LOGINElowyn melangkah keluar dari kediaman keluarga Adison. Tatapannya perlahan tertuju pada jalanan yang sunyi dan kosong di depannya, sesaat ia merenungkan 20 tahun hidupnya yang dihabiskan bersama keluarga Adison. Tidak ada sesuatu yang istimewa ataupun kenangan indah bersama mereka. Dia menyadari betapa menyedihkannya hidupnya selama ini.
Lebih sedih lagi, yang dia dapatkan selama ini hanyalah sikap apatis dan tuntutan yang tiada henti dari keluarga yang ia harapkan kasih sayangnya. Kini ia telah melepaskan segalanya. Fasilitas mewah, tunangannya, dan keluarganya. Meski rasa sakit karena pengkhianatan dan amarah masih tertinggal ruang hatinya. “Aku harus kemana sekarang?” gumamnya tanpa sadar telah berjalan jauh dari dari rumah. Tiba-tiba Elowyn tersenyum saat menoleh ke samping kirinya. Ada sebuah pantai dengan pemandangan senja yang indah. “Aku bahkan tidak sadar kalau sudah sampai di pantai.” Elowyn melangkah ke arah tepi laut lalu menapaki sebuah batu besar dan berdiri di atasnya. Ia memandangi matahari yang hampir terbenam di Utara. Membiarkan angin sepoi-sepoi menerbangkan rambutnya yang berantakan. “Aaaa!” Elowyn berteriak sekencang-kencangnya meluapkan seluruh emosi dan rasa sakitnya. Tidak cukup sekali, ia melakukan berkali-kali. Elowyn tak peduli jika orang-orang akan menganggapnya gila sekarang. “Liona brengsek!” “Keluarga sialan!” "Baiklah, kita lihat siapa nanti yang sebenarnya akan hancur. Kalian atau aku, putri yang terbuang ini!” gerutu Elowyn dengan pelan, sambil memalingkan wajahnya. Kini ia hanya memiliki dua tujuan setelah hubungan dengan keluarga toxic itu berakhir. Yaitu, menemukan orang tua kandungnya dan membalas dendam. Elowyn turun dari batu itu dan kembali meneruskan langkahnya. Ia berjalan meninggalkan tempat tersebut. Namun, karena terlalu buru-buru, Elowyn tanpa sengaja menabrak seseorang sampai hampir terjerembab ke jalanan. “Maafkan saya, Tuan. Tuan tidak apa-apa?” tanya Elowyn pada pria yang ditabraknya dengan cemas. “Saya tidak apa.” Pria itu mendongak, menatap gadis di depannya sesaat, sebelum Elowyn sebuah bus berhenti di depan mereka. “Penampilan Nona ini, sepertinya saya pernah lihat?” Elowyn menggeleng cepat. “Ti-tidak mungkin. Tuan tidak pernah melihat saya,” jawab Elowyn cepat dan kemudian bergegas masuk ke dalam bus. Pria itu terdiam, mencoba mengingat dimana pernah menjumpai wanita itu. “Kemeja yang dia pakai seperti milik Tuan Duke. Dan aroma parfum itu ….” Pria itu sontak tersadar dan melotot ketika bus yang Elowyn tumpangi semakin jauh. “Dia wanita itu! Wanita yang bersama Tuan Duke!” “Aish sial! Aku kehilangannya lagi!” Emilio mengeraskan rahangnya. Ia yakin, wanita itu yang dicari tuannya. Setelah berada di dalam bus selama kurang lebih dua jam, kini Elowyn berjalan menuju toko roti yang ada di pusat kota. Ia memandang bangunan di depannya. Toko itu cukup ramai untuk ukuran yang tidak tidak terlalu besar. Elowyn melangkah masuk dan duduk di salah satu kursi. Hingga seorang pegawai menghampirinya. “Selamat datang. Mau pesan sesuatu, Nona?” “Apa aku bisa bertemu pemilik toko ini?” Pegawai itu mengangguk. Tak lama seorang perempuan cantik berambut ikal dengan apron ditubuhnya datang menghampirinya. “Anda mencari saya, Non-eh Elowyn!” Elowyn