Share

6. Tidak Tahu Malu

Author: Itsme AnH
last update publish date: 2026-03-16 16:30:19

Saat bangun, Jiao Jiao sudah berada di rumah sakit. Dinding ruangan yang berwarna putih bersih dan bau alkohol yang khas memenuhi setiap sudut ruang perawatan yang tidak besar itu. Tubuhnya terasa sangat lemah, dan bagian dahinya yang terluka masih begitu menyakitkan jika sedikit saja digerakkan.

Perawat yang sedang menyesuaikan selang infus di tangan kiri Jiao Jiao langsung memberikan senyum ramah ketika melihat wanita itu mulai sadarkan diri. "Nona, Anda akhirnya bangun. Luka Anda cukup parah dan perlu rawat inap, jadi kami perlu menghubungi keluargamu untuk biaya perawatan."

Jiao Jiao menatap kosong ke langit-langit, tidak memberikan sedikit pun respon. Kata "keluarga" seperti pisau tajam yang menusuk hatinya, membuatnya terluka semakin dalam.

Keluarga ... siapa keluarganya?

Ibunya sudah meninggal dunia. Ayahnya memiliki putri lain yang tengah sakit juga, pasti mendapatkan perhatian penuh dari sang ayah. Mana mungkin ada bagian dirinya untuk mendapatkan perhatian ayahnya? Terlebih dengan kelicikan ibu tirinya—bahkan kalau dia mau, wanita itu pasti tidak akan mengizinkan ayahnya menjenguknya.

Selama ini, hanya Haoming yang selalu ada untuknya. Tapi ....

Perawat memanggilnya lagi dengan suara lembut, "Nona ...."

Jiao Jiao mengangkat pandangannya untuk menatap sang perawat dan berkata dengan lemah, "Tidak perlu, saya bisa—"

"Biar saya yang bayar."

Suara rendah dan dalam terdengar dari arah pintu, membuat perawat dan Jiao Jiao menoleh ke sana. Seorang pria tampan dengan kemeja hitam yang rapi berjalan mendekat; wajahnya yang biasanya penuh dengan senyum nakal kini terlihat lebih serius.

Fu Si Han berjalan mendekati perawat, lalu mengeluarkan dompet kulit hitamnya dari saku, membukanya untuk mengambil kartu ATM-nya.

Saat mengeluarkan kartu dari dalam dompet, sebuah foto kecil terjatuh dari selahan dompet ke lantai putih bersih. Jiao Jiao melihat sedikit bagian foto itu – seorang gadis dengan gaun putih sedang tersenyum di taman penuh bunga mawar. Dia menajamkan matanya untuk meliat wajah gadis itu, tapi dia tidak bisa melihat dengan jelas karena perawat segera membungkuk mengangkat fotonya dan memberikannya kembali ke Fu Si Han.

"Ini, Tuan," kata perawat dengan senyum sopan sambil melihat ke arah Jiao Jiao.

"Terimakasih," kata Fu Si Han singkat, melirik Jiao Jiao. seidkit sebelum menyimpan kembali foto itu dan memberikan kartu ATM pada perawat. "Silakan proses pembayaran dengan kartu ini saja."

"Baiklah, saya akan proses pembayaran sekarang. Jika ada kebutuhan lain, silakan hubungi perawat loket ya."

Setelah itu, perawat mengambil kartu ATM dari Fu Si Han dan keluar dari ruangan, menyisakan Jiao Jiao dan pria itu sendirian.

Jiao Jiao mengerutkan keningnya, masih belum percaya dengan yang dilihatnya. "Kamu? Kenapa kamu di sini?"

"Kenapa?" tanya Fu Si Han dengan nada sedikit menyindir, mendekat ke sisi ranjangnya. "Sudah tidak mengenaliku lagi setelah menarik celanamu ke atas? Apa kamu ingin lari dari tanggung jawab?"

Wajah Jiao Jiao langsung memanas karena rasa malu yang luar biasa. Dia bukan tidak kenal—memangnya siapa yang tidak kenal dengan Fu Si Han, playboy papan atas di Kota Angin yang juga merupakan pewaris keluarga besar dari Kota Salju.

