LOGINHanson tertawa terkekeh. Ia menggelengkan kepalanya seolah kalimat yang keluar dari mulut Carlos adalah candaan terlucu yang pernah ia dengar.
“Mana mungkin,” elaknya sembari menggelengkan kepala, “kamu pikir aku sudah gila?” Carlos menunjuk bibir Hanson, lalu menunjuk bibirnya sendiri. “Tapi … tapi itu bukti nyata. Aku nggak percaya kalau kamu kebentur sampe bibir kamu bengkak gitu. Itu … itu jelas bekas —” Hanson menghela napas dan menggelengkan kepalanya. “Jangan biarkan pikiran negatif menguasaimu, bro,” tandasnya, “udah … tolong sampaikan ke semua team marketing, semua harus di ruang meeting tiga puluh menit lagi.” Carlos mengerutkan keningnya. Ia masih tak percaya kalau penilaiannya salah. Luka itu jelas bekas gigitan. Tapi perempuan mana yang begitu berani mendekati Hanson. Lelaki itu mengedikkan pundaknya dan melangkah keluar dari ruang kerja Hanson. Namun sebelum menutup pintu, ia kembali menoleh. “Kamu … harus kenalin aku ke pacar kamu,” ujarnya, “aku benar-benar penasaran, gadis seperti apa yang bisa membuat gunung es mencair.” Hanson menggelengkan kepala dan kembali menenggelamkan diri pada file di hadapannya. Namun tiba-tiba ketenangan itu terusik oleh suara pintu yang kembali terbuka dengan keras. “Kakak!” Hanson mengangkat wajahnya, menatap lurus si pemilik suara manja yang melebarkan senyumannya di depan pintu. Gadis itu bergegas mendekat. Ia meletakkan setumpuk kotak bekal di atas meja, tepat di hadapannya. “Kakak belum makan siang, kan? Aku bawain ini buat kakak,” ucapnya dengan suara manjanya yang khas. Hanson mendorong kotak itu ke sisi lain mejanya. “Aku harus siap-siap meeting.” “Tapi Kak … aku udah tiga jam masak semua ini buat kakak,” rengek Kiara. Hanson menoleh, menatap gadis yang terus menempel padanya itu. Melihat kepalanya tertunduk, entah kenapa hatinya terasa begitu sedih. Ia menghela napas sebelum meraih salah satu kotak itu dan membukanya. Melihat reaksi itu, Kiara tersenyum lega. Ia membuka tiga kotak lainnya. Aroma wangi masakan yang masih hangat, seolah menggodanya untuk menikmati sajian itu. Kiara langsung membuka kotak alat makan dan menyendok sepotong daging kecoklatan dari dalamnya. “Aaa ….” Perintah Kiara agar Hanson membuka mulutnya. Dengan rasa canggung, Hanson membuka mulut. Matanya menatap wajah cantik di dekatnya dengan perasaan tak karuan. Dan senyum itu … senyum Kiara bahkan membuatnya kembali pada ingatan malam itu. Ia menelan daging itu dengan perasaan bersalah. Ia tak seharusnya membiarkan perasaan aneh ini tumbuh. Tapi matanya justru semakin liar. Ia sama sekali tak bisa mengendalikan saat matanya justru menatap bibir merahnya yang terlihat basah, lembut dan menggoda. Ia tak seharusnya mempunyai keinginan untuk menciumnya. “Gimana Kak? Masakanku enak, nggak?” Hanson mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia segera mengalihkan pandangannya kembali ke arah file-file lembar yang sedang dipelajarinya. “Lumayan. Kamu … belajar banyak selama ini,” puji Hanson. “Nggak juga, sih. Cuman … tadi aku masukin segenggam rasa rindu dan sejumput cinta ke dalam sana,” balas Kiara sementara kedua tangannya membentuk sebuah simbol hati dengan menyatukan kedua telunjuk dan ibu jarinya. Lagi-lagi jantung Hanson berdebar lebih cepat. Suara manja ditambah gerakan centil Kiara benar-benar membuat jantungnya tak lagi nyaman. Kedamaian hidup Hanson benar-benar sudah terusik oleh kehadirannya. “Sebenarnya … kamu nggak perlu repot kirim makan siang buatku. Aku bisa makan di kantin.” Hanson berusaha mengendalikan