공유

Bab 3

작가: Tina
"Di mana hati nuranimu? Buat apa kita rebutan tanah makam? Kamu serahkan tanah makam ini, apa masalahnya?"

Emosi dalam hatiku tidak tertahankan lagi. Aku maju dan mencengkeram kerah bajunya, lalu berteriak dengan suara keras, "Tanah makam ini untuk Yoan! Putrimu Yoan sudah meninggal! Karena kamu meninggalkannya di tengah operasi, dia meninggal di meja operasi!"

"Andre, di mana hati nuranimu?!"

Setelah mendengar teriakanku, keributan ini seketika berhenti.

Andre menoleh ke batu nisan dengan tatapan kosong.

Namun dalam sekejap, ekspresinya kembali normal, bahkan senyuman sinis muncul di wajahnya.

"Winda, kebohonganmu makin lama makin nggak masuk akal. Aku hanya dua hari nggak pulang, sekarang kamu bilang putri kita meninggal hanya untuk menakut-nakuti aku?"

"Kamu pikir aku bodoh? Semalam, putra Diana masih mengobrol dengan Yoan, sekarang kamu bilang putri kita meninggal? Winda, bisa nggak kamu pintar sedikit kalau mau berbohong?"

"Sudahlah, aku malas berdebat denganmu, karena kamu sudah menikah denganku, kamu harus mengikuti peraturan Keluarga Liman! Serahkan tanah makam ini kepada Diana!"

Setelah itu, Andre memerintahkan para petugas, "Sekarang juga, kalian urus serah terima tanah makam ini!"

Dua menit kemudian, petugas itu menyerahkan surat penyerahan tanah makam kepadaku dengan wajah serba salah.

"Nyonya, tolong ditandatangani."

Aku hampir menyobek surat itu.

Namun, respons Andre lebih cepat, pria itu menendang perutku dengan keras.

Dia lalu mengeluarkan pulpen, memaksaku memegang pulpen itu.

Setelah tanganku memegang pulpen, pria itu memaksaku menandatangani surat penyerahan tanah makam.

Aku hanya bisa memelototi Andre dengan tatapan emosi.

"Andre, dasar bajingan, waktu ayahku menikahkanku padamu, apa kamu masih ingat janjimu? Kamu …."

Sebelum selesai bicara, dia menamparku.

"Jangan sebut ayahmu yang berengsek itu, sekarang ini zaman demokrasi, buat apa aku masih takut pada ayahmu?"

"Kuberi tahu kamu, Winda, aku sudah lama bersabar denganmu. Kalau bukan karena kamu melahirkan putriku, sudah lama aku meninggalkanmu! Dasar wanita nggak tahu sopan santun!"

Setelah itu, Andre menendangku dengan kasar.

Pria itu pun merangkul Diana sambil menggandeng putra Diana, lalu pergi meninggalkanku tanpa menoleh sedikit pun.

Hanya karena seekor anjing milik Diana, Andre langsung menunjukkan sifat aslinya.

Seolah dia lupa, semua yang dia miliki sampai hari ini berasal dari bantuan ayahku.

Karena dia tidak mau menghargainya, maka aku akan merebut semuanya kembali.

….

Dalam perjalanan pulang dari tempat pemakaman, Andre menghubungiku.

Nada suaranya terdengar canggung dan gelisah.

"Winda, sudah lama aku nggak ketemu putri kita, bolehkah kirimkan videonya …."

"Baiklah."

Sebelum Andre selesai bicara, aku menutup telepon.

Lalu, aku mengirimkan video lama putri kami padanya.

Tidak lama kemudian, Andre mengirimkan pesan suara.

Kali ini, suaranya terdengar lebih tenang.

"Nah, begini dong, Winda. Kalau patuh seperti ini baru namanya istri yang baik."

"Jangan cemburu lagi lain kali, tadi Diana dan Ryan sampai ketakutan. Besok adalah ulang tahun Ryan, aku akan pulang menemani putri kita setelah selesai merayakan ulang tahun Ryan."

"Satu lagi, masalah di tempat pemakaman hari ini belum selesai, besok kamu juga harus datang di perayaan ulang tahun Ryan, nanti kamu minta maaf sama Diana. Ke depannya, kalian akan sering ketemu, jangan sampai membuat hubungan kita semua jadi jelek begini ...."

