Share

2. Ketidakadilan

Author: Story_pufia
last update Last Updated: 2025-12-06 08:04:40

“Dari mana saja kamu?” Suara dingin Adrian—sang Ayah, membuat Elowyn membeku.

“Apa saja yang kamu lakukan semalaman di luar?” tanyanya dengan tatapan tajam.

“Tanyakan saja ke anak kesayangan Ayah itu. Dia lebih tahu apa yang terjadi padaku,” jawab Elowyn dingin. Ia mengepalkan tangannya kuat saat melihat ke arah Liona yang tengah menunduk tapi diam-diam tersenyum sinis.

“Oh, jadi yang dikatakan Liona itu benar?” Berlya, sang Ibu yang duduk di sofa pojok menyahut. Ia melempar tumpukan foto ke atas meja. “Jelaskan semua ini!”

Elowyn tersenyum miris. Tepat seperti yang ia duga sebelumnya. “Ya, seperti yang kalian lihat.”

“Menjijikkan! Bikin malu keluarga!” murka Adrian.

Sementara itu, Zeros mantan tunangannya yang sejak tadi berada disamping Liona, tiba-tiba ikut bicara. “Aku tidak menyangka ternyata kamu serendah itu, Elow.”

“Hah! Lihat siapa yang bicara? Kau berkata seperti itu tanpa berkaca lebih dulu, Tuan Zeros?” celetuk Elowyn, tatapannya beralih pada Liona. “Dan kau … haruskah aku juga menyebutmu murahan karena sudah menjadi simpanan tunangan saudarimu sendiri?”

“A-aku ….”

“Kau bahkan lebih hina dariku Liona!” Potong Elowyn cepat.

“Elowyn! Kamu tidak pantas menghina Liona seperti itu!” sahut Berlya marah.

Elowyn menoleh, lalu menatap ibunya dingin. “Lalu aku harus memujinya karena sudah tidur dengan tunanganku, begitu Nyonya?”

Berlya terperanjat tak percaya. Benarkah anak yang dulu begitu penurut dan penakut itu kini menantangnya? Bahkan ia tidak lagi memanggilnya ibu.

“Aku membesarkanmu, membawamu kembali dari desa, dan memberimu segalanya, tapi begini balasanmu? Kau tampaknya harus diberi pelajaran agar jadi anak yang tahu diri.” Berlya meraih rotan di sisi kursi lalu menghantamkan rotan itu ke punggung Elowyn.

CTAAS!

Rasa nyeri menjalar di punggungnya. Elowyn menggigit bibir bawahnya menahan sakit.

“Sekarang minta maaf pada Liona!” perintah Berlya.

“Untuk apa aku minta maaf jika aku yang jadi korban?!” balas Elowyn tajam sambil berdiri dengan kedua tangan bertumpu pada pinggulnya.

“Kau benar-benar!” Berlya siap mengayunkan rotan itu lagi, tetapi Liona segera berdiri dan menahan tangan ibunya.

“Sudah, Bu. Jangan sakiti Elowyn lagi! Ini memang salahku, aku sudah menyukai tunangannya. Maafkan aku, Bu,” katanya lembut, ia berniat meraih tangan Elowyn.

“Maafkan aku Elowyn.”

Elowyn menepis tangan Liona sebelum benar-benar menyentuhnya. Namun, Liona justru terhuyung dan jatuh membentur pinggiran meja. Padahal Elowyn yakin, tadi ia tak terlalu kuat mendorongnya.

“Apa yang kamu lakukan?!” teriak hampir semua orang.

“Cih, drama queen.”

PLAK!

Tangan besar Adrian akhirnya mendarat di pipi Elowyn. Meninggalkan sensasi panas yang seketika menjalar di wajah cantiknya.

“Kau sudah keterlaluan!” ucap Adrian penuh penekanan.

“Ayah, sudah!” lirih Liona sambil menangis. Tapi yakinlah, air matanya itu hanyalah sebuah sandiwara.

“Jangan membelanya lagi, Liona,” ucap Berlya, memeluk putrinya. “Dia pantas mendapatkannya.”

Elowyn menatap iri kasih sayang ibu dan anak tersebut. Kasih sayang yang tidak pernah ia rasakan sejak kecil, dan sejenak ia lupa jika statusnya disini hanyalah anak angkat yang tak pernah diinginkan.

“Aku dijebak. Kenapa kalian tidak mau mendengarkanku? Kenapa semuanya menyalahkanku?!” teriak Elowyn dengan segala amarah yang tertahan selama ini.