Hanya saja, dia tidak menduga pria itu akan ada di ruang perawatan, bahkan membayarkan biaya berobat yang tidak sedikit. Apa tadi katanya? Menarik celana, lari dari tanggung jawab ... apa maksudnya?

Tiba-tiba, sebuah pemikiran mengerikan melintas di benaknya. Apa jangan-jangan aku benar-benar tidur dengan Fu Si Han?

Mata Jiao Jiao terbelalak. Dia pikir, dia tidur dengan model pria yang hanya mirip dengan Fu Si Han. Tapi ternyata ....

Benar juga, mana ada model pria yang memiliki rumah semewah rumah yang dia tinggalkan pagi ini dengan tergesa-gesa.

"Kenapa kamu canggung begitu?" Fu Si Han memecah lamunan Jiao Jiao, melihat ekspresi wajahnya yang terus berubah. "Apa kamu benar-benar tidak mengenaliku?"

"Mana mungkin," kata Jiao Jiao dengan suara sedikit gemetar. "Kamu itu tuan muda kedua Keluarga Fu, pewaris keluarga terkaya di Kota Salju, Keluarga Jiang dan playboy terkenal di Kota Angin, Fu Si Han."

Fu Si Han terdiam sejenak, wajahnya sedikit berubah. Bukan itu yang dia maksud. Semua orang mengenalinya dengan julukan itu, tetapi Jiao Jiao seharusnya tidak hanya mengenalnya seperti itu.

Ingatannya kembali pada malam lima tahun yang lalu – hujan deras mengguyur tanah, suara guntur bergemuruh di langit malam yang pekat. Fu Si Han sedang bermalam di vilanya yang jauh dari ibukota, saat tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berat yang menyelinap masuk. Belum sempat dia bereaksi, tiga sosok bertopeng muncul dengan senjata tajam di tangan mereka.

Fu Si Han bergerak cepat, menghindari serangan pertama dan membanting dagunya ke arah penyerang. Dia berhasil mengalahkan dua orang, tapi yang ketiga menyergapnya dari belakang—pisau tajam menusuk perutnya dengan keras. Rasa sakit menusuk ke tulang belakang, darah segera merembes dan membasahi kemejanya.

Dengan tubuh yang lemah dan terluka, dia tidak bisa melawan mereka semua. Tanpa pikir panjang, dia membuka pintu belakang dan melarikan diri ke dalam hutan yang lebat di belakang vila, dengan suara jejak kaki dan jeritan pengejar mengikuti di belakangnya.

Kaki tergelincir di lumpur basah, tapi dia tetap berlari dengan semua kekuatan yang tersisa. Pelariannya membawanya ke pagar vila sebelah. Dia memanjatnya dengan susah payah, lalu menekan bel dengan tangan yang berdarah dan gemetar.

Pintu terbuka perlahan.

Seorang gadis muda berdiri di sana, mengenakan gaun putih polos yang simpel dan nyaman untuk tidur. Wajahnya polos tanpa riasan, rambut panjangnya sedikit berantakan karena baru bangun dari ranjang. Dia segera berlari ke pintu ketika mendengar bel yang terus berdering dengan keras.

"Astaga! Kamu ... apa yang terjadi padamu?" ujarnya dengan suara sedikit gemetar, tapi tidak menunjukkan tanda untuk menutup pintu.

Fu Si Han mencoba berbicara, tapi suaranya seperti bisikan lemah yang hampir tertutup oleh suara hujan. "Tolong ... bantu aku ...."

Sebelum gadis itu bisa menjawab, terdengar suara langkah kaki berat yang semakin dekat di luar pagar. "Dia pasti lari kesini! Cari dengan teliti!"

Fu Si Han menggeleng dengan cepat, matanya mengarah ke dalam rumah sebagai isyarat untuk masuk. Tanpa ragu, gadis itu menariknya masuk dengan cepat dan menutup pintu rapat. Dia segera menarik tirai jendela dan mematikan sebagian lampu agar tidak terlalu mencolok.

"Hati-hati," bisiknya lembut sambil membantu Fu Si Han yang hampir roboh ke lantai.

Tak lama kemudian, terdengar bunyi ketukan keras di pintu vila, disertai suara bel yang berdesakan.

Gadis itu berhasil menempatkan Fu Si Han di sofa dan menutupinya dengan selimut tipis. Dia mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu berjalan ke pintu dengan langkah yang tenang meskipun hatinya berdebar kencang.