"Baiklah, nanti aku akan datang." Aku menjawab dengan nada tenang.

Andre tertegun sejenak, tetapi kemudian dia tertawa gembira.

"Bagus, bagus, Winda, aku suka sikapmu yang dewasa ini. Sampai jumpa besok."

Setelah menutup telepon, aku melihat ke sekeliling ruangan kosong ini. Tanpa keraguan sedikit pun, aku berbalik dan pergi.

'Selamat tinggal, Andre.'

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Dendam yang Mengakar di Jiwa   Bab 9

    Kemarahan mereka membuat Diana ketakutan.Dia berlutut sambil menatap kotak abu jenazah putriku dengan kedua lutut yang gemetar tanpa henti, lalu dia meminta maaf kepada putriku, "Maafkan aku, Yoan. Ini salah Bibi, maafkan Bibi, ya. Jangan salahkan Bibi, salahkan ayahmu yang berperasaan, dia nggak layak disebut ayah ….""Bibi hanya menghubunginya sekali saja. Bibi nggak memaksanya, dia sendiri yang datang menemui Bibi.""Dia juga yang membawa pergi jantung yang seharusnya didonorkan untukmu, maafkan Bibi, ya. Kalau nggak, salahkan putraku saja, dia yang berbohong, dia yang membohongi ayahmu …."Ucapan Diana membuat semua orang kaget.Demi terbebas dari hukuman, Diana bahkan tega mengorbankan putranya sendiri ….Mata Andre memerah, dia menatap Diana dengan penuh amarah."Sialan! Yang mencelakai Yoan itu kamu! Kamu yang merayuku agar aku tidur denganmu. Kamu yang merayuku, menyebabkan aku kehilangan putriku! Dasar nggak tahu malu, kamu pantas mati, kamu pantas masuk neraka!"Dia menyeran

  • Dendam yang Mengakar di Jiwa   Bab 8

    Hanya dalam waktu setengah jam, asisten kembali setelah mengambil obat anestesia.Dia melihat darah mengalir deras dari tubuh putriku telah membasahi meja operasi.Pada adegan berikutnya, asisten Andre buru-buru keluar untuk memanggilku masuk.Durasi video kurang dari setengah jam.Itu berarti Profesor Andre yang terkenal menyayangi putrinya, ketika kondisi putrinya sedang kritis, sang ayah hanya menemaninya setengah jam.Hanya karena satu panggilan telepon dari mahasiswinya, dia meninggalkan putri kandungnya sendiri tanpa ragu sedikit pun.Setelah video selesai diputar, karena marah, tubuhku gemetar tanpa henti.Namun aku tahu, saat ini masih ada hal lebih penting yang harus dilakukan.Aku menenangkan diri, kemudian mematikan ponsel.Tanpa memedulikan Andre yang wajahnya pucat pasi, aku berbalik dan menghadap ke arah para wartawan di bawah panggung."Aku sudah tahu kalian semua diundang Andre ke sini untuk mentertawakan Keluarga Surya, tapi hari ini kalian sudah menonton video yang me

  • Dendam yang Mengakar di Jiwa   Bab 7

    Di video itu, terlihat Andre sedang sibuk mengoperasi.Dering telepon mengganggu konsentrasinnya. Andre tetap melanjutkan pekerjaannya sambil memberikan instruksi kepada asistennya, "Lihat siapa yang menelepon, kalau Nyonya yang telepon, nggak usah …."Asisten melihat nomor si penelepon dan menjawab pelan, "Dok, Kak Diana yang menelepon …."Sebelum asistennya selesai bicara, Andre langsung menaruh pisau bedahnya, lalu berbalik dan membentak asistennya, "Cepat angkat! Kenapa masih diam saja di sana?"Asisten melihat putriku di atas meja operasi.Setelah ragu sejenak, akhirnya dia mengangkat telepon dengan perasaan serba salah.Di seberang telepon, terdengar suara Diana sedang menangis."Andre, kamu yakin hasil pemeriksaannya itu salah diagnosis? Aku masih merasa nggak tenang. Saat bangun pagi ini, Ryan mengeluh nggak enak badan. Bisakah kamu datang dan memeriksanya sebentar ….""Diana, tenang saja. Pengamatanku nggak pernah salah, Ryan sehat kok ….""Andre, kamu sudah nggak peduli sama

