MasukSetelah sidang pertama, yakni upaya mediasi gagal karena keduanya bersepakat bercerai, maka hakim memutuskan mengabulkan gugatan perceraian yang diajukan Marsel terhadap Aira. Aira pun tidak berniat untuk melakukan upaya hukum banding. Dua pekan kemudian, barulah mereka menerima akta cerai.
Secara tidak sengaja mereka bersamaan mengambil akta perceraian. Aira menampilkan paras cerah sewaktu menerima akta cerai. Namun, tidak demikian dengan Marsel. Dia tampak kaku membaca kertas dengan tulisan besar AKTA CERAI. Melihat tak ada reaksi sedih dari Aira, perasaan Marsel seolah-olah membalik. “Sepertinya kamu senang,” sapa Marsel sewaktu mendatangi Aira yang berniat keluar dari kantor tanpa menyapanya. “Seperti yang kamu lihat.” Aira mengangkat kertas akta sembari melebarkan senyumnya menandakan kepuasaan karena mereka berdua telah sah menjadi mantan. Dengan kepala tegak dan dada yang membusung, Aira melewati Marsel. Sebaliknya, Marsel tampak gusar melihat Aira berubah sikap dari sebelumnya. Aira sudah tidak lagi mempekerjakan Dara, dia memilih untuk hidup mandiri mengingat harus membangun ketangguhan dan ketegaran sebagai seorang janda. Dia memilih pergi ke makam tempat ibunya beristirahat, menceritakan apa yang telah terjadi lalu meminta maaf gara-gara pernikahannya gagal.. Selang beberapa waktu, ponselnya berdering, tertera nama ‘Pak Satrio’ di layar. “Ada waktu malam ini bertemu?” tanya pria itu dari seberang, tanpa basa-basi. Aira mengira Satrio akan membicarakan soal rumah. “Bukan itu, ini soal ... lebih baik bertemu,” pinta Satrio menahan informasi. Dengan berat hati, Aira mengiyakan, tak masalah baginya karena pria itu bertemu di ruang publik sehingga Aira merasa cukup aman untuk bertemu. “Kamu baca ini.” Satrio menyodorkan map coklat pada Aira saat mereka berjumpa di sebuah restoran. Aira tampak tidak tertarik untuk menyentuh, apalagi membacanya. “Peristiwa malam ....” Satrio tidak enak melanjutkan, tetapi ia harus mengungkap kebenaran. “Peristiwa itu terjadi atas suruhan Marselino Wijaya, mantan suami kamu.” Bagai petir di siang bolong, Aira tersentak mendengar tuduhan Satrio terhadap mantan suaminya. “Semua bukti ada di dalam map ini. Aku menyuruh orang untuk mencari tahu kebenarannya.” Sigap Aira mengambil map dan membukanya, ia membolak-balik bukti yang diserahkan Satrio. Ada bukti percakapan, foto pertemuan, dan foto obat untuk orang dewasa. “Brengsek!” maki Aira. Tidak sabaran, Aira berjalan keluar. Sebelum itu, Satrio mencegatnya. “Kamu mau pergi ke mana?” Niatan awal Satrio untuk mengetahui apa rencana Aira setelah mengetahui jebakan mantan suaminya. “Mencari Marsel.” Aira mengempas kuat lengannya sampai terlepas dari Satrio. “Marsel akan mengira kamu menyesal bercerai darinya.” Aira berpikir keras, ia begitu marah dan bermaksud melabrak Marsel. Satrio mengajak Aira kembali duduk. “Kamu harus menyusun langkah untuk menghadapi Marsel, mantan suami kamu orang yang licik. Salah langkah bukan keadilan yang kamu dapatkan, bisa jadi sebaliknya. Aku akan membantu kamu,” ungkap Marsel. Aira memandang Marsel dalam, pria itu pun membalas tatapannya. “Mengapa mau membantu, Pak Satrio?” Satrio kehilangan kata-kata, ia mengalihkan pandangan ke arah lain dengan manik mata yang berpindah-pindah. Dia tak berniat menjawab pertanyaan Aira. Aira diantar pulang oleh Satrio, sedari tadi perempuan itu hanya diam, ternyata duduk ketiduran di samping Satrio. Pria itu menunggu Aira bangun, tanpa mengganggunya. Melihat arloji menunjukkan malam makin larut, Aira dibangunkan pelan oleh Satrio tanpa menyentuhnya. “Aira,” panggil Satrio. Namun, Aira malah merebahkan badannya ke kanan mendekati Satrio. Sigap pria itu menahan badan Aira agar tidak terhempas sehingga posisi kepala Aira berada di bawah dagu Satrio. Keadaan itu membuat Satrio tidak bisa bergerak, bahkan matanya setia