Sebelum membuka pintu, dia menyetel wajahnya agar terlihat tenang. Pintu terbuka sedikit, dan dia muncul dengan ekspresi polos yang tidak menunjukkan tanda-tanda khawatir.

Di depannya, berdiri tiga pria yang mengenakan jaket gelap dan sudah basah oleh hujan.

"Ada apa?" tanya gadis itu lembut.

Salah satu pria melirik ke dalam rumah dengan tatapan yang mengintip-intip. "Nona, maaf mengganggu. Kami sedang mencari seorang pria terluka—dia adalah orang jahat yang melarikan diri dari kami. Apakah Anda melihatnya berlari ke arah sini?"

Gadis itu menggeleng dengan tenang, sambil menyandar tubuhnya di pintu agar menghalangi pandangan mereka ke dalam. Dia mengingat bagaimana pria di dalam rumah tampak lemah dan terluka—tidak seperti orang jahat yang mereka gambarkan.

Takut mereka memiliki niat jahat jika tahu dirinya sendirian, dia segera berkata dengan alis berkerut seakan tengah bingung. "Sejak tadi aku dan pacarku menonton TV, tidak ada yang datang."

"Tidak mungkin! Kami jelas melihatnya masuk ke arah sini!" seru pria itu dengan nada yang semakin kasar, bahkan mencoba mendorong pintu agar bisa masuk.

Namun gadis itu tetap berdiri teguh. "Kalau tidak percaya, periksa saja. Tapi jangan salahkan aku, jika aku menelpon polisi— mengatakan ada yang memaksa masuk ke rumahku!"

Tatapan para pria itu menjadi semakin sinis, tapi mereka tampaknya berpikir dua kali untuk menerobos masuk. Setelah beberapa saat mengamatinya dengan cermat, ketiga pria itu berbalik dan pergi meninggalkan vila.

Gadis itu menghela napas lega yang dia tahan-tahan, lalu segera menutup pintu dan mengunciinya dengan erat.

Dia berbalik dan berjalan cepat ke arah sofa, di mana Fu Si Han sudah mulai bangun dengan kesusahan. "Terimakasih, Nona," ujarnya dengan suara tulus namun masih lemah, tangan kanannya masih menekan luka di perutnya.

"Sama-sama," sahut gadis itu sambil mengecek perban yang sudah dia balut sebelumnya. Darah masih merembes sedikit, tapi sudah tidak sebanyak tadi.

"Siapa namamu," tanya Fu Si Han lagi, kondisinya semakin lemah. "Aku akan membalasmu nanti."

"Panggil saja Jiao Jiao," jawabnya dengan senyum lembut, lalu menutupinya kembali dengan selimut. "Istirahatlah dulu. Besok kamu harus pergi segera, takutnya orang yang mengejar kamu akan kembali dan menemukanmu di sini."

Sebelum matahari bersinar terang, Fu Si Han bangun dengan kondisi yang sedikit membaik. Dia melihat Jiao Jiao sedang tidur di kursi kecil dekat sofa setelah menjaganya sepanjang malam.

Di atas meja sampingnya, ada sebuah foto kecil—Jiao Jiao dengan senyum ceria di taman belakang vila. Tanpa berlama-lama, dia mengambil foto itu dengan hati-hati dan menyimpannya di dalam dompetnya—suatu kenangan kecil yang selalu disimpan dan dibawa ke mana-mana.

Tanpa mengganggu Jiao Jiao yang sedang tertidur pulas, Fu Si Han keluar dengan diam-diam dan menghilang ke dalam kabut pagi yang masih menyelimuti desa.

Ketika ingatan itu berlalu, Fu Si Han kembali fokus pada wajah wanita di depannya. "Sepertinya aku harus membuatmu mengingatku lagi," katanya dengan tatapan yang dalam – sebuah pandangan yang terasa berbahaya di mata Jiao Jiao.

Fu Si Han mengikis jarak di antara mereka, menghampiri wajah Jiao Jiao yang sudah mulai tampak cemas. Jiao Jiao tiba-tiba teringat malam panasnya bersama pria itu di Ruangan Meigui, membuatnya semakin gugup.

