapikan gaun tidurnya yang sedikit berantakan. “Nggak papa Nek, Ara cuman capek—”Melati kembali mengarahkan pandangannya pada Hanson. Tatapan tajam yang justru terlihat marah “Hans, kalau kamu nggak becus urus adikmu, biar nenek yang urus,” ketus nenek Melati, “pasti kamu terlalu sibuk sama kerjaanm

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 075

    “Dia Beckie,” sahut Kiara. Gadis itu mengernyitkan keningnya karena melihat wajah gusar Hanson. “Beckie?” Kali ini Kiara menganggukkan kepalanya. “Kenapa? Jangan bilang kalau Kakak … cemburu sama Beckie.” “Tapi ….” Hanson menunjuk sosok berjaket kulit di layarnya. “Dia … bukan cowok?” Kiara menahan tawanya. Beckie memang selalu berpenampilan seperti lelaki. Bukan hanya caranya berpakaian, tapi juga gaya rambut dan juga caranya melangkah. Mungkin itu semua adalah insting alaminya sebagai anak sulung yang harus bertahan hidup tanpa sosok ayah sebagai pelindung. “Beckie … Rebecca Sukiawan,” papar Kiara. Ia masih menatap wajah Hanson dengan mengulum senyumnya. “Manajerku.” Hanson menghela napas lega. Kini semua kegundahan dalam hatinya sudah terjawab. Bahkan Alex yang sudah dimintanya untuk menyelidiki pria yang dekat dengan Kiara, sejak beberapa minggu yang lalu saja, belum mendapatkan jawaban. Dan … mungkin tak akan pernah menemukan jawabannya.“Astaga … jadi selama ini … aku—” K

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status