Home / Urban / Dewantara: Kebangkitan Sang Predator / BAB 1 — Pelajaran Menghancurkan Dunia

Share

Dewantara: Kebangkitan Sang Predator
Dewantara: Kebangkitan Sang Predator
Author: Jey

BAB 1 — Pelajaran Menghancurkan Dunia

Author: Jey
last update Huling Na-update: 2026-02-18 20:00:33

Rumah ini masih berbau sama: parfum ruangan mahal yang gagal menutupi aroma busuk pengkhianatan. Aku menarik napas cukup dalam, membiarkan bau itu meracuni paru-paruku, mengingatkanku mengapa aku kembali. Sepuluh tahun memang waktu yang cukup untuk membangun topeng sebagai lulusan terbaik London, namun tak pernah cukup untuk memadamkan api yang membakar ulu hatiku setiap kali kaki ini memijak lantai marmer keluarga Baron.

"Nona Aura akan segera turun, Tuan Adrian. Anda ingin minum sesuatu?" Suara pelayan itu gemetar. Aku bisa merasakan hawa dingin yang kupancarkan menembus seragam tipisnya, membuat nyalinya menciut.

"Tidak perlu," sahutku tanpa menoleh. Suaraku datar, sedingin es yang membeku di kutub. Aku menyesuaikan letak kacamata berbingkai perak di hidungku. Di balik lensa ini, aku sedang memetakan setiap sudut ruangan, mencari titik terlemah dari benteng kesombongan yang dibangun pria yang menghancurkan keluargaku.

Tap. Tap. Tap.

Suara langkah kaki dari tangga melingkar itu membuatku mendongak. Detik itu juga, aku merasakan hantaman di dada yang kusangka sudah mati rasa. Aura Clarissa muncul. Dia tidak memakai gaun pesta angkuh yang kuharapkan; dia hanya mengenakan gaun tidur satin tipis dan outer panjang. Rambut hitamnya terurai berantakan, membingkai wajah polos yang tampak lelah. Di mataku, dia tidak terlihat seperti putri mahkota; dia tampak seperti burung dalam sangkar emas yang sayapnya baru saja kupatahkan secara mental, bahkan sebelum kami bicara.

"Jadi, ini 'anjing' baru yang dibeli Papa untuk menjagaku?"

Suara Aura memecah sunyi, tajam dengan sarkasme yang sudah kuprediksi. Dia berhenti di anak tangga terakhir, melipat tangan dan memicingkan mata ke arahku. Aku membiarkannya menelusuri penampilanku dari sepatu hingga rambut. Aku tahu dia sedang mencari celah untuk menghinaku.

"Nama saya Adrian," jawabku, memastikan suaraku berat dan tidak tergoyahkan. "Saya tutor privatmu untuk enam bulan ke depan. Saya harap kamu sudah membaca kontrak yang ditandatangani ayahmu."

Dia tertawa getir. "Kontrak? Dengar ya, Tuan Tutor. Aku sudah membuat lima orang sepertimu mengemis untuk berhenti dalam waktu kurang dari sebulan. Jadi, saran saya... ambil uang mukamu, dan pergilah sebelum aku mengubah hidupmu menjadi neraka yang nyata."

Aku tidak mundur. Aku justru melangkah maju, membiarkan dominasiku memenuhi ruangan hingga dia sedikit tersentak. "Sayangnya, Nona Aura, saya sudah lama tinggal di neraka. Saya rasa kita akan menjadi teman yang sangat cocok."

Aku melihat alisnya bertaut. Dia pasti menyadari bahwa aku berbeda dari pria-pria yang dikirim ayahnya sebelumnya. Aku tidak menatapnya dengan nafsu yang disembunyikan; aku menatapnya dengan kegelapan yang seolah bisa melihat langsung ke balik tulang rusuknya.

"Maksudmu apa?" tantangnya, suaranya naik satu oktav karena gelisah.