mengangkat wajahnya dengan tatapan sendu. Ia langsung memeluk sahabatnya itu. “A-apa yang terjadi padamu? Kenapa kau seperti ini?” Elie, sahabat Elowyn sekaligus pemilik toko roti sangat terkejut melihat Elowyn yang tampak kacau memakai kemeja pria dan rambut yang acak-acakan. “El, sakit sekali ….” Elie melepaskan pelukannya dari Elowyn, tangannya menangkup di wajah sahabatnya itu dengan raut cemas. “Ada apa? Coba ceritakan.” Elowyn menceritakan semua yang terjadi padanya tanpa ada yang terlewati. Elie membekap mulutnya tak percaya. Matanya berkaca-kaca, tangannya mengepal kesal. “Zeros laki-laki brengsek! Sudah kuduga dia itu tidak baik. Kau sih terlalu polos Elowyn. Sudah pernah kukatakan kalau laki-laki seperti Zeros itu banyak di pasar malam, dijual dua gratis satu,” kata Elie geram. Elowyn terkekeh mendengar perkataan Elie. Tapi Elie, justru semakin kesal karena tanggapannya yang seperti itu. “Kau tertawa disaat seperti ini? Biar aku datangi dia dan kupotong anunya. Sekalian sama keluargamu yang tidak punya nurani itu!” “Sudahlah. Aku tidak mau berurusan lagi sama mereka. Sekarang aku hanya ingin mencari orang tua kandungku. Tapi, apa mereka masih hidup ya?” Elie tersenyum tipis, kemudian menarik Elowyn ke dalam pelukannya lagi. “Jangan khawatir, aku akan membantumu.” “Sungguh?” Elie mengangguk. “Sekarang kau butuh tempat tinggal kan? Kau boleh tinggal di tempatku.” Elowyn menatap Elie dengan mata berkaca-kaca. Ia pikir hidupnya sudah benar-benar hancur. Namun, ternyata ia masih memiliki satu orang yang bisa dijadikan tumpuan. “Terima kasih, El. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikanmu nanti.” “Kalau begitu, kau harus membelikanku mobil.” “Uang darimana aku untuk beli mobil? Pakaian saja aku hanya punya ini.” Elie tertawa kecil. “Aku bercanda. Sudah, ayo ikut aku. Kau terlihat seperti orang gila dengan penampilan seperti ini.” Mereka tiba di apartemen milik Elie. Elowyn telah membersihkan diri dan mengganti pakaian dengan pakaian yang diberikan Elie. Ia menatap kemeja putih ia pakai sebelumnya. “Lelaki itu juga lumayan tampan sebenarnya. Apa aku akan bertemu dengannya lagi, ya?” gumam Elowyn. Lalu tatapannya jatuh pada cincin yang melingkar di jari tangannya. “Andai aku tidak pernah bertemu dengan si brengsek itu. Semua ini tidak akan terjadi!” Ia melepaskan cincinnya dan melemparnya ke tong sampah. Elie masuk, membawakan nampan berisi makanan. “Elow, dari tadi kudengar kau menggerutu sendiri. Ada masalah lagi?” Elowyn menggeleng. “El, bolehkah aku bekerja di tempatmu?” tanyanya sambil memasukan makanan ke mulutnya. “Kenapa tiba-tiba kau ingin bekerja di tempatmu?” “Aku butuh uang buat melanjutkan hidup. Tidak mungkin aku akan selamanya menumpang denganmu. Boleh ya? Jadi tukang cuci piring juga tidak apa kok,” kata Elowyn memelas. “Bukan tidak boleh, tapi kau tahu sendiri kan tokoku itu kecil, pegawaiku juga sudah cukup. Eh, bukannya kau sudah bekerja di pusat sains, ya?” Elowyn menghembus napas panjang. Ia meletakan sendoknya secara kasar. “Aku sudah resign sejak sebulan lalu. Zeros memintaku berhenti bekerja sebelum pernikahan.” “Dan kau menurutinya?!” ucap Elie terkejut. Dengan polosnya Elowyn mengangguk, membuat Elie meraup wajahnya kasar. “Kau memang