Se connecterKiara dapat merasakan hembusan napas hangat menyentuh pipinya. Ia dapat merasakan hangat sentuhan di bibirnya. Sensasi yang membuat jantungnya gemuruh dalam gelenyar yang sama sekali asing baginya.
Ia memejamkan mata, sengaja menikmati sensasi aneh yang semakin menggelitik di dalam hatinya. Aroma alkohol terasa begitu kuat di hidungnya, saat bibir dengan kumis tipis itu melumatnya dengan penuh gairah. Kiara memukul dada kakaknya. Ia sadar bahwa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan. Ia berusaha melepaskan diri dari kungkungan lelaki yang usianya terpaut delapan tahun itu. Tapi kekuatannya sama sekali bukan lawan Hanson. Hanson benar-benar mengunci tubuhnya, membuatnya tak berdaya bahkan untuk menolak ciumannya yang semakin beraroma berahi. Kiara tahu, kakaknya sedang tak sadar. Alkohol benar-benar meracuni otaknya, hingga tanpa sadar mencelakainya. Dengan sisa keberaniannya, Kiara menggigit bibir Hanson hingga lelaki itu akhirnya melepaskannya. Napas Kiara terengah. Ia mendorong tubuh Hanson dan segera keluar dari kamar itu. Ia benar-benar kecewa dan marah. Ciuman pertama yang seharusnya berkesan, justru direbut begitu saja oleh kakaknya sendiri. …. “Akhirnya pangeran si tukang tidur bangun juga,” celetuk Carlos dari meja makan. Tangannya meraih potongan kentang wedges dari piring di hadapannya. “Carlos, ngapain kamu pagi-pagi kemari?” Carlos justru menoleh dan mengangkat alisnya ke arah Kiara. “Tentu saja buat nengok adik kamu yang baru kembali.” Kiara langsung membuang muka dengan canggung. Ingatannya kembali pada kejadian semalam. Bukan hanya ingatan tentang kejadian, ia bahkan masih bisa merasakan bibir Hanson saat melekat di bibirnya. Rasa hangat dan gelenyar yang muncul saat lumatan itu semakin menggila. “Jangan coba-coba ganggu Kiara,” ucap Hanson dengan nada serius, “ini peringatan, aku nggak akan biarin siapapun ganggu dia.” “Bro, dia bukan anak kecil yang dulu,” balas Carlos tak mau kalah, “seharusnya dia sudah berhak mengambil keputusan buat hidupnya sendiri.” Carlos mengerlingkan matanya pada Kiara. Namun lagi-lagi Kiara membuang muka. Ia sama sekali tak tertarik untuk melibatkan diri dengan perdebatan kedua lelaki itu. “Bukankah persahabatan kita bakal lebih kuat jika aku jadi adik ipar kamu,” lanjut Carlos sembari tertawa terkekeh. Hanson tak menjawab. Ia justru melangkah mendekati Kiara dan meraih lengan gadis itu. Kiara yang sejak tadi tak menggubris keduanya, terkejut saat kakaknya menyentak lengannya, memaksanya berdiri dari kursinya. “Kakak antar kamu ke rumah nenek sekarang,” ucapnya sembari menarik tangan Kiara meninggalkan Carlos yang menatapnya dengan senyum nakal khas nya. …. “Jangan pernah termakan rayuan Carlos. Dia …” Hanson mengepalkan tinjunya. Selama ini ia tidak pernah menjelek-jelekkan sahabatnya itu, tapi ia tidak rela jika adiknya bakal jadi korban sahabatnya itu. “Dia kenapa, Kak?” tanya Kiara. Mata bulatnya menatap Hanson, membuat jantung lelaki muda itu berdegup lebih cepat. Hanson mengalihkan pandangannya lebih ke bawah, tapi matanya justru terpaku pada bibir mungil yang setengah terbuka. Lelaki muda itu menelan kasar ludahnya. Kilas bayangan semalam melintas di dalam ingatannya. Luka di bibirnya seperti sebuah tamparan bahwa ingatannya tentang kejadian semalam, sama sekali tidak keliru. Ia sudah bertindak melampaui