LOGINSetelah keluar dari Nocturne Hollow, Jiao Jiao berjalan tanpa arah di jalanan Kota Angin yang masih ramai meskipun malam sudah larut. Udara dingin menyapu wajahnya yang masih basah akibat air mata yang tak kunjung berhenti mengalir.
Dia berhenti di tepi sungai, menatap pantulan cahaya gedung-gedung tinggi. Benaknya berputar mengulang kata-kata Haoming dan taruhan dengan Shu Yi. Jari-jarinya mengusap pipinya perlahan, menyeka titik-titik air mata yang menetes lembut ke pelukan gaunnya. "Aku tidak seharusnya menganggap hubungan kami serius," bisiknya pelan. Entah sejak kapan, Jiao Jiao tidak tahu kapan cintanya mulai bersemi. Mungkinkah saat dia demam tinggi dan Haoming menjaganya selama tiga hari tiga malam tanpa tidur, atau ketika pria itu rela menerjang hujan badai demi memenuhi keinginannya makan pangsit di tengah malam, ataukah saat dia menangis merindukan ibunya, Haoming memeluknya erat dan berkata bahwa dia akan selalu ada untuknya. Jiao Jiao terkejut ketika mendengar suara deru mobil yang mendekat, dia menoleh hanya untuk mendapati sang sahabat keluar dari mobil dengan ekspresi cemas. "Jiao Jiao, apa kamu baik-baik saja? Aku sudah mencarimu kemana-mana!" ujar Shu Yi dengan suara khawatir. Jiao Jiao mengalihkan pandangannya ke air sungai yang tenang, tidak mau melihat wajah Shu Yi. "Kamu datang untuk mengambil mobil sportku, ya? Kalau begitu, ambil saja. Aku kalah." Shu Yi menggelengkan kepalanya, duduk di samping Jiao Jiao dan merangkul sang sahabat. "Tidak, Sayangku. Aku tidak peduli dengan mobil itu. Aku baru saja tahu apa yang terjadi dari salah satu teman kakakku dan tidak menyangka dia akan berkata seperti itu padamu. Dulu, aku memberimu tantangan itu karena melihatnya terpuruk setelah ditinggal mantannya. Sekarang, aku sungguh menyesal." Shuyi sungguh menyesal, berpikir telah menjerumuskan sahabatnya sendiri. "Tidak ada yang perlu disesali," kata Jiao Jiao dengan suara yang sedikit bergetar. "Semua adalah pilihanku sendiri. Aku yang memilih untuk menerima tantanganmu, aku yang memilih untuk terus bersama dia bahkan setelah waktu taruhan habis, dan aku yang bodoh karena mencintainya tanpa sadar." Sejak awal dia seharusnya tahu bahwa hubungannya dengan Haoming hanyalah permainan. Kenapa harus menganggapnya serius? "Jiao Jiao, sebenarnya kakakku sudah tahu tentang taruhan itu. Saat kamu mulai mendekatinya, dia menginterogasi aku," kata Shu Yi menggigit bibirnya sedikit, sebelum lanjut berbicara dengan rasa bersalah. "Aku terpaksa membeberkan kesepakatan kita, karena aku takut padanya." "Ternyata benar, sejak awal aku hanyalah boneka yang dipermainkannya?" Jiao Jiao tersenyum kecut, merasa malu dan hina pada saat yang sama. "Tapi ada satu hal lagi yang tidak kamu ketahui," kata Shuyi lagi, merasa harus memberitahu apa yang dia ketahui tentang sang kakak. "Ketika waktu taruhan sudah habis dan kalian masih bersama, aku pernah bertanya kenapa tidak mengakhiri hubungan kalian. Kakakku bilang ... tidak keberatan melanjutkan hubungan itu lebih lama lagi." Melihat Jiao Jiao hanya diam dan tidak merespon, Shuyi kembali berkata, "Sepertinya dia mulai merasa nyaman dengan keberadaanmu." Jiao Jiao menutup mata dengan kuat dan menarik nafas dalam-dalam, mencoba