LOGINCahaya matahari pagi menyinari wajah Jiao Jiao, memyilaukan matanya yang masih tertutup rapat. Dia mengerutkan kening saat merasakan sakit di kepalanya, seperti ada paku besar yang tertancap di dalamnya. Tubuhnya terasa lelah dan sedikit sakit, terutama di bagian pinggangnya.
Jiao Jiao perlahan membuka mata, melihat langit-langit kamar yang tidak dikenal membuatnya langsung terkejut hingga segera duduk tegak. Dia pun menyadari dirinya sedang berada di atas ranjang besar yang ditutupi seprai putih bersih, sementara tubuhnya hanya tertutup oleh selimut tebal. Apa yang terjadi? Benaknya mulai bekerja keras untuk mengingat malam sebelumnya. Kenangan tentang Ruangan Meigui, ketiga pria bayaran, hingga kedatangan Fu Si Han mulai muncul satu per satu. Jiao Jiao merasa wajahnya mulai memanas dengan sangat cepat, matanya membelalak tak percaya. 'Tidak mungkin ... aku tidak benar-benar tidur dengan Fu Si Han, kan?' batinnya mencoba menyangkal. Dia melihat sekeliling kamar yang luas dan bergaya modern. Perabotan yang ada di dalamnya semuanya mewah dan berkualitas tinggi, menunjukkan bahwa ini adalah tempat tinggal orang kaya. Jiao Jiao segera menarik selimut lebih erat ke tubuhnya, lalu turun dari ranjang untuk mencari pakaian. Gaun malamnya kusut ada di lantai dekat sofa, dan beberapa pakaian pria bersih ada di kursi dekat lemari. Saat mengambil kemeja putih milik Fu Si Han, aroma yang sama menyelimuti hidungnya—kayu vetiver segar, bergamot elegan, dan sedikit minyak biji anggur. Rasa hangat yang tak biasa menyentuh kulitnya ketika mengenakan kemeja sepanjang pahanya, seperti rasa aman yang sudah lama tidak dirasakan. "Mengapa rasanya seperti sudah pernah dekat dengan orang yang punya aroma ini?" bisiknya pelan sambil menyesuaikan kerah kemeja, tapi dia tidak punya waktu untuk merenung lebih lama. Setelah berpakaian, Jiao Jiao berjalan dengan hati-hati menuju pintu utama rumah itu. Koridor yang panjang dan sunyi membuatnya merasa lebih tenang karena tidak bertemu dengan siapapun. Setelah masuk ke dalam taksi, Jiao Jiao memberitahu sopir untuk mengantarnya ke kediaman Feng Haoming yang selama dua tahun menjadi tempat tinggalnya bersama pria itu. Meskipun hatinya merasa sangat berat dan tidak ingin kembali, dia harus ke sana untuk mengambil barang-barang pribadinya. Ketika taksi akhirnya sampai di depan gerbang besar kediaman Feng Haoming, Jiao Jiao merasa tubuhnya menjadi sangat kaku. Dia melihat ada seorang wanita di taman yang menjadi tempatnya dan Haoming sering berjalan bersama pada malam hari, juga berbicara tentang segala hal hingga larut malam. Wanita itu mengenakan gaun putih panjang sampai lutut, rambut hitamnya diikat rapi dengan aksesoris kecil yang cantik berbentuk bunga mawar. Jiao Jiao merasa tubuhnya mulai bergetar hebat, matanya membelalak tidak percaya saat melihat Feng Haoming keluar dari rumah dengan langkah yang lembut, kemudian merangkul wanita itu dari belakang dengan sangat mesra dan mencium pipinya dengan penuh kasih. Wanita ibu berbalik menghadap Haoming dengan senyum lembut, memberikan kejutan yang nyata pada Jiao Jiao hingga matanya membelalak. "Li ... Na?" bisik Jiao Jiao dengan suara parau dan penuh ketidakpercayaan, tubuhnya hampir tidak bisa berdiri tegak. Kakinya terasa sangat lemah seolah-olah tidak bisa menopang berat badannya lagi. "Kenapa harus dia?" Saat itulah, Li Na perlahan mengangkat wajahnya dan melihat tepat ke arah Jiao Jiao yang bersembunyi di balik pagar. Wanita itu diam-diam memberikan senyum sinis, tatapannya penuh dengan kepuasan dan niat jahat. Li Na berpura-pura tidak melihat Jiao Jiao saat menyandarkan kepalanya ke dada Haoming, bahkan sengaja mengelusnya dengan lembut. Seketika, ingatan masa kecilnya yang suram sejak kehadiran Li Na menyerbu pikiran Jiao Jiao. Bagaimana saudari tirinya itu merenggut ayahnya, rumahnya, dan semua mainan serta makanan kesukaannya. Dulu, Liu Lanfen mengambil ayahnya dari ibunya, kemudian membawa Li