Home / Urban / Dewantara: Kebangkitan Sang Predator / BAB 4 — Labirin Kematian

Share

BAB 4 — Labirin Kematian

Author: Jey
last update publish date: 2026-02-18 22:30:46

Darahku mendesis saat melihat perubahan drastis pada raut wajah Aura. Ketakutan yang tadi memenuhi matanya menguap, digantikan oleh ketenangan dingin yang sangat familiar—tatapan yang sering kulihat pada cermin setiap kali aku merencanakan pembunuhan.

"Pelajaran pertama, Adrian," bisiknya. Suaranya tidak lagi bergetar. Dia mengulangi kalimatku dengan nada mengejek yang membuat harga diriku tergores. "Jangan pernah meremehkan mangsa yang membiarkan dirinya ditangkap."

Dia melempar alat pelacak kecil itu ke lantai marmer. Benda itu berkedip merah, mengirimkan sinyal koordinat kami langsung ke tangan Baron. Di saat yang sama, suara Baron dari intercom tertawa meremehkan, suara yang menghantui mimpiku selama sepuluh tahun.

"Adrian... atau Arlan? Kau pikir aku akan membiarkan tikus kecil sepertimu masuk ke rumahku tanpa pengawasan?" suara Baron menggelegar, memenuhi ruang bawah tanah. "Aku sudah menunggumu kembali sejak hari di mana aku membakar rumahmu. Dan hari ini, aku akan memastikan tidak ada sisa abu yang tertinggal."

Aku bergerak cepat, mencengkeram bahu Aura dan menekannya ke meja kerja. Mataku menatap tajam ke arah kamera pengawas di sudut ruangan. "Kau pikir alat pelacak sampah ini bisa menyelamatkanmu, Baron? Aku memegang putrimu. Satu gerakan salah darimu, dan dia akan hancur bersamaku."

Aura tidak meronta. Dia justru tersenyum miring, sebuah senyum yang merobek topeng kendaliku. "Lo pikir Papa peduli sama gue?" tanyanya parau. "Gue cuma aset, Adrian. Dan sekarang, gue adalah umpan yang sudah kedaluwarsa. Dia lebih milih ngebunuh kita berdua daripada ngebiarin lo dapet rahasia bank itu."

Tiba-tiba, suara mekanisme kunci pintu baja di belakang kami berbunyi. Clang! Pintu itu terkunci secara permanen dari luar. Sistem self-destruct yang tadi kupasang mendadak berganti warna dari merah menjadi ungu.

"Sial," geramku. Baron telah meretas sistemku sendiri. Dia tidak hanya mengunci kami, dia mempercepat timer-nya.

00:15:00

Waktuku menyusut drastis. Aku melepaskan Aura dan beralih ke keyboard, jari-jariku menari dengan kecepatan gila untuk membobol enkripsi yang baru saja dimasukkan Baron. Namun, setiap kali aku menembus satu lapisan, lapisan lain muncul. Baron tidak bekerja sendirian; dia memiliki tim IT profesional yang memantau kami.

"Adrian, dengerin gue!" Aura menarik kemejaku, memaksaku menoleh. "Papa nggak akan ngelepasin kita. Dia udah nyiapin serangan udara kecil buat mansion ini kalau sistem bawah tanah ini gagal ngebunuh lo. Dia mau ngapus semua bukti, termasuk gue."

"Diam!" bentakku. Aku tidak terbiasa gagal. Aku tidak terbiasa terjepit. "Aku tidak akan mati di tangan pengecut seperti ayahmu."

"Kalau gitu berhenti jadi sok jagoan dan dengerin gue!" Aura membalas bentakanku. Keberaniannya muncul dari keputusasaan. "Ada jalan keluar lain. Di balik server utama, ada pipa ventilasi tua yang terhubung ke sumur resapan luar. Tapi lo butuh kunci sidik jari gue untuk ngebuka segel manualnya. Papa sengaja naruh itu di sana supaya cuma dia atau gue yang bisa keluar kalau terjadi pengkhianatan dari dalam."