perasaannya. Ia berasumsi semakin jarang berinteraksi dengan Kiara, akan semakin tenang hidupnya. Namun penolakan Hanson justru membuat Kiara semakin tertantang. Ia melingkarkan tangannya di leher Hanson, memeluknya tanpa perasaan ragu. “Tapi masakan kantin, nggak seenak masakanku, Kak. Aku mau Kakak makan enak, sehat dan tentunya buatanku.” Kiara mengecup pipi Hanson, seolah itu hal yang wajar. Tubuh Hanson terasa kaku seketika. Ia menelan ludahnya, saat tubuhnya justru bereaksi. Bukan saja jantungnya yang berdebar, tapi badannya juga terasa panas dan dingin secara bersamaan. “Ara, Kakak harus siap-siap. Sebentar lagi Kakak harus hadir dalam meeting marketing,” tutur Hanson kemudian,.”kamu … pulang dulu, ya.” “Tapi Kak —” Kiara mengerucutkan bibirnya. “Tapi apa?” tanya Hanson. “Aku kemari bukan cuma buat anter makan siang,” sahutnya kemudian. “Lalu?” “Aku ….” Kiara menundukkan kepalanya, seolah ragu untuk mengucapkan sesuatu yang ada di kepalanya. “Katakan. Kakak akan penuhi asal kamu nggak minta diambilin bulan,” tegas Hanson tanpa basa basi. Senyum di bibir Kiara kembali mengembang. Mata bulatnya seolah mengucapkan terima kasih yang sangat, bahkan sebelum ia memberitahukan permintaannya. “Sungguh?” tanyanya dengan mata berbinar, “aku … aku nggak minta diambilin bulan atau bintang kok, kak. Sungguh. Kiara cuma … pingin kerja. Kiara bosen diem di rumah mulu. Makan, tidur, makan, tidur ... sama guling-gulingan nggak jelas di kamar doang.” “Nggak usah! Kalau kamu bosan, kamu bisa main ke rumah nenek. Kamu bisa ketemu nenek.” “Tapi Kak ….” Kiara mendesah pelan. “Kamu ingat, kemarin … nenek keliatan bahagia ketemu kamu. Apa salahnya kalau –” “Tapi aku nggak mau, Kak,” bantah Kiara, matanya berkaca-kaca seolah kalimat Hanson begitu menyakiti perasaannya. Hanson berdiri dari kursinya. Ia mengangkat dagu Kiara, hingga mata mereka bertemu. “Apa … nenek mengatakan sesuatu kemarin? Katakan sama kakak … apa … nenek marah sama kamu?” Cairan bening itu merosot turun melewati pipinya saat mata bulatnya berkedip, membuat hati Hanson ikut merasakan perih yang tak terlukis. “Nenek mau … aku dan Arga bertunangan,” lirihnya, "agar hubungan bisnis kedua keluarga semakin kuat." “Arga … Arga Hutama?” Hanson melepaskan dagu Kiara. Hatinya mencelos saat mendengar berita itu. “Lalu … kamu mau?” Kiara menundukkan kepalanya. “Aku … aku nggak mungkin bikin nenek sedih.” “Jadi kamu mau?” “Aku setuju bertunangan kalau … aku nggak juga dapat pekerjaan yang aku inginkan.” Hanson menelan ludahnya. Ia tak tahu harus merasa senang atau justru sebaliknya. “Jadi … pekerjaan apa yang kamu mau?” tanya Hanson, “kakak akan usahakan.” Kiara mengusap air matanya. Ia menarik sudut bibirnya, memberikan seulas senyuman pada lelaki di hadapannya. “Kiara pingin kerja di industri hiburan. Kiara mau ketemu dan berteman dengan banyaaak gadis cantik,” ucapnya dengan bersemangat. Hanson menghela napas. “Oke. Kakak bisa bantu kamu buat ikut audisi film baru kita.” Sepasang mata bulat itu langsung berbinar. Senyumnya semakin melebar. “Beneran? Asik!” teriak Kiara. Gadis itu langsung melompat, memeluk tubuh Hanson dengan erat. Saking terkejutnya, tanpa sadar Hanson justru menangkap tubuhnya hingga kini bergelayut manja dalam pelukannya. Aroma manisnya vanila yang menguar dari tubuhnya, mengingatkannya kembali dalam suasana malam itu. Mata mereka bertemu, bertatapan tanpa kedip. Getar-getar terasa di dalam hatinya, saat tubuh mereka saling bersentuhan. Hembusan napas hangat seolah saling bersilang, membelai kulit wajah