Share

Tuduhan Bertubi

Penulis: Els Arrow
last update Tanggal publikasi: 2025-07-23 18:52:03

“Mau ke mana?”

Langkah Nayara berhenti di ruang tengah saat bertemu dengan Devanka yang baru pulang dari mengantar Calysta pulang. Pria itu menatapnya tajam, berjalan tegap mendekat dan mendudukkan diri di sofa.

“Mau ke makam orang tuaku,” jawab Nayara, menunduk dalam.

Kakinya kembali melangkah melewati sang suami. Saat tangannya hendak memutar knop pintu, tiba-tiba Devanka bersuara lagi.

“Aku antar.” Pria itu sontak bangkit.

Nayara menoleh cepat. “Nggak usah,” jawabnya enggan. “Aku bisa jalan sendiri, Mas.”

“Lalu membiarkanmu belok ke rumah orang tuaku dan mengadu soal Calysta?” sindir Devanka. “Jangan harap!”

Nayara tercenung, lagi-lagi dituduh atas sesuatu yang tidak pernah terlintas sedetikpun di pikirannya. Namun, percuma mendebat, Devanka pasti akan terus mencecarnya.

“Baiklah, Mas.”

Dengan pasrah, Nayara mengikuti Devanka berjalan ke basement, lalu masuk ke mobil.

Perjalanan ke pemakaman dilalui dalam sunyi. Di balik kaca mobil, awan mendung menggantung, menambah kelabu suasana hati Nayara.

Sesampainya di area pemakaman, Nayara turun duluan, langkahnya cepat seolah tak peduli apakah Devanka mengikutinya atau tidak.

Rupanya pria tampan itu mengikuti di belakang dengan langkah berat. Ia tak pernah suka tempat seperti ini, tapi ia khawatir Nayara punya celah untuk kabur.

Bagaimanapun, ia masih butuh wanita itu untuk mempertahankan posisinya sebagai ahli waris.

Nayara berhenti di dua makam yang terletak berdampingan. Ia bersimpuh, tangannya menyentuh satu nisan yang sudah agak kusam karena tertutup lumut, dan satu nisan lagi yang tampak baru.

“Papa, Mama,” ucapnya lirih, bahunya bergetar seiring air mata yang mendesak keluar.

Devanka berdiri tak jauh dari sana, memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Wajahnya kaku, matanya menatap ke arah lain seolah enggan menatap adegan yang menurutnya terlalu drama.

Ia mendengar samar tangis Nayara. Tubuh mungil itu terlihat menggigil saat bersandar ke nisan mamanya.

Tangisannya entah mengapa membuat Devanka tidak nyaman. Ada sesuatu yang menusuk dadanya, tapi ia tak tahu apa.

Namun, Devanka segera menepis perasaan itu. Bukankah semua ini terjadi karena Nayara tidak menolak saat dijodohkan dengannya?

Jadi, semua ini salah perempuan itu.

“Benar-benar drama,” gerutunya Devanka dengan suara pelan.

Tiba-tiba, tetes hujan pertama jatuh. Lalu disusul gerimis. Kemudian hujan turun deras membasahi makam, rumput, dan tubuh Nayara yang tak bergerak sedikit pun.

“Ayo pulang!”

Bentakan itu membuat Nayara berjingkat kaget, lantas segera mengangguk dan mengakhiri doa.

“Maaf, Mas—”

“Merepotkan!” sela Devanka. Ia terus menggerutu sepanjang langkah ke mobil, setengah berlari beradu dengan hujan yang mengguyur tubuh mereka.

Nayara tertinggal cukup jauh, kesusahan melangkah dengan rok panjangnya.

Ia masuk mobil dan Devanka langsung melajukannya, raut muka pria itu semakin ditekuk.

“Berhentilah mencari simpatik, atau aku turunkan kau di sini!”

Nayara cepat-cepat menghapus air matanya dan menggigit bibir agar isakannya tak terdengar lagi.

“Hah! Sial benar hidupku!” umpat Devanka pelan, tetapi masih terdengar jelas di telinga Nayara.

“Aku tadi bisa berangkat sendiri, Mas, tapi kamu bilang mau antar,” ucapnya lirih, memalingkan muka ke jalanan lenggang pagi ini.

Devanka hanya mendengus keras, tak memberi jawaban.

Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya. Kenapa Devanka harus marah? Toh ia tidak meminta suaminya mengantarkan, malah suaminya yang memaksa.

Sesampainya di apartemen, mereka langsung masuk ke kamar masing-masing. Nayara ingin berbaring sejenak, menenangkan pikiran dan kepalanya yang pusing. Namun, tubuhnya berjingkat saat pintu kamarnya diketuk keras.