menekan rasa sakit yang kembali muncul. "Itu hanya karena dia sedang menunggu cinta pertamanya kembali, bukan? Semua kata dan sikapnya penuh kebohongan." "Entah bagaimana, tapi aku merasa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya selama kalian bersama," ujar Shu Yi sambil menatap jauh ke depan, lalu menggeleng dan mengambil tangan Jiao Jiao dengan lembut. "Cukup sudah merenung dan bersedih! Ayo, kita pergi bersenang-senang. Biarkan aku memesan model pria untuk menghiburmu malam ini. Lupakan saja kakakku yang tidak tahu diri itu!" *** Suara musik yang menggema dan suara tawa penuh semangat memenuhi setiap sudut klub malam Nocturne Hollow. Di Ruangan Meigui, Jiao Jiao bersandar pada bahu salah satu pria dengan wajah yang sedikit memerah akibat alkohol. Matanya yang biasanya tajam kini terlihat kabur dan lesu, gerakannya menjadi lebih bebas dan tanpa sungkan. “Minum lagi!” serunya dengan nada yang penuh semangat, meletakkan gelasnya di atas meja marmer yang ada di tengah ruangan. Seorang pria dengan rambut cokelat muda segera mengambil botol anggur mahal di atas meja, menuangkan cairan ke dalam gelasnya dengan hati-hati. Pria lain yang duduk di sisi kanannya mengangkat kaki Jiao Jiao dengan lembut, mulai memijit bagian bawah kakinya dengan gerakan yang terampil. “Kakak sudah bekerja keras, kan? Biarkan adik memijit kaki kakak agar lebih rileks.” Jiao Jiao mengangguk dengan senyum puas, memejamkan mata sebentar. Sensasi memijat yang lembut membuatnya sedikit melupakan rasa sakit dalam hatinya. “Kalian memang yang terbaik,” puji Jiao Jiao dengan suara yang sedikit melengking. Dia menatap ke arah tirai yang tertutup rapat, seolah-olah bisa melihat langsung pada orang yang membuat hatinya hancur. “Feng Haoming! Kamu tidak mau menikahiku, aku juga tidak sudi! Aku bisa mendapatkan siapa saja yang aku inginkan!” “Betul sekali, Kakak. Buat apa lagi memikirkan pria brengsek itu? Nanti ada adik-adik yang siap menemani kakak dan membuat kakak bahagia.” “Hahaha!” Jiao Jiao tertawa terbahak-bahak, suara tertawa itu terdengar sedikit menyakitkan di tengah musik yang sedang berjalan. Dia menoleh ke arah ketiga pria yang ada di sekelilingnya, mata yang masih kabur itu menatap mereka satu per satu. “Adik-adik yang baik, malam ini kalian ikut kakak pulang saja, ya? Biar kakak manjain kalian semua dengan baik.” Ketiga pria saling bertukar pandangan dengan wajah senang, lalu masing-masing mulai bersaing meraih perhatiannya. "Kakak, aku mau ikut pulang! Tenagaku kuat pasti bisa membuat kakak bahagia!" "Tidak, pilih aku saja, aku bisa memasak makanan lezat untuk kakak!" "Lebih baik pilih aku! Aku bisa membuat kakak benar-benar bahagia!" "Pilih aku! Pilih aku! Pilih aku!" Mereka saling menarik tangan Jiao Jiao dengan lembut, masing-masing berusaha mendapatkan perhatiannya. Jiao Jiao hanya menggelengkan kepala sambil tertawa lagi. “Jika bisa semua, kenapa harus memilih satu? Aku mau kalian semua! Hahaha!” Tiba-tiba, suara benturan keras terdengar ketika pintu dibuka dengan kasar dari luar, membuat semua orang di dalam terkejut dan menoleh ke arahnya. Jiao Jiao mencium aroma yang tidak asing—kayu vetiver segar, bergamot elegan, dan sedikit minyak biji anggur—rasanya seperti