MasukLedakan itu bukan sekadar gertakan; getarannya merambat dari lantai marmer hingga ke ulu hatiku. Aku melihat langit-langit perpustakaan mulai runtuh, menghamburkan debu dan serpihan kayu yang memerihkan mata. Dalam satu gerakan refleks yang sudah terlatih, aku menyentak Aura dengan kasar, mendekapnya erat di balik meja jati masif milik ayahnya. Aku menjadikannya perisai dari lesatan serpihan kaca yang menghujam udara.
Di tengah kekacauan ini, aku bisa merasakan tubuh Aura yang bergetar hebat dalam pelukanku. Aroma sandalwood dan sisa kopi dari tubuhku adalah satu-satunya hal yang ia miliki sekarang. Aku tetap tenang, detak jantungku stabil dan terkontrol, sangat kontras dengan miliknya yang berdentum brutal melawan dadaku.
"Jangan bergerak, jangan bersuara," bisikku tepat di telinganya. Suaraku rendah, memastikan dia tahu bahwa akulah kendali di sini.
Pintu perpustakaan yang megah itu kini tinggal puing. Dari balik kepulan asap kelabu, siluet pria-pria berpakaian taktis dengan balaclava muncul. Aku melirik ke luar jendela; mobil patroli polisi sudah lumpuh dengan ban kempis.
"Sial, mereka memakai pengacak sinyal dan melumpuhkan perimeter dalam hitungan menit," geramku pelan. Mataku menyipit, mengunci pergerakan empat lawan dari balik celah meja. Mereka bukan penegak hukum; mereka adalah pemulung yang lapar.
"Cari gadis itu! Jangan sampai lolos! Hidup atau mati, dia harus kita bawa!" teriak salah satu dari mereka.
Aku merasakan kuku Aura mencengkeram kemeja hitamku hingga buku jarinya memutih. Dia ketakutan, dan aku menyukai posisi ini.
"Siapa mereka, Adrian?" bisiknya dengan bibir bergetar.
"Musuh yang lapar," jawabku tanpa mengalihkan pandangan. Aku mendekap pinggangnya lebih erat, sebuah gestur posesif untuk menegaskan bahwa dia adalah milikku. "Mereka ingin melenyapkan aset terakhir Baron. Termasuk kamu, karena kamu adalah satu-satunya kunci untuk mengakses warisan yang ayahmu sembunyikan di bank luar negeri."
Aku melihat ekspresi tertegun di wajahnya. Dia tidak tahu apa-apa soal rahasia kotor ayahnya.
"Keluar! Aku tahu kalian ada di sini!" teriak pria bertopeng itu sembari menendang rak buku.
Aku menarik napas panjang, menghitung kekuatan lawan. "Empat orang, senjata otomatis M16, terlatih namun ceroboh. Mereka mengincar kepalamu, Aura. Aku hanya dianggap kerikil di jalan mereka."
"Lalu kita harus apa?" tanyanya.
"Percaya padaku. Jangan berani-berani membantah atau melepaskan tanganku," perintahku. Aku memutar tubuhnya, memaksanya berlindung di bawah punggungku yang lebar.
Tepat saat salah satu penyusup melihat ujung sepatuku, aku bergerak.
Dor! Dor! Dor!
Tembakan membelah kesunyian. Aku menyambar Aura, melompat ke balik rak buku saat peluru menghancurkan kayu di sekitar kami. "Kita harus pergi," bisikku. Aku menarik buku merah marun di rak itu; mekanisme kuno berbunyi klik, membuka lorong gelap yang sudah kuhafal di luar kepala.
"Masuk!" perintahku sambil mendorongnya ke dalam kegelapan. Aku mengunci kembali jalan masuk tersebut, meninggalkan para pemburu itu di belakang.
Dalam kegelapan yang mencekik, aku memimpin langkah. Aku bisa mendengar napas Aura yang terengah-engah dan isak tangis yang tertahan. Aku mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat, membimbingnya menembus labirin tak berujung yang dulu menjadi tempat persembunyianku.
"Kita mau ke mana?" tanyanya.
"Ke jantung rumah ini," jawabku singkat. "Tempat yang tidak ada seorang pun tahu keberadaannya kecuali... pemilik aslinya."
Aku tahu dia sedang mencengkeram liontin peraknya. Dia mulai menyadari siapa aku sebenarnya: Arlan, pria yang seharusnya mati terbakar, kini kembali untuk menuntut haknya, termasuk nyawanya.
Kami tiba di ujung lorong. Aku membuka pintu baja tebal dengan kode rumit, mengungkap ruang bawah tanah luas yang dingin. Aroma tanah basah dan besi berkarat menyeruak di antara dengung server dan monitor besar yang menyala remang-remang.
