INICIAR SESIÓN"Cuma dilihat doang? Nggak mau bikin perayaan kecil gitu di Semarang, atau minimal traktir Kakak makan kepiting saus Padang waktu Kakak cuti nanti?" desak Kak Dinah di ujung telepon, nada suaranya penuh tuntutan manja yang sudah sangat kuhafal di luar kepala.
Aku terkekeh pelan sambil menarik kursi kayu di dekat jendela ruang tamu, membiarkan cahaya matahari sore menyinari sampul novel terbaruku yang berkilat lembut. "Iya, nanti kalau Kakak cuti ke Semarang, aku traktir k
"Kana?"Langkah kakiku terhenti seketika di trotoar Malioboro yang dipadati lampu-lampu kuning temaram. Suara itu begitu akrab, namun rasanya mustahil terdengar di jantung kota Yogyakarta. Aku membalikkan badan dengan cepat, mengerjap pelan untuk memastikan bahwa bayangan di depanku bukanlah halusinasi akibat kelelahan pasca-acara bedah buku.Seorang pria jangkung dengan jaket denim belel berdiri beberapa langkah dariku. Rambutnya sedikit lebih pendek dibanding terakhir kali aku melihatnya, tetapi senyum simpul di bibirnya tidak pernah berubah."Julian?" kataku tertahan, nyaris berbisik. Tenggorokanku mendadak terasa kering. "Kamu... sedang apa di sini?"Julian melangkah mendekat, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Matanya menatapku lekat-lekat, memindai setiap inci perubahan pada penampilanku. "Pertanyaan yang sama harusnya aku tujukan buat kamu, Kana. Penulis best-seller Indonesia yan
"Kana, antusiasme penonton di luar sana luar biasa banget. Kursi auditorium yang kapasitasnya ratusan itu sudah terisi penuh sejak setengah jam yang lalu, bahkan banyak yang berdiri di bagian belakang!" bisik Mbak Rini, editor dari penerbit, dengan napas sedikit terengah-engah saat ia mendorong pintu ruang tunggu panitia di lantai dua gedung pusat kebudayaan Yogyakarta itu.Aku mendongak dari meja rias kecil, merapikan letak syal rajut tipis yang melingkar di leherku, lalu tersenyum tipis untuk meredakan ketegangan di dadaku. "Serius, Mbak? Aku pikir karena hari kerja, peminatnya bakal agak sepi seperti diskusi-diskusi buku pada umumnya.""Mana ada sepi? Novel kamu itu sedang jadi bahan perbincangan hangat di media sosial, terutama karena pembaca merasa relate banget sama cara kamu menggambarkan proses penyembuhan luka batin dan fisik," balas Mbak Rini sambil menepuk pundakku pelan, memberikan suntikan keberanian yang sangat kubutuhkan saat
"Kana, kalau kepalamu mulai pusing selama acara di Jogja nanti, jangan sok kuat ya. Langsung cari kursi, minum air putih, dan abaikan saja kalau ada pembaca yang masih mau minta tanda tangan," pesan Kak Dinah lewat sambungan telepon, nadanya terdengar seperti seorang ibu yang melepas anaknya tamasya sendirian untuk pertama kalinya.Aku terkekeh kecil sambil menarik kopor kecil berwarna hitam dari atas tempat tidur, memastikannya tertutup rapat sebelum menyeretnya perlahan menuju pintu kamar. "Iya, Kak Dinah sayang. Aku bukan anak kecil lagi. Ini perjalanan bisnis pertamaku setelah operasi, bukan mau mendaki gunung Semeru.""Justru karena ini perjalanan pertamaku setelah kamu operasi kepala, aku jadi waswas!" balas Kak Dinah tidak mau kalah. "Ingat pesanku, obat merah, vitamin, sama surat kontrol dari Dokter Acha jangan sampai lupa taruh di tas kabin. Awas kalau ketinggalan!""Sudah beres semua di dalam tas selempang. Ten