terjaga, tidak seperti Aira yang begitu lelap dalam dekapan Satrio. Kendaraan pun masih terparkir rapi di depan rumah Aira, padahal sudah hampir tengah malam. Saat Aira bergerak, Satrio mengira perempuan itu terbangun, ternyata ia hanya mencari posisi nyaman untuk tidur lebih dalam. Napas tenang Aira mengganggu sekitar leher dan dada Satrio, jantungnya mulai berdetak tidak karuan. Saat ini Satrio sangat berusaha mengendalikan diri untuk tidak memegang bagian tubuh Aira. Malangnya, suara Satrio untuk membangunkan Aira tidak keluar sedikit pun. Dia hanya terdiam membeku. Satrio merasa situasi yang dihadapinya begitu berat, ditambah lagi peristiwa malam bersama Aira di sebuah hotel malah menari-nari dalam pikirannya. Dalam keadaan angin AC menyala, Satrio berkeringat dingin. “Aira.” Satrio cukup lega akhirnya suaranya bisa keluar, meskipun sulit. Dia berusaha memanggil sekali lagi, Satrio menyadari suaranya mulai berbeda dan semakin lama kondisi mereka seperti itu tidak aman untuk Aira. Terasa pergerakan pelan Aira, perempuan itu menggosok-gosok matanya. Dia tersentak mendapati posisi yang begitu dekat dengan Satrio. “Aduuh...,” ucap Satrio dengan ekspresi kesakitan, sembari memijit pundaknya yang terasa kebas. Ia mengangkat lengan kiri agar ototnya meregang. Aira melihat sekitar. “Sudah sampai?” ucapnya seperti bertanya. “Sudah. Kamu ketiduran, aku tidak melakukan apa-apa sama kamu,” ujar Satrio menggeleng-geleng seraya mengangkat kedua tangannya. “Mengapa tidak membangunkanku?!” Nada suara Aira meninggi menuntut jawab. Sewaktu Satrio ingin menjelaskan, Aira telah lebih dulu membuka mobil lalu turun sembari menutup pintu dengan kencang sampai membuat Satrio terpejam. “Dasar perempuan!”Kakek Tarasumitro kecewa dengan satrio yang tidak melaporkan keadaan perusahaan yang megalami kerugian, apalgi disebabkan oleh cucunya sendiri.“Sebagai seorang peimpin perusahaan kamu seharusnya tahu bila membiarkan ini semua, maka kamu juga turut terlibat dalam menjatuhkan perusahaan.”Satrio benar-benar merasa bersalah, sekalipun dia pernah memiliki keinginan sedari awal untuk memberitahukan keadaan pada kakek, Satrio menjadi ragu dengan tanggapan kakek yang begitu menyayangi Dinda.“Kakek memang sangat menyayangi Dinda, tetapi membangun perusahaan harus dengan profesional, tidak bisa semau saya. Sudah dari lama kamu harusnya mendiskusikan hal ini dengan kakek, bila bukan Aira, kamu pasti akan terus menyembunyikan ini dari kakek,” ujar kakek Tarasumitro menoleh pada Aira yang tersenyum tipis dengan suara bergetar.Pandangan Satrio juga tertuju pada Aira, ia masih tidak menyangka kalau langkahnya didahului oleh Aira.“Sekali lagi aku minta maaf pada kakek, sebenarnya kedatangan
Sudah beberapa minggu Aira tidak banyak bicara, hanya seperlunya. Satrio merasa tidak nyaman sewaktu kembali ke rumah. Di kantor pun dia tidak bisa berkonsentrasi saat bekerja. Dia memutuskan untuk meminta bantuan seseorang.“Kalau mama di posisi Aira, mungkin juga akan melakukan tindakan yang sama,” ujar Ratih setelah mendengar cerita rumah tangga putranya.“Aku mau minta bantuan mama agar bicara pada Aira, aku tahu caraku salah, Ma, tidak jujur dari awal.”“Bukan hanya tidak jujur, Satrio, tetapi kamu juga membiarkan Dinda tetap berada dekat dengan kamu, sementara Dinda menaruh perasaan lebih pada kamu dan Aira tahu itu,” tambah Ratih menilai situasi.“Untuk Dinda mau bagaimana, Ma. Dinda kesayangan kakek, kalau kakek tahu aku memecat Dinda, pasti marah besar dan akan mengorbankan hubunganku dengan kakek,” sanggah Satrio mengingat bagaimana kakek Tarasumitro selalu mendahulukan Dinda.“Anak perusahaan kakek ada banyak, Satrio. Bisa saja diberikan kepada Dinda untuk dipimpin, h