mencium aroma duit yang berterbangan. "Aroma ini sepertinya pernah aku hirup dulu ...," bisiknya pelan sambil menghidu lebih dalam aroma yang memenuhi udara, matanya mulai bergerak mengikuti sumber aroma. Seorang pria tampan setinggi sekitar 185 cm masuk dengan wajah yang sangat serius dan tatapan tajam, ada ciri khas di tatapannya yang membuat Jiao Jiao sedikit terhipnotis, seolah pernah melihat pandangan serupa—dulu. Jiao Jiao mengerutkan kening, mata yang masih kabur itu menatap pria yang baru masuk dengan cermat. "Tidak usah rebutan lagi!" Jiao Jiao tersenyum lebar dan menunjuk dengan antusias. "Aku pilih kamu saja!” Dia berbicara dengan nada penuh semangat, tapi sedikit goyah, bahkan berdiri dengan tidak stabil ketika ingin menghampiri Fu Si Han. Tangan dan bibirnya bergerak lebih bebas, penuh dengan tantangan. Jemari indahnya menyentuh dada pria yang masih tertutup kemeja putih, gerakannya terlihat nakal dan tidak sungkan sama sekali. “Kamu lebih tampan dari mereka semua! Sudah lama aku ingin bertemu dengan seseorang yang tampan seperti kamu.” Pria itu dengan cepat meraih tangan Jiao Jiao sebelum dia bisa melakukan sesuatu yang lebih jauh pada tubuhnya. “Jiao Jiao, lihat baik-baik siapa yang kamu pilih!” Jiao Jiao mendekat, merangkul leher pria itu dengan kedua tangan, lalu menatap wajahnya dengan mata yang sengaja dibuka lebar. Saat menyadari siapa pria yang ada di depannya, dia hanya tertawa renyah. “Wah! Kamu mirip sekali dengan Tuan Muda Fu yang terkenal playboy itu, Fu ... Si ... Han. Bukankah dia musuh bebuyutan Feng Haoming? Hahaha!” Fu Si Han menghela napas dalam-dalam, kemudian menangkap belakang leher Jiao Jiao dengan kuat, mengikis jarak yang ada di antara mereka. Napas hangatnya menyentuh wajah Jiao Jiao yang masih sedikit hangat akibat alkohol. “Aku bukan mirip. Aku benar-benar Fu Si Han.” Mendengar pengakuan itu, ketiga pria bayaran yang ada di ruangan segera berdiri dengan wajah yang tampak sangat gugup. Mereka saling melihat satu sama lain, tidak berani bergerak sedikit pun. “Tu—Tuan Fu ...,” ucap salah satu dari mereka dengan suara gemetar. “Enyahlah dari sini!” seru Fu Si Han tanpa menoleh ke arah mereka, suara itu penuh dengan kekuasaan yang membuat semua orang tidak berani menentangnya. “Ehh ... tunggu dulu!” Jiao Jiao ingin menghentikan mereka, tetapi wajahnya dipegang dengan lembut oleh Fu Si Han, membuatnya tidak bisa bergerak. “Mereka adalah adik-adikku!” Tanpa berkata apa-apa lagi, ketiga pria itu segera berlari keluar dari ruangan, menyisakan Jiao Jiao dan Fu Si Han di dalam Ruangan Meigui yang kini terasa sangat sunyi. Jiao Jiao mengerutkan kening dengan kesal, kemudian mendorong tubuh Fu Si Han ke sofa, sebelum akhirnya duduk dengan percaya diri di atas pangkuan pria itu. “Karena kamu sudah mengusir mereka, maka kamu yang harus menemani aku malam ini!” serunya dengan nada yang penuh dengan tantangan, tangan kanannya mulai menjelajahi dada Fu Si Han yang tertutup kemeja. Fu Si Han menangkap tangan Jiao Jiao yang sedang nakal, matanya yang dalam menatap wanita itu dengan seksama. “Jiao Jiao, jangan sampai kamu menyesal nanti!” peringatnya dengan suara yang sudah mulai terengah-engah. “Menyesal kenapa?” Jiao Jiao menanggapi dengan