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling aula dengan senyum miring. "Rumah ini sangat mewah, tapi baunya seperti kuburan. Kamu tidak bosan karena pelajaran bisnis, Aura. Kamu bosan karena kamu sadar bahwa di rumah ini, kamu hanyalah pajangan yang menunggu waktu untuk dijual kepada penawar tertinggi."

Kalimatku menghantamnya tepat di ulu hati. Aku bisa melihat kemarahan sekaligus luka di matanya. "Kau tidak tahu apa-apa! Kau hanya pekerja yang dibayar untuk mengawasiku!"

"Mungkin," jawabku tenang sembari berdiri tepat di depannya. Aku sengaja menonjolkan perbedaan tinggi kami, memaksanya untuk mendongak sepenuhnya. "Tapi saya adalah satu-satunya orang yang tahu bagaimana cara keluar dari sini tanpa harus hancur. Tergantung seberapa patuh kamu di kelas saya."

Napasnya tertahan. Aku bisa mencium aroma murni dari tubuhnya yang kini terkepung oleh wangi sandalwood dan tobacco milikku. Aku melihat bibirnya terkatup rapat, seolah semua kata hinaannya mendadak lenyap.

"Aura! Sudah berkenalan dengan Adrian?"

Suara berat yang sangat kukenali menggelegar dari balkon lantai dua. Baron berdiri di sana, mengenakan jubah sutra dengan cerutu di tangan—tampak seperti raja yang sedang meninjau ternaknya. Pria tua ini pernah tertawa saat melihat keluargaku hancur.

Aku segera menarik diri, memasang wajah formal yang sempurna sebagai topeng. "Sudah, Tuan Baron. Nona Aura sangat... antusias menyambut sesi pertama kami."

Baron tertawa puas. "Bagus! Adrian ini ahli strategi. Belajarlah darinya, Aura. Jangan memalukan keluarga." Dia mengembuskan asap cerutu ke arah kami. "Gunakan cara apa pun, Adrian. Jika dia membangkang, lakukan apa saja agar dia mengerti arti disiplin."

Aku melihat Aura mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Dia diperlakukan seperti aset bermasalah, dan itu adalah bagian dari rencanaku untuk membuatnya semakin terpojok.

"Mari, Nona Aura," ajakku dengan nada manis yang palsu. "Ruang belajar ada di sana, bukan?"

Aku mengikutinya menuju perpustakaan pribadi yang suram. Begitu kami masuk, aku menutup pintu kayu yang berat itu dan memutar kunci.

Klik.

Aku sengaja membiarkan suara itu bergema agar dia merasa terkurung. Dia berbalik dengan wajah waspada. "Kenapa kau mengunci pintunya?!"

Aku membisu, melangkah tanpa suara mengitarinya. Aku berhenti tepat di belakang kursinya, membiarkan deru napasku terasa di tengkuknya hingga dia gemetar. Sekarang, saatnya pelajaran yang sesungguhnya dimulai.

Aku meletakkan kalung perak berliontin 'A' itu di atas meja. Logamnya kusam, rantainya terpilin, dan noda darah kecokelatan yang mengering di sana adalah saksi bisu kejahatan ayahnya sepuluh tahun lalu.

"Kalung ini..." Suaranya tersedak. "Ini punya kak Arlan... Bagaimana mungkin? Dari mana kau mendapatkannya?!"

Aku membungkuk lebih rendah, membisikkan kata-kata yang ingin kusuntikkan ke dalam otaknya seperti racun. "Pelajaran pertama, Nona Aura: Jangan pernah percaya pada sejarah yang ditulis oleh pemenang. Terutama jika pemenang itu adalah ayahmu sendiri yang membakar sebuah keluarga hanya demi sebidang tanah."

Dia memutar kursi dengan cepat, mencoba mencari jawaban di mataku, tapi aku sudah kembali tegak dengan wajah datar. Aku tidak akan memberikan jawaban secepat itu.