Na ke rumahnya. Sekarang, Li Na mengambil pria yang Jiao Jiao yakini akan menjadi miliknya. Jiao Jiao mengepalkan tangannya dengan erat, membuat kukunua menancap dengan kiat ke telapak tangannya. Haoming bisa menikahi siapa pun di dunia ini—wanita cantik, kaya, berbakat, atau bahkan wanita jahat yang tidak bermoral sekali pun. Tapi mengapa harus Li Na? Mengapa harus wanita yang telah merenggut kebahagiaannya? Jiao Jiao merasa hatinya seperti sedang digilas berulang-ulang dengan batu besar yang sangat berat, sakitnya sampai hampir membuatnya pingsan. Dia ingin berlari dan menangis sekeras mungkin, ingin menyuruh mereka berdua pergi jauh-jauh dari tempat yang sarat dengan kenangan indahnya bersama Haoming, tapi dia tidak bisa bergerak sedikit pun. Tubuhnya seperti terjebak di tempat itu, terpaksa menyaksikan momen bahagia yang seharusnya menjadi miliknya bersama Haoming. Setelah beberapa saat, Jiao Jiao menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia berusaha mengendurkan tubuhnya yang kaku, lalu berbalik dan berlari menjauh dari sana dengan cepat seolah-olah sedang dikejar oleh sesuatu yang mengerikan. Dia segera menghentikan taksi yang sedang lewat, lalu masuk dengan cepat ke dalamnya tanpa melihat ke belakang lagi. “Mau ke mana, Nona?” tanya sopir taksi dengan ramah saat mulai mengemudi. Jiao Jiao hanya menggelengkan kepala, dia juga tidak tahu harus ke mana. "Jalan saja dulu," katanya dengan suara serak. Taksi mulai melaju perlahan melewati jalan-jalan Kota Angin yang mulai ramai dengan aktivitas pagi. Jiao Jiao menyilangkan tangan di dadanya, melihat keluar melalui jendela sambil mengusap air mata yang masih terus menyusuri pipinya. Baik supir taksi atau pun Jiao Jiao tidak ada yang menyadari bahwa tidak jauh di belakang mereka, sebuah mobil mewah warna putih mengikuti dengan diam-diam. Mata pemandunya penuh dendam, selalu mengawasi setiap langkah taksi yang Jiao Jiao tumpangi.Saat bangun, Jiao Jiao sudah berada di rumah sakit. Dinding ruangan yang berwarna putih bersih dan bau alkohol yang khas memenuhi setiap sudut ruang perawatan yang tidak besar itu. Tubuhnya terasa sangat lemah, dan bagian dahinya yang terluka masih begitu menyakitkan jika sedikit saja digerakkan.Perawat yang sedang menyesuaikan selang infus di tangan kiri Jiao Jiao langsung memberikan senyum ramah ketika melihat wanita itu mulai sadarkan diri. "Nona, Anda akhirnya bangun. Luka Anda cukup parah dan perlu rawat inap, jadi kami perlu menghubungi keluargamu untuk biaya perawatan."Jiao Jiao menatap kosong ke langit-langit, tidak memberikan sedikit pun respon. Kata "keluarga" seperti pisau tajam yang menusuk hatinya, membuatnya terluka semakin dalam.Keluarga ... siapa keluarganya?Ibunya sudah meninggal dunia. Ayahnya memiliki putri lain yang tengah sakit juga, pasti mendapatkan perhatian penuh dari sang ayah. Mana mungkin ada bagian dirinya untuk mendapatkan perhatian ayahnya? Terlebih
Taksi terus melaju melewati jalan-jalan yang tidak begitu ramai. Jiao Jiao masih menyandarkan wajahnya pada kaca jendela, matanya kosong menatap pemandangan luar yang lewat begitu saja. Air mata sudah berhenti mengalir, tapi rasa sakit di hatinya tetap saja ada—seperti duri yang terus menusuk dalam-dalam. Sopir taksi beberapa kali menoleh melihatnya melalui cermin spion; wajahnya tercermin rasa iba, tapi tidak berani mengganggu. Dia hanya fokus mengemudi, sengaja memilih jalan yang lebih sepi agar penumpangnya bisa merenung dengan lebih tenang. “Nona, mau saya antar ke rumah Anda saja? Mungkin ada orang yang menunggu atau mengkhawatirkan Anda,” ucap sopir akhirnya dengan suara lembut. Siapa yang akan mengkhawatirkan aku? Jiao Jiao tersenyum miris, lalu menggeleng perlahan. “Tidak usah, Tuan. Bawa saja saya keliling sebentar.” Saat itu pula, di mobil putih yang mengikuti dari belakang, Li Na sedang menatap layar ponselnya dengan wajah dingin. Di layarnya terlihat nomor kontak Feng