batas norma, kepada adiknya. “Kakak?” ulang Kiara dengan suara khasnya yang terdengar lembut dan manja. “Dia … dia … bukan pria baik-baik. Suka mempermainkan wanita. Dan … aku nggak mau kamu jadi korbannya,” sahut Hanson setengah tergagap. Kiara mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kalau gitu … Kiara nggak mau pacaran sama dia. Lagi pula nenek mau kenalkan Kiara pada salah satu cucu sahabatnya.” Hanson menghela napas panjang. Entah kenapa hatinya merasa berat mendengar pernyataan itu. “Ara, kamu masih muda. Nggak perlu buru-buru buat pacaran apalagi nikah. Kalau nanti kamu nggak suka, tolak aja, ya,” tutur Hanson. Matanya menatap lalu lintas yang padat di depannya, walau sebenarnya ia tak ingin perasaannya terbaca dengan mudah oleh adiknya. “Kak, Kiara sudah dua puluh tahun. Kiara udah bukan anak kecil lagi. Seharusnya Kiara berhak buat ambil keputusan sendiri atas hidup yang akan Kiara jalani,” tegas Kiara. Matanya menatap tajam lelaki di sampingnya. Tapi Hanson sama sekali tak peduli. Ia justru memejamkan mata, menahan emosi yang mulai bergemuruh di dalam dadanya. …. Beberapa saat kemudian Kiara masuk ke rumah tinggal keluarga Luminto, seorang perempuan tujuh puluhan menyambut kedatangannya. “Kiara …. Akhirnya kamu datang juga,” ucap nenek sembari tersenyum bahagia. “Nenek, Kakak nakal. Tadi malam –” Hanson langsung menutup bibir adiknya dengan telapak tangannya yang besar. Ia mendelik, seolah takut Kiara akan mengatakan hal yang tak seharusnya dan membuat neneknya terkejut. Wanita yang hampir seluruh rambutnya memutih itu justru tertawa terkekeh. “Sudah lama nenek nggak merasakan keramaian seperti ini.” Kiara menarik tangan kakaknya yang menempel kuat menutup bibirnya. Tapi tentu saja Hanson tak mau melepas tangannya. Ia tak mau Kiara memberitahu neneknya bahwa ia telah mencium adiknya sendiri, bukan sebagai adik, tapi sebagai seorang wanita. Namun sesaat kemudian, Hanson menarik tangannya. Ia mendelik saat menyadari bahwa Kiara dengan sengaja menjilat tangannya! “Kamu …” teriaknya dengan telunjuk mengacung pada adiknya. Kiara menyilangkan kedua tangannya bersedekap di dada. “Siapa suruh main bekap mulut orang,” balasnya sembari duduk di sisi neneknya. “Hans, kamu sudah dua puluh delapan tahun. Sudah waktunya kamu nikah dan kasih nenekmu ini seorang cucu,” tutur nenek tanpa basa basi, “kemarin Vanessa, putri Pak Genta mengunjungi nenek. Dia berniat menjodohkan putrinya denganmu.” Hanson menghela napas. Ia menyeka tangannya dengan tisu, lalu duduk tepat di hadapan neneknya. “Aku sudah punya seseorang yang aku cintai,” ucap Hanson dengan santainya. “Siapa? Apa nenek pernah bertemu dengan dia?” tanya nenek setengah curiga dengan perkataan Hanson. Hanson melirik Kiara. “Seandainya saja … aku bisa memindahkan perasaanku. Seandainya saja … aku bisa merasakan perasaan yang sama pada perempuan lain ….”