“Kenapa, Mas?” tanyanya saat melihat sang suami berdiri di hadapannya, wajah tampan itu ditekuk seperti biasa.

“Bersihkan semuanya.”

“Maksudnya?” tanya Nayara bingung.

“Banyak tetesan air gara-gara kamu dari luar. Bersihkan! Aku tidak suka rumahku kotor.”

Nayara mengalihkan pandangannya ke lantai, memang basah oleh jejak kaki dari makam tadi. Kepalanya mengangguk pelan. “Baik, Mas.”

Devanka lagi-lagi mendengus. “Tunjukkan paling tidak kamu bisa berguna di sini.”

Nayara memejamkan mata sejenak, menarik napas pendek. Ia berusaha menahan dan mengingatkan diri sendiri untuk tidak tersulut emosi. Sebab ia tidak berhak. Di mata Devanka, ia adalah pengganggu yang tiba-tiba hadir di hidupnya.

Waktu berlalu tanpa suara kecuali derit pel pelan dan gemericik air di ember. Matahari mulai condong, menyusup masuk lewat jendela barat dan hujan sudah sepenuhnya reda. Peluh membasahi pelipisnya, tangannya pegal, tapi menahan agar tak mengeluh.

“Nayara!” panggil Devanka dari ruang tengah.

“Iya?” jawabnya cepat, berlari menghampiri.

“Aku lapar, masak sana!” Tatapan pria itu fokus pada ponsel, seolah memang tak sudi menatap wajah sang istri.

Nayara berusaha menguatkan hati, menarik napas panjang dan lantas bertanya, “Mas mau makan apa?”

“Terserah.”

Hatinya mencelos, ia merasa benar-benar diperlukan seperti pembantu. Tak ada sedikitpun kelembutan dalam tutur kata Devanka, bahkan sedetikpun waktu untuk beristirahat pun tidak diberikan.

Tangannya gemetar saat menyiapkan bahan masakan. Cukup lama ia memasak, hingga akhirnya keluar dari dapur dengan nampan berisi makanan di tangannya.

“Ini makanannya, Mas,” katanya sambil meletakkan piring-piring di meja makan, peluh keringat di dahi menunjukkan betapa lelahnya hari ini. “Maaf lama, tadi aku mandi dulu.”

Hening. Penjelasannya seakan tak ada artinya. Melihat pun tidak, Devanka hanya fokus pada makanan dan segera duduk di meja makan.

Tangannya mengambil sendok, mencicipi sedikit, lalu berhenti sejenak. Wajahnya mengeras sesaat. “Apa ini?!”

Nayara menahan napas. “Ayam panggang, Mas. Kenapa? Apa mau aku masakin yang lain?”

BRAK!

Piring berisi ayam itu dilempar ke lantai. Pecah seketika, ayam berserakan di atas ubin. Nayara terlonjak kaget, tubuhnya mundur setengah langkah.

“Rasanya seperti sampah!”

“Tapi ... t-tadi—”

“Kau sengaja, ‘kan?” tuding Devanka. “Kau benar-benar membuatku muak!”

Setelah mengatakan itu, Devanka beranjak pergi dan masuk ke kamarnya.

Nayara terpaku beberapa saat. Hatinya remuk. Ia yakin rasa masakannya tadi enak, bahkan ia cicipi beberapa kali. Ia menarik napas gemetar, lalu jongkok dan mulai memunguti pecahan piring.

Sebuah pecahan tajam tak sengaja menggores ujung jarinya. Darah menetes. Nayara meringis, tapi menahan bibirnya agar tak mengaduh. Ia meremas tangannya, mencoba menahan perih, tapi luka itu cukup dalam.

Dari jauh, Devanka melihat itu sambil mendengus sinis. “Kita lihat seberapa kau bertahan, Nayara. Aku akan membuatmu merasakan neraka.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Ros
Lebayy… mau aja dikasarin dan dijadiin pembantu. Suami nya kan yg nabrak bapak nya nayara . Kan bukan salah nayara . Ortu nya devanka yg mau nikahin. Lawan aja. Pas devanka kekantor. Kabur aja… cari waktu.Minta cerai ke mertua nya. Aduin aja.
goodnovel comment avatar
Natasha
kasih kekuatan dongg ceweknya
goodnovel comment avatar
bunga daisy
stress cowonya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dendam Pernikahan Pewaris Tampan    Bab 175. Tamat