penuh keberanian, bibirnya menyentuh dagu Fu Si Han dengan lembut. “Anggap saja aku tidur denganmu untuk membalas musuh bebuyutanmu, Feng Haoming! Biar dia tahu bahwa aku tidak bisa direndahkan seperti itu!” Tanpa kata, bibir Fu Si Han sudah menutupi bibir Jiak Jiao dengan penuh gairah. Tangan pria itu mulai menjelajahi tubuhnya yang tertutup gaun tipis, membuat sensasi panas yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya mengalir ke seluruh tubuhnya ....Saat bangun, Jiao Jiao sudah berada di rumah sakit. Dinding ruangan yang berwarna putih bersih dan bau alkohol yang khas memenuhi setiap sudut ruang perawatan yang tidak besar itu. Tubuhnya terasa sangat lemah, dan bagian dahinya yang terluka masih begitu menyakitkan jika sedikit saja digerakkan.Perawat yang sedang menyesuaikan selang infus di tangan kiri Jiao Jiao langsung memberikan senyum ramah ketika melihat wanita itu mulai sadarkan diri. "Nona, Anda akhirnya bangun. Luka Anda cukup parah dan perlu rawat inap, jadi kami perlu menghubungi keluargamu untuk biaya perawatan."Jiao Jiao menatap kosong ke langit-langit, tidak memberikan sedikit pun respon. Kata "keluarga" seperti pisau tajam yang menusuk hatinya, membuatnya terluka semakin dalam.Keluarga ... siapa keluarganya?Ibunya sudah meninggal dunia. Ayahnya memiliki putri lain yang tengah sakit juga, pasti mendapatkan perhatian penuh dari sang ayah. Mana mungkin ada bagian dirinya untuk mendapatkan perhatian ayahnya? Terlebih
Taksi terus melaju melewati jalan-jalan yang tidak begitu ramai. Jiao Jiao masih menyandarkan wajahnya pada kaca jendela, matanya kosong menatap pemandangan luar yang lewat begitu saja. Air mata sudah berhenti mengalir, tapi rasa sakit di hatinya tetap saja ada—seperti duri yang terus menusuk dalam-dalam. Sopir taksi beberapa kali menoleh melihatnya melalui cermin spion; wajahnya tercermin rasa iba, tapi tidak berani mengganggu. Dia hanya fokus mengemudi, sengaja memilih jalan yang lebih sepi agar penumpangnya bisa merenung dengan lebih tenang. “Nona, mau saya antar ke rumah Anda saja? Mungkin ada orang yang menunggu atau mengkhawatirkan Anda,” ucap sopir akhirnya dengan suara lembut. Siapa yang akan mengkhawatirkan aku? Jiao Jiao tersenyum miris, lalu menggeleng perlahan. “Tidak usah, Tuan. Bawa saja saya keliling sebentar.” Saat itu pula, di mobil putih yang mengikuti dari belakang, Li Na sedang menatap layar ponselnya dengan wajah dingin. Di layarnya terlihat nomor kontak Feng
Cahaya matahari pagi menyinari wajah Jiao Jiao, memyilaukan matanya yang masih tertutup rapat. Dia mengerutkan kening saat merasakan sakit di kepalanya, seperti ada paku besar yang tertancap di dalamnya. Tubuhnya terasa lelah dan sedikit sakit, terutama di bagian pinggangnya. Jiao Jiao perlahan membuka mata, melihat langit-langit kamar yang tidak dikenal membuatnya langsung terkejut hingga segera duduk tegak. Dia pun menyadari dirinya sedang berada di atas ranjang besar yang ditutupi seprai putih bersih, sementara tubuhnya hanya tertutup oleh selimut tebal. Apa yang terjadi? Benaknya mulai bekerja keras untuk mengingat malam sebelumnya. Kenangan tentang Ruangan Meigui, ketiga pria bayaran, hingga kedatangan Fu Si Han mulai muncul satu per satu. Jiao Jiao merasa wajahnya mulai memanas dengan sangat cepat, matanya membelalak tak percaya. 'Tidak mungkin ... aku tidak benar-benar tidur dengan Fu Si Han, kan?' batinnya mencoba menyangkal. Dia melihat sekeliling kamar yang luas dan be
