LOGINKeesokan harinya, Devanka tampak lebih sensi dari biasanya.
Pria itu berkali-kali memperingatkan Nayara—peringatan yang lebih terdengar seperti ancaman—karena orang tuanya mendadak datang berkunjung. Nayara sebisa mungkin menyembunyikan kesedihan di wajahnya. Bagaimanapun, mertuanya begitu baik padanya. “Mama sama Papa bakal nginep malam ini, ya.” Devanka langsung menunjukkan rasa tidak suka. “Hotel lebih nyaman, kenapa nggak ke sana saja?” katanya. Mamanya langsung memicingkan mata. “Kamu takut terganggu?” “Bukan gitu, Ma,” sahut Devanka. “Tapi—” “Iya, iya. Mama ngerti,” sela wanita paruh baya itu. Ia lantas tersenyum ke arah Nayara yang sejak tadi hanya diam. “Oh ya, Mama punya hadiah, lho, untuk kalian.” Nayara melirik Devanka sebelum bertanya pada ibu mertuanya itu. “Ha-hadiah?” “Tiket bulan madu ke Swiss!” seru wanita paruh baya itu. “Zurich. Total sepekan penuh. Resort sudah kami pesan, itinerary sudah kami siapkan. Kalian tinggal bawa diri saja.” Devanka menghela napas kasar. “Nggak perlu kayak gini, Ma.” Sang Papa menepuk bahu Devanka pelan. “Kami tahu kamu sibuk, makanya kami yang siapkan. Kami juga pengen segera nimang cucu.” Nayara menunduk makin dalam. Ingin rasanya tubuhnya mengecil agar tidak terlihat. Ia hanya bisa diam, tak sanggup berkata apapun. “Besok malam kalian berangkat. Kami yang atur semua,” timpal sang mama, tak memberi ruang untuk penolakan. “Gunakan waktu ini untuk saling mengenal lebih baik.” Devanka memijit keningnya, ekspresi frustasi begitu nyata. Namun, ia tak menyanggah. Setelah duduk sebentar, mengobrol basa-basi dan memastikan semuanya disiapkan, sepasang paruh baya itu akhirnya pamit. Begitu pintu tertutup, keheningan mendadak berubah menjadi badai. BRAK! Amplop tiket yang tadi dipegang Devanka, kini mendarat keras di atas meja. Pria itu berbalik menatap Nayara tajam, seolah semua ini adalah kesalahannya. “Ini semua rencanamu, kan?” tudingnya tajam. Nayara menggeleng cepat, panik. “Nggak, Mas. Aku sama sekali nggak tahu—” “Jangan pura-pura polos!” sentak Devanka marah. “Tapi aku benar-benar nggak tahu, Mas. Aku juga kaget.” Devanka mendengus. Ia merogoh ponsel dan jemarinya menari lincah di layar. Nayara menatapnya takut, tidak berani bertanya. “Kemasi saja barangmu, besok malam ke airport,” ujar Devanka kemudian. Nayara menelan ludah. “Aku ... belum pernah ke sana, Mas. Apa saja—” “Jangan banyak tanya! Bawa pakaian hangat.” Manik bening itu berbinar kaget, hampir saja bibirnya melengkung bahagia. Namun, mendadak sirna saat suaminya berkata, “Calysta ikut.” “A-apa?” “Kamarku bareng Calysta. Kamu di kamar lain.” Devanka melanjutkan tanpa memandang istrinya. “Kamu urus keperluan Calysta selama di sana. Kita nggak bawa asisten.” Dunia seakan runtuh dalam diam. Bahkan, dalam bulan madu pun, Devanka malah membawa wanita lain dan tak menginginkan kebersamaan dengannya. Tanpa sepatah katapun lagi, Devanka pergi meninggalkannya seperti biasa, masuk kamar tanpa peduli ucapannya meninggalkan luka menganga. *** Keesokan harinya, Calysta datang ke apartemen membawa koper besar dan tentengan tas jumbo. Hari masih siang dan wanita itu sudah membuat gaduh dengan menyuruh Nayara mengemas ulang pakaiannya. “Nanti kamarmu di sebelah kamar kita aja, jadi aku gampang kalau panggil.” Hening, tak ada jawaban. Nayara menekan hatinya saat melipat satu-persatu pakaian yang tadinya sudah tertata rapi, tetapi sengaja minta dibongkar untuk menyulitkannya. “Aku bawa banyak lingerie, Dev. Nanti aku mau coba semua, ya,” katanya seraya menatap Devanka, sebelah matanya mengerling genit. “Asal kamu suka, Sayang.” Gelak tawa Calysta menyahut ucapan pria itu, kian menyayat perasaan Nayara. Ia sadar nanti hanya akan dijadikan babu, rasanya tidak terima. Air mata hampir tumpah, tapi