    Nayara keluar dengan piyama satin bersih setengah jam kemudian, aroma minyak telon dan susu bayi langsung menguar menyambutnya. Di dalam kamar sebelah, tampak Dian dan Seno ternyata sudah berada di sana, lebih dulu bangun subuh ini demi melihat cucu-cucu mereka. Seno, sedang menggendong Gavin yang sudah kembali tenang setelah berganti popok. Sementara Dian duduk di kursi sofa panjang, membantu memegangi botol ASI untuk Kalea yang menyusu dengan lahap.Devanka sendiri sedang berdiri di dekat boks bayi, rambutnya yang basah sehabis membasuh muka tampak berantakan, tapi binar matanya begitu cerah saat menatap kedatangan istrinya.“Eh, Nayara sudah rapi. Sini, Sayang, sarapan subuhnya sudah disiapkan pelayan di bawah, tapi Mama suruh antar ke atas saja,” sapa Dian dengan senyum lebar. Seno ikut menoleh, menepuk pundak cucu laki-lakinya dengan pelan. “Devanka tadi hampir kewalahan pas Gavin pipisnya melesat waktu popoknya dibuka. Untung Papa sama Mama langsung pasang badan.”Devanka terk

  • Dendam Pernikahan Pewaris Tampan    Bab 174

    Alih-alih terlelap seperti yang direncanakan, sepasang suami istri itu justru terjebak dalam pusaran rindu yang belum juga tuntas. Rasa takut kehilangan yang sempat mencengkeram Devanka selama berminggu-minggu, menjelma menjadikannya was-was yang tidak ada habisnya.Setiap inci kulit Nayara yang bersentuhan dengan tubuhnya terasa seperti candu yang menuntut untuk terus disesap."Mas, katanya tadi suruh tidur," kata Nayara, suaranya parau, serak-serak basah karena sisa penyatuan mereka beberapa jam lalu.Napasnya kembali memburu ketika tangan besar Devanka tidak lagi diam di bahunya, melainkan mulai merayap turun secara perlahan, menelusuri lekuk pinggangnya yang sintal, lalu meremasnya.Devanka tidak menyahut dengan kata-kata. Pria itu justru menggeser tubuhnya, menindih kaki Nayara di balik selimut yang berantakan. Matanya yang hitam pekat mengunci seluruh pergerakan istrinya di bawah temaram lampu tidur yang remang."Aku nggak bisa tidur, Nay," gumam Devanka, suaranya terdengar beg

  • Dendam Pernikahan Pewaris Tampan    Bab 173

    “Mas, jangan sekarang, nanti kalau anak-anak bangun gimana?” Nayara sontak panik, suaranya tertahan di tenggorokan, tetapi justru terdengar luar biasa seksi di telinga Devanka. Punggungnya sudah merapat pada pintu kayu yang memisahkan kamar bayi dengan kamar utama mereka di lantai tiga mansion. Kedua tangannya menahan dada bidang Devanka, tapi remasannya pada kaos oblong hitam suaminya sama sekali tidak menunjukkan penolakan.Devanka tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu justru mengunci tubuh sintal Nayara dengan satu lengan kokohnya di pinggang, sementara tangan satunya bergerak mengunci selot pintu ganda di belakang punggung sang istri. Bunyi klik halus pertanda pintu terkunci membuat jantung Nayara berdegup liar.“Kamar ini kedap suara, Sayang. Kamar anak-anak juga dijaga suster di balik tirai sebelah. Mereka nggak akan dengar,” bisik Devanka, suaranya serak, sarat akan kerinduan yang sudah menggunung selama berminggu-minggu.Sebelum Nayara sempat membalas, Devanka menundu

  • Dendam Pernikahan Pewaris Tampan    Bab 172

    Beberapa hari kemudian.“Mas, aku nggak mau pakai gaun yang ini. Dadanya terlalu sesak, nanti susah kalau Kalea sama Gavin tiba-tiba minta menyusu,” keluh Nayara dari dalam walk-in closet. Pintu kayu digeser kasar, Nayara keluar dengan gaun brokat satin premium berwarna emerald green yang ritsleting belakangnya baru naik setengah. Wajahnya cemberut, sisa-sisa hormon pasca-melahirkan membuatnya gampang tersulut emosi.Devanka yang sedang mengancingkan kemeja hitamnya langsung menoleh. Alih-alih kesal, senyum sabar justru terbit di wajah tampannya. Ia melangkah mendekat, memutar tubuh istrinya dengan lembut, lalu memperhatikan simpul gaun tersebut.“Sayang, ini gaun custom yang sudah dirancang khusus ada bukaan menyusu tersembunyi di samping kanan-kirinya. Sini, aku tunjukkan,” kata Devanka menenangkan, tangannya dengan telaten meraba lipatan brokat halus di bagian dada dan membuka kancing magnetik kecil yang tak kasatmata.Nayara mengerjapkan mata, seketika merasa bersalah karena su