“Liona dan Zeros juga sama menjijikkannya. Bahkan mereka terang-terangan mengakui hubungan hina itu! Tapi kenapa hanya aku yang disalahkan? Apa karena aku bukan bagian asli keluarga ini, iya?!”

Adrian terdiam. Ucapan Elowyn memang benar, Liona pun telah mencoreng nama baik keluarganya, bahkan lebih parah. Tapi egonya lagi-lagi lebih berkuasa.

“Kalau sejak awal kalian tidak pernah menginginkanku, kenapa repot-repot memungutku?” Suara Elowyn merendah, menahan sesak di dada.

Melihat hal itu, Zeros mendekatinya. “Kita bisa mulai dari awal lagi. Aku, kamu, dan Liona. Aku masih mencintaimu, Elowyn.”

Elowyn tertawa getir. Well, hanya perempuan bodoh yang mau berbagi pasangan dengan orang lain.

“Baiklah, kita lupakan saja. Sebagai gantinya, kamu akan menikah dengan orang pilihanku,” kata Adrian.

“Aku tidak mau!” tolak Elowyn.

“Kau tak punya pilihan. Lagi pula, siapa yang mau menikahi perempuan kotor sepertimu?”

“Aku mau, Om,” sela Zeros tiba-tiba, membuat wajah Liona menekuk tidak suka.

“Tidak! Kamu akan menikah dengan Liona dan Elowyn dengan pilihanku.”

Elowyn tersenyum miris. Dia ingat, beberapa hari yang lalu Adrian berniat menjualnya pada rekan bisnisnya untuk dijadikan istri kedua.

“Ayah, bukankah aku juga anakmu? Sekalipun darah kita tidak sama, tidakkah kalian punya sedikit saja perasaan untuk anak yang sudah susah payah kalian besarkan ini?”

Adrian menatapnya dingin. “Kamu mau tahu? Memungutmu dulu adalah kesalahan yang paling kusesali sekarang.”

Hancur sudah pertahanan Elowyn, air matanya jatuh tanpa permisi setelah mendengar pengakuan ayahnya. Ia tahu, dirinya memang tidak pernah diinginkan disini. Tapi mendengar langsung dari mulut mereka, sungguh menghancurkan hatinya.

“Jika menurut kalian seperti itu. Baiklah, mulai hari ini aku akan memutus semua hubungan dengan kalian.”

Sementara itu di tempat lain, tepatnya di kamar hotel tempat Elowyn meninggalkan pria yang menemaninya semalam. Pria itu kini duduk di atas ranjang dengan segelas wine di tangannya. Tatapannya begitu dingin, kilat kemarahan terpancar jelas dari matanya dan itu cukup membuat seseorang yang baru saja masuk merasa ngeri.

“Tu-tuan!” Emilio terngaga menatap kondisi kamar yang begitu berantakan, belum lagi sang tuan yang hanya berbalut kimono dengan jejak merah di leher serta dadanya yang terbuka.

“Dari mana saja kamu? Aku memanggilmu sejak lima jam lalu,” tanya sang tuan pada pengawalnya.

Emilio mengusap belakang kepala, gugup. “Maaf, Tuan. Semalam aku mabuk berat dan baru sadar sejam lalu, jadi tidak melihat pesanmu.”

Sang tuan—Duke Alexander Aslan Kim, menatapnya tajam. “Kamu bawa yang kuminta?”

“Aku membawanya, tapi .…” Emilio mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah rekaman CCTV yang sempat ia ambil sebelumnya.

“Jadi tidak menemukan apapun? Apa saja yang kamu kerjakan, hah?! Aku membayarmu mahal bukan untuk bermalas-malasan!” seru Duke tajam setelah pengawalnya memberikan laporan yang tidak memuaskan.

“Wanita itu terlalu pandai, Tuan. Dia menghindari semua kamera. Bahkan waktu mabuk dan kau bawa dia ke sini, wajahnya tidak tertangkap.”

Duke mendengus. Mencari satu gadis seperti mencari jarum di jerami.

“Sebenarnya apa yang terjadi semalam?” tanya Emilio.

Rahang Duke mengeras. Ia teringat kejadian semalam dimana seorang wanita dengan berani menggodanya, dan pagi ini wanita ini juga menghinanya dengan menganggapnya sebagai pria bayaran.

Hingga tanpa sengaja, Emilio melihat bercak merah pada sprei di samping tuannya. Ahh, sepertinya dia mulai mengerti.

“Jadi Tuan, apa sebenarnya kau baru saja dicampakkan?” celetuk Emilio tiba-tiba.