mereka. Kiara menurunkan tatapannya, namun matanya justru terpaku pada bibir dengan kumis tipis yang dirindukannya. Dengan gugup ia menurunkan kembali pandangannya, lagi-lagi matanya justru terarah pada benjolan di leher Hanson. Benjolan yang kini bergerak naik turun dengan erotisnya. Kiara menggigit bibirnya sendiri. Ia melonggarkan pelukannya di leher Hanson. Ia tahu dengan pasti, hubungan mereka sama sekali tak mungkin. Sekokoh apapun perasaannya, Hanson adalah kakaknya sendiri. Namun bukannya melepaskannya, Hanson justru menyentuh tengkuknya dan mendekatkan bibirnya, menghilangkan jarak di antara mereka. Hanson tak sanggup membohongi perasaannya. Sejak ciumannya malam itu, ia merasa hubungannya dengan Kiara, tidak bisa lagi sebagai saudara. Ia ingin lebih dari itu. “Kiara, Kakak bisa merawatmu seumur hidup. Jangan bertunangan apalagi menikahi Arga Hutama.” “T– tapi Kak.” Hanson tak ingin mendengar bantahan Kiara. Ia kembali mendekatkan bibirnya, melumat bibir merah itu lebih dalam dan lebih liar. Tanpa mereka sadari, nenek mereka berdiri mematung melihat kejadian itu.“Lama tak bertemu,” ucap lelaki itu. Tangannya terulur, menunggu balasan dari Kiara. “Kamu … masih ingat aku, kan?” Kiara mengulurkan tangannya, membalas uluran tangan Jonathan yang masih menggantung di udara. Ia menarik sudut bibirnya, memberikan seulas senyumannya yang indah.“Tentu saja. Aku nggak mungkin ngelupain enam tahun kenangan kita,” sahut Kiara tulus. Jonathan, lelaki bertubuh tegap itu masih menatap Kiara tanpa berkedip. Beckie bahkan bisa melihat obsesi di mata lelaki itu. Obsesi yang justru terasa mencekam dalam tatapannya yang dalam. “Dua tahun terakhir, aku sempat mencarimu. Di panti itu, tapi mereka mengatakan kalah kamu sudah pergi,” tutur Jonathan lagi, “apa … om kamu akhirnya membawamu pulang?” Kiara menggelengkan kepalanya. “Dia nggak pernah muncul. Aku pergi dari panti karena … aku mendapatkan beasiswa sekolah seni.” “Aku memutuskan tinggal di asrama, dan mengambil beberapa part time job untuk menutupi kebutuhanku sehari-hari.” “Pantas saja,” gumam Jonath
“... sepasang suami istri mengadopsinya.”Kiara menarik sudut bibirnya. “Setelah itu, aku benar-benar harus menjaga diriku sendiri. Harus berpura-pura kuat dan bahagia.” “Sekarang kamu nggak perlu pura-pura, Ara.” Hanson mengusap pipi Kiara dengan ibu jarinya. “Kamu bebas melakukan apapun yang kamu suka.” Kiara memejamkan matanya.“Seandainya waktu bisa berputar kembali, aku nggak akan biarkan kamu pergi, Ara.” Hanson menghela napas. Matanya menatap langit-langit kamar dengan cahaya temaram itu. “Kami yang membawamu ke rumah ini. Papa dan mama di surga, pasti sedih kalau tahu betapa menderitanya kamu di sana.”Hanson memiringkan badannya, menoleh ke arah Kiara. Melihat mata gadis itu terpejam dan napasnya yang teratur, ia pun tersenyum.“Tidurlah, kamu nggak akan pernah menderita lagi sekarang,” bisik Hanson, “kakak janji, akan jagain kamu seumur hidupku.” Hanson memejamkan matanya. Kiara memutar tubuhnya dengan gelisah. Setiap kalimat yang diucapkan oleh Hanson seperti menggema