Aku mengunci pintu, mengisolasi kami sepenuhnya. Aku berbalik perlahan, berjalan mendekati Aura hingga dia terhimpit di antara meja kerja dan tubuhku. Aku mengangkat dagunya dengan ibu jari, memaksa matanya menatap kegelapan di mataku.
"Kenapa lo nyelamatin gue?" tanyanya parau. "Bukankah gue cuma alat buat lo menghancurkan Papa?"
"Karena kamu adalah alasan aku kembali, Aura. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merusak milikku sebelum aku sendiri yang memutuskan untuk menghancurkannya. Kamu adalah milikku, sampai aku bosan."
Aku beralih ke monitor, menampilkan peta digital mansion Baron yang kini dikepung titik-titik merah. "Mereka adalah pemulung yang mencari sisa-sisa kejayaan Dewantara Group. Baron dalam masalah besar, dan kamu adalah satu-satunya kartu as yang mereka butuhkan."
Aura menatap ngeri ke arah layar. "Lalu kita terjebak di sini?"
Aku tersenyum miring. Aku menekan beberapa tombol di keyboard, dan sebuah timer digital berwarna merah muncul di semua layar.
00:59:59
"Ruangan ini memiliki protokol penghancuran diri. Jika dalam satu jam aku tidak memasukkan kode pembatalan, seluruh mansion ini akan meledak, mengubur semua orang di atas sana, dan kita berdua di sini, bersama semua rahasia kotor keluarga Baron," ucapku dengan ketenangan yang mematikan.
"Lo gila! Lo mau bunuh diri?!" teriaknya.
"Aku sudah mati sepuluh tahun lalu, Aura. Hidup bagiku hanyalah bonus untuk balas dendam," aku mendekatkan wajahku, membisikkan kata-kata yang membuat darahnya membeku. "Jadi, kamu punya waktu satu jam. Satu jam untuk membuktikan bahwa kamu lebih berharga daripada semua harta yang ayahmu curi. Yakinkan aku untuk tetap membiarkanmu bernapas, atau kita akan terbakar bersama di penjara indah ini."
Aku memperhatikan detik yang terus berkurang. Kehidupannya kini benar-benar berada di ujung jemariku, pria yang paling membenci darahnya.
Sistem bom memang sudah lumpuh, namun neraka yang sesungguhnya baru saja membuka pintu. Asap putih tebal menyembur masuk dari sisa pintu baja yang hancur, membawa aroma mesiu dan ozon yang menyesakkan paru-paru. Aku merasakan Aura tersedak di belakangku, bersembunyi di balik punggungku sambil mencengkeram kemeja hitamku seolah itu adalah satu-satunya jangkar di tengah badai. Aku bisa merasakan getaran hebat dari tubuhnya, sebuah campuran antara ketakutan murni dan ledakan adrenalin yang mulai meracuni nadinya.Aku tetap bergeming. Pistol di tanganku terasa menyatu dengan raga, seolah-olah besi panas ini adalah bagian dari tulang-tulangku sendiri. Tanpa gegabah, aku menunggu. Aku menghitung napas dalam kesunyian yang mencekam hingga bayangan musuh pertama tertangkap netraku di balik kepulan asap. Aku tidak butuh waktu lama untuk membidik.Dor! Dor!Kilatan api kecil membelah asap sesaat. Suara rintihan samar terdengar, disusul suara benda berat yang menghantam lantai beton dengan bunyi
00:54:12Angka merah di monitor terus menyusut, memantulkan cahaya pucat ke wajahku. Dari pantulan layar, aku bisa melihat Aura mematung menatap pintu baja yang kini menjadi satu-satunya pembatas kami dari kematian atau pembunuh haus darah di luar sana. Ruangan ini memang terasa seperti peti mati canggih, dan aku adalah orang yang memegang kuncinya."Kenapa kamu diam saja? Duduk dan jangan menghalangi pandanganku." Perintahku tanpa menoleh sedikit pun. Jemariku tetap menari di atas keyboard tua yang berderit, mengetik barisan kode enkripsi yang rumit untuk menunda ajal kami.Aura tidak bergerak. Aku tahu matanya tertuju pada lengan kemeja hitamku yang robek. Di sana, kainnya basah oleh cairan pekat yang mulai merembes dan menetes ke lantai marmer yang dingin. Darahku sendiri."Lo luka, Adrian," bisiknya, suaranya bergetar di tengah desis server yang monoton.Aku mendengus sinis. Luka peluru ini bagiku tidak lebih dari sekadar gigitan nyamuk jika dibandingkan dengan luka yang kusimpan