Duke sontak melempar tatapan horor ke arah pengawalnya itu. Apakah dia bodoh sampai menanyakan hal seperti itu?

Menyadari tatapan sang tuan yang begitu mengerikan, seakan ingin menelannya hidup-hidup, Emilio merutuki mulutnya yang terlalu banyak bicara. “A-aku akan mengeceknya cctv lain yang ada di jalan. Siapa tahu menemukan sesuatu.”

“Jangan kembali sampai kau menemukan petunjuk. Atau jika tidak, tahu ‘kan akibatnya?”

Emilio meneguk salivanya susah payah. Akan sangat mengerikan jika bosnya itu sudah berkata demikian. Dampaknya sangat buruk untuk gajinya.

“Baik, Tuan.”

Emilio langsung bergegas pergi melaksanakan perintahnya, sebelum pria itu benar-benar dalam masalah.

Sementara Duke, ia melirik koin bergambar angklung yang Elowyn tinggalkan tadi sebagai bayaran sekaligus benda yang dianggap penghinaan olehnya. “Aku tidak akan melepaskanmu gadis kecil.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dendam Putri Yang Terbuang    52. Skandal

    “Sial! Kenapa ini semua terjadi? Siapa yang sudah menayangkan semua itu,” gerutu Liona emosi, sembari menuruti panggung dengan menutupi wajahnya dari serbuan kamera. Baru saja gadis cantik nan manis itu menikmati hasil kerja kerasnya, dan merasa berada di atas awan karena projek pertamanya sukses besar. Karena kesuksesan itu, banyak tawaran iklan yang berdatangan serta projek-projek lainnya. Baru saja ia memegang trofi pertamanya dengan bangga. Namun, pijakkannya langsung dipatahkan hanya dalam waktu kurang dari tiga puluh menit. Orang-orang yang tadinya menatap kagum dan iri padanya, seketika tatapan mereka berubah menjadi hina. Bisik-bisikan para penonton dan tuntunan pertanyaan dari wartawan, menyerbu bagai sekumpulan lebah yang mengincar targetnya. “Liona, apa benar tentang tayangan tadi?” “Apa kau mengetahui tayangan itu sebelumnya? Atau itu memang sengaja untuk menaikan pamor saja?” “Liona, benarkan yang di foto dan video itu adalah kamu?” “Liona, tolong jelaskan yang s

  • Dendam Putri Yang Terbuang    51. Penghargaan dan kehancuran

    Api membakar ujung rokok seorang pria yang tengah berdiri di balkon kamarnya, sembari menatap hamparan lampu di taman rumahnya. Pikirannya semewarut saat ini. Ia menegak alkohol dalam gelas yang sengaja disiapkan untuk menemani batang nikotin agar semakin sempurna. Teringat ucapan seorang detektif berapa saat yang lalu.Dua jam sebelumnya.“Jadi, itu yang membuat penyelidikan ini memakan waktu begitu lama,” jawab detektif itu jujur. “Data adopsi yang saya temukan seperti dipalsukan. Nama, tanggal lahir, bahkan asal usulnya juga diganti.”“Kenapa ada orang melakukan sejauh itu?” Viona bergetar.Detektif itu menarik napas pelan, seolah sedang menimbang kata-katanya. “Kemungkinan putri kalian tidak mengingat jati dirinya sendiri, alias hilang ingatan. Karena anak berusia lima tahun, paling tidak dia bisa mengingat namanya sendiri dan orang tuanya. Tapi kalau tidak, berarti ada gangguan dengan ingatannya.”“Itu artinya data dari rumah sakit sebelum dibawa ke panti asuhan disembunyikan?”

  • Dendam Putri Yang Terbuang    50. Red carpet

    Lampu kamera menyala di setiap sudut sepanjang jalan. Karpet merah membentang panjang di depan gedung megah Star Group. Malam ini, adalah acara red carpet yang ditunggu-tunggu oleh para bintang. Kilatan flash kamera tak berhenti menjepret para tokoh utama yang melewati karpet tersebut. Sementara di belakang panggung berdiri seorang wanita cantik dengan gaun putih sederhana tapi terlihat anggun. Wanita itu memegang segelas jus anggur. Sudut bibirnya terangkat sedikit mengintip dari celah pintu, menyaksikan hasil kerja kerasnya selama ini terbayar hari ini. “Elowyn, kau mengintip siapa?” Gadis itu menoleh, melihat temannya yang tak mempesona berjalan ke arahnya sambil membawa kamera yang mengandung di lehernya. “Kau kenapa kesini? Harusnya membatu artismu bersiap-siap, sana,” ujar Elowyn setengah meledek. Gadis yang menghampirinya menghela napas panjang. Ia merebut minuman di tangan Elowyn. “Malas, ah. Setelah hari ini, aku mau resign saja,” jawab Elie. “Kau ini! Bukankah