Setelah keluar dari Nocturne Hollow, Jiao Jiao berjalan tanpa arah di jalanan Kota Angin yang masih ramai meskipun malam sudah larut. Udara dingin menyapu wajahnya yang masih basah akibat air mata yang tak kunjung berhenti mengalir. Dia berhenti di tepi sungai, menatap pantulan cahaya gedung-gedung tinggi. Benaknya berputar mengulang kata-kata Haoming dan taruhan dengan Shu Yi. Jari-jarinya mengusap pipinya perlahan, menyeka titik-titik air mata yang menetes lembut ke pelukan gaunnya. "Aku tidak seharusnya menganggap hubungan kami serius," bisiknya pelan. Entah sejak kapan, Jiao Jiao tidak tahu kapan cintanya mulai bersemi. Mungkinkah saat dia demam tinggi dan Haoming menjaganya selama tiga hari tiga malam tanpa tidur, atau ketika pria itu rela menerjang hujan badai demi memenuhi keinginannya makan pangsit di tengah malam, ataukah saat dia menangis merindukan ibunya, Haoming memeluknya erat dan berkata bahwa dia akan selalu ada untuknya. Jiao Jiao terkejut ketika mendengar suara d
Jiao Jiao terkejut, tubuhnya sedikit goyah hingga mundur selangkah tanpa sadar. Matanya membelalak, 'bagaimana Haoming tahu tentang taruhan itu? Apakah Shu Yi yang mengatakannya?' Tatapan Jiao Jiao masih lekat tertuju pada Haoming, ruangan pun semakin senyap seolah tidak ada penghuni sama sekali. 'Kapan dia mengetahuinya? Apakah sejak awal aku sudah menjadi lelucon baginya?' Teman-teman Haoming yang sebelumnya hanya diam, mulai saling bertukar pandangan. Beberapa di antaranya menunjukkan ekspresi tidak nyaman melihat betapa tenangnya Haoming menangani situasi ini, bahkan ada yang mulai merasa kasihan pada Jiao Jiao. Wanita itu berdiri dengan tubuh yang sedikit bergoyang, tapi tetap mencoba menjaga sikap sombong khasnya. Haoming mengeluarkan kartu hitam dari saku jasnya, lalu meletakkannya di atas meja kayu di depan mereka. Permukaan meja yang mengkilap mencerminkan cahaya lilin dari kue ulang tahun, menyilaukan kartu hitam pemberian Haoming seolah menegaskan betapa berharganya b
“Haoming, mana kekasihmu? Dia tidak mungkin tidak datang merayakan ulang tahunmu, kan?” Suara itu terdengar jelas melalui celah pintu kayu berkualitas tinggi yang menghiasi ruang Lantian di dalam Golden Club. Li Jiao terhenti tepat di depan pintu, tangannya yang menggenggam kotak kue berukuran sedang sedikit bergetar karena gugup yang tiba-tiba menyerang. “Mungkin sebentar lagi datang.” Jawaban yang keluar dari dalam terdengar dingin dan tak acuh, sama seperti sosok pria yang mengucapkannya. Udara di sekitarnya terasa semakin berat, membuat Jiao Jiao harus menahan napas untuk meredakan degup jantungnya. Dia telah belajar membuat kue rasa mangga kesukaan Feng Haoming, mengenakan gaun malam merah terang, dan menyembunyikan sebuah jam tangan sebagai hadiah. Semua itu dia persiapkan dari jaih hati, hanya demi menyenangkan Feng Haoming. “Kapan kamu akan menikahinya?” Pertanyaan kedua itu berhasil membuat jantung Jiao Jiao berdebar lebih kencang hingga dia seperti bisa mendengar deb