"Sekarang, buka bukumu," perintahku dengan nada formal yang kaku. "Kita akan belajar bagaimana cara meruntuhkan sebuah kekaisaran dari dalam, langkah demi langkah, sampai tidak ada satu pun marmer di rumah ini yang tersisa."

Aku melihatnya terpaku. Aku tahu jantungnya sedang berdegup kencang karena ketakutan yang luar biasa. Dia menatap kalung itu, lalu menatapku. Aku bisa melihat di matanya bahwa aku bukan lagi seorang tutor baginya, aku adalah algojo yang sedang memasang tali gantungan di leher seluruh keluarganya. Dan aku akan menikmati setiap detik saat dia perlahan menyadari bahwa tak ada jalan keluar dariku.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 6 — Warisan Darah

    Sistem bom memang sudah lumpuh, namun neraka yang sesungguhnya baru saja membuka pintu. Asap putih tebal menyembur masuk dari sisa pintu baja yang hancur, membawa aroma mesiu dan ozon yang menyesakkan paru-paru. Aku merasakan Aura tersedak di belakangku, bersembunyi di balik punggungku sambil mencengkeram kemeja hitamku seolah itu adalah satu-satunya jangkar di tengah badai. Aku bisa merasakan getaran hebat dari tubuhnya, sebuah campuran antara ketakutan murni dan ledakan adrenalin yang mulai meracuni nadinya.Aku tetap bergeming. Pistol di tanganku terasa menyatu dengan raga, seolah-olah besi panas ini adalah bagian dari tulang-tulangku sendiri. Tanpa gegabah, aku menunggu. Aku menghitung napas dalam kesunyian yang mencekam hingga bayangan musuh pertama tertangkap netraku di balik kepulan asap. Aku tidak butuh waktu lama untuk membidik.Dor! Dor!Kilatan api kecil membelah asap sesaat. Suara rintihan samar terdengar, disusul suara benda berat yang menghantam lantai beton dengan bunyi

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 5 — Detak Jantung di Ujung Detik

    00:54:12Angka merah di monitor terus menyusut, memantulkan cahaya pucat ke wajahku. Dari pantulan layar, aku bisa melihat Aura mematung menatap pintu baja yang kini menjadi satu-satunya pembatas kami dari kematian atau pembunuh haus darah di luar sana. Ruangan ini memang terasa seperti peti mati canggih, dan aku adalah orang yang memegang kuncinya."Kenapa kamu diam saja? Duduk dan jangan menghalangi pandanganku." Perintahku tanpa menoleh sedikit pun. Jemariku tetap menari di atas keyboard tua yang berderit, mengetik barisan kode enkripsi yang rumit untuk menunda ajal kami.Aura tidak bergerak. Aku tahu matanya tertuju pada lengan kemeja hitamku yang robek. Di sana, kainnya basah oleh cairan pekat yang mulai merembes dan menetes ke lantai marmer yang dingin. Darahku sendiri."Lo luka, Adrian," bisiknya, suaranya bergetar di tengah desis server yang monoton.Aku mendengus sinis. Luka peluru ini bagiku tidak lebih dari sekadar gigitan nyamuk jika dibandingkan dengan luka yang kusimpan

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 4 — Labirin Kematian

    Ledakan itu bukan sekadar gertakan; getarannya merambat dari lantai marmer hingga ke ulu hatiku. Aku melihat langit-langit perpustakaan mulai runtuh, menghamburkan debu dan serpihan kayu yang memerihkan mata. Dalam satu gerakan refleks yang sudah terlatih, aku menyentak Aura dengan kasar, mendekapnya erat di balik meja jati masif milik ayahnya. Aku menjadikannya perisai dari lesatan serpihan kaca yang menghujam udara.Di tengah kekacauan ini, aku bisa merasakan tubuh Aura yang bergetar hebat dalam pelukanku. Aroma sandalwood dan sisa kopi dari tubuhku adalah satu-satunya hal yang ia miliki sekarang. Aku tetap tenang, detak jantungku stabil dan terkontrol, sangat kontras dengan miliknya yang berdentum brutal melawan dadaku."Jangan bergerak, jangan bersuara," bisikku tepat di telinganya. Suaraku rendah, memastikan dia tahu bahwa akulah kendali di sini.Pintu perpustakaan yang megah itu kini tinggal puing. Dari balik kepulan asap kelabu, siluet pria-pria berpakaian taktis dengan balacla