Aku menatapnya curiga. "Kenapa kau mau membantuku? Aku adalah orang yang ingin menghancurkan keluargamu."

Aura menatapku dengan kebencian murni, namun ada api yang sama di matanya dengan api dendamku. "Gue nggak ngebantu lo. Gue mau bertahan hidup supaya gue bisa nanya langsung ke Papa... kenapa dia tega jadiin gue umpan buat ngebunuh lo. Gue mau liat dia hancur dengan tangan gue sendiri."

Musuh dari musuhku adalah temanku. Itulah hukum besi yang harus kuterima sekarang.

Aku menyambar tablet dan pistolku, lalu menarik tangan Aura. "Tunjukkan jalannya. Dan jangan coba-coba mengkhianatiku, atau peluru ini akan bersarang di kepalamu sebelum ledakan itu menyentuhmu."

Kami berlari menuju deretan server yang menderu panas. Aura merangkak ke celah sempit di bagian bawah dinding dan menekan telapak tangannya pada sebuah panel tersembunyi. Sebuah pintu kecil yang berkarat terbuka dengan suara derit yang memilukan.

"Cepat!" perintahku sambil mendorongnya masuk lebih dulu.

Lorong ventilasi itu sempit, kotor, dan pengap. Kami merangkak dalam kegelapan total, hanya dipandu oleh senter kecil dari tabletku. Di belakang kami, suara dentuman mulai terdengar. Baron mulai meledakkan bagian atas mansion untuk memastikan reruntuhan mengubur ruang bawah tanah ini.

"Sedikit lagi," bisik Aura. Napasnya tersengal-sengal.

Saat kami mencapai ujung pipa yang tertutup jeruji besi, aku menendang jeruji itu hingga terlepas. Kami merosot keluar ke arah area hutan di belakang mansion, tepat saat ledakan besar mengguncang bumi. Mansion megah milik keluarga Baron meledak, menciptakan bola api raksasa yang menerangi langit malam yang pekat.

Aku berdiri di bawah bayang-bayang pohon pinus, melihat kehancuran itu dengan perasaan campur aduk. Rumah yang seharusnya menjadi kemenanganku kini menjadi kuburan masal bagi rencana awalku.

Aku menoleh ke arah Aura yang terduduk di tanah, menatap api yang melahap hidupnya. Dia kehilangan segalanya dalam satu malam: rumahnya, ayahnya, dan identitasnya sebagai putri konglomerat.

"Sekarang apa?" tanya Aura tanpa menoleh padaku. "Lo udah dapetin kehancuran keluarga gue. Puas?"

Aku melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapannya. Aku tidak memberikan simpati. Aku justru menjulurkan tanganku, bukan untuk menolongnya berdiri, melainkan untuk menegaskan rantai baru yang akan mengikatnya.

"Puas? Belum," jawabku dingin. "Baron masih hidup. Dia bersembunyi di suatu tempat, dan dia baru saja melakukan kesalahan terbesar dengan mencoba membunuhku. Dia baru saja mengubah dendam pribadiku menjadi perang terbuka."

Aku menariknya berdiri dengan kasar, memaksanya menatap api yang masih berkobar.

"Mulai detik ini, Aura Clarissa sudah mati di dalam ledakan itu. Yang tersisa hanyalah bayanganku. Kau akan ikut denganku ke London, dan kau akan menjadi senjata yang akan kugunakan untuk memburu ayahmu sampai ke lubang cacing mana pun dia bersembunyi."

Aura menatapku, dan untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang lebih berbahaya daripada ketakutan: sebuah tekad untuk membalas dendam yang setara dengan milikku.

"Gue ikut," ucapnya tegas. "Tapi setelah Baron mati... gue yang akan ngebunuh lo, Adrian."