“... aku bisa lakukan apapun buat kamu. Termasuk menyingkirkan Kayuna Group dari bumi Nusantara.” Kiara menelan salivanya. Napasnya semakin kacau saat hembusan napas lelaki itu membelai kulit di dadanya dan rasa gelitik yang kuat menyentuh di puncaknya yang menegang. “Kakak—” Sentuhan basah itu terasa panas saat hembusan napas hangat Hanson menyentuhnya. Tubuhnya menegang, gelisah dalam gairah yang semakin memuncak. Kiara menggigit bibirnya saat merasakan sentuhan di bawah sana. Terasa lembut, menggoda, membuat sensasi aneh di dalam perutnya. Tangannya meremas kuat sprei di bawahnya saat sesuatu di bawah sana mulai menekan di celah di antara kedua pahanya. Panas, lembut dan terasa menyesak di dalam rongganya. Kedut-kedut itu terasa kuat, menciptakan sensasi aneh di dalam perutnya. Apalagi saat Hanson mulai menggerakkan tubuhnya dengan ritme yang bervariasi. Napasnya semakin kacau. Jantungnya berdetak semakin kencang dan bibirnya tak sanggup menahan desah menanggung setiap henta
Kiara dapat merasakan kejujuran dari tatapan matanya. Mendadak ia merasakan kengerian dalam dadanya. Apa jadinya seandainya Jonathan bertemu dengan Hanson? Apa jadinya jika Jonathan tahu lelaki yang dicintainya adalah kerabat pria yang sudah membuatnya menderita. Kiara mendesah pelan, saat merasakan remasan di pantatnya. Hanson menarik tubuhnya mendekat, membuat tubuh mereka saling bersentuhan. Napas mereka saling bersilang, membelai wajah keduanya. “Tapi aku bukan matahari,” sahut Kiara, “dan kakak bukan bulan.” “Kamu benar. Kita bukan bulan ataupun matahari. Dan aku nggak mau jadi mereka yang terus saling mengejar. Aku mau terus ada di dekat kamu.”Hanson mendekatkan bibirnya, melumat bibir mungil gadis di depannya dengan penuh hasrat. Tangannya memeluk tubuh gadis di depannya seolah takut ia kembali tenggelam.Kiara meletakkan satu tangannya di dada Hanson. Tangan itu menekan kuat, jelas menolak sentuhan lelaki di depannya. “Kak, kamu belum jawab pertanyaanku,” ucap Kiara deng
“Jo, kalau itu tujuanmu. Sebaiknya aku nggak terima kontrak kerja sama ini.” Kiara meraih tas di sisinya dan berdiri. “Aku nggak mau orang lain salah paham.” Jonathan melepas sarung tangan kotornya dan meletakkannya di atas meja. Lelaki itu langsung berdiri dan meraih tangan Kiara, menahannya untuk tidak melangkah pergi.“Aku nggak ada tunangan, calon istri atau apapun sejenisnya. Kalau itu yang kamu cemaskan,” balasnya, “aku benar-benar merindukanmu. Aku—” “Jo. Dengar … aku nggak perlu penjelasan apapun dari kamu. Kita sudah sama dewasa. Aku ataupun kamu, bebas menentukan dengan siapa kita mau bersama. Kita tidak bisa hidup dalam bayangan masa lalu,” potong Kiara.“Maksud kamu—” “Aku juga sudah punya seseorang di hatiku. Seseorang yang aku ingin hidup bersama.” Jonathan melepaskan cekalannya. Ia menundukkan kepalanya. “Aku … terlambat ya.” Kiara menghela napas, seolah semua kekhawatiran lepas dari pundaknya. “Aku … cuma bisa menganggapmu teman.” Jonathan mengangkat kepalanya. “
“Lama tak bertemu,” ucap lelaki itu. Tangannya terulur, menunggu balasan dari Kiara. “Kamu … masih ingat aku, kan?” Kiara mengulurkan tangannya, membalas uluran tangan Jonathan yang masih menggantung di udara. Ia menarik sudut bibirnya, memberikan seulas senyumannya yang indah.“Tentu saja. Aku nggak mungkin ngelupain enam tahun kenangan kita,” sahut Kiara tulus. Jonathan, lelaki bertubuh tegap itu masih menatap Kiara tanpa berkedip. Beckie bahkan bisa melihat obsesi di mata lelaki itu. Obsesi yang justru terasa mencekam dalam tatapannya yang dalam. “Dua tahun terakhir, aku sempat mencarimu. Di panti itu, tapi mereka mengatakan kalah kamu sudah pergi,” tutur Jonathan lagi, “apa … om kamu akhirnya membawamu pulang?” Kiara menggelengkan kepalanya. “Dia nggak pernah muncul. Aku pergi dari panti karena … aku mendapatkan beasiswa sekolah seni.” “Aku memutuskan tinggal di asrama, dan mengambil beberapa part time job untuk menutupi kebutuhanku sehari-hari.” “Pantas saja,” gumam Jonath