Ledakan itu bukan sekadar gertakan; getarannya merambat dari lantai marmer hingga ke ulu hatiku. Aku melihat langit-langit perpustakaan mulai runtuh, menghamburkan debu dan serpihan kayu yang memerihkan mata. Dalam satu gerakan refleks yang sudah terlatih, aku menyentak Aura dengan kasar, mendekapnya erat di balik meja jati masif milik ayahnya. Aku menjadikannya perisai dari lesatan serpihan kaca yang menghujam udara.Di tengah kekacauan ini, aku bisa merasakan tubuh Aura yang bergetar hebat dalam pelukanku. Aroma sandalwood dan sisa kopi dari tubuhku adalah satu-satunya hal yang ia miliki sekarang. Aku tetap tenang, detak jantungku stabil dan terkontrol, sangat kontras dengan miliknya yang berdentum brutal melawan dadaku."Jangan bergerak, jangan bersuara," bisikku tepat di telinganya. Suaraku rendah, memastikan dia tahu bahwa akulah kendali di sini.Pintu perpustakaan yang megah itu kini tinggal puing. Dari balik kepulan asap kelabu, siluet pria-pria berpakaian taktis dengan balacla
Hening yang menyusul setelah sambungan telepon itu terputus terasa jauh lebih memuaskan daripada ledakan kemarahan Baron yang paling kasar sekalipun. Dari balik bayangan pintu, aku mengamati Aura. Gadis itu menatap layar ponselnya yang retak dengan tatapan kosong, seolah berharap ada keajaiban yang muncul dari desis statis di sana."Papah?" bisiknya parau. Suara yang dulu penuh kebanggaan itu kini hilang ditelan sunyinya perpustakaan.Aku melangkah keluar dari kegelapan tepat saat dia menyambar pembuka surat emas dari meja ayahnya. Dia menggenggam benda tajam itu dengan tangan gemetar, sebuah upaya perlawanan yang menyedihkan namun menarik untuk ditonton. Begitu dia berbalik dan melihatku, langkahnya terhenti seketika.Aku sengaja melepas jasku, membiarkan kemeja hitamku terbuka sedikit di bagian leher untuk menunjukkan bahwa aku sedang berada di rumahku sendiri. Di tangan kananku, tablet terus berkedip, menampilkan data aset Baron yang sedang kuhancurkan satu demi satu, sementara tan
Aku menyesap kopi hitam tanpa gula di balik meja kerja jati milik Baron. Pahitnya cairan itu setara dengan kebencian yang kupelihara selama sepuluh tahun terakhir. Jam dinding menunjukkan pukul 06.30 pagi. Terlalu pagi bagi seorang putri konglomerat yang terbiasa dimanjakan, namun ini adalah waktu yang tepat untuk memulai penghancuran mentalnya. Disiplin adalah fondasi utama untuk menghancurkan lawan, dan aku tidak punya waktu untuk menunggu mangsaku bangun dengan tenang.Aku sengaja meletakkan papan catur di depanku, mengatur bidaknya dalam posisi yang berantakan, simbol dari kekacauan yang sedang kusiapkan untuk keluarga ini. Kacamata perakku tergeletak di samping meja. Aku ingin dia melihat mata obsidianku yang telanjang hari ini. Aku ingin dia merasakan intimidasi murni tanpa penghalang. Brak!Pintu ek besar itu terhempas kasar. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Aroma parfum mahal yang bercampur dengan kecemasan itu sangat kukenali. Aura Clarissa berdiri di sa
Rumah ini masih berbau sama: parfum ruangan mahal yang gagal menutupi aroma busuk pengkhianatan. Aku menarik napas cukup dalam, membiarkan bau itu meracuni paru-paruku, mengingatkanku mengapa aku kembali. Sepuluh tahun memang waktu yang cukup untuk membangun topeng sebagai lulusan terbaik London, namun tak pernah cukup untuk memadamkan api yang membakar ulu hatiku setiap kali kaki ini memijak lantai marmer keluarga Baron."Nona Aura akan segera turun, Tuan Adrian. Anda ingin minum sesuatu?" Suara pelayan itu gemetar. Aku bisa merasakan hawa dingin yang kupancarkan menembus seragam tipisnya, membuat nyalinya menciut."Tidak perlu," sahutku tanpa menoleh. Suaraku datar, sedingin es yang membeku di kutub. Aku menyesuaikan letak kacamata berbingkai perak di hidungku. Di balik lensa ini, aku sedang memetakan setiap sudut ruangan, mencari titik terlemah dari benteng kesombongan yang dibangun pria yang menghancurkan keluargaku.Tap. Tap. Tap.Suara langkah kaki dari tangga melingkar itu memb