Aku tersenyum, sebuah senyum predator yang akhirnya menemukan lawan yang sepadan. "Aku akan menantikannya, Nona."

Namun, saat kami hendak melangkah menuju mobil jemputan yang sudah kusiapkan di pinggir hutan, sebuah sinar laser merah tiba-tiba muncul di dada Aura. Titik merah itu diam, mematikan, dan berasal dari arah kegelapan di depan kami.

Seseorang tidak membiarkan kami pergi begitu saja.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 12 — Pion yang Menelan Raja

    Moncong senjata di ulu hatiku terasa lebih nyata daripada perih di bahu. Di kegelapan gudang yang remang, aku terpaku. Bi Asih, pelayan tua yang sepuluh tahun ini setia melayani Baron dan menyeduhkan teh untuk Aura, kini berdiri di belakangku dengan kuda-kuda pembunuh profesional."Jangan bergerak, Adnan," bisiknya. Suaranya tidak lagi serak dan lemah. Itu adalah suara yang dilatih untuk memberi perintah, bukan menerima pesanan dapur."Bi... Asih?" Suara Aura terdengar dari kegelapan, penuh dengan ketidakpercayaan yang menyayat."Diam, Nona Muda. Saya di sini untuk membereskan kekacauan yang dibuat ayah Anda dan dua bersaudara gila ini," sahut Bi Asih tanpa melepaskan tekanannya padaku.Di sisi lain gudang, Arlan tertawa keras. Tawanya bergema di antara kontainer besi, menciptakan suasana horor yang mencekam. "Luar biasa! Baron benar-benar memelihara ular di dalam selimutnya. Jadi, kau bekerja untuk siapa, Tua Bangka? Interpol? Atau faksi London yang kukhianati?""Saya bekerja untuk s

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 11 — Nama yang Terhapus

    Kegelapan bukan lagi sebuah ruang, melainkan sebuah ingatan yang menyesakkan. Saat kesadaranku mulai merangkak naik dari bius dosis tinggi milik Aura, aku tidak terbangun di atas tumpukan daun kering hutan pegunungan. Aku terbangun dalam posisi tergantung, kedua tanganku dirantai ke pipa besi yang dingin dan berkarat. Aroma di sekelilingku adalah campuran antara bau laut yang asin, minyak mesin, dan logam—sebuah gudang di pinggir pelabuhan.Kepalaku berdenyut hebat. Efek penenang itu menyisakan rasa mual yang mengocok perut. Aku mencoba menggerakkan bahuku, namun luka tembak yang belum sempat dijahit itu memprotes dengan rasa panas yang menyentak saraf."Sudah bangun, Adnan?"Suara itu datang dari kegelapan di depanku. Serak, hancur, namun memiliki ritme yang sama dengan suaraku sendiri.Aku mendongak, berusaha memfokuskan pandangan. Di bawah sorot lampu bohlam yang berayun, berdiri sosok bertopeng perak itu. Dia tidak lagi mengenakan jas taktis. Dia hanya memakai kemeja putih yang le

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 10 — Topeng yang Runtuh

    "Maaf membiarkanmu terjebak dengan 'palsu' ini terlalu lama."Suara itu menghantamku lebih keras daripada ledakan apa pun yang pernah kualami. Aku membeku. Seluruh otot di tubuhku menegang hingga ke titik menyakitkan. Ego "predator" yang kubangun selama sepuluh tahun dengan darah dan air mata runtuh dalam satu detik. Senjata di tanganku bergetar—sesuatu yang seharusnya mustahil bagi pria yang sudah membunuh tanpa kedip sepertiku. Aku tidak bisa menarik pelatuk karena Aura berada tepat di garis tembak, berdiri di antara aku dan sosok misterius yang baru saja merampas identitasku.Aura menatap kalung dengan lambang burung bangkai di lantai, lalu menatap sosok bertopeng perak itu dengan ngeri. Saat matanya beralih padaku, aku melihat keraguan yang menghancurkan. Dia mundur perlahan, menjauh dariku seolah-olah aku adalah wabah yang baru saja ia sadari keberadaa