  • Dendam Putri Yang Terbuang    49. Pesan mendalam Tuan Zain

    “Bagaimana kabar Kakek?” tanya Elowyn. Saat ini ia berada di rumah rawat Tuan Zain. Tentu saja sebelum pergi ke tempat ini, ia sempat adu mulut dulu dengan Duke yang memintanya untuk istirahat lagi. Padahal menurut di empu tubuh, ia sudah baik-baik saja dan bahkan kembali fit seperti sebelumnya. Suasana ruang rawat Tuan Zain sangat tenang. Pria tua itu sudah tidak memakai bantuan alat pernapasan lagi, bahkan dia terlihat bersemangat seperti bukan berusia 75 tahun. “Aku sudah baik-baik saja. Apalagi kamu menjengukku. Tubuhku langsung pulih seperti dulu,” jawab pria itu, berpose menunjukan otot tangannya. Elowyn tersenyum sendu. Segera ia memeluk tubuh ringkih tersebut. “Kakek jangan sakit lagi, ya. Aku sangat khawatir tahu saat dengar Kakek drop.” Tuan Zain terkekeh pelan seraya menepuk-nepuk punggung cucu menantunya. “Kakek ini sudah tua, jadi wajar saja jika Drop. Maaf ya.” “Wajar apanya?” sahut Elowyn ngegas. “Dokter bilang jantung Kakek sempat berhenti.” “Itu karena Kakek

  • Dendam Putri Yang Terbuang    48. Wanita bodoh

    “Kakek sudah sadar. Sekarang sedang dalam masa pemulihan,” jawab Duke, membuat Elowyn tersenyum lega. “Aku … aku mau menemui Kakek. Duke, aku mau menemui Kakek. Tolong bawa aku ke Kakek,” ucap Elowyn dengan mata berkaca-kaca.“Tidak bisa sekarang, Elowyn. Kau juga baru bangun. Jadi istirahat saja dulu,” ujar pria itu dengan lembut.“Tapi aku ingin bertemu Kakek. Aku sampai disini karena ingin bertemu Kakek. Duke, tolong ….” Elowyn tak pernah mendapatkan kasih sayang keluarga selain dari neneknya. Setelah sang nenek meninggal, hidupnya terasa sepi dan penuh kelam. Namun, sejak Duke membawanya masuk ke dalam hidupnya dan bertemu Tuan Zain, perasaan yang dulu pernah hilang kembali lagi. Bagi Elowyn, Tuan Zain bukan sekedar Kakek mertua saja, melainkan keluarga terdekatnya yang sesungguhnya. Bahkan ayah dan ibunya pun tidak bisa menempati ruang seperti itu di hatinya. “Duke, aku hanya ingin bertemu Kakek,” mohon Elowyn, menarik ujung baju Duke.“Tidak Elowyn.” “Tuan benar, Nyonya. Sek

  • Dendam Putri Yang Terbuang    47. Terseret lebih dalam

    “Mommy, Mommy! Aku mau naik kuda itu!” rengek seorang anak perempuan kecil sambil menunjuk seekor kuda putih di dalam kandang.“Tidak boleh, Sayang. Kamu masih terlalu kecil,” jawab sang mommy lembut, berjongkok agar sejajar dengan tinggi putrinya.Bibir mungil anak itu mengerucut. Pipi chubby-nya mengembang lucu, lalu kakinya menghentak ke tanah karena kesal. “Aku mau naik. Ada Kakak sama Daddy. Mereka pasti mau menemani aku.”“Tidak, Sayang. Berkuda itu terlalu bahaya untuk anak usia lima tahun,” ucap sang mommy sabar.“Ada apa, Mom?”Seorang pria dewasa menghampiri mereka, ditemani seorang anak laki-laki remaja yang berlari mengejar langkahnya. “Dia ingin naik kuda, tapi kan masih terlalu kecil,” jelas sang mommy. “Aku melarangnya, tapi malah jadi ngambek seperti ini.” Pria itu tertawa kecil, lalu mengangkat putrinya tinggi-tinggi. “Anak Daddy mau naik kuda, ya?”Si kecil langsung mengangguk cepat dengan mata bulatnya yang berbinar.“Baiklah,” ujar sang Daddy akhirnya. “Daddy tem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status