  • Dendam Pernikahan Pewaris Tampan    Bab 171. Gavin dan Kalea

    “Gavin.”Nayara menyebutkan satu nama itu dengan suara yang masih agak sengau, tapi matanya berbinar cerah. Ia menatap Devanka yang sedang duduk di sisi ranjangnya, memandangi selembar kertas putih berisi coretan nama yang sejak subuh tadi mereka perdebatkan.“Gavin Xavier Aryasatya,” ulang Nayara, senyumnya mengembang sempurna. “Gavin itu artinya elang putih, simbol kekuatan dan kejayaan. Xavier artinya cahaya atau masa depan yang cerah. Dan tentu saja, ada nama belakang Papanya yang hebat.”Devanka tertegun sesaat, lalu senyum bangga terukir di wajahnya yang kini tampak jauh lebih segar. Ia mengecup punggung tangan Nayara dengan lembut. “Gavin Xavier Aryasatya. Keren. Kedengarannya gagah dan punya wibawa yang besar. Aku suka, Sayang. Makasih, ya.”“Lalu, untuk si cantik?” Nayara menaikkan kedua alisnya, menagih janji. “Kamu bilang mau kasih nama yang berarti keajaiban atau cahaya.”Devanka merengkuh pundak istrinya, menariknya lembut ke dalam pelukan hangat. “Kalea. Kalea Aurora Ar

  • Dendam Pernikahan Pewaris Tampan    Bab 170. Hidup Lagi

    “Mas, jawab! Anak kita mana?”Suara Nayara yang semula hanya bisikan lirih, tiba-tiba naik satu oktaf. Ada nada panik yang tajam, kepanikan seorang ibu yang merasa kehilangan bagian dari jiwanya. Matanya yang sayu kini membelalak, bergerak liar dari wajah Devanka ke perutnya sendiri yang sudah rata di balik selimut rumah sakit.Devanka tersentak. Ia maju selangkah, mencoba meraih bahu Nayara yang gemetar. “Nay, tenang dulu. Tarik napas, Sayang. Jangan bangun dulu, badan kamu masih lemah banget.”“Gimana aku bisa tenang, Mas?!” Nayara menepis tangan Devanka dengan tenaga sisa-sisanya. Napasnya tersengal, memburu, membuat monitor jantung di samping ranjang berbunyi tit-tit-tit lebih cepat. “Aku ingat ... aku ingat ada darah. Aku ingat kecelakaan itu. Terus sekarang perutku kempes. Mas, bayiku mana? Kamu jangan diam aja! Apa mereka ... apa mereka nggak selamat?”Air mata Nayara tumpah seketika. Isak tangisnya terdengar menyayat hati, sebuah suara yang sangat ditakuti Devanka selama ber

  • Dendam Pernikahan Pewaris Tampan    Open Marriage

    "Siapa dia?"Baru saja pintu unit tertutup, Devanka kembali melemparkan tanya tentang pria tadi.Nayara yang sedang melepas hoodie-nya terdiam. Ia tahu suaminya tak langsung mempercayai, jantungnya berdebar hebat."Itu Rayan, Mas. Teman lama waktu SMA. Nggak ada hubungan apa-apa, dia juga nggak sen

  • Dendam Pernikahan Pewaris Tampan    Pria Lain

    “Bulan madu kalian tetap harus dilanjutkan,” ucap Dian—Mama Devanka dengan tegas, duduk di sofa ruang tamu bersama suaminya.Nayara hanya diam di samping Devanka. Tangannya mengepal di atas pangkuan, berusaha menahan seluruh guncangan batin yang nyaris meledak sejak mereka tiba kembali di penthous

  • Dendam Pernikahan Pewaris Tampan    Tidak Bisa Lepas

    “Nayara!” Suara yang menggema dari arah jalan utama itu membuat Nayara menoleh. Ia baru saja selesai membersihkan seluruh sudut rumah yang berdebu karena cukup lama tidak dibersihkan. Buru-buru Nayara meletakkan sapu di dekat pintu saat menyadari ibu pemilik rumah kontrakan yang datang. Wajahny

  • Dendam Pernikahan Pewaris Tampan    Kabur

    Keesokan harinya, Devanka tampak lebih sensi dari biasanya. Pria itu berkali-kali memperingatkan Nayara—peringatan yang lebih terdengar seperti ancaman—karena orang tuanya mendadak datang berkunjung. Nayara sebisa mungkin menyembunyikan kesedihan di wajahnya. Bagaimanapun, mertuanya begitu baik

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status