kalau menangis di hadapan dua orang ini hanya mendapatkan cemoohan. Menarik napas panjang, Nayara beranikan mengangkat kepala dan mengatakan. “Aku mau keluar sebentar, Mas. Ada yang mau aku beli.” “Hmm.” Nayara melangkah gontai keluar unit apartemen, suara manja Calysta yang merayu suaminya masih terdengar jelas di belakang sana dan semakin menguatkan fakta bahwa Devanka tidak akan pernah mau menerimanya. “Mereka sangat bahagia, aku yang tiba-tiba masuk dan aku yang tersakiti sendiri. Lebih baik aku pergi,” batinnya nelangsa, terus menyusuri koridor hingga masuk lift dan membawanya ke lantai dasar. Nayara merogoh saku, beruntung dompet dan ponselnya terbawa. Ia segera menghentikan taksi, menaiki kendaraan beroda empat itu dan meminta sopir membawanya pergi ke pinggiran kota. Sepanjang perjalanan ia hanya bisa menangis, ia tahu tak seharusnya ada di pernikahan ini. Ia ingin mundur, tetapi tidak paham caranya. “Apa benar Papa dan Papa mertua pernah berencana menjodohkan kami dulu? Apa kalau aku cerai Papa sedih di sana? Tapi kalau terus kayak gini ... aku yang hancur,” batinnya gamang. Hingga tanpa terasa taksi sudah berhenti, Nayara menyapu pandangan ke sekitar, komplek perumahan di dalam gang sempit yang sederhana dan jauh dari kata mewah. Hampir satu minggu rumah itu Nayara tinggalkan setelah kematian papanya, hari ini ia memutuskan untuk menempati lagi. “Buat apa hidup di penthouse megah tapi dimaki terus dan hanya dijadikan babu, aku hanya menderita melihatnya bersama pacarnya.” Hari beranjak malam, sementara di penthouse megah itu Devanka kalang kabut karena Nayara belum juga kembali. Penerbangan beberapa jam lagi, tentu mereka harus tiba lebih awal untuk pengecekan. “Kita berangkat berdua aja, Dev,” kata Calysta yang sejak tadi pusing melihat kekasihnya mondar-mandir sambil terus mencoba menelepon Nayara. “Nggak bisa. Kalau orang tuaku tahu, bisa kacau!” Tanpa sadar, nada bicaranya naik, sesuatu yang tak pernah Devanka lakukan selama ini pada Calysta. Di tengah kekalutan itu, bel pintu tiba-tiba berbunyi dan Devanka langsung berlari untuk membukanya, mengira istrinya yang datang dan bersiap menyemprot. Namun, sedetik kemudian tubuhnya terpaku kala yang berdiri di hadapannya adalah mamanya. “M-mama?” “Kok belum berangkat?” tanya balik wanita paruh baya itu. “Mama tadi dari klinik di depan sana, besuk teman. Sengaja mampir sekalian mau kasih jaket buat Nayara. Kirain udah berangkat. Nayara mana?” Wanita paruh itu menerobos masuk, menepis tangan putranya dan berjalan cepat ke arah ruang tamu. Saat netranya bertemu dengan Calysta, itu membuatnya kaget dan tak menyangka. “Ngapain kamu di sini? Mana menantuku?!” Ia tak pernah menyukai Calysta, baginya gaya hidup model itu terlalu glamour dan hanya menginginkan uang putranya. “Devanka ... mana Nayara?!” bentak wanita paruh baya itu, menatap tajam pada putranya yang masih berdiri di depan pintu. “Dia ….” “Jawab yang jelas, Dev!” Hening sesaat, membuat wanita paruh baya itu semakin melotot hingga Devanka tak kuasa lagi mempertahankan kebohongannya. “Tadi dia bilang mau belanja ke toko depan, tapi nggak tahu kenapa belum balik-balik sampai sekarang. Mungkin masih muter-muter cari barang lain, Ma,” ucap Devanka, berusaha membela diri. “Itu pasti karena lihat kamu sama Calysta. Gila kamu bawa perempuan lain, sementara ada istrimu di rumah!” sentaknya sambil menunjuk tepat ke wajah sang putra. “Cari Nayara, harus dapat malam ini juga atau Mama adukan ke Papa biar kamu dihapus dari daftar pewaris karena udah gagal menjaga amanah kami!”“Gavin.”Nayara menyebutkan satu nama itu dengan suara yang masih agak sengau, tapi matanya berbinar cerah. Ia menatap Devanka yang sedang duduk di sisi ranjangnya, memandangi selembar kertas putih berisi coretan nama yang sejak subuh tadi mereka perdebatkan.