MasukTaksi terus melaju melewati jalan-jalan yang tidak begitu ramai. Jiao Jiao masih menyandarkan wajahnya pada kaca jendela, matanya kosong menatap pemandangan luar yang lewat begitu saja. Air mata sudah berhenti mengalir, tapi rasa sakit di hatinya tetap saja ada—seperti duri yang terus menusuk dalam-dalam.
Sopir taksi beberapa kali menoleh melihatnya melalui cermin spion; wajahnya tercermin rasa iba, tapi tidak berani mengganggu. Dia hanya fokus mengemudi, sengaja memilih jalan yang lebih sepi agar penumpangnya bisa merenung dengan lebih tenang. “Nona, mau saya antar ke rumah Anda saja? Mungkin ada orang yang menunggu atau mengkhawatirkan Anda,” ucap sopir akhirnya dengan suara lembut. Siapa yang akan mengkhawatirkan aku? Jiao Jiao tersenyum miris, lalu menggeleng perlahan. “Tidak usah, Tuan. Bawa saja saya keliling sebentar.” Saat itu pula, di mobil putih yang mengikuti dari belakang, Li Na sedang menatap layar ponselnya dengan wajah dingin. Di layarnya terlihat nomor kontak Feng Haoming yang sudah terpilih, dia tersenyum licik sebelum menekan tombol panggilan. Beberapa detik kemudian, sambungan terhubung. “Haoming ...,” ucap Li Na dengan suara yang sedikit menggigil, membuat dirinya tampak lemah dan rapuh. “Aku tiba-tiba merasa pusing.” “Nana, kamu sudah sampai di mana?” Suara Haoming terdengar khawatir dari ujung telepon. “Segera parkir di pinggir jalan, aku sebentar lagi datang menjemputmu.” “Tidak usah, aku bisa sendiri. Mungkin hanya kelelahan habis turun dari pesawat kemarin,” kata Li Na dengan nada yang lembut. "Kamu temani saja aku mengobrol, ya?" "Kamu benar-benar tidak apa-apa?" tanya Haoming ingin memastikan. Saat Li Na ingin pulang tadi, dia berniat mengantarkannya. Tapi wanita itu menolak, dan hanya meminjam mobilnya sebagai gantinya. "Iya, aku—" Li Na sedikit menaikkan suaranya seolah-olah sedang terkejut. “Astaga—” Sebelum Haoming bisa memberikan tanggapan apa pun, Li Na langsung mematikan sambungan telepon. Dia melihat ke depan dengan mata yang penuh dengan niat jahat, kemudian menekan pedal gas dengan keras. Mobil putih milik Feng Haoming yang dipinjamnya melesat seperti kilat menuju taksi yang sedang melaju pelan di depannya. Jiao Jiao yang sedang merenung tiba-tiba terkejut ketika mendengar suara mesin mobil yang sangat keras dari belakang. Dia menoleh ke belakang melalui kaca jendela dan melihat sebuah mobil putih yang datang dengan kecepatan luar biasa, langsung menyasar arah taksi mereka. “Awas!” teriak Jiao Jiao dengan suara penuh ketakutan. Sopir pun kaget dan segera mencoba menghindar dengan memutar setir ke kiri, tapi terlambat. BAM!!! Suara benturan yang sangat keras menggema di sekitar jalan, membuat beberapa orang yang lewat langsung berhenti dan melihat ke arah sumber suara. Mobil putih menabrak bagian belakang kanan taksi dengan keras. Tubuh Jiao Jiao terdorong ke depan dengan kuat, kepalanya terbentur keras pada sandaran kursi depan. Rasa sakit luar biasa menyambar kepalanya, diikuti rasa pusing yang membuat pandangannya kabur. Cairan hangat mulai mengalir dari dahinya, menyebar ke pipi dan baju putih Fu Si Han yang dia kenakan. “Aduh … sakit sekali …,” bisiknya dengan suara sangat lemah, mencoba mengangkat tangan untuk