Share

Dengan Satu Jentikan Jari, Kumiliki Semua
Dengan Satu Jentikan Jari, Kumiliki Semua
Author: Itsme AnH

1. Hanya Teman Ranjang

Author: Itsme AnH
last update publish date: 2026-02-04 14:15:37

“Haoming, mana kekasihmu? Dia tidak mungkin tidak datang merayakan ulang tahunmu, kan?”

Suara itu terdengar jelas melalui celah pintu kayu berkualitas tinggi yang menghiasi ruang Lantian di dalam Golden Club. Li Jiao terhenti tepat di depan pintu, tangannya yang menggenggam kotak kue berukuran sedang sedikit bergetar karena gugup yang tiba-tiba menyerang.

“Mungkin sebentar lagi datang.” Jawaban yang keluar dari dalam terdengar dingin dan tak acuh, sama seperti sosok pria yang mengucapkannya. Udara di sekitarnya terasa semakin berat, membuat Jiao Jiao harus menahan napas untuk meredakan degup jantungnya.

Dia telah belajar membuat kue rasa mangga kesukaan Feng Haoming, mengenakan gaun malam merah terang, dan menyembunyikan sebuah jam tangan sebagai hadiah. Semua itu dia persiapkan dari jaih hati, hanya demi menyenangkan Feng Haoming.

“Kapan kamu akan menikahinya?”

Pertanyaan kedua itu berhasil membuat jantung Jiao Jiao berdebar lebih kencang hingga dia seperti bisa mendengar debarannya.

Jiao Jiao menahan diri untuk tidak masuk, menanti jawaban Haoming dengan penuh harapan.

Dia mengintip, melihat Haoming menghembuskan asap rokok sebelum menjawab, “Hanya teman ranjang, tidak untuk dinikahi.”

Enam kata saja.

Cukup dengan enam kata, Feng Haoming berhasil mematahkan hati Jiao Jiao yang mencintainya selama dua tahun penuh. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, tapi dia dengan cepat mengusapnya sebelum bisa jatuh ke pipinya.

Jiao Jiao seketika ingat momen-momen manis bersama Haoming, makan malam romantis, nonton bioskop, liburan bersama bahkan menghabiskan malam-malam yang tak terhitung jumlahnya.

Semua itu hanya sekadar permainan baginya?

“Haoming, kamu tidak mungkin masih menyimpan bayangan cinta pertamamu, kan?” Suara teman Haoming yang lain muncul dengan nada bercanda namun terdengar sangat serius. “Sudah dua tahun lebih, seharusnya kamu sudah bisa melupakannya, kan?”

Cinta pertama?

Jiao Jiao merasa kepalanya berdengung seperti ada ribuan lebah yang terbang di dalamnya. Selama dua tahun bersama, Haoming tidak pernah sekali pun menyebutkan bahwa dia pernah memiliki seseorang yang dicintai sebelum mereka bertemu. Bahkan ketika dia bertanya tentang masa lalunya, pria itu selalu mengubah pembicaraan ke topik lain dengan lembut.

Jiao Jiao selalu mengira itu karena Haoming adalah tipe pria yang tidak suka membicarakan masa lalu, tapi ternyata ada alasan yang jauh lebih dalam dibaliknya.

Haoming diam sejenak, dan Jiao Jiao bisa melihat bagaimana ekspresi wajahnya saat ini—matanya yang biasanya dingin tampak melunak sedikit. “Mungkin waktu itu aku tidak memberinya rasa aman, jadi dia ingin berpisah,” ujar Haoming dengan suara yang lebih pelan dari biasanya. “Dia bilang dia ingin keluar negeri untuk mengejar mimpi, dan memberikan aku waktu dua tahun untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Jika aku masih menyukainya ketika dia kembali, maka kita bisa bersama lagi.”

Kata-katanya seperti batu besar yang dilempar ke hati Jiao Jiao, menimbulkan riak besar yang menghancurkan semua ketenangannya.

Selama dua tahun, aku selalu mengira berhasil menaklukkannya dan menjadi satu-satunya di hatinya. Ternyata aku hanyalah pengganti untuk mengisi kekosongan menunggu cinta pertamanya?

Tubuh Jiao Jiao kaku seperti patung es, tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya hampir melukai kulitnya.

Semua sentuhan lembut, kata manis, dan janji yang kukira tulus ... semuanya adalah kebohongan yang indah?