"Tidak, tidak perlu," kata Jiao Jiao dengan suara gemetar, sedikit mendorong dada Fu Si Han yang sudah sangat dekat dengan dirinya. "Kemarin malam itu salahku ... aku yang mabuk dan tidak bisa berpikir jernih."

"Kemarin malam?" Fu Si Han menatapnya dengan tatapan menggoda, sedikit mengangkat sudut bibirnya. "Kamu ternyata ingin mengingat kejadian kemarin malam, ya? Boleh saja, aku tidak keberatan untuk mengingatkannya kembali, bahkan lebih rinci."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dengan Satu Jentikan Jari, Kumiliki Semua   6. Tidak Tahu Malu

    Saat bangun, Jiao Jiao sudah berada di rumah sakit. Dinding ruangan yang berwarna putih bersih dan bau alkohol yang khas memenuhi setiap sudut ruang perawatan yang tidak besar itu. Tubuhnya terasa sangat lemah, dan bagian dahinya yang terluka masih begitu menyakitkan jika sedikit saja digerakkan.Perawat yang sedang menyesuaikan selang infus di tangan kiri Jiao Jiao langsung memberikan senyum ramah ketika melihat wanita itu mulai sadarkan diri. "Nona, Anda akhirnya bangun. Luka Anda cukup parah dan perlu rawat inap, jadi kami perlu menghubungi keluargamu untuk biaya perawatan."Jiao Jiao menatap kosong ke langit-langit, tidak memberikan sedikit pun respon. Kata "keluarga" seperti pisau tajam yang menusuk hatinya, membuatnya terluka semakin dalam.Keluarga ... siapa keluarganya?Ibunya sudah meninggal dunia. Ayahnya memiliki putri lain yang tengah sakit juga, pasti mendapatkan perhatian penuh dari sang ayah. Mana mungkin ada bagian dirinya untuk mendapatkan perhatian ayahnya? Terlebih

  • Dengan Satu Jentikan Jari, Kumiliki Semua   5. Kecelakaan Yang Direncanakan

    Taksi terus melaju melewati jalan-jalan yang tidak begitu ramai. Jiao Jiao masih menyandarkan wajahnya pada kaca jendela, matanya kosong menatap pemandangan luar yang lewat begitu saja. Air mata sudah berhenti mengalir, tapi rasa sakit di hatinya tetap saja ada—seperti duri yang terus menusuk dalam-dalam. Sopir taksi beberapa kali menoleh melihatnya melalui cermin spion; wajahnya tercermin rasa iba, tapi tidak berani mengganggu. Dia hanya fokus mengemudi, sengaja memilih jalan yang lebih sepi agar penumpangnya bisa merenung dengan lebih tenang. “Nona, mau saya antar ke rumah Anda saja? Mungkin ada orang yang menunggu atau mengkhawatirkan Anda,” ucap sopir akhirnya dengan suara lembut. Siapa yang akan mengkhawatirkan aku? Jiao Jiao tersenyum miris, lalu menggeleng perlahan. “Tidak usah, Tuan. Bawa saja saya keliling sebentar.” Saat itu pula, di mobil putih yang mengikuti dari belakang, Li Na sedang menatap layar ponselnya dengan wajah dingin. Di layarnya terlihat nomor kontak Feng

  • Dengan Satu Jentikan Jari, Kumiliki Semua   4. Kenapa Harus Dia?

    Cahaya matahari pagi menyinari wajah Jiao Jiao, memyilaukan matanya yang masih tertutup rapat. Dia mengerutkan kening saat merasakan sakit di kepalanya, seperti ada paku besar yang tertancap di dalamnya. Tubuhnya terasa lelah dan sedikit sakit, terutama di bagian pinggangnya. Jiao Jiao perlahan membuka mata, melihat langit-langit kamar yang tidak dikenal membuatnya langsung terkejut hingga segera duduk tegak. Dia pun menyadari dirinya sedang berada di atas ranjang besar yang ditutupi seprai putih bersih, sementara tubuhnya hanya tertutup oleh selimut tebal. Apa yang terjadi? Benaknya mulai bekerja keras untuk mengingat malam sebelumnya. Kenangan tentang Ruangan Meigui, ketiga pria bayaran, hingga kedatangan Fu Si Han mulai muncul satu per satu. Jiao Jiao merasa wajahnya mulai memanas dengan sangat cepat, matanya membelalak tak percaya. 'Tidak mungkin ... aku tidak benar-benar tidur dengan Fu Si Han, kan?' batinnya mencoba menyangkal. Dia melihat sekeliling kamar yang luas dan be

  • Dengan Satu Jentikan Jari, Kumiliki Semua   3. Aku Pilih Kamu Saja!