menyentuh bagian kepalanya yang terluka. “Shhhh ….” Dia mendesis kesakitan, tubuhnya terasa sangat berat seolah tidak bisa digerakkan sama sekali. Di luar jalan, beberapa orang mulai berkumpul. Salah satunya sudah mengambil ponsel untuk memanggil ambulans dan polisi. Sementara itu, Li Na dengan kejam membenturkan kepalanya ke kemudi untuk menimbulkan memar, lalu menyebarkan rambutnya agar terlihat berantakan dan memasang ekspresi kesakitan yang sangat meyakinkan seolah dialah korban yang sebenarnya. Tak seorang pun berani mendekati kecelakaan untuk menyelamatkan korban, khawatir salah mengambil tindakan karena kondisi korban terlihat cukup parah. Mereka hanya bisa berdiri menunggu ambulans dan petugas medis datang. Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam mewah melaju dengan cepat dan berhenti tepat di depan lokasi kejadian. Feng Haoming keluar dengan tergesa-gesa, wajahnya penuh kekhawatiran yang jelas terlihat. Langkahnya cepat menuju mobil putih. “Nana, kamu baik-baik saja?” tanyanya dengan suara penuh perhatian saat melihat Li Na yang sedang menyandarkan diri. Dia dengan hati-hati membantu wanita itu keluar dan mengecek setiap bagian tubuhnya. “Haoming ... aku tidak sengaja ...,” kata Li Na dengan suara meratap, air matanya sudah siap mengalir. “Taksi itu tiba-tiba berhenti mendadak ... aku tidak sempat menghindar.” Haoming mengangguk perlahan, matanya penuh dengan rasa kasihan. “Tenang saja, aku akan mengantar kamu ke rumah sakit sekarang juga. Dokter akan memeriksa kamu dengan teliti.” Saat Haoming hendak menggendong Li Na, matanya tidak sengaja menyambung dengan pandangan Jiao Jiao yang masih bersandar lemah di dalam taksi. Kaca taksi yang ditabrak sudah retak berantakan, beberapa pecahannya bahkan menggores pipi Jiao Jiao. Darah dari kepalanya terus merembes ke atas baju putihnya. Jiao Jiao melihat kebingungan dan keterkejutan di mata Haoming yang biasanya tenang, tapi hanya sesaat. Tubuh pria itu tampak sedikit kaku seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tangannya yang hendak menggenggam tubuh Li Na sedikit gemetar, jari-jarinya menggenggam kain gaun wanita itu dengan lebih erat dari biasanya. "Haoming, kenapa?" tanya Li Na dengan nada lembut, menyadari bahwa Haoming tiba-tiba berhenti melangkah. Dia sedikit mengangkat wajahnya untuk melihat ke arah taksi, bersikap seolah tidak tahu ada Jiao Jiao di sana. “Apakah kamu mengenal orang yang tidak sengaja kutabrak?” Haoming mengalihkan tatapannya dari Jiao Jiao ke arah Li Na. Dia melihat wajah wanita tercintanya penuh dengan rasa takut dan kesakitan, lalu kembali melihat Jiao Jiao yang sudah mulai tidak sadarkan diri di dalam taksi. Setelah beberapa detik yang terasa sangat lama, dia menggeleng perlahan dan menjawab dengan dingin. “Bukan siapa-siapa, aku tidak mengenalinya.” Kata-kata itu keluar dari mulutnya dengan sangat jelas, seolah-olah dua tahun bersama Jiao Jiao tidak pernah ada dalam hidupnya. Tanpa menoleh lagi, Haoming dengan hati-hati menggendong Li Na dan berjalan cepat menuju mobilnya, meninggalkan Jiao Jiao sendirian di dalam taksi yang rusak parah. Jiao Jiao yang masih memiliki sedikit sisa kesadaran mendengar kata demi kata dengan jelas, setiap kata seperti