bodoh Elowyn!” “Aku tidak tahu kalau akan jadi begini. Kalau aku tahu, tidak mungkin aku meninggalkan pekerja yang sudah payah kudapatkan itu. Ayah dan Ibu juga menyuruhku berhenti saat itu.” Sungguh, Elowyn menyesali keputusannya yang terlalu gegabah tersebut. “Ya sudahlah, aku punya beberapa kenalan, nanti kucarikan pekerjaan lewat mereka.” Senyum mengembang di wajah Elowyn. Ia menyuapkan sesendok nasi ke mulut Elie. “Kau memang terbaiklah, El!” ~••~ Sementara di tempat berbeda, Duka baru saja keluar dari ruang kerjanya saat tiba-tiba suara seseorang menghentikan langkahnya. “Besok pukul sepuluh pagi, ada pertemuan dengan anak perdana menteri. Tuan besar Zein sudah mengatur lokasinya.” Duke menghela napas kasar. Menatap tajam pengawalnya di sampingnya. “Cancel saja. Aku sibuk,” ucapnya datar, lalu melanjutkan langkahnya. “Tidak ada sibuk-sibuk. Pokoknya kau harus datang dan jangan mempermalukan keluarga lagi. Begitu pesan dari Tuan besar,” kata Emilio setelah menirukan gaya bicara seseorang. “Kalau begitu, suruh Kakek saja yang datang.” “Kau tidak memintaku mengatakan itu pada Tuan besar, kan?” cemas Emilio. “Berhenti membahas yang tidak perlu. Bagaimana tugasmu?” Sontak Emilio langsung tersenyum miring. “Sepertinya aku menemukannya.”“Sial! Kenapa ini semua terjadi? Siapa yang sudah menayangkan semua itu,” gerutu Liona emosi, sembari menuruti panggung dengan menutupi wajahnya dari serbuan kamera. Baru saja gadis cantik nan manis itu menikmati hasil kerja kerasnya, dan merasa berada di atas awan karena projek pertamanya sukses besar. Karena kesuksesan itu, banyak tawaran iklan yang berdatangan serta projek-projek lainnya. Baru saja ia memegang trofi pertamanya dengan bangga. Namun, pijakkannya langsung dipatahkan hanya dalam waktu kurang dari tiga puluh menit. Orang-orang yang tadinya menatap kagum dan iri padanya, seketika tatapan mereka berubah menjadi hina. Bisik-bisikan para penonton dan tuntunan pertanyaan dari wartawan, menyerbu bagai sekumpulan lebah yang mengincar targetnya. “Liona, apa benar tentang tayangan tadi?” “Apa kau mengetahui tayangan itu sebelumnya? Atau itu memang sengaja untuk menaikan pamor saja?” “Liona, benarkan yang di foto dan video itu adalah kamu?” “Liona, tolong jelaskan yang s
Api membakar ujung rokok seorang pria yang tengah berdiri di balkon kamarnya, sembari menatap hamparan lampu di taman rumahnya. Pikirannya semewarut saat ini. Ia menegak alkohol dalam gelas yang sengaja disiapkan untuk menemani batang nikotin agar semakin sempurna. Teringat ucapan seorang detektif berapa saat yang lalu.Dua jam sebelumnya.“Jadi, itu yang membuat penyelidikan ini memakan waktu begitu lama,” jawab detektif itu jujur. “Data adopsi yang saya temukan seperti dipalsukan. Nama, tanggal lahir, bahkan asal usulnya juga diganti.”“Kenapa ada orang melakukan sejauh itu?” Viona bergetar.Detektif itu menarik napas pelan, seolah sedang menimbang kata-katanya. “Kemungkinan putri kalian tidak mengingat jati dirinya sendiri, alias hilang ingatan. Karena anak berusia lima tahun, paling tidak dia bisa mengingat namanya sendiri dan orang tuanya. Tapi kalau tidak, berarti ada gangguan dengan ingatannya.”“Itu artinya data dari rumah sakit sebelum dibawa ke panti asuhan disembunyikan?”