"Cuma dilihat doang? Nggak mau bikin perayaan kecil gitu di Semarang, atau minimal traktir Kakak makan kepiting saus Padang waktu Kakak cuti nanti?" desak Kak Dinah di ujung telepon, nada suaranya penuh tuntutan manja yang sudah sangat kuhafal di luar kepala.Aku terkekeh pelan sambil menarik kursi kayu di dekat jendela ruang tamu, membiarkan cahaya matahari sore menyinari sampul novel terbaruku yang berkilat lembut. "Iya, nanti kalau Kakak cuti ke Semarang, aku traktir kepiting paling mahal sekota. Puas?""Nah, gitu dong! Jangan kerja mulu kayak kuda delman. Oh ya, omong-omong soal promosi buku, pihak penerbit tadi sempat nge-chat aku nanyain jadwal kamu. Katanya mereka mau ngajuin kamu buat roadshow tipis-tipis. Mau ambil nggak?" suara Kak Dinah berubah serius, menyiratkan rasa penasaran yang dibalut kekhawatiran seorang kakak.Aku terdiam sejenak, jemariku mengetuk-ngetuk permukaan meja kaca. Pikiranku langsung melaya
"Tuh kan, apa kubilang! Novel kamu masuk jajaran bestseller gramedia dalam waktu kurang dari seminggu, Kana!" teriak Kak Dinah dari ujung sambungan telepon, suaranya nyaris memekakkan telinga ponselku saking antusiasnya.Aku mengerjapkan mata, menatap tumpukan kardus berisi eksemplar cetakan pertama novel terbaruku yang baru saja diantar oleh kurir ekspedisi ke ruang tamu rumahku di Semarang. Jemariku meraba sampul buku bertekstur matte dengan ilustrasi siluet seorang perempuan menatap jendela kereta. Judulnya terpampang elegan dalam balutan huruf emas: Titik Temu yang Tertunda."Iya, Kak. Aku sudah lihat laporan dari pihak penerbit tadi pagi lewat email," jawabku tenang, berusaha meredam debar jantung yang mendadak bergemuruh bukan karena cemas, melainkan karena rasa lega yang teramat sangat. Perjuangan berbulan-bulan di atas meja operasi dan malam-malam panjang menatap layar kosong akhirnya terbayar lunas."Cuma diliha
"Kana, saya serius." Suara Dokter Acha memotong cepat, nadanya mengeras di ruang periksa yang berbau antiseptik. "Operasi otak bukanlah prosedur cabut gigi. Jaringan di kepala Anda baru saja pulih dari trauma besar. Kalau Anda terus memaksa memori yang hilang itu kembali dengan cara merusak pola istirahat, yang hancur bukan cuma naskah novelmu, tapi kewarasanmu sendiri."Aku menunduk, menatap jemariku sendiri yang saling meremas di atas pangkuan. "Aku tidak sedang merusak diri sendiri, Dok. Aku hanya... mencoba mencari bagian dari diriku yang tertinggal.""Bagian yang tertinggal atau sengaja ditinggalkan?" Dokter Acha menatapku tajam, melemparkan pertanyaan telak yang langsung menghantam ulu hatiku. Ia melipat berkas rekam medis di depannya dengan suara deheman keras. "Dengar, Kana. Otak manusia punya mekanisme pertahanan diri yang luar biasa. Kalau ada memori atau nama yang terasa kabur, itu artinya tubuhmu sendiri yang menolak untuk mengin
Vancouver adalah kota yang bisa memberikanku dua pemandangan sekaligus, laut dan pegunungan. Aku sangat suka laut, mungkin karena aku tinggal di daerah pesisir, laut selalu membuatku rindu. Saat menyapa laut, aku bisa berubah menjadi anak kecil yang kegirangan mengejar dan berlari bersama ombak y
Aku melirik penunjuk waktu pada ponsel, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Bang Nanda minta ditemani minum kopi sekitar jam setengah sepuluh malam, setelah dia selesai kerja. Aku segera mengirim pesan padanya kalau aku sudah tiba di kafe tempat kami janjian.Beberapa menit kemudia
Aku bertemu dengan Dokter Acha untuk melakukan pemeriksaan ulang di Semarang. Sesuai saran Dokter Tanto, aku bisa memercayakan proses pengobatanku pada dokter cantik di depanku ini.“Diameternya masih tidak terlalu besar, tapi dari letaknya bisa saja mengganggu fungsi kelenjar pineal
Tidak ke Yogyakarta namanya kalau tidak menelusuri jalanan Malioboro. Bang Ridwan membawa kami ke jantung Kota Yogyakarta itu untuk menikmati makan malam di warung lesehan, mencicipi gudeg yang kata Kak Puspa bikin kangen. Makin malam, jalan makin ramai, karena jalan makin penuh dengan pengunjung