pisau yang ditancapkan dengan kejam ke hatinya. Meskipun kepalanya sangat sakit dan pandangannya semakin kabur, dia bisa melihat dengan jelas punggung Haoming yang menjauh membawa Li Na. Air mata yang bercampur dengan darah mulai mengalir lagi ke pipinya, tapi kali ini dia tidak bisa mengeluarkan suara sedikit pun. Jiao Jiao hanya memejamkan matanya perlahan, menikmati setiap serat rasa sakit yang mendera fisik dan batinnya hingga kesadarannya terkikis habis.Saat bangun, Jiao Jiao sudah berada di rumah sakit. Dinding ruangan yang berwarna putih bersih dan bau alkohol yang khas memenuhi setiap sudut ruang perawatan yang tidak besar itu. Tubuhnya terasa sangat lemah, dan bagian dahinya yang terluka masih begitu menyakitkan jika sedikit saja digerakkan.Perawat yang sedang menyesuaikan selang infus di tangan kiri Jiao Jiao langsung memberikan senyum ramah ketika melihat wanita itu mulai sadarkan diri. "Nona, Anda akhirnya bangun. Luka Anda cukup parah dan perlu rawat inap, jadi kami perlu menghubungi keluargamu untuk biaya perawatan."Jiao Jiao menatap kosong ke langit-langit, tidak memberikan sedikit pun respon. Kata "keluarga" seperti pisau tajam yang menusuk hatinya, membuatnya terluka semakin dalam.Keluarga ... siapa keluarganya?Ibunya sudah meninggal dunia. Ayahnya memiliki putri lain yang tengah sakit juga, pasti mendapatkan perhatian penuh dari sang ayah. Mana mungkin ada bagian dirinya untuk mendapatkan perhatian ayahnya? Terlebih
Taksi terus melaju melewati jalan-jalan yang tidak begitu ramai. Jiao Jiao masih menyandarkan wajahnya pada kaca jendela, matanya kosong menatap pemandangan luar yang lewat begitu saja. Air mata sudah berhenti mengalir, tapi rasa sakit di hatinya tetap saja ada—seperti duri yang terus menusuk dalam-dalam. Sopir taksi beberapa kali menoleh melihatnya melalui cermin spion; wajahnya tercermin rasa iba, tapi tidak berani mengganggu. Dia hanya fokus mengemudi, sengaja memilih jalan yang lebih sepi agar penumpangnya bisa merenung dengan lebih tenang. “Nona, mau saya antar ke rumah Anda saja? Mungkin ada orang yang menunggu atau mengkhawatirkan Anda,” ucap sopir akhirnya dengan suara lembut. Siapa yang akan mengkhawatirkan aku? Jiao Jiao tersenyum miris, lalu menggeleng perlahan. “Tidak usah, Tuan. Bawa saja saya keliling sebentar.” Saat itu pula, di mobil putih yang mengikuti dari belakang, Li Na sedang menatap layar ponselnya dengan wajah dingin. Di layarnya terlihat nomor kontak Feng
Cahaya matahari pagi menyinari wajah Jiao Jiao, memyilaukan matanya yang masih tertutup rapat. Dia mengerutkan kening saat merasakan sakit di kepalanya, seperti ada paku besar yang tertancap di dalamnya. Tubuhnya terasa lelah dan sedikit sakit, terutama di bagian pinggangnya. Jiao Jiao perlahan membuka mata, melihat langit-langit kamar yang tidak dikenal membuatnya langsung terkejut hingga segera duduk tegak. Dia pun menyadari dirinya sedang berada di atas ranjang besar yang ditutupi seprai putih bersih, sementara tubuhnya hanya tertutup oleh selimut tebal. Apa yang terjadi? Benaknya mulai bekerja keras untuk mengingat malam sebelumnya. Kenangan tentang Ruangan Meigui, ketiga pria bayaran, hingga kedatangan Fu Si Han mulai muncul satu per satu. Jiao Jiao merasa wajahnya mulai memanas dengan sangat cepat, matanya membelalak tak percaya. 'Tidak mungkin ... aku tidak benar-benar tidur dengan Fu Si Han, kan?' batinnya mencoba menyangkal. Dia melihat sekeliling kamar yang luas dan be