Lampu kamera menyala di setiap sudut sepanjang jalan. Karpet merah membentang panjang di depan gedung megah Star Group. Malam ini, adalah acara red carpet yang ditunggu-tunggu oleh para bintang. Kilatan flash kamera tak berhenti menjepret para tokoh utama yang melewati karpet tersebut. Sementara di belakang panggung berdiri seorang wanita cantik dengan gaun putih sederhana tapi terlihat anggun. Wanita itu memegang segelas jus anggur. Sudut bibirnya terangkat sedikit mengintip dari celah pintu, menyaksikan hasil kerja kerasnya selama ini terbayar hari ini. “Elowyn, kau mengintip siapa?” Gadis itu menoleh, melihat temannya yang tak mempesona berjalan ke arahnya sambil membawa kamera yang mengandung di lehernya. “Kau kenapa kesini? Harusnya membatu artismu bersiap-siap, sana,” ujar Elowyn setengah meledek. Gadis yang menghampirinya menghela napas panjang. Ia merebut minuman di tangan Elowyn. “Malas, ah. Setelah hari ini, aku mau resign saja,” jawab Elie. “Kau ini! Bukankah
“Bagaimana kabar Kakek?” tanya Elowyn. Saat ini ia berada di rumah rawat Tuan Zain. Tentu saja sebelum pergi ke tempat ini, ia sempat adu mulut dulu dengan Duke yang memintanya untuk istirahat lagi. Padahal menurut di empu tubuh, ia sudah baik-baik saja dan bahkan kembali fit seperti sebelumnya. Suasana ruang rawat Tuan Zain sangat tenang. Pria tua itu sudah tidak memakai bantuan alat pernapasan lagi, bahkan dia terlihat bersemangat seperti bukan berusia 75 tahun. “Aku sudah baik-baik saja. Apalagi kamu menjengukku. Tubuhku langsung pulih seperti dulu,” jawab pria itu, berpose menunjukan otot tangannya. Elowyn tersenyum sendu. Segera ia memeluk tubuh ringkih tersebut. “Kakek jangan sakit lagi, ya. Aku sangat khawatir tahu saat dengar Kakek drop.” Tuan Zain terkekeh pelan seraya menepuk-nepuk punggung cucu menantunya. “Kakek ini sudah tua, jadi wajar saja jika Drop. Maaf ya.” “Wajar apanya?” sahut Elowyn ngegas. “Dokter bilang jantung Kakek sempat berhenti.” “Itu karena Kakek
“Kakek sudah sadar. Sekarang sedang dalam masa pemulihan,” jawab Duke, membuat Elowyn tersenyum lega. “Aku … aku mau menemui Kakek. Duke, aku mau menemui Kakek. Tolong bawa aku ke Kakek,” ucap Elowyn dengan mata berkaca-kaca.“Tidak bisa sekarang, Elowyn. Kau juga baru bangun. Jadi istirahat saja dulu,” ujar pria itu dengan lembut.“Tapi aku ingin bertemu Kakek. Aku sampai disini karena ingin bertemu Kakek. Duke, tolong ….” Elowyn tak pernah mendapatkan kasih sayang keluarga selain dari neneknya. Setelah sang nenek meninggal, hidupnya terasa sepi dan penuh kelam. Namun, sejak Duke membawanya masuk ke dalam hidupnya dan bertemu Tuan Zain, perasaan yang dulu pernah hilang kembali lagi. Bagi Elowyn, Tuan Zain bukan sekedar Kakek mertua saja, melainkan keluarga terdekatnya yang sesungguhnya. Bahkan ayah dan ibunya pun tidak bisa menempati ruang seperti itu di hatinya. “Duke, aku hanya ingin bertemu Kakek,” mohon Elowyn, menarik ujung baju Duke.“Tidak Elowyn.” “Tuan benar, Nyonya. Sek
“Mommy, Mommy! Aku mau naik kuda itu!” rengek seorang anak perempuan kecil sambil menunjuk seekor kuda putih di dalam kandang.“Tidak boleh, Sayang. Kamu masih terlalu kecil,” jawab sang mommy lembut, berjongkok agar sejajar dengan tinggi putrinya.Bibir mungil anak itu mengerucut. Pipi chubby-nya mengembang lucu, lalu kakinya menghentak ke tanah karena kesal. “Aku mau naik. Ada Kakak sama Daddy. Mereka pasti mau menemani aku.”“Tidak, Sayang. Berkuda itu terlalu bahaya untuk anak usia lima tahun,” ucap sang mommy sabar.“Ada apa, Mom?”Seorang pria dewasa menghampiri mereka, ditemani seorang anak laki-laki remaja yang berlari mengejar langkahnya. “Dia ingin naik kuda, tapi kan masih terlalu kecil,” jelas sang mommy. “Aku melarangnya, tapi malah jadi ngambek seperti ini.” Pria itu tertawa kecil, lalu mengangkat putrinya tinggi-tinggi. “Anak Daddy mau naik kuda, ya?”Si kecil langsung mengangguk cepat dengan mata bulatnya yang berbinar.“Baiklah,” ujar sang Daddy akhirnya. “Daddy tem