“Gavin Xavier Aryasatya,” ulang Nayara, senyumnya mengembang sempurna. “Gavin itu artinya elang putih, simbol kekuatan dan kejayaan. Xavier artinya cahaya atau masa depan yang cerah. Dan tentu saja, ada nama belakang Papanya yang hebat.”Devanka tertegun sesaat, lalu senyum bangga terukir di wajahnya yang kini tampak jauh lebih segar. Ia mengecup punggung tangan Nayara dengan lembut. “Gavin Xavier Aryasatya. Keren. Kedengarannya gagah dan punya wibawa yang besar. Aku suka, Sayang. Makasih, ya.”“Lalu, untuk si cantik?” Nayara menaikkan kedua alisnya, menagih janji. “Kamu bilang mau kasih nama yang berarti keajaiban atau cahaya.”Devanka merengkuh pundak istrinya, menariknya lembut ke dalam pelukan hangat. “Kalea. Kalea Aurora Ar
“Mas, jawab! Anak kita mana?”Suara Nayara yang semula hanya bisikan lirih, tiba-tiba naik satu oktaf. Ada nada panik yang tajam, kepanikan seorang ibu yang merasa kehilangan bagian dari jiwanya. Matanya yang sayu kini membelalak, bergerak liar dari wajah Devanka ke perutnya sendiri yang sudah rata di balik selimut rumah sakit.Devanka tersentak. Ia maju selangkah, mencoba meraih bahu Nayara yang gemetar. “Nay, tenang dulu. Tarik napas, Sayang. Jangan bangun dulu, badan kamu masih lemah banget.”“Gimana aku bisa tenang, Mas?!” Nayara menepis tangan Devanka dengan tenaga sisa-sisanya. Napasnya tersengal, memburu, membuat monitor jantung di samping ranjang berbunyi tit-tit-tit lebih cepat. “Aku ingat ... aku ingat ada darah. Aku ingat kecelakaan itu. Terus sekarang perutku kempes. Mas, bayiku mana? Kamu jangan diam aja! Apa mereka ... apa mereka nggak selamat?”Air mata Nayara tumpah seketika. Isak tangisnya terdengar menyayat hati, sebuah suara yang sangat ditakuti Devanka selama ber
Lampu di atas ranjang Nayara sedikit diredupkan, Dokter menoleh pada Devanka. “Pak Devanka, kami perlu melakukan pemeriksaan menyeluruh. Mohon Bapak keluar dulu, ya.”Devanka sontak menggeleng. “Saya di sini aja, Dok. Saya nggak ganggu, janji.”Dokter menatapnya sebentar, lalu menghela napas tipis. “Bukan soal mengganggu. Kami butuh ruang, dan Bapak juga butuh waktu sejenak agar tidak tertekan. Percayakan sebentar pada kami.”Devanka menatap Nayara. Wajah itu masih pucat, mata masih terpejam, tapi jari-jarinya tadi bergerak.Tangannya enggan melepaskan.“Nay,” bisiknya lirih. “Aku keluar sebentar. Jangan takut, ya. Aku nanti balik lagi.”Tak ada jawaban, tapi entah kenapa, Devanka merasa Nayara mendengarnya. Ia melangkah mundur, setiap langkah terasa berat, seperti ada tali tak kasatmata yang menarik dadanya kembali ke ranjang itu.Pintu ICU tertutup perlahan.Klik.Devanka berdiri kaku beberapa detik di depan pintu, lalu lututnya melemas. Ia duduk di kursi lorong dengan tubuh memb
Rumah sakit kembali diselimuti hiruk-pikuk yang sama, tapi bagi Devanka, dunia tetap terasa mengecil, hanya sebatas ranjang ICU dan tubuh istrinya yang terbaring tak berdaya.Ia kembali duduk di kursi kecil di samping ranjang Nayara, satu tangan menggenggam tangan istrinya, tangan lain memegang kain hangat.Ia mengelap lengan Nayara dari pergelangan ke siku, lalu naik ke bahu. Setiap usapan penuh kehati-hatian, seolah ia takut sentuhan yang terlalu kuat bisa membuat Nayara sakit.“Kaki kamu dingin lagi,” gumamnya lirih. “Aku pijitin, ya.”Ia membuka selimut sedikit, cukup untuk menjangkau betis dan telapak kaki Nayara. Ibu jarinya menekan perlahan titik-titik yang dulu sering Nayara keluhkan saat hamil.“Kamu inget nggak?” tanyanya sambil tersenyum samar. “Waktu kamu bangunin aku jam tiga pagi cuma gara-gara kaki kamu kram?”Ia tertawa kecil, suara yang patah di ujungnya.“Aku ngedumel setengah mati, tapi tetap bangun dan pijitin. Terus kamu malah ketiduran sambil pegang tangan aku.”