  • Dendam yang Mengakar di Jiwa   Bab 6

    Andre panik.Dia segera maju, lalu menatap abu jenazah yang dipegang ayahku."Ayah, Ayah terus bilang aku mencelakai Yoan, tapi kemarin Winda masih mengirimkan video Yoan padaku! Ryan juga masih mengobrol dengan Yoan beberapa hari lalu!"Aku menatap Andre, lalu membuka riwayat obrolanku dengan Andre di WhatsApp."Andre, lihat lagi dengan saksama, video yang aku kirimkan padamu itu direkam tanggal berapa?"Sekarang sudah memasuki musim hujan.Sementara di video itu, Yoan masih mengenakan pakaian musim kemarau.Andai saat itu Andre melihat lebih teliti lagi, dia pasti menyadari kejanggalan itu.Bahkan, kemungkinan besar dia belum membuka video itu.Andre menatap video dari ponselku sambil membelalakkan mata, wajahnya tiba-tiba memucat ….Dia menyadari kejanggalan itu.Lalu, dia segera berbalik dan menoleh ke arah anak laki-laki di samping Diana. Dia mencengkeram lengan anak itu sambil berteriak, "Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau hari itu kamu mengobrol dengan Kak Yoan? Kamu bohong

  • Dendam yang Mengakar di Jiwa   Bab 5

    Begitu mengatakannya, Diana tertegun lama di atas panggung.Andre naik ke atas panggung, lalu mencengkeram kerah bajuku sambil berteriak seperti orang gila, "Sialan, omong apa sih kamu! Yoan sebentar lagi sampai. Setelah Yoan sampai, dia akan bilang sendiri bahwa dia menyayangiku!"Banyak lampu kilat kamera menyorot ke atas panggung.Wajah Andre memucat, dia mengguncang tubuhku dengan kasar."Aku mau ketemu Yoan sekarang juga! Hubungi Yoan! Cepat! Aku mau putri kesayanganku membelaku!"Begitu Andre selesai bicara, terdengar suara helikopter.Beberapa saat kemudian, ayahku turun sambil membawa abu jenazah dan memberikannya kepada Andre …."Putri kesayanganmu sudah datang …."Andre perlahan menunduk dan melihat kotak kecil yang dipegang ayahku, lalu refleks mengulurkan tangannya.Namun, tangannya yang sudah terangkat turun kembali.Wajah Andre terlihat kesal."Ayah, sebagai kakeknya Yoan, nggak seharusnya menjadikan nyawa Yoan sebagai bahan candaan, benar 'kan ….?"Sebelum Andre selesai

  • Dendam yang Mengakar di Jiwa   Bab 4

    Pada tengah malam, Andre baru kembali ke rumah dengan tubuh lelah.Dia sebenarnya tidak ingin pulang, tetapi entah kenapa dia merasa sikap Winda hari ini sangat aneh."Winda, aku pulang."Begitu membuka pintu, saat melihat rumah yang gelap gulita, perasaan Andre tidak enak."Winda?"Di dalam kamar, dia juga tidak menemukan Winda, lemari baju juga kosong.Ke mana dia?Andre mengernyit, lalu pergi ke ruang tamu, barulah dia menyadari ada meja altar di sana."Meja Altar Yoan .… Omong kosong!"Andre membalik meja altar itu dengan kasar.Sampai kapan Winda mau terus membuat keributan?Dia mengeluarkan ponsel dengan marah, lalu menghubungi Winda.Namun, telepon tidak diangkat.Andre mengirimkan pesan WhatsApp. Ketika menyadari nomornya diblokir, dia langsung tertegun.Lalu, kemarahannya meledak.Winda memblokir nomornya hanya karena dia bersama Diana dan anaknya selama beberapa hari?Andre membanting ponselnya dengan keras."Jangan kira aku nggak tahu kamu kabur ke mana! Winda, ini salahmu s

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status