    Setelah keluar dari Nocturne Hollow, Jiao Jiao berjalan tanpa arah di jalanan Kota Angin yang masih ramai meskipun malam sudah larut. Udara dingin menyapu wajahnya yang masih basah akibat air mata yang tak kunjung berhenti mengalir. Dia berhenti di tepi sungai, menatap pantulan cahaya gedung-gedung tinggi. Benaknya berputar mengulang kata-kata Haoming dan taruhan dengan Shu Yi. Jari-jarinya mengusap pipinya perlahan, menyeka titik-titik air mata yang menetes lembut ke pelukan gaunnya. "Aku tidak seharusnya menganggap hubungan kami serius," bisiknya pelan. Entah sejak kapan, Jiao Jiao tidak tahu kapan cintanya mulai bersemi. Mungkinkah saat dia demam tinggi dan Haoming menjaganya selama tiga hari tiga malam tanpa tidur, atau ketika pria itu rela menerjang hujan badai demi memenuhi keinginannya makan pangsit di tengah malam, ataukah saat dia menangis merindukan ibunya, Haoming memeluknya erat dan berkata bahwa dia akan selalu ada untuknya. Jiao Jiao terkejut ketika mendengar suara d

  • Dengan Satu Jentikan Jari, Kumiliki Semua   2. Haoming, Aku Kembali

    Jiao Jiao terkejut, tubuhnya sedikit goyah hingga mundur selangkah tanpa sadar. Matanya membelalak, 'bagaimana Haoming tahu tentang taruhan itu? Apakah Shu Yi yang mengatakannya?' Tatapan Jiao Jiao masih lekat tertuju pada Haoming, ruangan pun semakin senyap seolah tidak ada penghuni sama sekali. 'Kapan dia mengetahuinya? Apakah sejak awal aku sudah menjadi lelucon baginya?' Teman-teman Haoming yang sebelumnya hanya diam, mulai saling bertukar pandangan. Beberapa di antaranya menunjukkan ekspresi tidak nyaman melihat betapa tenangnya Haoming menangani situasi ini, bahkan ada yang mulai merasa kasihan pada Jiao Jiao. Wanita itu berdiri dengan tubuh yang sedikit bergoyang, tapi tetap mencoba menjaga sikap sombong khasnya. Haoming mengeluarkan kartu hitam dari saku jasnya, lalu meletakkannya di atas meja kayu di depan mereka. Permukaan meja yang mengkilap mencerminkan cahaya lilin dari kue ulang tahun, menyilaukan kartu hitam pemberian Haoming seolah menegaskan betapa berharganya b

  • Dengan Satu Jentikan Jari, Kumiliki Semua   1. Hanya Teman Ranjang

    “Haoming, mana kekasihmu? Dia tidak mungkin tidak datang merayakan ulang tahunmu, kan?” Suara itu terdengar jelas melalui celah pintu kayu berkualitas tinggi yang menghiasi ruang Lantian di dalam Golden Club. Li Jiao terhenti tepat di depan pintu, tangannya yang menggenggam kotak kue berukuran sedang sedikit bergetar karena gugup yang tiba-tiba menyerang. “Mungkin sebentar lagi datang.” Jawaban yang keluar dari dalam terdengar dingin dan tak acuh, sama seperti sosok pria yang mengucapkannya. Udara di sekitarnya terasa semakin berat, membuat Jiao Jiao harus menahan napas untuk meredakan degup jantungnya. Dia telah belajar membuat kue rasa mangga kesukaan Feng Haoming, mengenakan gaun malam merah terang, dan menyembunyikan sebuah jam tangan sebagai hadiah. Semua itu dia persiapkan dari jaih hati, hanya demi menyenangkan Feng Haoming. “Kapan kamu akan menikahinya?” Pertanyaan kedua itu berhasil membuat jantung Jiao Jiao berdebar lebih kencang hingga dia seperti bisa mendengar deb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status