"Baik, aku tidak akan menerima tawaran kerjasama dari pihak yang dikenal oleh Dinda itu."Satrio menyampaikan rasa sesalnya terhadap Aira.Hanya saja, jejak kekecewaan masih melekat dalam diri Aira."Setiap hari kamu akan bertemu dengan Dinda, dia teman satu kantor kamu. Bila kamu tidak kedapatan seperti tadi, kamu pasti tetap akan melepaskan tante Diah, bukan?" cecar Aira dengan suara cetar sembari menatap tajam suaminya.Hanya bisa terdiam, Satrio pun tidak mampu mengatakan tidak atau ya. Ketidaksengajaan tadilah yang sangat disesalinya, membuat masalah baru bagi dirinya dan Aira."Aira, aku minta maaf sekali. Aku menyesal," Berkali-kali Satrio menyampaikan permohonan maafnya, hanya saja Aira tidak semudah itu membalik perasaannya."Aku tidak meminta banyak hal sedari awal pernikahan pada kamu, jujur, hanya kata itu yang aku harapkan dari kamu. Marsel selama dua tahun membohongi aku, nyatanya dia tidak pernah benar-benar mencintai aku!"Kali ini air mata Aira keluar deras, bukan men
Aira terdiam merenungkan maksud dari ide suaminya. "Alasannya apa?" selidik Aira. "Bukannya tante Diah orang yang nekat melakukan apa saja bila ia dibebaskan dari segala tuntutan?" lanjut Aira bertanya. "Em, aku sekedar bertanya," balas Satrio. "Aku tinggal dulu, ya, ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan." Sepeninggalan Satrio, Aira mencoba mendalami apa hal yang terjadi pada suaminya. Hanya saja, ia tidak menemukan kejanggalan sebelum ini. Besoknya, Satrio kembali ke kantor bekerja seperti biasa. Lagi-lagi Dinda datang kepadanya dan menanyakan tawaran yang diajukannya. "Aku menolak kerja sama ini, Dinda." Dinda yang terkejut mencoba menetralkan raut wajahnya. "Kakak tidak tertarik untuk memberi keuntungan besar untuk perusahaan, bukannya kalau kakek mengetahui kemajuan perusahaan kakaklah orang yang diuntungkan, kakek semakin percaya kepada kakak." Satrio memahami kalau Dinda orang yang mahir membujuk orang lain agar memenuhi keinginannya, tidak luput Satrio term
Satrio mulai aktif hadir di perusahaan milik keluarga Tarasumitro, sementara kantor konselingmya dipercayakan pada rekan konselor. Dia memeriksa laporan keuangan sewaktu Dinda yang sempat menjabat sebagai pimpinan perusahaan."Kakek harusnya tahu ini, selagi tante Diah di dalam tahanan," ujarnya untuk diri sendiri.Satrio membaca kerugian perusahaan mencapai milyaran rupiah. Nilai yang cukup besar.Ketukan pintu membuyarkan fokus Satrio."Permisi Pak, Ibu Dinda ingin bertemu," lapor sekretaris Satrio yang saat ini seorang laki-laki.Satrio berpikir sejenak apakah ia harus menerima Dinda."Suruh masuk."Dinda dengan senyum menawan memasuki ruangan Satrio."Ruangannya berubah total, ya. Selera kakak bagus juga." Dinda menatap keseluruh penjuru ruangan. Satrio mencermati ucapan dan sikap Dinda. Terkadang Dinda hanya memanggil namanya, lain waktu ia akan memanggil kakak pada Satrio."Datang kemari bukan untuk menilai ruanganku, bukan?" tanya Satrio tak ingin berbasa-basi.Dinda tertawa p
Aira tidak ingin berada terus dalam kesedihan, usai membasuh tubuh, ia pergi menemui putra mereka di kamar yang berbeda. Kamar khusus itu dirancang untuk mendukung kesehatan Sultan dengan segala perlengkapan bayi. Hilang rasa sedih Aira begitu menatap dan menggendong Sultan, semua berubah menjadi rasa gembira."Apa Sultan rewel selama saya tinggal, Sus?" tanya Aira pada pekerja yang spesifik untuk membantu merawat Sultan. "Tidak, Bu. Jadwalnya juga berjalan seperti biasa," jawabnya.Kehadiran Aira tepat di waktu Sultan akan menyusu, dengan telaten Aira memberikan apa yang menjadi kebutuhan Sultan."Suster Ana boleh istirahat," ujar Aira yang tidak ingin terlalu memberatkan pekerjanya.Mereka mempekerjakan orang-orang dengan menyediakan tempat tinggal dengan memenuhi segala kebutuhan pribadi mereka sehingga yang tinggal di sana betah bekerja.Suster Ana izin meninggalkan kamar Sultan, kini tinggallah mereka berdua. Aira yang senang bernyanyi mulai bersenandung kecil dengan ciptaan l