Kaca yang gelap, suara dengung halus mesin, dan mobil yang bergoyang di taman kota itu sama sekali tak ada yang mengusik, seolah dunia milik mereka berdua. Kiara menggigit bibirnya. Ia menggerakkan tubuhnya di atas tubuh Hanson. Tubuhnya menegang, menahan gelitik di dalam perutnya dan kedut itu terasa semakin kuat saat ia memegang kendali atas permainan itu. “Aah!” desis Hanson saat Kiara kembali menjepit miliknya dengan kuat. Ia dapat merasakan sesuatu menghisap miliknya, bukan hanya memijatnya. Tangan lelaki itu meremas gumpalan kenyal yang terus memantul di hadapannya. Puncak kemerahan yang menegang itu seperti menantangnya untuk dilumat. Kiara langsung menghentikan gerakannya saat bibir lelaki itu menyentuh puncak kemerahan di dadanya. Ia mendesah pelan, saat lelaki itu mulai menghisap di puncaknya dan sesuatu terasa hidup dan berkedut dengan kuat di bawah sana. “Ouh! Aku nggak tahan, Kak,” lirih Kiara. Ia mencengkram pundak Hanson semakin kuat. Perlahan ia kembali bergerak,
Hanson tak ingin membuang waktu. Ia langsung menemui Temmy, pemilik club paling terkenal di selatan kota itu. “Tem! Dimana kamu sembunyikan adikku?” teriak Hanson setelah berhasil melalui beberapa penjaga keamanan yang menghalanginya. Lelaki tiga puluhan itu langsung berdiri dari kursinya. Wajahnya memucat begitu melihat Hanson berdiri tepat di depan pintunya. “Adik … adik siapa maksudmu?”“Kiara. Kamu sembunyikan di mana dia?” “Aku nggak menyembunyikan siapapun.” “Kamu tahu … kalau kamu tetap bungkam, aku pastikan polisi akan datang dan menggeledah,” ancam Hanson, “dan itu berarti … kamu akan kehilangan banyak uang. Bisa saja istanamu yang indah ini juga bakal ditutup permanen.” “Sialan! Kamu nyumpahin aku?” “Aku nggak nyumpahin kamu. Aku cuma nyumpahin orang yang menyembunyikan Kiara,” tutur Hanson, “kamu harus mikirin … apa akibatnya kalau … Kiara, adikku, artis yang lagi gemilang dalam karirnya itu justru mati dengan mengenaskan di tempat kamu.”“Mati?” ulang Temmy. Matanya
Hanson baru saja akan kembali ke kamar tidurnya, saat suara dering itu terdengar dan nama Alex muncul di layarnya.Ia mengangkat panggilan itu. Alex cuma akan telepon saat ada sesuatu yang penting untuk disampaikan. Berbeda dengan Carlos yang kerap menghubunginya hanya untuk mengganggunya.“Iya Lex.”“Hans. Vanessa masih di kota ini,” Alex langsung pada topiknya. “Seseorang baru melihatnya di sebuah club malam. Aku memberitahumu, supaya kamu lebih hati-hati.” “Club malam?”“Sepertinya dia kenal atau punya relasi dengan pemiliknya. ‘Seventy eight degrees’ di selatan kota.”“Baik, aku mengerti.” Hanson hendak menutup panggilan telepon itu ketika Alex menambahkan. “Aku tidak tahu apa rencananya kali ini. Bersembunyi sekian lama, tapi … sebaiknya kamu jaga adikmu baik-baik. Menurut prediksiku, dia sedang menunggumu lengah. Kiara adalah target utamanya.” Hanson mengepalkan tangannya kuat. Rahangnya mengeras mendengar peringatan itu. Ia tidak bisa menyangkal, setelah kejadian terakhir de
Kiara masih kesal. Baginya, malam ini Hanson sangat menyebalkan. Ia bukan hanya membuatnya malu pada kasir supermarket, tapi juga memperolok alih-alih memberitahunya isi kotak warna-warni itu.Tapi … melihat steak di atas meja itu, membuat amarahnya menghilang. Ia makan dengan lahap. Bukan hanya dagingnya yang terasa juicy, tapi saos kecoklatan yang melimpah di atasnya terasa menggugah selera. “Kak, sebaiknya kamu buka restoran deh,” puji Kiara, “masakanmu enak dan melihat tampilannya … lebih nyaman di mata dibandingkan tulisanmu.”Hanson menepuk jidatnya. “Itu dua hal yang berbeda.” “Apanya yang berbeda … dua duanya hasil usaha tanganmu. Tangan orang yang sama.”Hanson menghela napas. “Kiara, kamu—” “Satu tangan yang bisa menciptakan rasa yang enak di lidah, dan satu tangan yang menciptakan goresan un estetik.”“Kiara.” Lelaki itu mendecak kesal.Kiara mengangkat alisnya lalu berdiri. “Aku tidur dulu, Kak,” ujar Kiara. Ia baru saja menaiki anak tangga pertama saat menoleh ke arah