“... sepasang suami istri mengadopsinya.”Kiara menarik sudut bibirnya. “Setelah itu, aku benar-benar harus menjaga diriku sendiri. Harus berpura-pura kuat dan bahagia.” “Sekarang kamu nggak perlu pura-pura, Ara.” Hanson mengusap pipi Kiara dengan ibu jarinya. “Kamu bebas melakukan apapun yang kamu suka.” Kiara memejamkan matanya.“Seandainya waktu bisa berputar kembali, aku nggak akan biarkan kamu pergi, Ara.” Hanson menghela napas. Matanya menatap langit-langit kamar dengan cahaya temaram itu. “Kami yang membawamu ke rumah ini. Papa dan mama di surga, pasti sedih kalau tahu betapa menderitanya kamu di sana.”Hanson memiringkan badannya, menoleh ke arah Kiara. Melihat mata gadis itu terpejam dan napasnya yang teratur, ia pun tersenyum.“Tidurlah, kamu nggak akan pernah menderita lagi sekarang,” bisik Hanson, “kakak janji, akan jagain kamu seumur hidupku.” Hanson memejamkan matanya. Kiara memutar tubuhnya dengan gelisah. Setiap kalimat yang diucapkan oleh Hanson seperti menggema
Kaca yang gelap, suara dengung halus mesin, dan mobil yang bergoyang di taman kota itu sama sekali tak ada yang mengusik, seolah dunia milik mereka berdua. Kiara menggigit bibirnya. Ia menggerakkan tubuhnya di atas tubuh Hanson. Tubuhnya menegang, menahan gelitik di dalam perutnya dan kedut itu terasa semakin kuat saat ia memegang kendali atas permainan itu. “Aah!” desis Hanson saat Kiara kembali menjepit miliknya dengan kuat. Ia dapat merasakan sesuatu menghisap miliknya, bukan hanya memijatnya. Tangan lelaki itu meremas gumpalan kenyal yang terus memantul di hadapannya. Puncak kemerahan yang menegang itu seperti menantangnya untuk dilumat. Kiara langsung menghentikan gerakannya saat bibir lelaki itu menyentuh puncak kemerahan di dadanya. Ia mendesah pelan, saat lelaki itu mulai menghisap di puncaknya dan sesuatu terasa hidup dan berkedut dengan kuat di bawah sana. “Ouh! Aku nggak tahan, Kak,” lirih Kiara. Ia mencengkram pundak Hanson semakin kuat. Perlahan ia kembali bergerak,
“Aku rasa kita tidak bisa terus mengandalkan pendapatan dari film yang kita rilis. Modal yang besar dibanding dengan realita bahwa selera penonton yang berubah.” Carlos menyimpulkan hasil rapat tentang kegagalan film terakhir. “Lalu … kita harus susun strategi baru. Bagaimana menurut Pak Hanson?”H
Carlos menatap perempuan tua yang berdiri di depan pintu direksi. Ia mengerutkan keningnya saat melihat perempuan anggun dalam balutan warna ungu itu menutup kembali pintu ruangan yang baru akan dibukanya. “Kenapa nggak masuk, Bu Melati?” tanya lelaki muda itu dengan tatapan heran. “Aku nggak
Hanson tertawa terkekeh. Ia menggelengkan kepalanya seolah kalimat yang keluar dari mulut Carlos adalah candaan terlucu yang pernah ia dengar. “Mana mungkin,” elaknya sembari menggelengkan kepala, “kamu pikir aku sudah gila?” Carlos menunjuk bibir Hanson, lalu menunjuk bibirnya sendiri. “Tapi … t
Hanson tak menjawab, hanya seulas senyuman canggung menggantikan jawabannya.Perempuan tua itu mendengus kesal. “Kamu sadar kan, kalau nenek kamu ini sudah tua. Berapa lama lagi usia nenekmu ini? Kenapa permintaan sederhana saja, kamu nggak mau kasih. Nenek cuma mau gendong cicit nenek. Itu saja, k