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 3 — Penjara yang Indah

    Hening yang menyusul setelah sambungan telepon itu terputus terasa jauh lebih memuaskan daripada ledakan kemarahan Baron yang paling kasar sekalipun. Dari balik bayangan pintu, aku mengamati Aura. Gadis itu menatap layar ponselnya yang retak dengan tatapan kosong, seolah berharap ada keajaiban yang muncul dari desis statis di sana."Papah?" bisiknya parau. Suara yang dulu penuh kebanggaan itu kini hilang ditelan sunyinya perpustakaan.Aku melangkah keluar dari kegelapan tepat saat dia menyambar pembuka surat emas dari meja ayahnya. Dia menggenggam benda tajam itu dengan tangan gemetar, sebuah upaya perlawanan yang menyedihkan namun menarik untuk ditonton. Begitu dia berbalik dan melihatku, langkahnya terhenti seketika.Aku sengaja melepas jasku, membiarkan kemeja hitamku terbuka sedikit di bagian leher untuk menunjukkan bahwa aku sedang berada di rumahku sendiri. Di tangan kananku, tablet terus berkedip, menampilkan data aset Baron yang sedang kuhancurkan satu demi satu, sementara tan

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 2 — Runtuhnya Langit Pertama

    Aku menyesap kopi hitam tanpa gula di balik meja kerja jati milik Baron. Pahitnya cairan itu setara dengan kebencian yang kupelihara selama sepuluh tahun terakhir. Jam dinding menunjukkan pukul 06.30 pagi. Terlalu pagi bagi seorang putri konglomerat yang terbiasa dimanjakan, namun ini adalah waktu yang tepat untuk memulai penghancuran mentalnya. Disiplin adalah fondasi utama untuk menghancurkan lawan, dan aku tidak punya waktu untuk menunggu mangsaku bangun dengan tenang.Aku sengaja meletakkan papan catur di depanku, mengatur bidaknya dalam posisi yang berantakan, simbol dari kekacauan yang sedang kusiapkan untuk keluarga ini. Kacamata perakku tergeletak di samping meja. Aku ingin dia melihat mata obsidianku yang telanjang hari ini. Aku ingin dia merasakan intimidasi murni tanpa penghalang. Brak!Pintu ek besar itu terhempas kasar. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Aroma parfum mahal yang bercampur dengan kecemasan itu sangat kukenali. Aura Clarissa berdiri di sa

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 1 — Pelajaran Menghancurkan Dunia

    Rumah ini masih berbau sama: parfum ruangan mahal yang gagal menutupi aroma busuk pengkhianatan. Aku menarik napas cukup dalam, membiarkan bau itu meracuni paru-paruku, mengingatkanku mengapa aku kembali. Sepuluh tahun memang waktu yang cukup untuk membangun topeng sebagai lulusan terbaik London, namun tak pernah cukup untuk memadamkan api yang membakar ulu hatiku setiap kali kaki ini memijak lantai marmer keluarga Baron."Nona Aura akan segera turun, Tuan Adrian. Anda ingin minum sesuatu?" Suara pelayan itu gemetar. Aku bisa merasakan hawa dingin yang kupancarkan menembus seragam tipisnya, membuat nyalinya menciut."Tidak perlu," sahutku tanpa menoleh. Suaraku datar, sedingin es yang membeku di kutub. Aku menyesuaikan letak kacamata berbingkai perak di hidungku. Di balik lensa ini, aku sedang memetakan setiap sudut ruangan, mencari titik terlemah dari benteng kesombongan yang dibangun pria yang menghancurkan keluargaku.Tap. Tap. Tap.Suara langkah kaki dari tangga melingkar itu memb

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status