“Haoming, kau sudah dua tahun bersama Jiao Jiao, jika tidak menikahinya, bukankah kau tidak bertanggungjawab?” Teman Haoming terdengar tidak puas dengan jawaban pria itu. “Jiao Jiao sudah menyerahkan segalanya untukmu. Aku melihat bagaimana dia selalu ada di sampingmu, merawatmu dan menghiburmu ketika kamu rapuh karena ditinggal cinta pertamamu. Bukankah itu cukup untuk membuatmu mencintainya?”

“Kalau bukan karena dia penurut dan tahu bagaimana cara membuatku nyaman, mana mungkin aku mau bersamanya selama dua tahun,” jawab Haoming tanpa ragu, membuat Jiao Jiao merasa seperti sedang ditusuk dengan pisau tajam berulang-ulang kali. “Jika dia mulai terobsesi dengan status atau meminta lebih, aku tidak keberatan untuk meninggalkannya. Lagipula ....” Suara pria itu sedikit meningkat dengan nada yang penuh harapan. “Sudah dua tahun, dia seharusnya akan kembali.”

“Benar juga, tapi kamu tidak bisa menyangkal kalau tubuh Jiao Jiao sangat seksi, kan?” Salah satu teman lain menyela dengan tawa rendah yang menyakitkan hati. “Pantas saja kamu bisa bertahan lama bersamanya. Aku sendiri pun kagum dengan bentuk tubuhnya yang sempurna.”

Haoming kembali menghembuskan asap tebal dari mulutnya. “Kenapa? Kamu menyukainya?” Dia menaikkan alis sebelah dan berkata dengan tak berperasaan. “Kalau kamu suka, aku akan memberikannya untukmu.”

Pada saat itu, Jiao Jiao merasa seluruh dunia di sekelilingnya runtuh. Air mata yang sudah lama dia tahan akhirnya menetes deras di pipinya, menyiram riasan wajahnya yang dia susun dengan sangat hati-hati. Dia menutup mulutnya dengan tangan agar tidak mengeluarkan suara tangisan, tapi tubuhnya tetap bergoyang sedikit karena kesedihan yang luar biasa.

Setelah dua tahun mengejar dan mencintai seorang pria dengan sepenuh hati, dia ternyata hanya dianggap sebagai benda yang bisa diberikan kepada siapapun yang menginginkannya?

Dengan semua kekuatan yang dimiliki, Jiao Jiao menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan korek api dari dompetnya. Dia menyalakan lilin yang ada di atas kue ulang tahun, kemudian membuka pintu ruangan Lantian dengan kecepatan yang cukup membuat semua orang di dalam terkejut. Cahaya lilin menerangi wajahnya yang masih basah karena air mata, namun dia tetap mengangkat dagunya dengan sikap sombong yang sudah menjadi ciri khasnya selama ini.

Ruangan yang tadinya ramai dengan obrolan dan tawa menjadi sunyi total. Semua mata tertuju padanya, termasuk mata Feng Haoming yang hanya menunjukkan ekspresi tenang tanpa sedikitpun rasa bersalah.

Jiao Jiao berjalan dengan langkah yang terasa berat, tapi tetap gagah menuju meja di mana Haoming duduk, lalu menempatkan kotak kue di atas meja dengan lembut.

“Haoming ....” Suaranya terdengar jelas dan sedikit bergetar di tengah keheningan yang menyelimuti ruangan. “Apa bagimu aku hanyalah mainan yang bisa diberikan kepada siapa saja?”

Haoming hanya mengerutkan kening, tampak kesal dengan pertanyaan Jiao Jiao. “Kamu mau berulah hari ini?”

“Berulah?” Jiao Jiao tertawa, tapi dua baris air mata mengalir di wajahnya. Meski menyedihkan, dia juga tampak penuh martabat dan tidak sedikit pun menunjukkan kerentanan di saat bersamaan.

Jiao Jiao melihat sekeliling ruangan, melihat wajah-wajah teman Haoming yang sekarang hanya menatapnya dengan ekspresi iba.

Namun, Jiao Jiao tidak peduli dengan apa yang mereka pikirkan. Dia hanya peduli pada harga dirinya yang harus diapertahankan!

Jiao Jiao mengambil segelas air mineral yang ada di atas meja dengan gerakan anggun, lalu dengan cepat menyiramkannya langsung ke wajah Feng Haoming. “Ini baru berulah! Dan ingat—tidak seorang pun berhak merendahkan aku—Li Jiao!”

Semua orang terkejut, beberapa di antaranya bahkan membuka mulut dan mata mereka lebar-lebar menyaksikan tindakan Jiao Jiao yang tidak tak terduga.