Setelah keluar dari Nocturne Hollow, Jiao Jiao berjalan tanpa arah di jalanan Kota Angin yang masih ramai meskipun malam sudah larut. Udara dingin menyapu wajahnya yang masih basah akibat air mata yang tak kunjung berhenti mengalir. Dia berhenti di tepi sungai, menatap pantulan cahaya gedung-gedung tinggi. Benaknya berputar mengulang kata-kata Haoming dan taruhan dengan Shu Yi. Jari-jarinya mengusap pipinya perlahan, menyeka titik-titik air mata yang menetes lembut ke pelukan gaunnya. "Aku tidak seharusnya menganggap hubungan kami serius," bisiknya pelan. Entah sejak kapan, Jiao Jiao tidak tahu kapan cintanya mulai bersemi. Mungkinkah saat dia demam tinggi dan Haoming menjaganya selama tiga hari tiga malam tanpa tidur, atau ketika pria itu rela menerjang hujan badai demi memenuhi keinginannya makan pangsit di tengah malam, ataukah saat dia menangis merindukan ibunya, Haoming memeluknya erat dan berkata bahwa dia akan selalu ada untuknya. Jiao Jiao terkejut ketika mendengar suara d
Jiao Jiao terkejut, tubuhnya sedikit goyah hingga mundur selangkah tanpa sadar. Matanya membelalak, 'bagaimana Haoming tahu tentang taruhan itu? Apakah Shu Yi yang mengatakannya?' Tatapan Jiao Jiao masih lekat tertuju pada Haoming, ruangan pun semakin senyap seolah tidak ada penghuni sama sekali. 'Kapan dia mengetahuinya? Apakah sejak awal aku sudah menjadi lelucon baginya?' Teman-teman Haoming yang sebelumnya hanya diam, mulai saling bertukar pandangan. Beberapa di antaranya menunjukkan ekspresi tidak nyaman melihat betapa tenangnya Haoming menangani situasi ini, bahkan ada yang mulai merasa kasihan pada Jiao Jiao. Wanita itu berdiri dengan tubuh yang sedikit bergoyang, tapi tetap mencoba menjaga sikap sombong khasnya. Haoming mengeluarkan kartu hitam dari saku jasnya, lalu meletakkannya di atas meja kayu di depan mereka. Permukaan meja yang mengkilap mencerminkan cahaya lilin dari kue ulang tahun, menyilaukan kartu hitam pemberian Haoming seolah menegaskan betapa berharganya b
“Haoming, mana kekasihmu? Dia tidak mungkin tidak datang merayakan ulang tahunmu, kan?” Suara itu terdengar jelas melalui celah pintu kayu berkualitas tinggi yang menghiasi ruang Lantian di dalam Golden Club. Li Jiao terhenti tepat di depan pintu, tangannya yang menggenggam kotak kue berukuran sedang sedikit bergetar karena gugup yang tiba-tiba menyerang. “Mungkin sebentar lagi datang.” Jawaban yang keluar dari dalam terdengar dingin dan tak acuh, sama seperti sosok pria yang mengucapkannya. Udara di sekitarnya terasa semakin berat, membuat Jiao Jiao harus menahan napas untuk meredakan degup jantungnya. Dia telah belajar membuat kue rasa mangga kesukaan Feng Haoming, mengenakan gaun malam merah terang, dan menyembunyikan sebuah jam tangan sebagai hadiah. Semua itu dia persiapkan dari jaih hati, hanya demi menyenangkan Feng Haoming. “Kapan kamu akan menikahinya?” Pertanyaan kedua itu berhasil membuat jantung Jiao Jiao berdebar lebih kencang hingga dia seperti bisa mendengar deb