Tiga minggu berlalu, hari-hari terasa seperti satu garis panjang tanpa tanggal bagi Devanka. Lorong rumah sakit sudah seperti bagian dari hidupnya, ia hafal bunyi pintu otomatis ICU, hafal suara monitor yang sering berubah ritme, hafal bau antiseptik yang menusuk seperti pengingat bahwa istrinya belum kembali padanya.Meski kedua bayi sudah diperbolehkan pulang seminggu lalu, Devanka tetap tinggal di rumah sakit. Dian dan Seno membawa pulang cucu-cucu mereka, merawatnya dengan perhatian penuh. Setiap hari video call masuk ke ponsel Devanka, Dian menunjukkan si kecil yang baru selesai mandi, atau Seno menimang si bayi perempuan yang suka menguap kecil. Namun, Devanka tak sanggup memberi nama pada mereka tanpa persetujuan sang istri.“Aku tunggu Nayara bangun dulu, Ma,” jawaban itu selalu keluar dengan suara seraknya, dan Dian tak pernah memaksa lagi.Pagi itu, jam tujuh lewat sedikit, Devanka masuk ke ruang ICU. Udara dinginnya membuat kulitnya merinding, tapi ia tidak pernah lupa m
Lorong rumah sakit seperti menelan suara Devanka. Kata 'koma' bergema berkali-kali dalam kepalanya, memantul di rongga dada, menghantam keras seperti batu. Ia berdiri mematung, tak tahu harus memegangi bagian mana dari dirinya yang terasa paling hancur.Tangannya gemetar, napasnya seperti tersangkut di kerongkongan.Ucapannya tercekat, pecah di sela-sela isaknya, “Nayara nggak mungkin ninggalin aku kayak gini.”Namun tubuhnya tak mampu bergerak.Dokter Melati memberi isyarat pada perawat.“Pindahkan Ibu Nayara ke ICU. Siapkan ventilator dan monitor lengkap.”Perawat langsung masuk kembali ke ruang operasi, menyiapkan brankar. Ketika pintu kembali terbuka, Nayara dibawa keluar.Bukan lagi Nayara yang tadi menggeliat kesakitan sambil memanggil nama suaminya dengan manja, kini tubuh pucat itu tak bergerak, wajahnya tertutup masker oksigen, rambutnya tergerai acak menempel pada kening berkeringat dingin. Infus menjuntai di kiri kanan, selang-selang kecil menempel di dada, dan monitor berg
Nayara memalingkan muka mendengar gelak tawa sepasang kekasih itu.Ia berjalan gontai menuju dapur, tangannya gemetar saat menyendok nasi ke piring, menata lauk seadanya.Saat tangannya meletakkan piring di meja, Calysta kembali melirik sejenak, lalu mencebik. “Ini makanan manusia?” tanyanya ketus
“Kau harus melayaniku malam ini.”Ucapan pria itu membuat sekujur tubuh Nayara Ishvara gemetar di bawah kungkungannya. Mereka memang sudah resmi menjadi suami istri beberapa jam yang lalu. Namun, pernikahan ini bukan karena cinta, melainkan karena terpaksa.Nayara berusaha memberontak, tetapi tena
Pagi Hari – Aryasatya CorporationLobi gedung sudah ramai ketika Devanka turun dari lift eksekutif. Wajahnya datar, dingin, ada bara kecil yang tersimpan rapi di balik sorot matanya.Aska sudah berdiri di depan pintu ruang kerja sambil memeluk map tebal.“Selamat pagi, Pak Devanka,” sapa Aska sambi
“Om, kita bicara di luar saja,” ucap Devanka datar, nadanya tegas.Suryo mengangkat dagu, sinis. “Kau pikir bisa mengusirku seperti anjing?”“Lebih baik keluar, daripada Om bikin ribut di depan istriku yang lagi sakit.”Mata elang itu menatap tajam, menahan sabar. Ia berjalan mendekat, lalu menggi