Air mengalir dari wajah Haoming yang tampak kaget sebentar, sebelum kemudian digantikan oleh kemarahan. Dia mengelap wajahnya dengan tangan gemetar karena menahan amarah, matanya memuntahkan kobaran api yang membuat beberapa orang mengecilkan tubuh.

“Jiao Jiao, kamu gila ya?!” Suara Haoming pelan saja, tapi siapa pun bisa merasakan kemarahannya yang berkobar. “Beraninya kamu melakukan ini?!”

“Ya, aku gila!” Jiao Jiao menjawab dengan suara yang samkerendah dan tenangnya. “Aku gila sampai rela mencintaimu selama tiga tahun lamanya! Aku gila karena berpikir bahwa kamu benar-benar mencintaiku! Aku gila sampai berharap suatu hari nanti kita akan menikah dan hidup bahagia bersama!”

Air mata sudah menutupi pandangannya, tapi dia tetap bisa melihat ekspresi wajah Haoming yang kini tetap dingin seperti es.

“Kenapa kamu marah?” tanya Haoming dengan nada remeh, seolah-olah sedang membicarakan hal-hal sepele. "Bukankah dari awal kamu juga hanya melihatku sebagai alat taruhan dengan Shu Yi?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dengan Satu Jentikan Jari, Kumiliki Semua   6. Tidak Tahu Malu

    Saat bangun, Jiao Jiao sudah berada di rumah sakit. Dinding ruangan yang berwarna putih bersih dan bau alkohol yang khas memenuhi setiap sudut ruang perawatan yang tidak besar itu. Tubuhnya terasa sangat lemah, dan bagian dahinya yang terluka masih begitu menyakitkan jika sedikit saja digerakkan.Perawat yang sedang menyesuaikan selang infus di tangan kiri Jiao Jiao langsung memberikan senyum ramah ketika melihat wanita itu mulai sadarkan diri. "Nona, Anda akhirnya bangun. Luka Anda cukup parah dan perlu rawat inap, jadi kami perlu menghubungi keluargamu untuk biaya perawatan."Jiao Jiao menatap kosong ke langit-langit, tidak memberikan sedikit pun respon. Kata "keluarga" seperti pisau tajam yang menusuk hatinya, membuatnya terluka semakin dalam.Keluarga ... siapa keluarganya?Ibunya sudah meninggal dunia. Ayahnya memiliki putri lain yang tengah sakit juga, pasti mendapatkan perhatian penuh dari sang ayah. Mana mungkin ada bagian dirinya untuk mendapatkan perhatian ayahnya? Terlebih

  • Dengan Satu Jentikan Jari, Kumiliki Semua   5. Kecelakaan Yang Direncanakan

    Taksi terus melaju melewati jalan-jalan yang tidak begitu ramai. Jiao Jiao masih menyandarkan wajahnya pada kaca jendela, matanya kosong menatap pemandangan luar yang lewat begitu saja. Air mata sudah berhenti mengalir, tapi rasa sakit di hatinya tetap saja ada—seperti duri yang terus menusuk dalam-dalam. Sopir taksi beberapa kali menoleh melihatnya melalui cermin spion; wajahnya tercermin rasa iba, tapi tidak berani mengganggu. Dia hanya fokus mengemudi, sengaja memilih jalan yang lebih sepi agar penumpangnya bisa merenung dengan lebih tenang. “Nona, mau saya antar ke rumah Anda saja? Mungkin ada orang yang menunggu atau mengkhawatirkan Anda,” ucap sopir akhirnya dengan suara lembut. Siapa yang akan mengkhawatirkan aku? Jiao Jiao tersenyum miris, lalu menggeleng perlahan. “Tidak usah, Tuan. Bawa saja saya keliling sebentar.” Saat itu pula, di mobil putih yang mengikuti dari belakang, Li Na sedang menatap layar ponselnya dengan wajah dingin. Di layarnya terlihat nomor kontak Feng

  • Dengan Satu Jentikan Jari, Kumiliki Semua   4. Kenapa Harus Dia?