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 9 — Sang Pemilik Liontin

    Sinar matahari pagi yang dingin menembus celah gorden vila, namun suasana di dalam ruang kerja ini tetap gelap gulita. Aku sengaja membiarkan lampu mati. Aku ingin Aura merasakan apa yang kurasakan sepuluh tahun lalu: ketakutan akan hal yang tidak terlihat. Di depanku, Aura duduk tegak di kursi kayu yang keras, matanya sembab karena kurang tidur. Semalam, aku memaksanya menonton video pengkhianatan Baron berulang kali. Aku ingin memori tentang Baron sebagai pahlawan di kepalanya mati membusuk."Pelajaran kelima," suaraku memecah keheningan, berat dan tanpa emosi. "Bisnis bukan tentang angka, Aura. Bisnis adalah tentang siapa yang memegang leher siapa."Aku melemparkan tablet ke atas meja. Di layarnya, terpampang struktur organisasi Baron Corp—perusahaan yang dibangun dari puing-puing kehancuran keluargaku. "Mulai hari ini, kamu adalah bonekaku untuk mengambil alih semua ini. Kamu akan tampil di depan direksi sebagai ahli waris yang 'sadar' akan dosa ayahnya."Aura mendongak, matanya be

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 8 — Sangkar di Kaki Gunung

    SUV hitam itu membelah kegelapan jalanan menanjak menuju kaki gunung, menjauh dari sirine polisi yang kini hanya menjadi gema di kejauhan. Di sampingku, Aura meringkuk, memeluk tubuhnya sendiri seolah dunia sedang runtuh menimpanya. Aku bisa mencium aroma ketakutannya yang bercampur dengan sisa mesiu."Kita sudah sampai," ucapku datar saat mobil berhenti di depan gerbang besi tinggi yang tertutup tanaman rambat liar.Vila ini bukan sekadar bangunan tua. Ini adalah markas rahasia keluarga Dewantara yang dihapus dari semua peta resmi sepuluh tahun lalu. Tempat di mana ayahku merancang strategi kejayaannya, dan kini menjadi tempat di mana aku akan merancang kehancuran sisa-sisa Baron. Aku turun dan menarik pintu mobil Aura. "Turun. Jangan membuatku menyeretmu lagi."Aura melangkah keluar dengan ragu. Matanya menatap bangunan batu tua yang terlihat angker di bawah sinar bulan. "Tempat apa ini, Adrian? Kenapa lo bawa gue ke sini?""Tempat di mana suaramu tidak akan didengar oleh siapa pun,

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 7 — Hak Milik Sang Predator

    Asap putih di ruang bawah tanah mulai menipis, menyisakan bau anyir darah yang memuakkan. Aku berdiri tegak, membiarkan moncong pistolku yang masih panas mengarah ke lantai beton. Di depanku, Daniel—si pengkhianat yang dulu menjilat kaki Baron saat rumah keluargaku terbakar—kini bersimpuh dengan kaki hancur tertembus peluruku. Aku tidak membunuhnya seketika. Kematian terlalu murah bagi anjing penjilat seperti dia."Adrian... tolong... aku hanya menjalankan perintah," rintih Daniel, suaranya parau karena rasa sakit yang luar biasa. Tangannya masih mencoba menggapai tas berisi dokumen aset Baron. Keserakahan yang menjijikkan.Aku melirik Aura yang bersandar di dinding. Napasnya memburu, wajahnya sepucat kertas. Aku bisa melihat trauma yang mendalam di matanya. Ini adalah bagian dari rencanaku; menghancurkan dunianya yang naif, lalu memaksanya berpaling kepadaku sebagai satu-satunya pelindung yang tersisa."Pelajaran keempat, Aura," ucapku tanpa melepaskan pandangan dari Daniel yang meran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status