Cahaya matahari pagi menyinari wajah Jiao Jiao, memyilaukan matanya yang masih tertutup rapat. Dia mengerutkan kening saat merasakan sakit di kepalanya, seperti ada paku besar yang tertancap di dalamnya. Tubuhnya terasa lelah dan sedikit sakit, terutama di bagian pinggangnya. Jiao Jiao perlahan membuka mata, melihat langit-langit kamar yang tidak dikenal membuatnya langsung terkejut hingga segera duduk tegak. Dia pun menyadari dirinya sedang berada di atas ranjang besar yang ditutupi seprai putih bersih, sementara tubuhnya hanya tertutup oleh selimut tebal. Apa yang terjadi? Benaknya mulai bekerja keras untuk mengingat malam sebelumnya. Kenangan tentang Ruangan Meigui, ketiga pria bayaran, hingga kedatangan Fu Si Han mulai muncul satu per satu. Jiao Jiao merasa wajahnya mulai memanas dengan sangat cepat, matanya membelalak tak percaya. 'Tidak mungkin ... aku tidak benar-benar tidur dengan Fu Si Han, kan?' batinnya mencoba menyangkal. Dia melihat sekeliling kamar yang luas dan be
Setelah keluar dari Nocturne Hollow, Jiao Jiao berjalan tanpa arah di jalanan Kota Angin yang masih ramai meskipun malam sudah larut. Udara dingin menyapu wajahnya yang masih basah akibat air mata yang tak kunjung berhenti mengalir. Dia berhenti di tepi sungai, menatap pantulan cahaya gedung-gedung tinggi. Benaknya berputar mengulang kata-kata Haoming dan taruhan dengan Shu Yi. Jari-jarinya mengusap pipinya perlahan, menyeka titik-titik air mata yang menetes lembut ke pelukan gaunnya. "Aku tidak seharusnya menganggap hubungan kami serius," bisiknya pelan. Entah sejak kapan, Jiao Jiao tidak tahu kapan cintanya mulai bersemi. Mungkinkah saat dia demam tinggi dan Haoming menjaganya selama tiga hari tiga malam tanpa tidur, atau ketika pria itu rela menerjang hujan badai demi memenuhi keinginannya makan pangsit di tengah malam, ataukah saat dia menangis merindukan ibunya, Haoming memeluknya erat dan berkata bahwa dia akan selalu ada untuknya. Jiao Jiao terkejut ketika mendengar suara d
Jiao Jiao terkejut, tubuhnya sedikit goyah hingga mundur selangkah tanpa sadar. Matanya membelalak, 'bagaimana Haoming tahu tentang taruhan itu? Apakah Shu Yi yang mengatakannya?' Tatapan Jiao Jiao masih lekat tertuju pada Haoming, ruangan pun semakin senyap seolah tidak ada penghuni sama sekali. 'Kapan dia mengetahuinya? Apakah sejak awal aku sudah menjadi lelucon baginya?' Teman-teman Haoming yang sebelumnya hanya diam, mulai saling bertukar pandangan. Beberapa di antaranya menunjukkan ekspresi tidak nyaman melihat betapa tenangnya Haoming menangani situasi ini, bahkan ada yang mulai merasa kasihan pada Jiao Jiao. Wanita itu berdiri dengan tubuh yang sedikit bergoyang, tapi tetap mencoba menjaga sikap sombong khasnya. Haoming mengeluarkan kartu hitam dari saku jasnya, lalu meletakkannya di atas meja kayu di depan mereka. Permukaan meja yang mengkilap mencerminkan cahaya lilin dari kue ulang tahun, menyilaukan kartu hitam pemberian Haoming seolah menegaskan betapa berharganya b
“Haoming, mana kekasihmu? Dia tidak mungkin tidak datang merayakan ulang tahunmu, kan?” Suara itu terdengar jelas melalui celah pintu kayu berkualitas tinggi yang menghiasi ruang Lantian di dalam Golden Club. Li Jiao terhenti tepat di depan pintu, tangannya yang menggenggam kotak kue berukuran sedang sedikit bergetar karena gugup yang tiba-tiba menyerang. “Mungkin sebentar lagi datang.” Jawaban yang keluar dari dalam terdengar dingin dan tak acuh, sama seperti sosok pria yang mengucapkannya. Udara di sekitarnya terasa semakin berat, membuat Jiao Jiao harus menahan napas untuk meredakan degup jantungnya. Dia telah belajar membuat kue rasa mangga kesukaan Feng Haoming, mengenakan gaun malam merah terang, dan menyembunyikan sebuah jam tangan sebagai hadiah. Semua itu dia persiapkan dari jaih hati, hanya demi menyenangkan Feng Haoming. “Kapan kamu akan menikahinya?” Pertanyaan kedua itu berhasil membuat jantung Jiao Jiao berdebar lebih kencang hingga dia seperti bisa mendengar deb