    Cahaya matahari pagi menyinari wajah Jiao Jiao, memyilaukan matanya yang masih tertutup rapat. Dia mengerutkan kening saat merasakan sakit di kepalanya, seperti ada paku besar yang tertancap di dalamnya. Tubuhnya terasa lelah dan sedikit sakit, terutama di bagian pinggangnya. Jiao Jiao perlahan membuka mata, melihat langit-langit kamar yang tidak dikenal membuatnya langsung terkejut hingga segera duduk tegak. Dia pun menyadari dirinya sedang berada di atas ranjang besar yang ditutupi seprai putih bersih, sementara tubuhnya hanya tertutup oleh selimut tebal. Apa yang terjadi? Benaknya mulai bekerja keras untuk mengingat malam sebelumnya. Kenangan tentang Ruangan Meigui, ketiga pria bayaran, hingga kedatangan Fu Si Han mulai muncul satu per satu. Jiao Jiao merasa wajahnya mulai memanas dengan sangat cepat, matanya membelalak tak percaya. 'Tidak mungkin ... aku tidak benar-benar tidur dengan Fu Si Han, kan?' batinnya mencoba menyangkal. Dia melihat sekeliling kamar yang luas dan be

  • Dengan Satu Jentikan Jari, Kumiliki Semua   3. Aku Pilih Kamu Saja!

    Setelah keluar dari Nocturne Hollow, Jiao Jiao berjalan tanpa arah di jalanan Kota Angin yang masih ramai meskipun malam sudah larut. Udara dingin menyapu wajahnya yang masih basah akibat air mata yang tak kunjung berhenti mengalir. Dia berhenti di tepi sungai, menatap pantulan cahaya gedung-gedung tinggi. Benaknya berputar mengulang kata-kata Haoming dan taruhan dengan Shu Yi. Jari-jarinya mengusap pipinya perlahan, menyeka titik-titik air mata yang menetes lembut ke pelukan gaunnya. "Aku tidak seharusnya menganggap hubungan kami serius," bisiknya pelan. Entah sejak kapan, Jiao Jiao tidak tahu kapan cintanya mulai bersemi. Mungkinkah saat dia demam tinggi dan Haoming menjaganya selama tiga hari tiga malam tanpa tidur, atau ketika pria itu rela menerjang hujan badai demi memenuhi keinginannya makan pangsit di tengah malam, ataukah saat dia menangis merindukan ibunya, Haoming memeluknya erat dan berkata bahwa dia akan selalu ada untuknya. Jiao Jiao terkejut ketika mendengar suara d

  • Dengan Satu Jentikan Jari, Kumiliki Semua   2. Haoming, Aku Kembali

    Jiao Jiao terkejut, tubuhnya sedikit goyah hingga mundur selangkah tanpa sadar. Matanya membelalak, 'bagaimana Haoming tahu tentang taruhan itu? Apakah Shu Yi yang mengatakannya?' Tatapan Jiao Jiao masih lekat tertuju pada Haoming, ruangan pun semakin senyap seolah tidak ada penghuni sama sekali. 'Kapan dia mengetahuinya? Apakah sejak awal aku sudah menjadi lelucon baginya?' Teman-teman Haoming yang sebelumnya hanya diam, mulai saling bertukar pandangan. Beberapa di antaranya menunjukkan ekspresi tidak nyaman melihat betapa tenangnya Haoming menangani situasi ini, bahkan ada yang mulai merasa kasihan pada Jiao Jiao. Wanita itu berdiri dengan tubuh yang sedikit bergoyang, tapi tetap mencoba menjaga sikap sombong khasnya. Haoming mengeluarkan kartu hitam dari saku jasnya, lalu meletakkannya di atas meja kayu di depan mereka. Permukaan meja yang mengkilap mencerminkan cahaya lilin dari kue ulang tahun, menyilaukan kartu hitam pemberian Haoming seolah menegaskan betapa berharganya b

  • Dengan Satu Jentikan Jari, Kumiliki Semua   1. Hanya Teman Ranjang

    “Haoming, mana kekasihmu? Dia tidak mungkin tidak datang merayakan ulang tahunmu, kan?” Suara itu terdengar jelas melalui celah pintu kayu berkualitas tinggi yang menghiasi ruang Lantian di dalam Golden Club. Li Jiao terhenti tepat di depan pintu, tangannya yang menggenggam kotak kue berukuran sedang sedikit bergetar karena gugup yang tiba-tiba menyerang. “Mungkin sebentar lagi datang.” Jawaban yang keluar dari dalam terdengar dingin dan tak acuh, sama seperti sosok pria yang mengucapkannya. Udara di sekitarnya terasa semakin berat, membuat Jiao Jiao harus menahan napas untuk meredakan degup jantungnya. Dia telah belajar membuat kue rasa mangga kesukaan Feng Haoming, mengenakan gaun malam merah terang, dan menyembunyikan sebuah jam tangan sebagai hadiah. Semua itu dia persiapkan dari jaih hati, hanya demi menyenangkan Feng Haoming. “Kapan kamu akan menikahinya?” Pertanyaan kedua itu berhasil membuat jantung Jiao Jiao berdebar lebih kencang hingga dia seperti bisa mendengar deb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status